Share

Bagian Empat

Arumi telah tertidur setelah Eva mengganti popok Arumi—tentu saja mendapat pengarahan dari mamanya. Meskipun tadi, mama Eva marah-marah, jiwa keibuannya muncul melihat putrinya kewalahan mengganti popok bayi itu. Sekesal-kesalnya mama Eva, melampiaskan kemarahan dengan mengabaikan Eva dan bayi itu sulit dilakukan. Apalagi saat melihat wajah bayi itu, membuat hatinya terenyuh dan tidak bisa menahan diri untuk mengelus pipi gembulnya.

Kini, Orangtua Eva duduk tegak di sofa memandangi dua orang beda usia itu secara bergantian. Eva duduk di karpet dan Rafa duduk di single sofa. Rafa memberi kode kepada Eva untuk ikut duduk di sofa, tapi perempuan itu bergeming dengan kepala tertunduk.

Lima belas menit telah berlalu, namun belum ada yang mengeluarkan suara. Terdengar helaan napas panjang dari mama Eva yang beradu dengan suara napas tiga orang lainnya.

"Ma," panggil Eva. Dia bergerak maju menggunakan lututnya. Dia meletakkan kedua tangannya di lutut mamanya dan menumpuk dagunya di sana.

Papa Eva menatap putrinya lalu mengangguk. Memberi semangat kepada putrinya agar menyelesaikan segera kesalahpahaman itu.

"Ma, lihat Eva. Jangan memalingkan wajah seperti itu. Bagaimana cara Eva mau jelasin kalau mama nggak mau lihat Eva." Eva memohon dengan wajah memelas.

Di ujung sana, Rafa menyaksikan keluarga kecil itu. Dia tidak paham titik permasalahan mereka. Dia membiarkan saja, Eva dan orangtuanya menyelesaikan semuanya tanpa dia harus campur tangan. Rafa tidak tahu bahwa masalah yang Eva hadapi melibatkan dirinya. Bahkan, anak Rafa adalah sumber mencuatnya kesalahpahaman itu.

"Kalian menikah saja!" Mama Eva memutuskan.

"Ma! Aku sama dia nggak ada hubungan apapun." Eva membela diri.

'Siapa yang mau menikah? Eva disuruh menikah? Memangnya Eva punya pacar?' batin Rafa masih memposisikan diri sebagai pendengar.

"Nggak ada hubungan, tapi punya bayi. Terus mama harus percaya ucapan kamu dan mengabaikan bukti nyata di depan mata Mama, iya?!" 

'Eva punya bayi? Pantas saja dia bilang pernah mengganti popok bayi sebelumnya.'

"Mama salah paham. Dia bukan ...." Ucapan Eva terpotong oleh teriakan heboh dari seseorang. 

"Arumiii ... Aku datang!"

Seorang perempuan yang berpenampilan seperti wanita karir memasuki rumah dengan berteriak. Di tangannya menenteng popok bayi dan buah-buahan. Dia melongo melihat keramaian di dalam rumah. Dia melempar senyum kaku kepada semua orang kemudian melanjutkan langkahnya mendekati Rafa.

"Mereka siapa, Raf?" tanya wanita karir itu dengan suara berbisik sambil meletakkan asal bawaanya lalu duduk di samping Rafa.

"Orangtua dari salah satu penyewa kos aku, Kak. Itu anaknya yang menyewa kos di sini." Rafa ikut berbisik dan menunjuk Eva dengan dagu.

"Oh, kirain ada masalah, ternyata cuma kunjungan keluarga. Ponakan aku mana? Udah berhenti nangis?" tanya Dona, kakak Rafa.

"Udah tidur. Tadi, Eva bantuin ganti popoknya sekalian menidurkan Arumi." 

"Hebat juga anak itu," puji Dona.

Dia menatap orangtua Eva dan Eva lalu tersenyum. Senyuman kali ini lebih manis dan tulus. Aura cantiknya keluar ketika Dona tersenyum. "Semuanya, saya ke kamar Arumi ya. Silahkan lanjutkan pembicaraan kalian."

"Kamu siapa?" Pertanyaan Mama Eva menghentikan langkah Dona.

"Saya, kakaknya Rafa." Dona memegang kedua bahu Rafa.

"Kebetulan. Silahkan duduk. Kita bicarakan ini baik-baik. Sudah sewajarnya, pembicaraan ini dilakukan oleh dua pihak keluarga. Kamu wakili saja keluarga kamu."

Meskipun tidak mengerti, Dona menurut saja dan kembali duduk di dekat Rafa. Dia menatap tanya pada Rafa, meminta penjelasan. Orang yang ditatap hanya mengedikkan bahu.

"Ini ada masalah apa ya, Bu?" tanya Dona ingin segera menuntaskan rasa penasarannya.

"Saya mau adik kamu menikahi putri saya," kata Mama Eva mantap.

Eva, Dona dan Rafa kaget mendengarnya. Mata Rafa bahkan membulat sempurna. Dia baru tersadar tenyata sejak tadi, pembicaraan Eva dan orangtuanya tentang dirinya dan Eva. Dia mendongak dan menatap Dona.

Di sisi lain, Eva meringis mendengar ucapan mamanya. Sangat memalukan. Dia seperti perempuan yang buruk dan harus segera dinikahi oleh Rafa demi pertanggungjawaban. Eva tidak bisa memikirkan lagi reaksi Dona atau Rafa di ujung sana. 

"Sebentar, Bu. Kenapa adik saya harus menikahi anak ibu?" Dona bertanya dengan nada tenang.

"Tentu saja dia harus menikah dengan putri saya. Dia dan Eva sudah memiliki anak, tapi saya dan keluarga besar Eva tidak pernah mendapat kabar pernikahan mereka. Karena itu, saya sangat malu jika Eva harus pulang dengan bayinya dan dia, tanpa ada ikatan pernikahan." Mama Eva menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk Rafa.

Dona menatap Rafa lalu tertawa. Dia merasa lucu dengan situasi yang dihadapi saat ini. 

"Kenapa kamu ketawa?" Mama Eva terganggu dengan reaksi Dona.

"Begini, Bu. Ada kesalahpahaman di sini. Adik saya ini, si Rafa memang ayah dari Arumi. Tapi ibunya bukan Eva." Dona memperjelas dan meluruskan kesalahpahaman itu.

"Bukan Eva? Trus siapa?" tanya mama Eva, entah kepada siapa. Dia menatap putrinya lalu berkata, "Eva? Itu benar?"

Wajah mama Eva memerah, menahan malu. Dia tidak sanggup mendengar jawaban Eva, tapi dia harus. Eva mengangguk.

"Iya, Ma. Yang dikatakan kakak Pak Rafa itu benar. Makanya mama dengerin penjelasan Eva dulu. Mama sih langsung marah-marah, bikin heboh saja." Eva bernapas lega. Akhirnya, dia bisa mengatakan semua kalimat yang sejak tadi tertahan.

"Kenapa kamu baru bilang? Bikin malu mama tau nggak." Mama Eva mencicit. Dia sangat malu mengangkat wajahnya. Ketegasan yang telihat di wajahnya tadi berubah menjadi semu merah. Dia ingin menghilang aja dari hadapan pemilik kos itu.

"Itu salah mama sendiri. Makanya jangan negatif mulu pikirannya sama anak sendiri." Eva menyalahkan mamanya. Merasa puas bahwa dirinya benar dan mamanya salah.

"Kamu nih, bukannya belain mama malah nyalahin. Harusnya kamu cepat-cepat bilang kalau bayi itu bukan anak kamu. Siapa coba yang nggak salah paham ngeliat kamu gendong bayi dan terlihat sayang banget sama bayi itu. Mama aja kaget liat kamu." 

"Banyak kali, Ma. Banyak orang yang gendong bayi yang bukan anaknya. Mama juga sering 'kan gendong anak Tante Ayu, nggak ada tuh yang bilang anak itu anak mama." Eva tidak mau kalah.

"Ngelawan terus kalau mama ngomong." Mama Eva mendelik.

"Sudah-sudah, jangan berdebat di sini. Nggak enak sama Nak Rafa dan kakaknya." Papa Eva menengahi dua perempuan itu.

"Ma, minta maaf sana sama Rafa dan kakaknya. Mama udah bentak-bentak tadi." Perintah Papa Eva dengan suara berbisik sambil menyenggol istri.

Mama Eva menghadapkan seluruh tubuhnya ke arah Rafa dan Dona. Dengan kerendahan diri, dia berkata, "Saya minta maaf ya udah salah paham sama kamu, Ra-Rafa. Rafa 'kan? Dan maafin saya juga ya udah marah-marah tadi."

Rafa tersenyum maklum lalu membalas, "Nggak apa-apa, Bu. Justru saya mau terima kasih sama Eva karena udah bantuin saya tadi."

Rafa beralih melihat Eva yang sedang memainkan karpet. 'Ada-ada saja tingkah perempuan itu.' Rafa membatin.

"Tapi kalau Rafa mau nikahin Eva, saya setuju." Tiba-tiba Dona mengeluarkan suara. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status