LOGINUdara di rumah mode kelas atas Paris itu berbau uang dan ketakutan. Aku telah menunggu enam bulan untuk gaun pengantinku. Sekarang, gaun itu justru tersampir di pundak Selena Rosion, seorang influencer yang sedang viral dan juga adik angkat tunanganku yang seorang mafia, Vicky Delano. Manajer rumah mode itu berkeringat dingin, matanya melirik gelisah antara aku dan pria yang sedang bersantai di sofa beludru. Vicky berdiri. Dia menyesuaikan lipatan ekor gaun bertabur berlian pada Selena dengan gerakan tangan yang santai. “Acara perdananya minggu depan, dia membutuhkan gaun yang menonjol dan menarik perhatian. Dia akan meminjamnya. Kau pilih saja sesuatu dari etalase dan jangan buat onar.” Nada suaranya datar dan tegas. Di bawah lampu gantung kristal, Selena mengagumi dirinya sendiri di depan cermin panjang, senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Aku melihat bayanganku sendiri di cermin yang sama, mengenakan celana denim dan mantel yang basah kuyup. Aku tampak seperti turis yang tersesat. Tiba-tiba, seluruh rencana yang kususun selama setahun terakhir terasa seperti lelucon yang menyakitkan. Aku tidak berteriak, hanya merasa kedinginan. Mati rasa. Aku pun melepaskan cincin pertunangan dengan berlian lima karat dari jariku. Cincin itu membentur meja kopi kaca dengan bunyi klik yang tajam. “Kau benar, Vicky. Aku memang tidak butuh gaun pengantin ini. Pernikahan ini … aku juga tidak membutuhkannya.”
View MoreObsesi dan kegilaan memicu ledakan energi terakhir Vicky.Dia menyeret kakinya yang patah melewati badai salju, merangkak sedikit demi sedikit dengan darah mengalir menuju pintu keluar garasi bawah tanah gedung Cakrawala Investama.Dia menunggu selama tiga hari tiga malam, tanpa makanan. Hanya sesekali meminum lelehan salju cair yang kotor.Dia tidak punya rencana. Dia hanya tahu dirinya harus bertemu Wina. Sekali lagi, dia akan merendahkan diri, bahkan menjilat sepatunya. Apa pun akan dia lakukan.Pada malam keempat, saat salju turun dengan lebat, sebuah mobil lapis baja hitam yang diapit oleh dua SUV hitam, muncul dari pintu keluar.Vicky langsung menerjang.Dia melemparkan dirinya ke depan, jatuh berlutut tepat di depan mobil itu.Bug!Suara lututnya membentur aspal beku bergema.Rem pun berdecit.Vicky berlutut di lumpur es yang kotor. Dia mulai membenturkan dahinya ke tanah.Bug. Bug. Bug.Darah berwarna merah menyala, bercampur dengan salju abu-abu di bawah wajahnya."Wina, kumoh
Sebulan setelah pernikahan dibatalkan.Kehidupan Vicky berubah menjadi mimpi buruk yang nyata.Dekrit pengucilan Ferdian, itu berarti tidak ada seorang pun di dunia mafia kota itu yang mau menyentuhnya. Bukan penyelundup atau bandar judi, bahkan bukan pula kelompok jalanan kelas bawah. Dia adalah racun.Dia tenggelam dalam hutang. Dana penggelapan senilai tiga koma dua triliun yang dia coba alirkan dari usaha patungan yang goyah, ditambah denda dan pelanggaran kontrak yang tak terhitung jumlahnya. Kerajaan kecilnya yang berupa studio film dan kebun anggur kini hanyalah cangkang kosong yang sudah disita oleh para kreditur.Selena yang sebelumnya selalu bergantung padanya dan membujuk dengan rayuan "Vicky, Sayang ..." menghilang begitu saja saat berita itu tersebar. Dia menggunakan kepercayaan terakhir pria yang sedang putus asa itu untuk menguras empat ratus delapan puluh juta terakhir dari rekening luar negeri pribadi Vicky.Setelah itu, dia melarikan diri ke luar negeri.Sebelum pesaw
Api di perapian batu besar di kediaman pribadi Ferdian bergemuruh, mengusir hawa dingin malam yang pekat. Aku duduk terbungkus jubah tebal, rambutku masih basah setelah mandi air hangat yang membersihkan kotoran dan hawa dingin jalanan. Di pergelangan tanganku, zamrud dan gelang berlian nenekku telah kembali ke tempatnya semula.Dokter keluarga baru saja selesai membalut lututku yang lecet dan pergi dengan tenang.Ferdian berjalan mendekat dengan secangkir minuman panas yang mengepul di tangannya. Dia menyodorkannya ke tanganku. Cokelat panas, bukan susu. Dia duduk di sampingku di sofa kulit besar, menarikku dan selimut kasmir di bahuku ke dalam kehangatannya yang kokoh.“Tim hukum sudah siap,” katanya. Suaranya terdengar pelan di dekat telingaku. “Begitu juga para manajer keuangan.”Aku menyesap minuman itu, kehangatan manis itu menenangkanku. Pikiranku yang kini mulai jernih dan dingin kembali fokus.“Tampilkan mereka di layar.”Ferdian memberi isyarat. Sebuah monitor besar yang terp
Keheningan kembali tercipta. Kemudian, terdengar suara rendah dan serak yang mencerminkan kekerasan yang tak terkendali. “Sepuluh menit. Katakan di mana lokasinya.”“Gang belakang. Festival film.” Aku memberitahu persimpangan jalannya.“Bertahanlah. Aku segera datang.”Sambungan telepon terputus.Di kejauhan, dari ruang ganti yang hangat dan kering, aku masih bisa mendengar suara tawa Vicky yang samar.Sembilan menit.Aku menghitung setiap menitnya, rasa sakit di lututku berdenyut terus-menerus, membuatku tetap tersadar.Kemudian, suasana malam itu seolah terbelah.Bukan dengan sirine, tetapi dengan suara deru mesin berperforma tinggi yang tidak seharusnya ada di jalanan sekitar karpet merah. Suara ban berdecit, pagar pembatas logam berderit protes karena terhantam.Lampu depan yang berjumlah puluhan seolah menembus hujan, berasal dari konvoi SUV lapis baja berwarna hitam pekat. Mereka membentuk lingkaran sempurna yang mengintimidasi, menghalangi semua akses.Kendaraan terdepan adalah
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.