Share

Bab 8

Penulis: Echo
Sudut Pandang Orang Ketiga.

Reynald berencana pulang langsung ke rumah.

Jenny melingkarkan tangannya di pinggangnya, berbisik di telinganya, "Jangan pergi dulu … aku belum selesai bermain."

Jarinya menelusuri pola di dada Reynald, suaranya menggoda. "Lagi pula, kamu sendiri yang bilang, dia cuma boneka porselen yang membosankan. Apa salahnya satu malam lagi? Kamu bisa pulang besok."

Reynald ragu sejenak. Itu memang benar. Alyssa tidak akan pernah bersikap seberani ini, tidak akan pernah memohon padanya untuk tetap tinggal. Dalam lima tahun pernikahan mereka, dia selalu sabar menunggu, tak pernah mengeluh tentang malam-malam panjang Reynald atau perjalanan bisnisnya.

"Baiklah," katanya, meletakkan kopernya. "Tapi cuma beberapa jam saja. Malam ini aku harus kembali ke Kota Segara."

Beberapa jam kemudian, ketika Reynald sadar dari kabut seks dan sampanye, sudah pagi hari berikutnya.

"Sial." Dia melirik jam tangannya lalu langsung melompat dari tempat tidur.

Dengan panik, dia menekan nomor Alyssa untuk menjelaskan, tetapi yang terdengar hanyalah suara mesin. "Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif .…"

Tidak aktif?

Alyssa tidak pernah mematikan ponselnya. Sebagai istrinya, ponsel Alyssa selalu menyala 24/7. Itu sudah menjadi aturan keluarga.

Sebuah perasaan cemas yang aneh mulai merayapi perutnya.

"Kenapa, Sayang?" Jenny berjalan mendekat, santai mengenakan jubah sutra. "Wajahmu buruk sekali."

"Telepon Alyssa mati." Reynald mengerutkan dahi, menekan nomor itu berulang kali tetapi hasilnya tetap sama.

"Mungkin dia sedang tidur?" kata Jenny tanpa rasa khawatir. "Atau sedang latihan biola? Kamu selalu bilang dia sangat menyukai hobinya yang membosankan itu."

Namun, kegelisahan di dada Reynald makin kuat. Dia segera berpakaian.

"Apa kamu benar-benar mau meninggalkanku?" Suara Jenny terdengar tajam. "Reynald, setelah apa yang baru saja kita lakukan, kamu malah lari kembali padanya?"

"Dia istriku," jawab Reynald, bahkan tidak menoleh saat sedang mengemasi barang-barangnya. "Aku harus pergi."

"Istri?" Jenny mengejek. "Bukan itu yang kamu katakan di ranjang. Kamu bilang dia dingin, membosankan, tidak lebih dari hiasan yang cocok ...."

"Cukup!" Reynald berputar. Tatapan matanya menyala dengan kilau berbahaya.

Kemudian, teleponnya berdering. Ternyata itu penasihatnya.

"Bos, Anda ada pertemuan dengan para pemimpin grup pukul delapan. Wilayah timur. Mereka menunggu keputusan Anda."

"Tunda saja," kata Reynald tanpa ragu.

"Tapi Bos, ini penting ...."

"Aku bilang tunda!" Nada Reynald tegas tak bisa diganggu. "Pukul sepuluh besok pagi. Jadwalkan ulang."

Dia menutup telepon dan melanjutkan mengepak barang, sama sekali mengabaikan ekspresi kesal Jenny.

"Reynald!" Jenny yang tak berani benar-benar membuatnya marah, menggunakan senjata terbaiknya, yaitu berpura-pura menjadi korban. "Apa kamu lupa apa yang kamu katakan selama tiga hari terakhir ini? Kamu bilang mencintaiku, kamu menyesal menikahinya, kamu bilang ...."

"Itu cuma omongan di tempat tidur," potong Reynald, suaranya seperti es. Dia menoleh menatap Jenny, pandangannya dingin bagai kutub. "Di dunia nyata, Jenny, kamu harus ingat posisi kamu."

Dia melangkah ke arah Jenny. Kekuatan kehadirannya yang begitu kuat membuat Jenny secara naluriah mundur.

"Alyssa itu istriku. Dia akan selalu menjadi istriku. Dan kamu ...." Dia berhenti, suaranya rendah dan mengancam. "Kamu hanyalah selingan. Sesuatu yang bisa digantikan kapan saja. Mengerti?"

Wajah Jenny memucat, dan air mata menggenang di matanya. "Kamu ... bagaimana bisa mengatakan itu? Beberapa menit yang lalu kamu ...."

"Itu dulu. Ini sekarang." Reynald meraih mantelnya dan menuju pintu tanpa menoleh ke belakang. "Jangan hubungi aku beberapa hari ke depan. Aku akan bersama Alyssa."

Brak!

Pintu suite tertutup dengan keras, meninggalkan Jenny yang terjatuh di sofa mewah. Air mata mengalir di wajahnya.

Reynald kembali ke rumah besar yang dia tinggali bersama Alyssa.

Dari luar, rumah tampak gelap.

"Sialan." Rasa gelisah di hatinya makin membesar.

"Alyssa? Aku pulang!"

Hanya gema hampa yang menjawabnya.

Ruang tamu kosong. Kamar utama kosong. Seluruh rumah senyap seperti kuburan.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Identitas yang Dihapus   Bab 19

    Setelah meninggalkan rumah sewaan, aku pindah ke sebuah kota terpencil di bagian barat Glacivik, sebuah tempat di mana bisa melihat aurora.Pemilik rumah sewaanku adalah seorang pria tua yang baik bernama Gunnar. Dia tidak begitu fasih berbicara bahasa Inggris, dan kami sebagian besar berkomunikasi dengan gerakan dan kata-kata sederhana, tetapi kesunyian itulah yang benar-benar aku butuhkan.Setiap malam, aku memainkan biolaku di dekat perapian. Melodi yang familier bergema di kabin kecil itu, disertai suara angin laut dan pegunungan di kejauhan. Aku melukis, membaca, minum kopi, dan menyaksikan aurora menari di langit.Aku merasakan ketenangan yang sesungguhnya.Suatu sore, Gunnar mengetuk pintuku. Dia tampak ragu, memegang sebuah ponsel pintar lama di tangannya."Eva," katanya, menggunakan nama baruku. "Aku tidak tahu apakah aku harus menunjukkan ini padamu … tapi ada beberapa video yang beredar di internet … tentang seorang mafia di Ameriko. Mereka bilang … mereka bilang pria itu se

  • Identitas yang Dihapus   Bab 18

    Sudut pandang Alyssa.Ketika telepon berdering, aku sedang membuat secangkir kopi, sendok perak berdesing pelan menyentuh keramik saat aku mengaduk susu panas.Telepon di wisma terpencil ini jarang sekali berdering, apalagi di kamarku."Halo?"Sebuah suara yang familier menjawab. Suara yang dulu pernah memberiku kebahagiaan, lalu rasa jijik, dan sekarang, hanya ketenangan yang sunyi."Alyssa … apa itu kamu?"Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara, "Ada apa?""Oh, Tuhan, Alyssa, itu kamu … benar-benar kamu .…" Suara Reynald gemetar, nyaris menangis. "Aku pikir … aku pikir aku tak akan pernah mendengar suaramu lagi .…"Aku berjalan ke jendela dan menatap pemandangan Frostrvik. Pegunungan di kejauhan tertutup salju, berkilau di bawah sinar matahari senja. "Kamu mau apa?""Sayang, aku … aku sangat menyesal." Reynald mulai menangis tersedu-sedu. Pria yang dulu menguasai Kota Segara itu kini menangis seperti anak kecil. "Aku tahu apa yang kulakukan salah. Aku mengkhianatimu, aku meny

  • Identitas yang Dihapus   Bab 17

    Fabian menghela napas berat.Selama lebih dari sebulan, Reynald hampir tidak makan dengan layak atau tidur nyenyak semalam penuh.Seluruh bisnis Keluarga Dharmawangsa menderita."Ayah .…" Reynald mendongak, matanya bersinar penuh keputusasaan. "Aku sudah mencari di seluruh Ameriko Utara, seluruh Eropa. Aku telah mengirim semua orangku … kenapa aku tidak bisa menemukannya? KENAPA?!"Fabian berlutut dan meletakkan tangannya di bahu putranya. "Reynald, dengarkan aku. Jika cara konvensional tidak berhasil, maka kita akan menggunakan cara yang tidak konvensional.""Apa maksudmu?"Mata Fabian berkilau penuh tekad. "Keluarga Dharmawangsa telah beroperasi di dunia mafia internasional selama puluhan tahun. Saatnya menagih semua jasa yang pernah diberikan."Reynald mendongak. "Maksud Ayah …?""Kita sebarkan kabar secara global. Melalui jaringan kita di setiap benua, Camorra, Yakuza, Triad, Bratva … Kita beri tahu setiap organisasi, siapa yang dicari Keluarga Dharmawangsa."Isabella menatap suami

  • Identitas yang Dihapus   Bab 16

    Setelah berurusan dengan Jenny, Reynald berbaring di sisi tempat tidur, tempat Alyssa biasa tidur, merasakan apa pun selain kekosongan yang luas dan hampa.Jenny benar. Menyingkirkannya tidak akan membuat Alyssa memaafkannya.Dering ponselnya terdengar mengganggu di ruangan yang sunyi."Bos." Itu Mario, suaranya tegang dan bersemangat. "Kami punya informasi baru?"Jantung Reynald berdebar kencang. Dia menggenggam telepon. "Katakan padaku.""Seseorang di bandara melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Nyonya naik pesawat menuju Frostrvik, Glacivik. Tapi aku tidak menemukan namanya di daftar penumpang mana pun."Reynald terlompat dari kursinya. Entah mengapa, dia merasakan firasat yang kuat. Itu dia."Siapkan jet." Suara Reynald bergetar. "Kita berangkat malam ini."Angin musim dingin di Frostrvik, Glacivik begitu ganas, tetapi Reynald tidak merasakan dinginnya.Untuk pertama kalinya dalam sebulan, dia merasa dekat dengan Alyssa.Sebuah rombongan mobil hitam melaju di jalanan, ak

  • Identitas yang Dihapus   Bab 15

    Kawasan rumah bordil Kota Segara, sesaat setelah tengah malam.Sebuah SUV hitam berhenti mendadak di sudut jalan yang diterangi lampu neon. Pintu-pintunya terbuka lebar, dan dua pria bertubuh besar menyeret seorang perempuan keluar ke trotoar."Tidak! Tolong!" Jenny meronta, kukunya mencakar lengan para pengawal hingga meninggalkan guratan berdarah. "Aku bisa memberimu uang! Banyak uang!"Namun, wajah para pria itu tetap tanpa ekspresi, menjalankan perintah Reynald secara mekanis. Dalam pergulatan itu, lengan blus sutra mahal milik Jenny tersangkut di pintu mobil dan terkoyak dengan suara sobekan yang menusuk telinga. Kain halus itu rapuh seperti kertas, seketika berubah menjadi compang-camping."Ah!" Dia menjerit, berusaha menutupi dadanya, tetapi sudah terlambat. Para pria itu melepaskannya, dan tubuhnya terhempas ke trotoar yang kotor.Beton dingin menusuk kulitnya yang terbuka, dan pecahan kaca dari botol yang dibuang menyayat lututnya. Darah merembes menembus stokingnya yang robek

  • Identitas yang Dihapus   Bab 14

    Matanya memerah seperti darah, Reynald mengamuk menghampiri Jenny dan mencengkeram pergelangan tangannya."Kembalikan. sekarang." Suaranya rendah, mengerikan, seperti geraman yang merayap naik dari kedalaman neraka.Dia merenggut cincin itu dari jari Jenny. Gerakan kasar itu merobek kulitnya, dan Jenny menjerit sambil berusaha melepaskan diri, tetapi kekuatan Reynald begitu mengerikan.Begitu cincin itu kembali berada di tangannya, dia menggenggamnya dengan lembut, seolah-olah benda itu adalah hal paling berharga di dunia."Reynald! Kamu sudah gila, ya?" Jenny mencengkeram jarinya yang berdarah, suaranya melengking tinggi. "Kamu memukulku demi seorang wanita yang sudah meninggalkanmu? Dia tidak mencintaimu! Kalau memang iya, dia tidak akan pergi begitu saja!"Ucapannya terputus ketika Reynald mendorong ponsel tepat ke depan wajahnya.Pesan demi pesan, foto vulgar, ejekan beracun, semuanya terpampang jelas di bawah cahaya lampu yang terang.Jenny menatap layar itu, wajahnya berubah puca

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status