MasukPukul tujuh malam, langit di Kota Areta saat ini belum sepenuhnya gelap. Di ufuk yang mempertemukan garis cakrawala dengan bibir pantai, terdapat semburat warna biru tua yang pekat, tampak seperti batu safir yang indah dan misterius.Di tepi pantai.Terdapat meja sepanjang 20 meter yang dipenuhi dengan berbagai hidangan lezat yang estetik. Di salah satu sisinya, tersedia pula area barbeku dan area prasmanan.Satu per satu, meja makan itu mulai dipenuhi orang. Sebagian besar adalah mereka yang diundang oleh Jody untuk berlibur di sini, mulai dari tokoh-tokoh muda di dunia bisnis, teman-teman sejawat, hingga beberapa aktris dan model ternama dari dunia hiburan.Saat ini, para pria dan wanita yang mengenakan pakaian mewah tersebut duduk bersama, mengobrol dan bersenda gurau.Rissa mengangkat gelas sampanye di hadapannya dan menyesapnya sedikit. Jody meliriknya dan mengingatkan. "Jangan minum terlalu banyak."Di samping mereka, Weny Linara mulai menggoda, "Rissa, Pak Jody benar-benar sanga
Turun dari kapal pesiar, Theo berinisiatif mengulurkan tangan untuk membawakan koper milik Amelia. Theo menimbang koper itu sejenak dan bertanya, "Barang bawaanmu dikit banget?""Lumayan, kok. Semua yang perlu dibawa sudah ada di dalam.""Kalau kamu butuh sesuatu, panggil saja pelayan. Di sini semuanya ada," ujar Theo sambil berjalan di depan, membimbing Amelia masuk ke Hotel Kalika.Lobi hotel itu tampak begitu megah dan mewah.Dekorasi di tempat ini bisa dikatakan sangat mewah.Begitu melangkah masuk, mata langsung tertuju pada lukisan minyak raksasa karya pelukis ternama yang tergantung di posisi paling mencolok di aula. Seluruh lampu gantung di langit-langit terbuat dari bahan kaca lapis lazuli yang tampak sangat mahal dan berkelas.Manajer hotel bergegas menghampiri dengan sikap hormat dan memandu jalan di depan. "Pak Theo, Bu Amelia, silakan lewat sini. Kamar kalian ada di lantai enam."Saat mereka sedang berjalan ke depan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah belakan
Di dalam mobil, keduanya terdiam.Sepertinya ada semacam keheningan janggal yang menyelimuti mereka.Mobil itu terus melaju hingga sampai di depan gerbang kawasan vila Keluarga Amarta. Amelia turun dari mobil dan Jody menatap punggung Amelia melalui jendela mobil hingga perlahan menghilang. Sopir tidak berani segera menjalankan mobilnya. Dia benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Pak Jody. Meski Pak Jody mengatakan dia tidak menyukai Bu Amelia ini, tetapi ….Sopir itu tidak berani berspekulasi lebih jauh.Jody menarik kembali pandangannya.Dengan suara acuh tak acuh, dia pun berkata, "Jalan.""Baik.""Pak Jody, kita kembali ke kediaman Keluarga Bramantya atau ke Kiyara?""Kembali ke Kiyara."Lampu merah menyala di depan, mobil pun berhenti. Ponsel Jody berdering. Jody melirik sekilas, ternyata telepon dari Theo.Dia mengangkatnya. "Halo.""Kak, Kakak sudah mengantar Amelia pulang?" Belum sempat Jody menjawab, dia mendengar Theo bergumam di ujung telepon. "Aku meneleponn
Amelia menggigit bibirnya, pelan-pelan makin kuat.Di sepanjang jalan, keduanya tidak mengatakan apa-apa.Terdengar suara berdengung.Ponsel Amelia bergetar. Amelia mengeluarkan ponselnya. Melihat telepon dari Theo, Amelia pun mengangkatnya dan berkata dengan suara yang pelan, "Halo.""Amelia, sudah sampai rumah?"Amelia melihat kondisi jalanan di depannya yang sedang macet. "Belum, sedang macet.""Oh, kalau begitu malam ini pulanglah dan segera berkemas. Bawa beberapa pakaian tambahan. Sampai jumpa besok. Oh iya, apa kakakku ada di sampingmu? Berikan ponselnya ke Kak Jody.""Aku …." Amelia menyodorkan ponselnya kepada pria di sampingnya, meski ada jarak sekitar dua orang di antara posisi duduk mereka.Jody menerima ponsel tersebut. "Halo.""Kak, Amelia itu teman kuliahku. Kakak tahu sendiri kan, aku selalu menyukainya. Jadi, Kakak harus mengantarnya sampai ke rumah dengan selamat. Kalaupun Kakak ada urusan lain, Kakak harus tetap mendahulukannya dan memastikan dia sampai di rumah."Me
Salman tetap tidak percaya jika Amelia adalah tipe wanita yang gila harta dan haus akan kemewahan. "Amelia, di mataku, kamu selalu menjadi gadis yang lembut dan baik hati."Salman sudah lama mengenal Amelia, sejak Wulan pertama kali dirawat di rumah sakit, dia sudah mengenalnya.Bagi Salman, Amelia selalu menjadi sosok gadis yang kuat dan berhati baik."Apa pacarmu memperlakukanmu dengan baik?""Sangat baik."Akan tetapi, Salman menyadari jika Amelia menjawab dengan begitu dingin. Seakan-akan tersadar, Salman pun cepat-cepat berkata, "Amelia, apa terakhir kali itu kamu membohongiku?" Salman merasa Amelia sama sekali tidak naik ke mobil pria kaya mana pun. Semua itu hanyalah kebohongan agar bisa putus dengannya. "Kamu sebenarnya nggak punya pacar. Kamu ngelakuin itu cuma untuk menolakku, 'kan? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"Amelia menghela napas panjang. "Nggak ada, Dokter Salman. Kamu terlalu berpikiran macam-macam.""Nggak, nggak mungkin. Amelia, matamu nggak bisa berbohong.
Amelia tidak menyangka jika akan bertemu dengan Salman dan Jihan di sini. Amelia memalingkan pandangannya, mengangguk singkat mengiakan, lalu menunggu lift dengan tenang.Melihat Amelia tidak memedulikannya, sorot mata Salman tampak terluka. Dia pun berkata kepada Jihan, "Jihan, pergilah dulu ke ruang VIP. Aku akan segera menyusul."Mana mungkin Jihan mau pergi sendirian. Dia kembali memeluk lengan pria itu, seakan menegaskan kepemilikannya di depan Amelia. "Amelia, kebetulan sekali ya kita ketemu di sini."Amelia hanya tersenyum tipis. "Aku kerja di sini. Jadi, wajar saja kalau ketemu. Bu Jihan, selamat bersenang-senang."Jihan berkata dengan sikap yang tampak murah hati, "Amelia, kamu sudah selesai kerja, 'kan? Gimana kalau ikut kami saja? Malam ini ulang tahunku. Aku mengundangmu untuk datang ke pesta ulang tahunku.""Nggak perlu, aku sudah ada janji dengan teman dan ada urusan lain," kata Amelia dengan acuh tak acuh. Amelia menatap Jihan dengan senyum yang lembut, tetapi terlihat a
Amelia berpura-pura tetap tenang. Matanya sama sekali tidak berani menatap Theo.Pada titik ini, Jody membalikkan badannya ke samping, menundukkan kepalanya sedikit dan memperkenalkannya, "Rissa, ini bibiku."Amelia membuka mulutnya dan memanggil dengan suara yang agak serak, "Bibi."Amelia sengaja
"Nggak perlu, aku bisa sendiri." Wajah Amelia menjadi pucat pasi. Tangannya memeluk gaun itu erat-erat dan sama sekali tidak mau melepaskannya."Rissa!" Di tengah kebuntuan tersebut, tiba-tiba terdengar suara Ambar di ambang pintu. "Jody juga ada di sini? Kalian ini…"Jody menarik kembali tangannya.
Mobil Ambar melaju kencang, membuntuti sebuah taksi di depannya. Pengawalnya berkata, "Bu Ambar, dia menuju ke arah Vila Adara."Hati Ambar langsung mencelos, gawat!Jika Jody sampai mengetahui tentang skandal Keluarga Amarta yang menukar pengantin saat pernikahan…Serta fakta jika Amelia sedang ham
Seluruh tubuh Jody menegang. Matanya makin gelap. Dalam pandangannya, jari-jari wanita itu bagaikan sulur lembut, yang mencengkeram lehernya tepat saat ledakan itu terjadi."Jody…"…Keesokan paginya.Amelia terbangun dan hanya merasakan seluruh tubuhnya terasa begitu pegal dan nyeri.Amelia terkeju







