Short
Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan

Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan

By:  BagelCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
37views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Baru saja, setelah hampir mati kehabisan darah, aku berhasil melahirkan pewaris untuk Keluarga Rosano. Namun suamiku, Jerry sebagai orang nomor dua setelah bos di Keluarga Rosano, justru membiarkan orang kepercayaannya yang bernama Sofia merekam proses persalinanku hanya karena bilang dia bosan. Dia merekam semuanya, termasuk saat aku kehilangan kendali atas tubuhku, jeritanku, wajahku yang meringis kesakitan. Setelah itu, dia mengambil tangkapan layar, dan mengubahnya menjadi gambar stiker, lalu menyebarkannya di grup obrolan pribadi keluarga dekat. Dari balik pintu kamar rumah sakit, aku masih bisa mendengar tawa Sofia yang liar. "Jerry, ini hiburan terbaik sepanjang masa. Kau selalu tahu persis apa yang aku inginkan." "Tapi Rana pasti akan mengamuk saat dia bangun dan melihat ini." Efek anestesi belum sepenuhnya hilang. Kelopak mataku terasa berat, namun dalam keadaan setengah sadar, aku masih bisa mendengar nada suara Jerry yang santai dan acuh tak acuh seperti biasa. "Dia nggak akan benar-benar marah. Kau tahu sendiri Rana, dia selalu patuh padaku." "Aku hanya perlu sedikit membujuknya. Lagipula, anak kami sudah lahir sekarang, dia nggak mungkin meninggalkanku." Jari-jariku yang tersembunyi di bawah seprai sutra mengepal erat. Pikiranku dipenuhi dengan semua hal yang telah kukorbankan untuknya selama bertahun-tahun ini. Jerry mungkin telah lupa siapa yang sudah membuatnya menjadi pria yang menguasai jalanan ini. Karena kau sangat suka bermain, maka aku akan memainkan permainan sungguhan denganmu. Pada hari aku pergi, kau akan menyesali semuanya!

View More

Chapter 1

Bab 1

Tawa melengking bergema di kamar rumah sakit.

Sonya mengayunkan ponsel keluaran terbaru di tangannya sambil menunjuk foto yang diperbesar dengan niat jahat dan tertawa sampai terbahak-bahak.

"Jerry, lihat dia. Jelek sekali."

"Ekspresi wajahnya ... sama sekali nggak seperti calon istri Bos Keluarga Rosano, kan? Jujur saja, ini membuatku merasa jijik."

Mendengar ucapan Sonya, Jerry mengangkat alisnya. Dia sedang memainkan pemantik api mahal sambil melihat gambar stiker yang baru saja dikirim Sonya ke ponselnya.

"Lihat usahaku ini demi membuatmu senang?"

"Sejujurnya, aku nggak ingin kau melihat adegan berdarah seperti itu. Tapi karena kau ingin merekamnya sebagai kenang-kenangan, aku membiarkanmu melakukannya."

Cara bicaranya yang santai tanpa menghiraukan harga diri istrinya membuat Sonya tertawa terbahak-bahak lagi.

Berbaring di ranjang rumah sakit, aku merasakan cairan dingin mengalir dari infus ke pembuluh darah, membuatku menggigil sampai ke tulang.

Dadaku terasa seperti sedang digergaji dengan pisau tumpul, angin dingin berhembus kencang melalui ruang kosong di dalamnya, meninggalkan rasa sakit yang menusuk dan pahit.

Dua jam yang lalu, air ketubanku pecah dan aku dibawa ke ruang operasi.

Aku pun teringat saat pertama kali mengetahui bahwa aku hamil.

Kami telah berjanji satu sama lain bahwa dia akan memegang tanganku sepanjang waktu, bahwa dia akan menjadi orang pertama yang menggendong anak kami.

Saat itu, Jerry memegang tanganku dan berkata dengan penuh perasaan, "Sayang, aku akan bersamamu sepanjang waktu. Kita akan menyambut malaikat kecil kita bersama-sama."

Selama lima tahun pernikahan kami, di depan umum dia selalu tampak sebagai suami yang sempurna dan penyayang.

Dulu aku percaya dia benar-benar mencintaiku. Aku bahkan merasa bersyukur, dan berpikir bahwa pengkhianatanku terhadap keluargaku sendiri adalah hal yang sepadan.

Tetapi ketika aku berada di meja persalinan dan pisau bedah mengiris kulitku, aku basah kuyup oleh keringat dingin karena rasa sakit, urat-urat di dahi dan leherku menonjol.

Namun, dia malah menarik tangannya untuk menjawab panggilan video dari Sonya. Dia bergumam, "Kau sabar ya, tahan sebentar." Dia lalu berbalik dan berjalan ke sudut ruangan untuk menerima panggilan itu.

Ketika rasa sakit mencapai puncaknya dan aku refleks meraih ujung bajunya karena ingin mencari sedikit kenyamanan, dia malah membawa wanita lain ke ruang persalinan.

Dia mencium keningku dan berkata, "Sayang, kelahiran anak kita perlu direkam dengan sempurna. Sonya itu fotografer profesional. Serahkan padanya, dia akan mendapatkan gambar terbaik."

Jerry bahkan sengaja keluar dari jangkauan kamera agar tidak mengganggu fokus artistik Sonya.

Orang bilang proses persalinan akan menunjukkan jati diri seorang pria, dan menurutku itu benar.

"Jerry, lihat ini ...."

Sonya memutar ulang video di ponselnya, dan sengaja menaikkan volume suaranya.

Mataku perlahan terbuka.

Melalui penglihatanku yang masih kabur, aku melihat Jerry mencondongkan tubuh. Matanya yang biasanya tampak menawan, kini dipenuhi ejekan.

"Ssst, Sonya, jangan terlalu kejam."

Dia memang menegur wanita itu secara verbal, tetapi nadanya penuh dengan pengertian. "Bagaimanapun juga, dia baru saja melahirkan. Tubuhnya agak kendur seperti adonan yang sedang mengembang ... tapi kurasa kau bisa menyebutnya 'berat badan bahagia'."

Seolah untuk membuktikan maksudnya, dia dengan lembut mengelus bahu Sonya.

"Bentuk tubuhnya dulu memang bagus. Tapi sekarang satu-satunya yang masih layak dilihat hanya pinggulnya, dan itu juga karena menjadi gemuk."

"Tentu saja, itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan tubuhmu yang sangat seksi."

Saat dia selesai bicara, pesan suara di obrolan grup langsung dipenuhi dengan siulan dan ejekan cabul dari para pria.

Suara-suara itu terasa sangat menyakitkan.

Tanganku di bawah selimut meremas seprai hingga buku-buku jariku memutih.

"Jerry ...."

Aku berbicara, suaraku serak dan lelah, kata-kata itu seperti pecahan yang dipaksa keluar dari tenggorokan.

Kedua orang di sofa itu membeku.

Jerry menoleh. Melihatku sudah bangun, dia segera memasang ekspresi khawatir dan bergegas mendekat.

"Rana? Sayang, kau sudah bangun?"

Dia dengan lembut menyingkirkan rambutku yang basah oleh keringat dari wajah. "Kau sudah bekerja keras, Sayang. Apa ada yang nggak nyaman? Mau minum?"

Melihat kelembutan di sorot matanya dan mendengarkan kata-kata manisnya, aku tertegun sejenak sebelum akhirnya memalingkan wajah untuk menghindari tatapannya.

"Apa kau nggak mau menjelaskan soal ini?"

Tangan Jerry yang sedang menuangkan air terhenti sejenak. Dia kemudian tersenyum tak berdaya, seolah-olah sedang menenangkan anak kecil yang rewel.

"Sayang, jangan terlalu sensitif." Dia bahkan mencoba mengulurkan tangan dan mengelus rambutku.

Aku melihat ke arah belakangnya. Sonya sengaja memperlihatkan layar ponselnya kepadaku.

Masih memutar video diriku saat persalinan, dengan kedua kakiku yang terbuka lebar.

Melihat tatapanku, senyum Sonya semakin cerah dan penuh provokasi.

Dengan suara manis yang menjijikkan, dia berkata, "Nyonya Rana, selamat ya."

Kemudian, jarinya "secara tidak sengaja" menekan tombol volume suara di sisi ponsel.

Ruangan itu tiba-tiba dipenuhi dengan jeritanku sendiri yang menyayat hati dari ruang persalinan.

Tubuhku langsung kaku. Di dalam keranjang bayi kecil yang berada di sampingku, bayi yang sedang tidur nyenyak itu tersentak oleh suara teriakan tiba-tiba dan mulai menangis.

Suara itu menusuk hatiku seperti ribuan jarum kecil.

Aku berjuang untuk duduk, mengabaikan rasa sakit yang menusuk di perutku, dan mengulurkan tangan untuk melindungi anakku. Aku lalu menoleh, wajahku mengeras saat aku membentak, "Matikan! Hapus video itu sekarang!"

Sonya cemberut, dia tampak merasa tak senang saat menoleh ke Jerry, matanya langsung berkaca-kaca. "Aku nggak sengaja, tanganku terpeleset .... Kenapa Rana jahat sekali?"

"Jerry, lihat dia ...."

Jerry mengerutkan kening, tetapi segera meletakkan gelas air dan dengan lembut mengambil tanganku. "Rana, sayang, jangan terlalu keras. Kau menakuti Sonya dan juga bayinya."

"Sedikit menangis itu bagus untuk paru-parunya. Semua orang hanya bercanda, sedang ikut merayakan. Kau itu nyonya bos masa depan keluarga ini, jadi cobalah bersikap lebih santai, ya?"

"Jangan mengamuk hanya karena hal sekecil ini. Kau itu nggak cantik kalau marah. Hatiku jadi sakit."

Suaranya pelan, tetapi setiap kata terasa berat dan menekan dadaku hingga membuatku sulit bernapas.

Tanganku yang tadi menenangkan bayi tiba-tiba berhenti.

Sebuah bayangan terlintas di benakku, punggungnya yang teguh saat dia berpaling dariku di ruang persalinan untuk menjawab panggilan itu.

Aku menatap matanya dan bertanya, kata demi kata, "Jerry, saat putra kita dibawa keluar dari ruang persalinan, apa kau orang pertama yang menggendongnya?"
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status