LOGINSenja yang Berubah BadaiLangit sore mulai berubah jingga keunguan di balik pepohonan rindang di belakang kampus. Suasana tenang, sejuk angin berhembus pelan, seolah ikut menemani hati Danindra yang perlahan terasa lebih ringan setelah puas meluapkan segala isi hatinya pada Diana. Sudah cukup lama mereka duduk di sana, bercerita, tertawa, sesekali mengeluh — hal-hal kecil yang membuat beban di pundak Danindra terasa tidak seberat biasanya.Diana menatap langit sebentar lalu menepuk pelan lututnya. "Yaudah, Din. Hari sudah mau gelap. Ayo pulang, nanti hari makin gelap dan nggak enak di jalan."Danindra mengangguk setuju, lalu keduanya berdiri dan berjalan berdampingan meninggalkan tempat itu. Langkah mereka santai, menikmati sisa hari yang hangat. Belum sampai gerbang keluar, ponsel di saku tas Danindra berdering nyaring. Ia berhenti, mengeluarkan ponselnya, dan nama Bobby tertera jelas di layar.Diana melirik sekilas sambil terus berjalan pelan. Danindra mengangkat telepon itu, menemp
Suami yang Tak Tahu Cara MerayuPagi itu, udara pagi terasa sejuk menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka, namun tidak ada kehangatan yang terasa di antara mereka. Danindra berdiri di teras dengan kedua tangan terlipat di depan dada, menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun melirik ke arah pria yang berdiri tak jauh darinya. Angga menatap punggung wanita itu sejenak, lalu menghela napas pelan."Masuk ke mobil. Kita berangkat sekarang," ucap Angga, suaranya terdengar biasa saja namun ada nada yang sedikit memaksa di dalamnya.Danindra tidak menjawab. Tidak menoleh, tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Ia hanya melangkah masuk ke dalam mobil, membuka pintu di kursi penumpang depan, duduk, dan menutup pintu dengan pelan namun tegas. Sepanjang perjalanan menuju kampus, keheningan menyelimuti kabin mobil yang luas itu. Tidak ada percakapan, tidak ada tatapan, bahkan sekadar suara napas pun seakan tertahan di udara. Angga sesekali melirik ke samping, namun Danindra sel
Malam yang Penuh KejutanKetukan pintu terdengar berulang kali, lembut namun cukup nyaring untuk menembus keheningan kamar. Danindra terbangun dengan berat kelopak matanya, menguap kecil saat melangkah membukakan pintu. Di sana berdiri Bik Wati dengan senyum hangatnya yang tak pernah berubah."Maaf ya, Nyonya, mengganggu waktu istirahatnya," ucap Bik Wati dengan nada bersalah. "Tadi Tuan Angga menelepon. Beliau sebentar lagi pulang dan akan segera menjemput Nyonya. Beliau berpesan agar Nyonya segera bersiap-siap."Danindra mengerjap, kesadaran perlahan kembali sepenuhnya. "Baik, Bik. Terima kasih sudah memberitahu," jawabnya pelan. Bik Wati pun mengangguk sopan dan berjalan pergi.Begitu pintu tertutup, Danindra segera bergegas. Ia melangkah ke kamar mandi, membasuh wajahnya hingga terasa segar kembali. Dengan cermat, ia mulai merias wajahnya—tak berlebihan, cukup tipis agar terlihat alami namun tetap berseri. Ia menyisir rambutnya, memutar-mutar jari agar terbentuk ikal yang lembut d
Janji yang TertundaPagi itu, udara masih terasa sejuk saat Angga melangkah keluar menuju teras, tepat berpapasan dengan Danindra yang baru saja melangkah keluar pintu. Mata mereka sempat bertatapan sejenak, sebelum Angga memecah keheningan dengan suaranya yang tegas namun tak bisa disembunyikan ada nada lembut di dalamnya."Nanti pulang kuliah aku jemput," ucap Angga singkat. Tanpa menunggu jawaban dari Danindra, ia langsung melangkah masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu, dan mobil itu perlahan melaju meninggalkan halaman rumah.Danindra berdiri mematung di tempat, mulutnya sedikit menganga. Ia baru saja hendak menolak atau setuju, tapi Angga sudah pergi begitu saja. Dengan bibirnya mengerucut kesal, Danindra mendengus pelan, "Dasar, selalu saja begitu, memerintah tanpa mau mendengar pendapat orang lain." Ia pun berbalik dan masuk ke dalam mobil yang disiapkan untuknya, hati berdebar campur aduk antara kesal dan ada sedikit rasa tak sabar yang tak ingin ia akui.Sebenarnya, pagi
Di Antara Kesal dan PerhatianPagi itu, udara di meja makan terasa lebih hangat dari biasanya. Angga sudah duduk di kursinya, menyesap kopi panas sambil menatap halaman koran di depannya. Danindra turun dengan langkah ringan, berusaha secepat mungkin menyelesaikan sarapannya sebelum berangkat ke kampus. Hari ini tidak ada kejadian aneh—Angga tenang, Bik Wati tersenyum ramah, dan semuanya berjalan seperti biasa.Danindra menelan suapan terakhirnya, lalu berdiri sambil merapikan tas dan buku-bukunya yang tertata rapi di samping kursi. "Terima kasih untuk makanannya, Bik. Aku berangkat dulu ya," ucapnya sopan, lalu menoleh ke arah Angga yang masih sibuk dengan kopinya. "Aku pamit dulu, Mas Angga."Belum sempat kakinya melangkah menjauh, suara berat Angga terdengar tiba-tiba. "Aku antar."Danindra tertegun sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak usah, aku sama Pak Narto aja. Kan biasanya begitu."Angga menurunkan cangkirnya perlahan, menatap lurus ke arah Danindra dengan tatapan yang tak b
Malam Panjang di Pasar MalamUdara di dalam mobil terasa berat, sunyi senyap. Angga menatap lurus ke depan, kedua tangannya mencengkeram setir begitu erat hingga buku jarinya memutih. Danindra duduk menyandar di kursi penumpang, menunduk memilin ujung gaunnya, berani sekali pun melirik ke arah suaminya yang sedang bad mood. Mobil melaju membelah jalanan yang mulai sepi, melampaui lampu merah di perbatasan—belok kiri adalah jalan pulang ke rumah, namun Angga justru menekan pedal gas dan melaju lurus begitu saja.Danindra mengernyit, menoleh cepat. "Kita mau kemana? Bukan ke arah rumah ini."Suara Angga terdengar datar namun bergetar tertahan amarah. "Kemanapun saja. Asal tidak berpapasan dengan laki-laki bernama Bobby."Danindra terbelalak. "Kamu... kenapa tiba-tiba membahas Bobby? Dia hanya teman kerjaku, tidak lebih."Angga menoleh sekilas, matanya tajam. "Tidak." Lalu ia kembali memandang jalan di depan, menutup mulut rapat-rapat.Danindra mendengus kesal. Sisa perjalanan dilalui d







