Share

Bab 6 : Cemburu?

Penulis: Meilin Liner
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-25 23:39:23

Sore itu, mendung menggantung rendah di langit Yogyakarta, menciptakan suasana yang pas untuk secangkir kopi hangat dan obrolan panjang. Jihan sudah hampir tiga bulan tidak bertemu dengan teman-teman akrabnya di kampus. Kesibukannya sebagai mahasiswi tingkat akhir yang harus membagi waktu antara revisi skripsi dan menjaga Aruna membuatnya seolah terisolasi dari dunia luar. Ketika sebuah pesan masuk di grup W******p berisi ajakan untuk berkumpul di kafe favorit mereka dekat kampus, Jihan merasa ini adalah waktu yang tepat untuk melepas penat.

​Namun, rencananya hampir saja gagal total. Saat Jihan sudah siap dengan pakaian kasualnya dan hendak berpamitan, sebuah tangan mungil mencengkeram erat ujung celananya.

​"Kak Jihan mau kemana? Kak Jihan nggak sayang lagi ya sama Aluna?" tanya Aruna dengan bibir melengkung ke bawah. Matanya yang bulat sudah mulai berkaca-kaca. Pasca sembuh dari demam, Aruna memang menjadi jauh lebih manja dan tidak mau lepas dari Jihan sedikit pun.

​"Sayang, Kak Jihan cuma sebentar. Mau ketemu teman-teman Kakak sebentar saja buat bahas tugas. Aruna di rumah sama Papa ya?" bujuk Jihan sambil berjongkok, mencoba melepaskan pelukan Aruna di kakinya.

​"Nggak mau! Nanti Kak Jihan pelgi jauh, nggak balik lagi kayak Mama Allin! Uaaaaaa!" Tangis Aruna pecah seketika. Ia melakukan aksi drama dengan memeluk kaki Jihan sekuat tenaga, seolah jika ia melepasnya, Jihan akan hilang selamanya.

​Julian yang baru saja turun dari lantai dua dengan tablet di tangannya tertegun melihat pemandangan itu. Ia menghampiri mereka dan mencoba membujuk putrinya. "Nak, Kak Jihannya cuma sebentar saja. Sini sama Papa dulu. Kita main boneka kelinci yang baru, ya?"

​"Nggak mau! Aluna maunya sama Kak Jihan aja! Papa nggak bisa main boneka, Papa cuma bisa main komputer!" teriak Aruna di sela tangisnya yang semakin kencang.

​Jihan menatap Julian dengan tatapan serba salah. Ia sangat merindukan teman-temannya, tapi ia juga tidak tega meninggalkan Aruna dalam kondisi seperti ini. Akhirnya, dengan ragu, Jihan memberanikan diri. "Mas... apa boleh kalau aku bawa Aruna ikut? Hanya satu jam saja."

​Julian mengernyitkan dahi. Ia tidak suka tempat ramai dan berisik. Namun, melihat air mata yang membasahi pipi putrinya, tembok egonya runtuh lagi. "Baik. Tapi dengan satu syarat. Saya ikut. Saya akan duduk di meja yang agak jauh dari kalian, tapi saya harus tetap bisa melihat Aruna."

​Sesampainya di sebuah kafe berkonsep industrial dekat kampus, suasana langsung berubah menjadi ceria bagi Jihan. Lima orang temannya sudah duduk melingkar di meja besar. Begitu Jihan masuk dengan menggandeng bocah kecil berpipi tembem, teman-temannya langsung memekik gemas.

​"Ya ampun, Jihan! Ini anak siapa? Lucu banget!" seru Maya, salah satu teman terdekat Jihan.

​"Ini Aruna," jawab Jihan tersenyum. Aruna tampak malu-malu, ia bersembunyi di balik kaki Jihan sambil memperhatikan orang-orang baru di depannya.

​Di sudut kafe yang lebih tenang, Julian duduk sendirian dengan segelas espresso. Ia mengenakan kacamata hitam dan kemeja santai, namun auranya tetap terlihat sangat intimidatif bagi pengunjung kafe lainnya. Ia menjaga jarak sekitar tiga meja dari Jihan, namun matanya tetap waspada mengawasi setiap gerak-gerik putrinya—dan juga Jihan.

​"Aruna, ayo kenalan sama kakak-kakak cantik ini," pinta Jihan lembut.

​Aruna mulai merasa nyaman saat melihat berbagai macam kue di meja. Dengan nada yang sangat lucu, ia menunjuk kelima teman Jihan. "Nama Kakak siapa?" tanya Aruna dengan suara cadelnya yang khas.

​Satu per satu teman Jihan memperkenalkan diri dengan penuh semangat. "Aku Maya," "Aku Rian," "Aku Dila," "Aku Tari," dan "Aku Bagas."

​Setelah mereka selesai, Aruna berdiri di atas kursi dengan gaya percaya diri yang menggemaskan. "Halo Kakak-kakak. Nama Aluna itu Aluna Juvina Adiwangsa. Aluna sudah lima tahun, telus Aluna sudah pintal makan sayul sendili," ucapnya dengan bangga, melipat huruf R menjadi L yang sangat kental.

​Teman-teman Jihan tertawa serempak. Mereka benar-benar terpesona dengan cara bicara Aruna. Namun, rasa penasaran mereka tidak berhenti di sana. Maya menyenggol lengan Jihan. "Han, serius, itu laki-laki yang di pojok sana yang datang sama kamu tadi... itu siapa? Ganteng banget tapi auranya kayak bos mafia."

​Jihan tersedak minumannya. "Itu... itu Mas Julian. Ayahnya Aruna. Dia juga suaminya mendiang Kak Airin."

​Obrolan pun mengalir, mulai dari keluh kisah skripsi yang tak kunjung usai, hingga bagaimana Jihan bisa berakhir menjadi "pengasuh" tetap bagi Aruna.

Jihan bercerita dengan tulus tentang janjinya pada Airin, sementara Aruna sibuk memakan kue cokelat dengan mulutnya yang mungil hingga berlumuran krim, membuat siapa pun yang melihatnya ingin mencubit pipinya.

​Kebahagiaan itu sedikit terusik ketika seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan kemeja flanel masuk ke kafe. Namanya Rendy, teman seangkatan mereka yang sudah sejak semester pertama menaruh hati pada Jihan. Rendy segera bergabung di meja mereka.

​"Jihan! Lama nggak kelihatan. Apa kabar?" Rendy duduk tepat di samping Jihan, memberikan perhatian lebih yang membuat Jihan merasa sedikit canggung.

​Rendy kemudian menatap Aruna. "Wah, ada tamu kecil di sini. Hai, cantik. Nama kamu siapa?"

​Aruna menatap Rendy dengan pandangan menyelidik. Entah kenapa, insting anak kecil ini bekerja dengan tajam. Ia merasakan aura yang berbeda dari Rendy. Aruna melihat Rendy berkali-kali mencoba menyentuh tangan Jihan atau mendekatkan wajahnya saat berbicara.

​"Aluna," jawab Aruna singkat, terdengar sangat ogah-ogahan.

​"Aluna mau main sama Kak Rendy? Kak Rendy punya banyak stiker di mobil," tawar Rendy mencoba mengambil hati.

​"Nggak mau. Aluna mau sama Kak Jihan aja. Kak Lendy jangan dekat-dekat, nanti Kak Jihan sesak napas," ketus Aruna.

Teman-teman Jihan yang lain tertawa, menganggap itu hanya kepolosan anak kecil, tapi bagi Aruna, laki-laki ini adalah ancaman. Aruna sudah memutuskan dalam hati kecilnya bahwa ia ingin Jihan menjadi Bundanya, dan itu berarti hanya Papanya yang boleh dekat dengan Jihan.

​Dari kejauhan, Julian meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan yang cukup keras di atas meja kayu. Rahangnya mengeras. Ia melihat Rendy tertawa sambil mencoba mengusap rambut Jihan—meski Jihan menghindar halus. Julian merasakan sesuatu yang sangat panas membakar dadanya. Sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan: cemburu.

​Julian tidak tahan lagi melihat pemandangan itu. Ia merasa Jihan adalah tanggung jawabnya, dan melihat laki-laki lain berusaha menggoda Jihan di depan matanya sendiri membuat darahnya mendidih.

​Julian bangkit dari kursinya. Langkah kakinya yang berat dan mantap terdengar jelas di lantai kafe saat ia mendekati meja Jihan. Suasana di meja itu seketika menjadi sunyi senyap saat sosok tinggi besar Julian berdiri di samping Jihan.

​"Waktunya pulang," ucap Julian singkat. Suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan.

​Jihan mendongak kaget. "Mas? Tapi ini baru empat puluh menit..."

​"Aruna harus istirahat, dia baru saja sembuh. Dan saya ada urusan lain," potong Julian tanpa menatap Jihan, matanya justru tertuju tajam pada Rendy yang tampak ciut seketika.

​"Papa! Kak Lendy nakal, dia mau ambil Kak Jihan!" celetuk Aruna sambil menarik tangan Julian, seolah mengadu.

​Julian tidak menjawab, ia hanya meraih tas Jihan dengan satu tangan dan menggendong Aruna dengan tangan lainnya. "Ayo, Jihan. Sekarang."

​Jihan hanya bisa menatap teman-temannya dengan tatapan meminta maaf. "Teman-teman, aku duluan ya. Maaf banget."

​Sepanjang perjalanan menuju mobil, Julian tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan sangat cepat dengan langkah lebar. Jihan harus setengah berlari untuk mengejarnya. Di dalam mobil, keheningan itu terasa begitu mencekam.

​"Mas... Mas marah?" tanya Jihan hati-hati saat mobil mulai membelah jalanan.

​Julian mencengkeram kemudi dengan erat hingga buku jarinya memutih. "Lain kali, jika kamu ingin bertemu teman-temanmu, pastikan mereka tahu batas. Terutama laki-laki tadi."

​Jihan tertegun. Ia melihat raut wajah Julian yang tampak kesal bukan main. Di kursi belakang, Aruna justru tersenyum puas sambil memeluk bonekanya. "Iya, Kak Jihan. Kak Lendy itu nggak ganteng. Papa lebih ganteng, kan?"

​Julian berdehem keras untuk menutupi rasa salah tingkahnya, sementara Jihan hanya bisa menunduk dengan jantung yang berdebar aneh. Untuk pertama kalinya, Jihan menyadari bahwa kedinginan Julian mungkin bukan lagi karena benci, melainkan karena ia mulai takut kehilangan sosok Jihan dari sisinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 14 : Pertengkaran

    Satu bulan pertama pernikahan seharusnya menjadi masa bulan madu yang penuh bunga. Namun, bagi Jihan, realitas mulai menunjukkan wajah aslinya. Menikah dengan seorang Julian Pratama Adiwangsa bukan hanya tentang mendapatkan cinta, tetapi juga harus siap berhadapan dengan tembok besar bernama ego dan kebiasaan. Julian adalah pria yang sudah terlalu lama memegang kendali penuh atas hidupnya, perusahaannya, dan rumah tangganya tanpa intervensi siapa pun.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar, menambah dingin suasana rumah. Jihan sudah menyiapkan makan malam spesial—ayam bakar bumbu rujak kesukaan Julian—dan menunggunya dengan sabar di ruang makan. Namun, ketika pintu depan terbuka sekitar pukul sembilan malam, yang masuk bukanlah Julian yang hangat, melainkan sosok pria dengan kemeja kusut, dasi yang sudah ditarik lepas, dan rahang yang mengeras."Mas, sudah pulang? Mas mau makan dulu atau mandi air hangat?" Jihan menghampiri dengan senyum tulus, berniat mengambil alih tas kerja s

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 13 : Malam Pertama

    Malam itu, lampu-lampu di kediaman Adiwangsa sudah mulai diredupkan. Aroma pengharum ruangan sandalwood dan vanilla menyeruak di kamar utama yang kini telah berubah suasananya. Tidak ada lagi kesan dingin; kamar itu kini terasa lebih hangat dengan sentuhan barang-barang Jihan yang mulai tertata rapi. Julian, yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu. Ia menatap ranjang besar mereka dengan senyum kecil yang tertahan. Hari ini adalah hari paling membahagiakan sekaligus melelahkan baginya. Namun, senyum itu seketika memudar saat ia melihat sesosok kecil sudah meringkuk di tengah ranjang, memeluk guling dengan erat. "Aruna?" gumam Julian. Aruna mendongak, matanya yang bulat tampak berkaca-kaca. "Papa... Aluna mau tidul di sini. Aluna mau tidul baleng Bunda dan Papa." Julian menghela napas panjang, ia mendekati ranjang dan duduk di tepiannya. "Sayang, Aruna kan punya kamar sendiri yang bagus. Malam ini Papa mau berdua dulu sama Bu

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 12 : Hari Pernikahan

    Seminggu sebelum hari besar itu tiba, suasana di kediaman Adiwangsa mendadak terasa sepi bagi Julian. Sesuai dengan adat dan kesepakatan keluarga, kedua calon mempelai harus menjalani masa pingitan, yaitu tidak boleh bertemu selama tujuh hari sebelum akad nikah dilangsungkan. Jihan memutuskan untuk menghabiskan masa-masa terakhirnya sebagai gadis lajang di rumah peninggalan orang tuanya, sebuah rumah sederhana namun penuh kenangan yang telah ia rapikan kembali.Namun, Julian tidak menyangka bahwa ia tidak hanya kehilangan calon istrinya untuk sementara, tetapi juga putri kecilnya. Saat hari pertama pingitan dimulai, Aruna bersikeras ingin ikut bersama Jihan. Julian sudah mencoba membujuk, merayu dengan mainan, hingga menjanjikan es krim, namun Aruna tetap kekeh."Aruna, sini pulang sama Papa dong. Papa kesepian loh di sini sendirian. Aruna nggak kasihan sama Papa?" ucap Julian sore itu melalui sambungan video call. Wajah Julian tampak sedikit kuyu, duduk di ruang tengah yang biasanya

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 11 : Persiapan Pernikahan

    Persiapan pernikahan yang hanya berjarak satu bulan lagi membuat kediaman Adiwangsa berubah menjadi pusat kesibukan yang manis. Kotak-kotak undangan beludru berwarna biru dongker mulai menumpuk di ruang kerja Julian, bahkan aroma bunga melati serta mawar putih sudah mulai tercium meski hari besar itu belum tiba. Namun, di tengah kesibukan memesan katering dan menyusun daftar tamu, ada satu sosok yang paling sibuk: Aruna.Bocah itu seolah menjelma menjadi bayangan Jihan. Ke mana pun Jihan melangkah—ke dapur, ke taman, bahkan saat Jihan ingin ke kamar mandi—Aruna selalu mengekor di belakang sambil memegang ujung baju Jihan."Bunda, nanti pas Bunda pakai baju pengantin, Aluna boleh pegang ekol bajunya nggak?" tanya Aruna sambil duduk di pangkuan Jihan saat mereka sedang memilih desain suvenir.Jihan mengusap rambut Aruna dengan sayang. "Tentu boleh, sayang. Aruna kan putri kecil Bunda.""Bunda nggak boleh pelgi-pelgi lagi ya? Bobonya sama Aluna telus ya?"Julian yang baru saja pulang ker

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 10 : Meminta Izin dan Restu

    Pagi itu, langit Yogyakarta tampak cerah dengan semburat jingga yang lembut. Jihan, Julian, dan Aruna berdiri di depan sebuah pusara yang sangat terawat. Gundukan tanah itu milik Airin Saraswati. Bunga-bunga segar baru saja ditaburkan oleh tangan mungil Aruna, memberikan aroma wangi yang menenangkan di tengah sunyinya area pemakaman.​Jihan berlutut, menyentuh nisan batu marmer yang dingin itu dengan jemari bergetar. "Kak Airin... Jihan datang," bisiknya lirih. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Jihan datang untuk cerita. Mas Julian sudah membuka hatinya. Dan Jihan... Jihan minta izin untuk menempati ruang itu, Kak. Jihan janji akan menjaga Mas Julian dan Aruna seumur hidup Jihan."​Ingatan Jihan melayang pada malam terakhir di rumah sakit, beberapa hari sebelum Airin mengembuskan napas terakhirnya. Saat itu, Airin menggenggam tangan Jihan dengan sisa kekuatannya dan berbisik pelan, "Jihan, kalau suatu saat Julian akhirnya jatuh cinta padamu, berjanjilah untuk bersamanya. Ja

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 9 : Misi Rahasia Aruna

    Pasca kejadian di restoran seafood, suasana di rumah keluarga Adiwangsa berubah secara halus namun signifikan. Julian tidak lagi sedingin es, meski ia masih tetap menjadi pria yang irit bicara. Namun, penggerak utama di rumah itu bukanlah Julian ataupun Jihan, melainkan Aruna. Bocah berusia lima tahun itu seolah memiliki radar tajam; ia tahu bahwa Papanya sudah mulai "kalah" oleh pesona Kak Jihannya, dan ia tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. ​Hari Minggu pagi yang cerah biasanya diisi dengan kegiatan santai. Jihan sedang membantu Bibi di dapur menyiapkan sarapan, sementara Julian duduk di teras belakang sambil membaca laporan kerja di tabletnya. Aruna, dengan daster kecil motif stroberinya, berlari menghampiri Jihan. ​"Kak Jihan, Papa bilang Papa mau makan roti panggang buatan Kak Jihan, bukan buatan Bibi," dusta Aruna dengan wajah polosnya. ​Jihan mengernyitkan dahi. "Oh ya? Mas Julian bilang begitu?" ​"Iya! Katanya buatan Bibi nggak enak, cuma buatan Kak J

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status