Beranda / Romansa / Ibu Pengganti Bagi Aruna / Bab 5 : Ketulusan Jihan

Share

Bab 5 : Ketulusan Jihan

Penulis: Meilin Liner
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-25 20:09:21

Suasana rumah besar itu saat sore terasa sangat sunyi, hanya menyisakan suara detik jam dinding di ruang tengah yang luas. Jihan Ayunda terduduk lemas di sofa ruang keluarga. Di pangkuannya, sebuah laptop yang masih menyala menampilkan draf bab terakhir skripsinya. Di meja depan sofa, tumpukan kertas revisi berserakan, penuh dengan coretan tinta merah dari dosen pembimbingnya. Jihan baru saja memejamkan mata sejenak karena kepalanya terasa sangat berat. Seharian ini ia tidak hanya bergelut dengan data penelitian, tapi juga menguras tenaga untuk mengasuh Aruna yang masih dalam masa pemulihan.

​Julian keluar dari ruang kerjanya dengan langkah tegap. Ia berniat mengambil segelas air dingin di dapur untuk mendinginkan kepalanya yang penat setelah serangkaian rapat daring. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan meja makan yang menyambung dengan ruang tengah. Matanya tertuju pada tumpukan kertas milik Jihan yang tampak berantakan karena tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka.

​Awalnya, Julian berniat mengabaikannya. Namun, selembar kertas foto yang terselip di antara draf revisi itu menarik perhatiannya. Kertas foto itu terjatuh ke lantai. Julian membungkuk, memungutnya, dan seketika dunianya seolah berhenti berputar. Itu adalah foto lama, diambil sekitar empat tahun yang lalu. Di sana, Airin—istrinya—tampak tertawa begitu lepas mengenakan toga, merangkul bahu Jihan yang saat itu masih terlihat sangat polos dengan almamater kampus. Keduanya tampak sangat dekat, seperti kakak adik kandung.

​Julian membalik foto itu. Di bagian belakang, terdapat tulisan tangan Jihan yang rapi namun tampak sudah agak memudar:

"Kak Airin, pelindungku. Aku berjanji akan menjaga apa yang Kakak sayangi seumur hidupku."

​Dada Julian terasa sesak. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan rasa sakit yang tiba-tiba muncul.

Pandangannya kemudian beralih ke halaman paling depan dari draf skripsi Jihan yang terbuka di atas meja. Itu adalah lembar Kata Pengantar. Julian membacanya perlahan, baris demi baris.

​"Terima kasih yang terdalam untuk Almarhumah Kak Airin Saraswati, kakak sekaligus mentorku, yang cintanya tak pernah padam. Dan terima kasih untuk Mas Julian Pratama serta Aruna Juvina Adiwangsa, yang telah mengizinkanku menjadi bagian dari keseharian kalian. Skripsi ini adalah bentuk penghormatanku atas amanah yang Kak Airin titipkan."

​Julian terpaku. Selama dua tahun ini, ia selalu menganggap kehadiran Jihan hanyalah sebuah kewajiban moral atau mungkin bentuk rasa kasihan. Ia sering bersikap dingin karena ia tidak ingin ada orang lain yang masuk terlalu dalam ke ruang pribadinya yang sudah hancur.

Namun, membaca nama Airin bersandingan dengan namanya dan Aruna dalam karya akademik yang diperjuangkan Jihan, membuat Julian menyadari sesuatu. Jihan tidak pernah mencoba mengambil posisi Airin. Gadis itu justru sedang menjaga posisi Airin agar tetap hidup di antara mereka.

​"Mas Julian?"

​Suara serak Jihan membuat Julian tersentak. Jihan berdiri di dekat sofa, tampak baru saja terbangun dari tidur singkatnya. Ia terlihat gugup saat melihat Julian memegang draf skripsinya dan foto lama itu.

​"Maaf, tadi berantakan karena angin, jadi saya rapikan," ucap Julian dengan nada bicara yang masih kaku, meski sorot matanya tidak setajam biasanya. Ia meletakkan kembali foto itu di posisi semula.

​"Ah, iya Mas. Terima kasih. Aku ketiduran sebentar tadi," jawab Jihan malu-malu sambil segera menghampiri meja untuk merapikan berkas-berkasnya.

​Tak lama kemudian, Aruna muncul dari arah kamar. Bocah kecil itu berjalan gontai, tampak masih sedikit lemas pasca demamnya turun. "Kak Jihan... Aluna lapal... mau makan..."

​Jihan segera berjongkok, menyambut tubuh mungil Aruna. "Eh, sayang sudah bangun? Ayo, Kak Jihan sudah siapkan bubur ayam hangat buat Aruna. Kita makan di meja, ya?"

​Julian tidak kembali ke ruang kerjanya. Entah menapa, kakinya seolah tertanam di sana. Ia memutuskan untuk duduk di kursi kepala meja, memperhatikan Jihan yang dengan telaten menyiapkan piring dan menyuapi Aruna. Suasana hening, hanya ada suara denting sendok dan celoteh cadel Aruna yang sesekali bertanya tentang burung di taman.

​"Ayo, satu suap lagi ya sayang? Biar cepat kuat," bujuk Jihan lembut.

​Aruna menerima suapan itu, namun tiba-tiba wajahnya berubah pucat. Ia tampak mual. "Nggak enak... pait, Kak..."

​Dalam hitungan detik, Aruna mengelehpeh atau menyemburkan kembali nasi dan bubur yang baru saja masuk ke mulutnya. Julian yang melihat hal itu refleks hendak berdiri mencari tisu, namun gerakannya terhenti oleh pemandangan di depannya.

​Tanpa ekspresi jijik sedikit pun, Jihan menadahkan telapak tangan kirinya tepat di bawah dagu Aruna. Ia menampung sisa makanan yang dikeluarkan Aruna agar tidak mengotori baju atau lantai. Tindakan itu dilakukan Jihan begitu cepat dan natural, seolah ia sudah terbiasa melakukannya.

​"Iya, nggak apa-apa kalau pait. Jangan dipaksa ya," ucap Jihan tenang. Ia menggunakan tangan kanannya untuk mengambil tisu, mengusap mulut Aruna, lalu ia sendiri membawa sisa makanan di tangannya ke arah tempat sampah di pojok dapur.

​Setelah mencuci tangan dengan cepat, Jihan kembali. Belum sempat ia duduk, Aruna bersin dengan sangat keras hingga ingusnya keluar cukup banyak. Lagi-lagi, Jihan bertindak sigap. Ia mengambil tisu baru, menyeka ingus itu dari hidung Aruna, dan mengelapnya sampai bersih seolah ia sedang merawat anaknya sendiri.

​"Sudah bersih. Sekarang minum air putih yang banyak, yuk," kata Jihan sambil tersenyum tulus, mengabaikan fakta bahwa tangannya baru saja terkena sisa makanan dan kotoran hidung bocah itu.

​Julian terpana. Ia tahu Jihan adalah gadis yang sangat menjaga kebersihan dan penampilan di kampus. Namun melihat Jihan melakukan hal-hal "kotor" demi kenyamanan Aruna tanpa rasa risih sedikit pun, membuat tembok pertahanan di hati Julian benar-benar runtuh. Ketulusan itu tidak bisa dipalsukan. Kasih sayang itu murni, bukan sekadar akting di depan Julian.

​Julian berdehem, suaranya terdengar sedikit lebih lunak. "Jihan, bersihkan tanganmu dengan benar. Pakai sabun di wastafel."

​Jihan menoleh, sedikit terkejut dengan nada suara Julian yang tidak sedingin biasanya. "Iya Mas, ini sudah bersih kok."

​Julian kemudian bangkit, ia berjalan ke arah dapur dan mengambilkan segelas air jeruk hangat untuk Aruna, lalu meletakkannya di meja. "Minum ini juga untuk Aruna. Biar mulutnya tidak terasa pahit."

​Interaksi kecil itu membuat Jihan tertegun. Ini adalah pertama kalinya Julian ikut campur dalam urusan remeh-temeh di meja makan saat ada Jihan. Biasanya, Julian akan langsung pergi atau sibuk dengan ponselnya.

​"Terima kasih, Mas," bisik Jihan.

​Julian terdiam sejenak, menatap Jihan yang sedang mengusap rambut Aruna. "Saya tadi melihat revisianmu. Statistiknya masih banyak yang keliru di bagian korelasi variabel."

​Jihan menunduk malu. "Iya Mas, walaupin Mas beberapa hari lalu Mas bantu, aku ternyata masih agak kesulitan di bagian itu."

​"Nanti malam, setelah Aruna tidur, bawa laptopmu ke ruang kerja saya," ucap Julian tegas namun tidak kasar. "Saya akan bantu kamu lagi menyelesaikan analisis datanya. Kamu harus segera daftar sidang. Saya tidak mau skripsimu terhambat hanya karena kamu terlalu sibuk mengurus rumah ini."

​Jihan mendongak dengan mata berbinar. "Beneran, Mas? Mas mau bantu?"

​Julian hanya mengangguk tipis, lalu mengalihkan pandangan ke arah Aruna. "Anak ini butuh Kakaknya lulus cepat, biar tidak ditanya-tanyai soal skripsi terus setiap hari."

​"Papa baik! Nanti Aluna kasih hadiah buat Papa!" celoteh Aruna riang sambil bertepuk tangan.

​"Hadiah apa, Aruna?" tanya Julian tanpa sadar ikut tersenyum tipis.

​"Hadiah cium dali Kak Jihan!" jawab Aruna polos.

​Wajah Jihan seketika memerah padam sampai ke telinga. Ia segera menyibukkan diri mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih. Sementara Julian berdehem keras, pura-pura tidak dengar meski ia pun merasa ada getaran aneh yang menjalar di hatinya. Pria itu menyadari, bahwa meskipun ia masih sangat mencintai Airin, keberadaan Jihan telah memberikan warna baru yang perlahan menghapus kesunyian di rumah itu. Jihan adalah penjaga amanah yang luar biasa, dan Julian mulai sadar bahwa ia tidak bisa terus-menerus menutup diri dari ketulusan yang begitu nyata.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 14 : Pertengkaran

    Satu bulan pertama pernikahan seharusnya menjadi masa bulan madu yang penuh bunga. Namun, bagi Jihan, realitas mulai menunjukkan wajah aslinya. Menikah dengan seorang Julian Pratama Adiwangsa bukan hanya tentang mendapatkan cinta, tetapi juga harus siap berhadapan dengan tembok besar bernama ego dan kebiasaan. Julian adalah pria yang sudah terlalu lama memegang kendali penuh atas hidupnya, perusahaannya, dan rumah tangganya tanpa intervensi siapa pun.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar, menambah dingin suasana rumah. Jihan sudah menyiapkan makan malam spesial—ayam bakar bumbu rujak kesukaan Julian—dan menunggunya dengan sabar di ruang makan. Namun, ketika pintu depan terbuka sekitar pukul sembilan malam, yang masuk bukanlah Julian yang hangat, melainkan sosok pria dengan kemeja kusut, dasi yang sudah ditarik lepas, dan rahang yang mengeras."Mas, sudah pulang? Mas mau makan dulu atau mandi air hangat?" Jihan menghampiri dengan senyum tulus, berniat mengambil alih tas kerja s

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 13 : Malam Pertama

    Malam itu, lampu-lampu di kediaman Adiwangsa sudah mulai diredupkan. Aroma pengharum ruangan sandalwood dan vanilla menyeruak di kamar utama yang kini telah berubah suasananya. Tidak ada lagi kesan dingin; kamar itu kini terasa lebih hangat dengan sentuhan barang-barang Jihan yang mulai tertata rapi. Julian, yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu. Ia menatap ranjang besar mereka dengan senyum kecil yang tertahan. Hari ini adalah hari paling membahagiakan sekaligus melelahkan baginya. Namun, senyum itu seketika memudar saat ia melihat sesosok kecil sudah meringkuk di tengah ranjang, memeluk guling dengan erat. "Aruna?" gumam Julian. Aruna mendongak, matanya yang bulat tampak berkaca-kaca. "Papa... Aluna mau tidul di sini. Aluna mau tidul baleng Bunda dan Papa." Julian menghela napas panjang, ia mendekati ranjang dan duduk di tepiannya. "Sayang, Aruna kan punya kamar sendiri yang bagus. Malam ini Papa mau berdua dulu sama Bu

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 12 : Hari Pernikahan

    Seminggu sebelum hari besar itu tiba, suasana di kediaman Adiwangsa mendadak terasa sepi bagi Julian. Sesuai dengan adat dan kesepakatan keluarga, kedua calon mempelai harus menjalani masa pingitan, yaitu tidak boleh bertemu selama tujuh hari sebelum akad nikah dilangsungkan. Jihan memutuskan untuk menghabiskan masa-masa terakhirnya sebagai gadis lajang di rumah peninggalan orang tuanya, sebuah rumah sederhana namun penuh kenangan yang telah ia rapikan kembali.Namun, Julian tidak menyangka bahwa ia tidak hanya kehilangan calon istrinya untuk sementara, tetapi juga putri kecilnya. Saat hari pertama pingitan dimulai, Aruna bersikeras ingin ikut bersama Jihan. Julian sudah mencoba membujuk, merayu dengan mainan, hingga menjanjikan es krim, namun Aruna tetap kekeh."Aruna, sini pulang sama Papa dong. Papa kesepian loh di sini sendirian. Aruna nggak kasihan sama Papa?" ucap Julian sore itu melalui sambungan video call. Wajah Julian tampak sedikit kuyu, duduk di ruang tengah yang biasanya

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 11 : Persiapan Pernikahan

    Persiapan pernikahan yang hanya berjarak satu bulan lagi membuat kediaman Adiwangsa berubah menjadi pusat kesibukan yang manis. Kotak-kotak undangan beludru berwarna biru dongker mulai menumpuk di ruang kerja Julian, bahkan aroma bunga melati serta mawar putih sudah mulai tercium meski hari besar itu belum tiba. Namun, di tengah kesibukan memesan katering dan menyusun daftar tamu, ada satu sosok yang paling sibuk: Aruna.Bocah itu seolah menjelma menjadi bayangan Jihan. Ke mana pun Jihan melangkah—ke dapur, ke taman, bahkan saat Jihan ingin ke kamar mandi—Aruna selalu mengekor di belakang sambil memegang ujung baju Jihan."Bunda, nanti pas Bunda pakai baju pengantin, Aluna boleh pegang ekol bajunya nggak?" tanya Aruna sambil duduk di pangkuan Jihan saat mereka sedang memilih desain suvenir.Jihan mengusap rambut Aruna dengan sayang. "Tentu boleh, sayang. Aruna kan putri kecil Bunda.""Bunda nggak boleh pelgi-pelgi lagi ya? Bobonya sama Aluna telus ya?"Julian yang baru saja pulang ker

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 10 : Meminta Izin dan Restu

    Pagi itu, langit Yogyakarta tampak cerah dengan semburat jingga yang lembut. Jihan, Julian, dan Aruna berdiri di depan sebuah pusara yang sangat terawat. Gundukan tanah itu milik Airin Saraswati. Bunga-bunga segar baru saja ditaburkan oleh tangan mungil Aruna, memberikan aroma wangi yang menenangkan di tengah sunyinya area pemakaman.​Jihan berlutut, menyentuh nisan batu marmer yang dingin itu dengan jemari bergetar. "Kak Airin... Jihan datang," bisiknya lirih. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Jihan datang untuk cerita. Mas Julian sudah membuka hatinya. Dan Jihan... Jihan minta izin untuk menempati ruang itu, Kak. Jihan janji akan menjaga Mas Julian dan Aruna seumur hidup Jihan."​Ingatan Jihan melayang pada malam terakhir di rumah sakit, beberapa hari sebelum Airin mengembuskan napas terakhirnya. Saat itu, Airin menggenggam tangan Jihan dengan sisa kekuatannya dan berbisik pelan, "Jihan, kalau suatu saat Julian akhirnya jatuh cinta padamu, berjanjilah untuk bersamanya. Ja

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 9 : Misi Rahasia Aruna

    Pasca kejadian di restoran seafood, suasana di rumah keluarga Adiwangsa berubah secara halus namun signifikan. Julian tidak lagi sedingin es, meski ia masih tetap menjadi pria yang irit bicara. Namun, penggerak utama di rumah itu bukanlah Julian ataupun Jihan, melainkan Aruna. Bocah berusia lima tahun itu seolah memiliki radar tajam; ia tahu bahwa Papanya sudah mulai "kalah" oleh pesona Kak Jihannya, dan ia tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. ​Hari Minggu pagi yang cerah biasanya diisi dengan kegiatan santai. Jihan sedang membantu Bibi di dapur menyiapkan sarapan, sementara Julian duduk di teras belakang sambil membaca laporan kerja di tabletnya. Aruna, dengan daster kecil motif stroberinya, berlari menghampiri Jihan. ​"Kak Jihan, Papa bilang Papa mau makan roti panggang buatan Kak Jihan, bukan buatan Bibi," dusta Aruna dengan wajah polosnya. ​Jihan mengernyitkan dahi. "Oh ya? Mas Julian bilang begitu?" ​"Iya! Katanya buatan Bibi nggak enak, cuma buatan Kak J

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status