로그인Sore itu, mendung menggantung rendah di langit Yogyakarta, menciptakan suasana yang pas untuk secangkir kopi hangat dan obrolan panjang. Jihan sudah hampir tiga bulan tidak bertemu dengan teman-teman akrabnya di kampus. Kesibukannya sebagai mahasiswi tingkat akhir yang harus membagi waktu antara revisi skripsi dan menjaga Aruna membuatnya seolah terisolasi dari dunia luar. Ketika sebuah pesan masuk di grup W******p berisi ajakan untuk berkumpul di kafe favorit mereka dekat kampus, Jihan merasa ini adalah waktu yang tepat untuk melepas penat.
Namun, rencananya hampir saja gagal total. Saat Jihan sudah siap dengan pakaian kasualnya dan hendak berpamitan, sebuah tangan mungil mencengkeram erat ujung celananya. "Kak Jihan mau kemana? Kak Jihan nggak sayang lagi ya sama Aluna?" tanya Aruna dengan bibir melengkung ke bawah. Matanya yang bulat sudah mulai berkaca-kaca. Pasca sembuh dari demam, Aruna memang menjadi jauh lebih manja dan tidak mau lepas dari Jihan sedikit pun. "Sayang, Kak Jihan cuma sebentar. Mau ketemu teman-teman Kakak sebentar saja buat bahas tugas. Aruna di rumah sama Papa ya?" bujuk Jihan sambil berjongkok, mencoba melepaskan pelukan Aruna di kakinya. "Nggak mau! Nanti Kak Jihan pelgi jauh, nggak balik lagi kayak Mama Allin! Uaaaaaa!" Tangis Aruna pecah seketika. Ia melakukan aksi drama dengan memeluk kaki Jihan sekuat tenaga, seolah jika ia melepasnya, Jihan akan hilang selamanya. Julian yang baru saja turun dari lantai dua dengan tablet di tangannya tertegun melihat pemandangan itu. Ia menghampiri mereka dan mencoba membujuk putrinya. "Nak, Kak Jihannya cuma sebentar saja. Sini sama Papa dulu. Kita main boneka kelinci yang baru, ya?" "Nggak mau! Aluna maunya sama Kak Jihan aja! Papa nggak bisa main boneka, Papa cuma bisa main komputer!" teriak Aruna di sela tangisnya yang semakin kencang. Jihan menatap Julian dengan tatapan serba salah. Ia sangat merindukan teman-temannya, tapi ia juga tidak tega meninggalkan Aruna dalam kondisi seperti ini. Akhirnya, dengan ragu, Jihan memberanikan diri. "Mas... apa boleh kalau aku bawa Aruna ikut? Hanya satu jam saja." Julian mengernyitkan dahi. Ia tidak suka tempat ramai dan berisik. Namun, melihat air mata yang membasahi pipi putrinya, tembok egonya runtuh lagi. "Baik. Tapi dengan satu syarat. Saya ikut. Saya akan duduk di meja yang agak jauh dari kalian, tapi saya harus tetap bisa melihat Aruna." Sesampainya di sebuah kafe berkonsep industrial dekat kampus, suasana langsung berubah menjadi ceria bagi Jihan. Lima orang temannya sudah duduk melingkar di meja besar. Begitu Jihan masuk dengan menggandeng bocah kecil berpipi tembem, teman-temannya langsung memekik gemas. "Ya ampun, Jihan! Ini anak siapa? Lucu banget!" seru Maya, salah satu teman terdekat Jihan. "Ini Aruna," jawab Jihan tersenyum. Aruna tampak malu-malu, ia bersembunyi di balik kaki Jihan sambil memperhatikan orang-orang baru di depannya. Di sudut kafe yang lebih tenang, Julian duduk sendirian dengan segelas espresso. Ia mengenakan kacamata hitam dan kemeja santai, namun auranya tetap terlihat sangat intimidatif bagi pengunjung kafe lainnya. Ia menjaga jarak sekitar tiga meja dari Jihan, namun matanya tetap waspada mengawasi setiap gerak-gerik putrinya—dan juga Jihan. "Aruna, ayo kenalan sama kakak-kakak cantik ini," pinta Jihan lembut. Aruna mulai merasa nyaman saat melihat berbagai macam kue di meja. Dengan nada yang sangat lucu, ia menunjuk kelima teman Jihan. "Nama Kakak siapa?" tanya Aruna dengan suara cadelnya yang khas. Satu per satu teman Jihan memperkenalkan diri dengan penuh semangat. "Aku Maya," "Aku Rian," "Aku Dila," "Aku Tari," dan "Aku Bagas." Setelah mereka selesai, Aruna berdiri di atas kursi dengan gaya percaya diri yang menggemaskan. "Halo Kakak-kakak. Nama Aluna itu Aluna Juvina Adiwangsa. Aluna sudah lima tahun, telus Aluna sudah pintal makan sayul sendili," ucapnya dengan bangga, melipat huruf R menjadi L yang sangat kental. Teman-teman Jihan tertawa serempak. Mereka benar-benar terpesona dengan cara bicara Aruna. Namun, rasa penasaran mereka tidak berhenti di sana. Maya menyenggol lengan Jihan. "Han, serius, itu laki-laki yang di pojok sana yang datang sama kamu tadi... itu siapa? Ganteng banget tapi auranya kayak bos mafia." Jihan tersedak minumannya. "Itu... itu Mas Julian. Ayahnya Aruna. Dia juga suaminya mendiang Kak Airin." Obrolan pun mengalir, mulai dari keluh kisah skripsi yang tak kunjung usai, hingga bagaimana Jihan bisa berakhir menjadi "pengasuh" tetap bagi Aruna. Jihan bercerita dengan tulus tentang janjinya pada Airin, sementara Aruna sibuk memakan kue cokelat dengan mulutnya yang mungil hingga berlumuran krim, membuat siapa pun yang melihatnya ingin mencubit pipinya. Kebahagiaan itu sedikit terusik ketika seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan kemeja flanel masuk ke kafe. Namanya Rendy, teman seangkatan mereka yang sudah sejak semester pertama menaruh hati pada Jihan. Rendy segera bergabung di meja mereka. "Jihan! Lama nggak kelihatan. Apa kabar?" Rendy duduk tepat di samping Jihan, memberikan perhatian lebih yang membuat Jihan merasa sedikit canggung. Rendy kemudian menatap Aruna. "Wah, ada tamu kecil di sini. Hai, cantik. Nama kamu siapa?" Aruna menatap Rendy dengan pandangan menyelidik. Entah kenapa, insting anak kecil ini bekerja dengan tajam. Ia merasakan aura yang berbeda dari Rendy. Aruna melihat Rendy berkali-kali mencoba menyentuh tangan Jihan atau mendekatkan wajahnya saat berbicara. "Aluna," jawab Aruna singkat, terdengar sangat ogah-ogahan. "Aluna mau main sama Kak Rendy? Kak Rendy punya banyak stiker di mobil," tawar Rendy mencoba mengambil hati. "Nggak mau. Aluna mau sama Kak Jihan aja. Kak Lendy jangan dekat-dekat, nanti Kak Jihan sesak napas," ketus Aruna. Teman-teman Jihan yang lain tertawa, menganggap itu hanya kepolosan anak kecil, tapi bagi Aruna, laki-laki ini adalah ancaman. Aruna sudah memutuskan dalam hati kecilnya bahwa ia ingin Jihan menjadi Bundanya, dan itu berarti hanya Papanya yang boleh dekat dengan Jihan. Dari kejauhan, Julian meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan yang cukup keras di atas meja kayu. Rahangnya mengeras. Ia melihat Rendy tertawa sambil mencoba mengusap rambut Jihan—meski Jihan menghindar halus. Julian merasakan sesuatu yang sangat panas membakar dadanya. Sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan: cemburu. Julian tidak tahan lagi melihat pemandangan itu. Ia merasa Jihan adalah tanggung jawabnya, dan melihat laki-laki lain berusaha menggoda Jihan di depan matanya sendiri membuat darahnya mendidih. Julian bangkit dari kursinya. Langkah kakinya yang berat dan mantap terdengar jelas di lantai kafe saat ia mendekati meja Jihan. Suasana di meja itu seketika menjadi sunyi senyap saat sosok tinggi besar Julian berdiri di samping Jihan. "Waktunya pulang," ucap Julian singkat. Suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan. Jihan mendongak kaget. "Mas? Tapi ini baru empat puluh menit..." "Aruna harus istirahat, dia baru saja sembuh. Dan saya ada urusan lain," potong Julian tanpa menatap Jihan, matanya justru tertuju tajam pada Rendy yang tampak ciut seketika. "Papa! Kak Lendy nakal, dia mau ambil Kak Jihan!" celetuk Aruna sambil menarik tangan Julian, seolah mengadu. Julian tidak menjawab, ia hanya meraih tas Jihan dengan satu tangan dan menggendong Aruna dengan tangan lainnya. "Ayo, Jihan. Sekarang." Jihan hanya bisa menatap teman-temannya dengan tatapan meminta maaf. "Teman-teman, aku duluan ya. Maaf banget." Sepanjang perjalanan menuju mobil, Julian tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan sangat cepat dengan langkah lebar. Jihan harus setengah berlari untuk mengejarnya. Di dalam mobil, keheningan itu terasa begitu mencekam. "Mas... Mas marah?" tanya Jihan hati-hati saat mobil mulai membelah jalanan. Julian mencengkeram kemudi dengan erat hingga buku jarinya memutih. "Lain kali, jika kamu ingin bertemu teman-temanmu, pastikan mereka tahu batas. Terutama laki-laki tadi." Jihan tertegun. Ia melihat raut wajah Julian yang tampak kesal bukan main. Di kursi belakang, Aruna justru tersenyum puas sambil memeluk bonekanya. "Iya, Kak Jihan. Kak Lendy itu nggak ganteng. Papa lebih ganteng, kan?" Julian berdehem keras untuk menutupi rasa salah tingkahnya, sementara Jihan hanya bisa menunduk dengan jantung yang berdebar aneh. Untuk pertama kalinya, Jihan menyadari bahwa kedinginan Julian mungkin bukan lagi karena benci, melainkan karena ia mulai takut kehilangan sosok Jihan dari sisinya.Lima tahun telah berlalu sejak tangisan bayi kembar memenuhi kediaman Adiwangsa. Waktu seolah berjalan dengan langkah yang anggun, membawa perubahan besar bagi setiap penghuni rumah megah itu. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah: atmosfer cinta yang kental dan hangat. Julian dan Jihan telah membuktikan bahwa pernikahan bukan sekadar tentang tinggal bersama, melainkan tentang komitmen untuk terus belajar. Masalah tentu tetap ada, namun ego bukan lagi kapten di kapal mereka. Setiap kerikil kecil diselesaikan saat itu juga, sebelum sempat menjadi batu sandungan yang besar.Si sulung, Aruna—atau yang kini lebih akrab disapa KakRun oleh kedua adiknya—telah tumbuh menjadi gadis berusia sepuluh tahun yang cantik dan dewasa. Ia bukan lagi anak kecil yang kesulitan mengucapkan huruf "R". Sebaliknya, ia adalah sosok kakak yang sangat bijaksana, mampu menempatkan dirinya sebagai pelindung sekaligus teman bermain yang paling dinanti oleh kedua adik kembarnya, Arvin Shaka Adiwangsa dan Arvan
Sembilan bulan penantian yang penuh dengan persiapan mental dan fisik akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa. Suasana ruang persalinan yang tadinya tegang seketika pecah oleh suara tangisan melengking yang bersahutan. Tidak hanya satu, tapi dua nyawa baru sekaligus hadir melengkapi silsilah keluarga Adiwangsa. Jihan melahirkan bayi kembar laki-laki yang sehat melalui perjuangan yang luar biasa, membuat Julian tak henti-hentinya membisikkan kata terima kasih di telinga istrinya sembari mengecup keningnya berkali-kali.Kini, kediaman Adiwangsa yang biasanya tenang telah berubah menjadi markas besar yang penuh kesibukan. Suara tangisan bayi, aroma minyak telon yang khas, dan derap langkah kaki yang terburu-buru menjadi irama harian yang baru. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, Julian dan Jihan memiliki misi utama: memastikan putri sulung mereka, Aruna, tidak merasa terpinggirkan oleh kehadiran kedua anggota baru tersebut.****Satu bulan setelah persalinan, suasana di kamar utama tamp
Beberapa bulan berlalu setelah badai kecil dalam rumah tangga mereka mereda. Musim berganti, dan kebahagiaan di kediaman Adiwangsa seolah meledak saat sebuah kabar gembira datang. Jihan dinyatakan hamil. Julian, yang biasanya selalu terlihat tenang dan berwibawa sebagai CEO, mendadak berubah menjadi pria paling protektif sekaligus paling ceria sedunia. Senyumnya tidak pernah luntur sejak melihat dua garis biru di alat tes kehamilan istrinya.Namun, ada satu tugas penting yang harus mereka lakukan: memberi tahu Aruna. Aruna, yang sekarang sudah jauh lebih hebat dan sudah lancar mengucapkan huruf "R"—berkat latihan sabar dari Jihan—tampak bingung saat dipanggil ke ruang tengah untuk sebuah pengumuman penting."Aruna sayang, Bunda punya sesuatu untuk Aruna," ucap Jihan sambil membimbing tangan mungil Aruna ke perutnya yang masih tampak rata."Ada apa Bunda? Apa ada cokelat di dalam situ?" tanya Aruna dengan mata bulatnya yang polos.Julian tertawa kecil, ia merangkul bahu istri dan anakn
Malam pertama di rumah besar Adiwangsa tanpa Jihan dan Aruna terasa seperti neraka dunia bagi Julian. Setiap sudut ruangan yang biasanya diisi dengan aroma masakan Jihan atau teriakan ceria Aruna, kini terasa hampa dan menusuk tulang. Julian mencoba memejamkan mata, namun yang terbayang hanya sorot mata Jihan yang terluka saat ia membentaknya di ruang kerja. Ia tidak bisa menunggu seminggu. Bahkan menunggu sampai besok pagi pun ia merasa tidak sanggup. Pukul tujuh malam, Julian menyambar kunci mobilnya. Persetan dengan ego, persetan dengan harga diri seorang CEO. Saat ini, ia hanyalah seorang suami yang merindukan istrinya. Julian melajukan mobilnya menuju daerah pinggiran kota, tempat rumah lama Jihan berada. Rumah itu sederhana, dengan halaman yang dipenuhi tanaman hias yang kini mulai rimbun kembali karena Jihan sering merawatnya di akhir pekan. Saat sampai, ia melihat lampu teras menyala kuning hangat. Melalui jendela, ia bisa melihat bayangan dua orang di da
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar tamu, menyilaukan mata Jihan yang sembab. Semalaman ia hampir tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan wajah marah Julian dan bentakan suaminya terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Hatinya masih terasa ngilu. Selama ini ia mengira pernikahan mereka adalah tentang kemitraan, namun kata-kata Julian semalam menyadarkannya bahwa dalam pikiran pria itu, ada garis tegas yang memisahkan antara "urusan penting suami" dan "tugas rumah tangga istri". Jihan segera bergegas. Ia tidak ingin berpapasan dengan Julian di rumah ini. Dengan gerakan cepat, ia membasuh wajah, memulas sedikit riasan untuk menutupi jejak tangis, dan menyambar kunci mobilnya. Tujuannya hanya satu: menjemput Aruna. Sesampainya di kediaman orang tua almarhumah Airin, suasana hangat menyambutnya. Namun, raut heran tidak bisa disembunyikan dari wajah Mama Airin saat melihat Jihan turun dari mobil sendirian. "Lho, Jihan? Sendirian saja? Julian
Satu bulan pertama pernikahan seharusnya menjadi masa bulan madu yang penuh bunga. Namun, bagi Jihan, realitas mulai menunjukkan wajah aslinya. Menikah dengan seorang Julian Pratama Adiwangsa bukan hanya tentang mendapatkan cinta, tetapi juga harus siap berhadapan dengan tembok besar bernama ego dan kebiasaan. Julian adalah pria yang sudah terlalu lama memegang kendali penuh atas hidupnya, perusahaannya, dan rumah tangganya tanpa intervensi siapa pun.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar, menambah dingin suasana rumah. Jihan sudah menyiapkan makan malam spesial—ayam bakar bumbu rujak kesukaan Julian—dan menunggunya dengan sabar di ruang makan. Namun, ketika pintu depan terbuka sekitar pukul sembilan malam, yang masuk bukanlah Julian yang hangat, melainkan sosok pria dengan kemeja kusut, dasi yang sudah ditarik lepas, dan rahang yang mengeras."Mas, sudah pulang? Mas mau makan dulu atau mandi air hangat?" Jihan menghampiri dengan senyum tulus, berniat mengambil alih tas kerja s
Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden ruang tengah, memantul pada permukaan meja kayu besar yang kini dipenuhi oleh tumpukan jurnal, draf skripsi, dan satu cangkir kopi yang sudah mendingin. Jihan terbangun dengan leher yang kaku. Semalaman ia hanya tidur ayam di sofa sampin
Iring-iringan mobil meluncur membelah jalanan kota Yogyakarta yang mulai padat oleh kendaraan saat jam makan siang. Di barisan paling depan, sedan mewah milik Julian memimpin, diikuti oleh beberapa mobil teman-teman Jihan yang tak henti-hentinya membicarakan keberuntungan mereka hari ini. Di dalam
Hari itu adalah puncak dari segala lelah yang selama ini Jihan pendam. Di koridor fakultas yang mulai ramai oleh para pejuang skripsi lainnya, Jihan berdiri dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Beberapa minggu belakangan ini, fokusnya memang terbagi, namun perhatian kecil yang mulai ditunjukkan
Suasana rumah besar itu saat sore terasa sangat sunyi, hanya menyisakan suara detik jam dinding di ruang tengah yang luas. Jihan Ayunda terduduk lemas di sofa ruang keluarga. Di pangkuannya, sebuah laptop yang masih menyala menampilkan draf bab terakhir skripsinya. Di meja depan sofa, tumpukan kert







