Share

Bagian Lima

Dona menghampiri keranjang tidur bayi yang berisi Arumi di dalamnya. Bayi itu tidur dengan tenang. Mulutnya bergerak-gerak membuat Dona gemas melihatnya. Sejenak, dia melupakan tujuannya masuk ke sini.

"Anak ini sangat pandai memikat siapa pun yang melihatnya. Sangat cantik. Keponakanku tersayang." Dona tidak bisa mencegah bibirnya membentuk lengkungan.

Di tepi tempat tidur, di sanalah Rafa memupuk kekesalan di dalam dada atas ucapan Dona yang menyuruhnya menikahi Eva. Tidak mungkin dia menikahi perempuan muda itu. Kalau pun dia ingin, Eva pasti menolaknya. Karena, Rafa seorang duda anak satu. Siapa yang ingin menikah dengan pria yang sudah punya anak?

Lagipula, Rafa tidak ingin mengingkari janjinya pada mendiang istrinya. Dia akan tetap setia menyendiri setelah Arumi, istrinya meninggal. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk mencari ibu baru untuk bayinya. Tetapi,  Dona malah menyeretnya ke situasi yang menyebalkan. 

"Kakak pikir, kalian memang butuh seorang perempuan di rumah ini. Untuk menjaga kamu dan Arumi." Dona berbalik dan duduk di sofa yang berhadapan dengan tempat tidur.

"Tidak perlu! Aku bisa jaga diri sendiri dan sanggup jaga Arumi." Rafa menolak dengan tegas usulan kakaknya yang dia anggap aneh itu.

"Ini berbeda, Raf. Kamu dan Arumi butuh seorang perempuan di kehidupan kalian lagi."

Rafa mendengus, "Aku tidak butuh, Kak. Aku bisa melakukan segalanya. Arumi cukup punya aku."

"Ayolah, Raf. Kamu jangan pura-pura bisa melakukan segalanya. Lihat dirimu. Kamu panikan. Kamu tidak bisa mengganti popok Arumi, tidak paham cara menenangkan Arumi dan kakak tidak yakin kamu bisa merawat Arumi dengan baik."

"Aku bisa merawat Arumi. Aku bisa belajar memakaikan popok untuk Arumi, memberinya makan dan memenuhi semua kebutuhan Arumi."

"Tidak sesimpel itu, Raf. Kamu butuh ibu baru untuk Arumi."

"Nggak bisa, Kak. Rafa tidak membutuhkan itu. Arumi hanya punya satu ibu dan nggak akan ada ibu baru untuknya. Aku juga hanya punya satu istri dan tidak memiliki niat untuk membuka hati untuk perempuan lain. Hatiku, cintaku dan semua yang kumiliki hanya bisa kuserahkan pada istriku, mama Arumi. Bukan orang lain."

"Raf! Jangan egois! Pikiranmu itu sangat dangkal." sergah Dona.

Rafa dan Dona saling tatap dengan pemikiran yang bertentangan. Dona menginginkan Rafa menikah lagi, sedangkan Rafa tetap ingin mempertahankan status dudanya.

"Aku nggak egois, Kak. Aku hanya berusaha menepati janji kepada istriku. Meskipun dia sudah meninggal, aku akan tetap dan selalu mencintainya. Aku tidak kan membiarkan orang lain menggantikan posisinya. Seharusnya, Kakak tahu betul hal ini."

"Itu namanya egois, Raf. Kamu hanya mikirin janjimu, keinginanmu dan kesetianmu itu. Kamu nggak mikirin Arumi, anakmu! Pikirkan dia juga! Dia butuh seorang ibu."

"Aku bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk anakku. Kakak jangan menyuruhku melakukan hal yang tidak aku inginkan. Ini keluarga aku, kehidupanku. Maka aku yang berhak menentukan jalan." 

Rafa membenci topik ini. Dia sudah tegas menolak, tapi Dona masih keras kepala memintanya menikah. 

"Itu berbeda, Raf. Laki-laki kodratnya menjadi ayah, bukan ibu. Anakmu membutuhkan ibu. Ibu yang nyata, seorang perempuan. Pikirkan lagi, Raf."

Rafa bangkit berdiri. Menatap Dona dalam diam. Mulutnya ingin membalas ucapan Dona, tapi perdebatan akan terus berlanjut jika melakukannya. Dia dan Dona sama-sama keras kepala. 

"Aku bisa, Kak! Aku bisa menjadi apapun untuk anakku." Dengan nada penuh penekanan, Rafa mengucapkan. Dia yakin dengan dirinya. Sebab itulah, kalimat itu bisa keluar dari mulutnya. 

Rafa tidak ingin membawa orang lain ke dalam kehidupannya bersama Arumi—anak dan istrinya. Kehidupan mereka hanya bertiga. Tidak akan ada nama baru di kisah mereka. 

Rafa mendekati keranjang tidur bayinya lalu menatap sendu Arumi, satu-satunya yang paling dia cintai. Dia membelai pelan pipi Arumi. Matanya berkaca-kaca sehingga penglihatan buram. 

Tidak ingin dilihat menangis, Rafa berkata dengan suara serak, "Kakak bisa keluar sekarang. Biarkan aku berdua dengan Arumi di sini."

Dona menghela napas sebelum membalas, "Raf, Kakak hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Kakak nggak ada maksud lain." 

"Sudah cukup, Kak. Pembahasan ini kita akhiri di sini. Aku tetap pada pendirianku."

"Rafa!" panggil Dona.

"Keluarlah, Kak." Rafa menyuruh dengan suara lemah. 

Dona menatap punggung Rafa yang membelakanginya. Dia bangkit berdiri dan keluar dari kamar. Dia akan memberi ruang untuk Rafa. Ruang untuk berpikir dan merenungi bahwa ucapannya benar. 

Meski dia tahu, cinta Rafa kepada mendiang istrinya sangat besar. Wajar saja, Rafa belum bisa berdamai dengan kondisinya saat ini. Baru tiga bulan. Itu waktu yang singkat untuk menerima takdir yang harus Rafa terima. Namun, Dona tidak ingin melihat adiknya terluka dan bersedih terlalu lama. Dia berpikir, menjodohkan Rafa dengan penyewa kos itu bisa menjadi jalan untuk Rafa melupakan kesedihannya.

"Raf, kamu harus bisa melupakan masa lalu kamu. Ada Arumi yang harus kamu pedulikan. Ada kehidupan bayimu yang harus kamu pertanggungjawabankan. Arumi tidak boleh kekurangan apapun, termasuk ibu." Dona berbisik di depan pintu kamar sebelim melanhkah menjauhi kamar Rafa.

Di dalam sana, Rafa masih memandangi bayinya yang damai dengan tidurnya. Bayi itu, sama sekali tidak terganggu oleh perdebatan Rafa dan Dona.

"Nak, maafin Papa. Maafin Papamu yang bodoh ini. Papa ..." Rafa merancau dan segera membekap mulutnya. Dia tidak boleh memperdengarkan isakannya pada bayi itu. 

Bayi sensitif dengan suara. Jiwa mereka terikat. Bisa saja, bayi itu memahami perasaan Rafa dan terbangun. Rafa tidak ingin menganggu tidur bayinya.

Rafa jatuh terduduk di samping keranjang tidur bayinya. Dia menelungkupkan wajah di antara dua lututnya. Tubuhnya bergetar karena menahan tangis. 

'Arumi, Sayang. Kak Dona memintaku menikah lagi. Aku tidak mau. Aku masih mencintaimu. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau menikah lagi. Hanya kamu yang berhak menempati hatiku.'

'Arumi, aku merindukanmu. Aku butuh pelukanmu. Kamu di mana?'

'Sayang, apa kamu sudah membenciku? Kenapa kamu tidak datang memelukku saat aku butuh? Kenapa kamu meninggalkan aku bersama bayi kita? Tega sekali. Kamu menginginkan bayi kita, tapi kamu meninggalkannya tanpa sempat melihat betapa cantik bayi kita. Kamu jahat, Arumi!'

'Sayang, jika saja kamu masih hidup. Aku tidak akan merasakan ini. Kita akan bahagia dengan bayi cantik kita.'

Rafa terus-terusan meneriakkan rasa rindunya dan harapan semu kepada istrinya. Jeritan dalam hati terus menggema hingga ke telinganya. Menjalar ke pikirannya dan menyakiti seluruh tubuhnya. Sangat menyiksa Rafa.

Kamar mereka—Rafa dan istrinya—menjadi saksi bisu betapa cengeng dan rapuh sosok Rafa saat ini. Udara dalam kamar ini memeluk Rafa mengantikan pelukan Arumi. Semua perabotan ingin menutup mata. Tidak tega melihat ayah tunggal itu menangisi nasibnya.

Rafa tidak tahu bahwa di balik pintu kamar itu, ada seorang perempuan yang mendengar penolakannya untuk menikah lagi. 

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rsn Ou
eva yg nguoing, bkn?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status