Accueil / Romansa / Ibu Pengganti Bagi Aruna / Bab 7 : Jihan Sidang

Share

Bab 7 : Jihan Sidang

Auteur: Meilin Liner
last update Dernière mise à jour: 2026-01-26 00:15:09

Hari itu adalah puncak dari segala lelah yang selama ini Jihan pendam. Di koridor fakultas yang mulai ramai oleh para pejuang skripsi lainnya, Jihan berdiri dengan perasaan yang sulit dilukiskan.

Beberapa minggu belakangan ini, fokusnya memang terbagi, namun perhatian kecil yang mulai ditunjukkan Julian menjadi bahan bakar yang luar biasa baginya.

​Julian tidak lagi sekadar memerintah. Kadang, pria itu meninggalkan segelas cokelat hangat di meja belajar Jihan saat malam mulai larut, atau sekadar mengirim pesan singkat berisi, "Jangan terlalu memaksakan diri, istirahatlah." Kata-kata sederhana itu terasa seperti aliran semangat yang membuat Jihan mampu begadang hingga subuh demi menyempurnakan setiap baris kalimat dalam skripsinya.

​Puncaknya adalah saat pengumuman kelulusan. Jihan melangkah keluar dari ruang sidang dengan mata berkaca-kaca. Ia resmi menyandang gelar Sarjana Pertanian. Seperti tradisi mahasiswa lainnya, Jihan menghampiri sebuah banner besar yang sudah disiapkan teman-temannya. Dengan tangan bergetar karena haru, ia menarik kain penutup yang menutupi nama lengkap beserta gelarnya: Jihan Ayunda Wiryawan, S.P.

​Riuh tepuk tangan dan ucapan selamat langsung terdengar. Teman-temannya memeluknya satu per satu. Di tengah kerumunan itu, Rendy muncul dengan senyum lebar. Ia membawa sebuah buket besar berisi bunga Baby’s Breath putih yang melambangkan ketulusan dan keabadian, sangat cocok dengan kepribadian Jihan yang lembut namun kuat.

​"Selamat ya, Han. Aku tahu kamu pasti bisa," ucap Rendy tulus.

​Jihan menerima bunga itu dengan senyum bahagia. "Terima kasih banyak, Rendy. Kamu repot-repot sekali."

​"Nggak sama sekali. Ayo, kita foto dulu buat kenang-kenangan," ajak Rendy. Jihan mengangguk setuju. Ia berdiri di samping Rendy, memegang buket bunga putih itu sambil tersenyum ke arah kamera ponsel temannya.

​Namun, sesi foto itu mendadak terhenti saat sebuah suara cempreng yang sangat familiar membelah keramaian koridor.

​"Kakak Jihan! Holey! Kakak Jihan sudah jadi saljana!"

​Jihan menoleh dan melihat Aruna berlari dengan semangat ke arahnya, gaun kecilnya berkibar-kibar. Jihan langsung meletakkan bunga dari Rendy di kursi terdekat dan merendahkan tubuhnya untuk menyambut pelukan hangat bocah itu. Aruna menabraknya dengan pelukan erat, mencium pipi Jihan berkali-kali.

​"Selamat Kakak Jihan! Kakak Jihan pintal banget, Aluna bangga!" puji Aruna dengan nada lucunya yang membuat orang-orang di sekitar ikut tersenyum gemas.

​Saat Jihan masih memeluk Aruna, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang mengkilap berhenti tepat di depannya. Aroma parfum cendana yang sangat ia kenal menyeruak masuk ke indra penciumannya. Jihan mendongak perlahan, dan jantungnya seolah berhenti berdetak.

​Di sana berdiri Julian. Pria itu tidak membawa bunga biasa. Di tangannya terdapat sebuah buket uang raksasa dengan lembaran seratus ribuan yang disusun sangat rapi dan cantik—sebuah hadiah dengan jumlah yang fantastis, menunjukkan kelas seorang Julian Pratama Adiwangsa.

​Julian mengulurkan buket uang itu kepada Jihan. "Selamat, Jihan. Kamu sudah bekerja keras," ucapnya pelan. Dan di sana, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Julian memberikan sebuah senyum tipis—senyuman yang begitu tulus hingga membuat garis wajahnya yang kaku melunak seketika.

​Jihan terpaku. Senyum itu... senyum yang sudah bertahun-tahun ia rindukan dan hanya bisa ia lihat dalam bayangannya, kini ditujukan langsung padanya. Ia menerima buket itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Mas... ini terlalu banyak."

​"Tidak ada yang terlalu banyak untuk keberhasilanmu," balas Julian singkat.

​Tiba-tiba, Aruna menarik-narik tangan kedua orang dewasa itu. "Foto! Foto! Ayo kita foto tigaan!" teriak Aruna penuh semangat.

​Akhirnya, mereka bertiga berpose di depan banner. Aruna berdiri paling depan dengan berbagai pose lucunya—mulai dari gaya dua jari hingga pose menopang dagu. Julian berdiri di samping Jihan dengan gaya andalannya, tangan kiri masuk ke saku celana, sementara tangan kanannya sesekali merangkul bahu kecil Aruna. Jihan berdiri di tengah, tersenyum paling lebar sepanjang hidupnya sambil memeluk buket uang dari Julian.

​Setelah beberapa jepretan, Aruna tiba-tiba berlari ke arah teman Jihan yang memegang kamera. "Kakak, foto Papa sama Kak Jihan beldua saja! Aluna mau lihat dari sini!"

​Julian dan Jihan seketika membeku. Suasana menjadi sangat canggung dalam sekejap. Rendy yang berdiri tidak jauh dari sana hanya bisa menatap pemandangan itu dengan gurat kecewa yang tak bisa ia sembunyikan.

​"Ayo Papa! Kak Jihan! Jangan jauh-jauh beldili beldekat!" perintah Aruna lagi.

​Julian berdehem, lalu bergeser sedikit mendekat ke arah Jihan. Keduanya berdiri kaku seperti patung. Aruna yang melihat itu tampak tidak puas. Ia berkacak pinggang di depan mereka.

​"Kak Jihan, gandeng tangan Ayah dong! Masak foto beldua jauh-jauh kayak owang nggak kenal!" celoteh Aruna tanpa beban.

​Jihan melirik Julian dengan wajah yang sudah memerah padam. Ia tidak berani bertindak sebelum ada izin. Julian terdiam sejenak, lalu ia sedikit menekuk lengannya, memberikan ruang bagi Jihan.

​"Tidak apa-apa, Jihan. Gandeng saja," ucap Julian pelan, suaranya terdengar sedikit serak.

​Dengan gerakan malu-malu dan jantung yang berpacu tak keruan, Jihan melingkarkan tangannya di lengan kekar Julian. Ia bisa merasakan kerasnya otot lengan Julian dan hangatnya suhu tubuh pria itu. Untuk pertama kalinya, Jihan merasa ia benar-benar bersanding dengan Julian—bukan sebagai orang yang selalu merawat Aruna, tapi sebagai seorang wanita di samping seorang pria.

​Kamera menangkap momen itu. Momen di mana Jihan tersenyum bahagia dengan wajah merona, dan Julian yang meski tetap dengan wajah datarnya, namun matanya memancarkan ketenangan yang mendalam. Di balik lensa kamera, Aruna bertepuk tangan riang, merasa misinya menyatukan kedua orang itu mulai menunjukkan hasil. Hari itu, gelar sarjana hanyalah awal, karena Jihan tahu, perjalanan yang sebenarnya menuju hati Julian baru saja dimulai.

****

Setelah sesi foto berdua yang penuh kecanggungan namun manis itu selesai, Jihan perlahan melepaskan gandengannya. Ia mengatur napasnya yang sempat tertahan, lalu menatap Julian dengan tatapan yang sangat dalam. Di tangannya, ia masih mendekap erat buket uang pemberian Julian.

​"Mas Julian," panggil Jihan lirih. Julian menoleh, memberikan perhatian penuhnya. "Terima kasih banyak. Bukan cuma untuk bunganya, tapi untuk semuanya. Berkat bantuan Mas malam itu, berkat koreksi Mas yang detail, aku bisa mendapatkan gelar ini hari ini. Aku benar-benar tidak tahu harus membalasnya dengan apa."

​Julian menatap Jihan sejenak, sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak jauh lebih hangat. "Kamu sudah membalasnya dengan menjaga Aruna, Jihan. Itu sudah lebih dari cukup bagi saya."

​Tiba-tiba, Aruna yang tadinya sibuk memperhatikan teman-teman Jihan, berlari kencang ke arah mereka. Ia menyelip di tengah-tengah, menggenggam tangan kanan Julian dan tangan kiri Jihan secara bersamaan. Ia mendongak, menatap keduanya bergantian dengan senyum lebar yang memamerkan deretan giginya yang mungil, termasuk salah satu gigi depannya yang sedikit berlubang karena terlalu banyak makan cokelat.

​"Papa dan Kak Jihan cocweet banget, deh! Hihihihi!" seru Aruna riang.

​Julian membelalakkan mata, ia hampir saja tersedak salivanya sendiri mendengar istilah itu. "Eh? Dari mana kamu belajar kata-kata itu, Aruna?"

​"Daliy nonton TV sama Bibi! Kata Bibi kalau Papa dekat sama Kak Jihan itu namanya cocweet!" jawab Aruna tanpa dosa.

​Julian menggelengkan kepala, pura-pura kesal meski sebenarnya ia merasa sangat salah tingkah. Tanpa aba-aba, ia membungkuk dan mengangkat Aruna ke dalam gendongannya. Julian mulai menjahili putrinya dengan menempelkan wajahnya ke pipi Aruna, sengaja menggesekkan janggut dan bulu-bulu halus yang belum sempat ia cukur bersih pagi tadi ke wajah sensitif bocah itu.

​"Oh, sudah pintar ya sekarang? Sudah bisa godain Papa?" Julian terus menggelitik Aruna dengan janggut tipisnya sambil tertawa kecil, suara tawa yang sangat langka terdengar.

​"Aaa! Papa! Geli! Kak Jihan, tolongin Aluna! Papa nakal!" Aruna menggeliat dalam gendongan Julian, tertawa histeris karena kegelian.

​Jihan yang melihat pemandangan itu tak bisa menahan tawa. Ia menyentuh lengan Julian secara refleks untuk menghentikannya. "Sudah, Mas... kasihan Aruna, dia sampai merah begitu wajahnya. Sudah, Mas Julian, berhenti."

​Julian akhirnya berhenti, ia menurunkan Aruna namun tetap merangkul bahu kecil itu. Ia kemudian berbalik, menatap kerumunan teman-teman Jihan yang masih berdiri tak jauh dari sana, termasuk Rendy yang hanya bisa menjadi penonton bisu.

​"Semuanya," suara Julian kembali berwibawa namun terdengar jauh lebih ramah memanggil teman-teman Jihan.

"Sebagai perayaan kelulusan Jihan hari ini, saya mengundang kalian semua untuk makan siang. Kita akan ke restoran seafood di dekat sini. Saya yang traktir."

​Jihan terbelalak. Ia tahu restoran seafood yang dimaksud Julian adalah tempat yang cukup mewah, dan ia tahu betul bahwa Julian memilih menu itu karena seafood adalah makanan favorit Jihan sejak dulu.

​"Mas, tidak perlu sampai seperti itu. Ini pasti sangat mahal kalau semua ikut," Jihan mencoba menolak dengan halus, merasa tidak enak hati.

​Namun, Julian hanya menatapnya dengan tatapan yang tidak menerima bantahan. "Saya tidak menerima penolakan, Jihan. Ini hadiah untukmu, dan teman-temanmu adalah bagian dari kebahagiaanmu hari ini."

​"Yeah! Makan seafood! Aluna mau makan kepiting yang besal!" Aruna berteriak kegirangan, melompat-lompat kecil sambil menarik tangan Jihan. Ternyata, urusan selera makan pun, Aruna mewarisi kesukaan Jihan—si penggila makanan laut.

​Teman-teman Jihan bersorak riuh, mereka tidak menyangka akan mendapatkan traktiran mewah dari seorang pria sekelas Julian. Di tengah keramaian dan sorak sorai itu, Jihan menatap Julian sekali lagi. Ia menyadari satu hal: hari ini bukan hanya tentang selembar ijazah, tapi tentang bagaimana ia mulai melihat pintu hati Julian yang selama ini terkunci rapat, kini perlahan mulai terbuka—setidaknya untuk membiarkan Jihan masuk sedikit lebih dalam ke dalam dunianya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 14 : Pertengkaran

    Satu bulan pertama pernikahan seharusnya menjadi masa bulan madu yang penuh bunga. Namun, bagi Jihan, realitas mulai menunjukkan wajah aslinya. Menikah dengan seorang Julian Pratama Adiwangsa bukan hanya tentang mendapatkan cinta, tetapi juga harus siap berhadapan dengan tembok besar bernama ego dan kebiasaan. Julian adalah pria yang sudah terlalu lama memegang kendali penuh atas hidupnya, perusahaannya, dan rumah tangganya tanpa intervensi siapa pun.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar, menambah dingin suasana rumah. Jihan sudah menyiapkan makan malam spesial—ayam bakar bumbu rujak kesukaan Julian—dan menunggunya dengan sabar di ruang makan. Namun, ketika pintu depan terbuka sekitar pukul sembilan malam, yang masuk bukanlah Julian yang hangat, melainkan sosok pria dengan kemeja kusut, dasi yang sudah ditarik lepas, dan rahang yang mengeras."Mas, sudah pulang? Mas mau makan dulu atau mandi air hangat?" Jihan menghampiri dengan senyum tulus, berniat mengambil alih tas kerja s

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 13 : Malam Pertama

    Malam itu, lampu-lampu di kediaman Adiwangsa sudah mulai diredupkan. Aroma pengharum ruangan sandalwood dan vanilla menyeruak di kamar utama yang kini telah berubah suasananya. Tidak ada lagi kesan dingin; kamar itu kini terasa lebih hangat dengan sentuhan barang-barang Jihan yang mulai tertata rapi. Julian, yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu. Ia menatap ranjang besar mereka dengan senyum kecil yang tertahan. Hari ini adalah hari paling membahagiakan sekaligus melelahkan baginya. Namun, senyum itu seketika memudar saat ia melihat sesosok kecil sudah meringkuk di tengah ranjang, memeluk guling dengan erat. "Aruna?" gumam Julian. Aruna mendongak, matanya yang bulat tampak berkaca-kaca. "Papa... Aluna mau tidul di sini. Aluna mau tidul baleng Bunda dan Papa." Julian menghela napas panjang, ia mendekati ranjang dan duduk di tepiannya. "Sayang, Aruna kan punya kamar sendiri yang bagus. Malam ini Papa mau berdua dulu sama Bu

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 12 : Hari Pernikahan

    Seminggu sebelum hari besar itu tiba, suasana di kediaman Adiwangsa mendadak terasa sepi bagi Julian. Sesuai dengan adat dan kesepakatan keluarga, kedua calon mempelai harus menjalani masa pingitan, yaitu tidak boleh bertemu selama tujuh hari sebelum akad nikah dilangsungkan. Jihan memutuskan untuk menghabiskan masa-masa terakhirnya sebagai gadis lajang di rumah peninggalan orang tuanya, sebuah rumah sederhana namun penuh kenangan yang telah ia rapikan kembali.Namun, Julian tidak menyangka bahwa ia tidak hanya kehilangan calon istrinya untuk sementara, tetapi juga putri kecilnya. Saat hari pertama pingitan dimulai, Aruna bersikeras ingin ikut bersama Jihan. Julian sudah mencoba membujuk, merayu dengan mainan, hingga menjanjikan es krim, namun Aruna tetap kekeh."Aruna, sini pulang sama Papa dong. Papa kesepian loh di sini sendirian. Aruna nggak kasihan sama Papa?" ucap Julian sore itu melalui sambungan video call. Wajah Julian tampak sedikit kuyu, duduk di ruang tengah yang biasanya

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 11 : Persiapan Pernikahan

    Persiapan pernikahan yang hanya berjarak satu bulan lagi membuat kediaman Adiwangsa berubah menjadi pusat kesibukan yang manis. Kotak-kotak undangan beludru berwarna biru dongker mulai menumpuk di ruang kerja Julian, bahkan aroma bunga melati serta mawar putih sudah mulai tercium meski hari besar itu belum tiba. Namun, di tengah kesibukan memesan katering dan menyusun daftar tamu, ada satu sosok yang paling sibuk: Aruna.Bocah itu seolah menjelma menjadi bayangan Jihan. Ke mana pun Jihan melangkah—ke dapur, ke taman, bahkan saat Jihan ingin ke kamar mandi—Aruna selalu mengekor di belakang sambil memegang ujung baju Jihan."Bunda, nanti pas Bunda pakai baju pengantin, Aluna boleh pegang ekol bajunya nggak?" tanya Aruna sambil duduk di pangkuan Jihan saat mereka sedang memilih desain suvenir.Jihan mengusap rambut Aruna dengan sayang. "Tentu boleh, sayang. Aruna kan putri kecil Bunda.""Bunda nggak boleh pelgi-pelgi lagi ya? Bobonya sama Aluna telus ya?"Julian yang baru saja pulang ker

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 10 : Meminta Izin dan Restu

    Pagi itu, langit Yogyakarta tampak cerah dengan semburat jingga yang lembut. Jihan, Julian, dan Aruna berdiri di depan sebuah pusara yang sangat terawat. Gundukan tanah itu milik Airin Saraswati. Bunga-bunga segar baru saja ditaburkan oleh tangan mungil Aruna, memberikan aroma wangi yang menenangkan di tengah sunyinya area pemakaman.​Jihan berlutut, menyentuh nisan batu marmer yang dingin itu dengan jemari bergetar. "Kak Airin... Jihan datang," bisiknya lirih. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Jihan datang untuk cerita. Mas Julian sudah membuka hatinya. Dan Jihan... Jihan minta izin untuk menempati ruang itu, Kak. Jihan janji akan menjaga Mas Julian dan Aruna seumur hidup Jihan."​Ingatan Jihan melayang pada malam terakhir di rumah sakit, beberapa hari sebelum Airin mengembuskan napas terakhirnya. Saat itu, Airin menggenggam tangan Jihan dengan sisa kekuatannya dan berbisik pelan, "Jihan, kalau suatu saat Julian akhirnya jatuh cinta padamu, berjanjilah untuk bersamanya. Ja

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 9 : Misi Rahasia Aruna

    Pasca kejadian di restoran seafood, suasana di rumah keluarga Adiwangsa berubah secara halus namun signifikan. Julian tidak lagi sedingin es, meski ia masih tetap menjadi pria yang irit bicara. Namun, penggerak utama di rumah itu bukanlah Julian ataupun Jihan, melainkan Aruna. Bocah berusia lima tahun itu seolah memiliki radar tajam; ia tahu bahwa Papanya sudah mulai "kalah" oleh pesona Kak Jihannya, dan ia tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. ​Hari Minggu pagi yang cerah biasanya diisi dengan kegiatan santai. Jihan sedang membantu Bibi di dapur menyiapkan sarapan, sementara Julian duduk di teras belakang sambil membaca laporan kerja di tabletnya. Aruna, dengan daster kecil motif stroberinya, berlari menghampiri Jihan. ​"Kak Jihan, Papa bilang Papa mau makan roti panggang buatan Kak Jihan, bukan buatan Bibi," dusta Aruna dengan wajah polosnya. ​Jihan mengernyitkan dahi. "Oh ya? Mas Julian bilang begitu?" ​"Iya! Katanya buatan Bibi nggak enak, cuma buatan Kak J

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status