เข้าสู่ระบบ"Ekhem!" Milton berdehem pelan, mencoba melerai percakapan yang hampir jadi pertikaian. "Jangan banyak mengobrol. Lebih baik kita menikmati makan malam kali ini."Para dewan yang lain mengangguk setuju."B-benar.""Ayo kita mulai makan malamnya.""Cepat bawa makanannya!"Mereka terdengar buru-buru mengalihkan pembicaraan.Shelia sendiri tak terlalu mempedulikan Monica lagi. Dengan tebal muka dia tersenyum ramah seperti biasa pada para dewan yang lain.Para pelayan datang membawakan botol wine dan menyajikannya.Milton mengangkat gelas dan bangkit dari kursinya. "Untuk Evelyn, yang menyelamatkan perusahaan kita."Sejenak, yang lain saling menatap seolah tak menyangka Milton akan mengatakannya di depan Monica. Tapi, mau tak mau mereka tetap mengikuti saja."Untuk Nona Evelyn!" Yang lain membalas, ikut berdiri dan mengangkat gelas wine."Terima kasih semuanya." Sahut Shelia dengan senyuman tipis. Dia menengguk wine lebih dulu, begitu pun para dewan di sana.Mereka kembali duduk dan mulai
"Tidak, bukan begitu." Ashran mencoba membantah. "Ini soal temanku—"Tapi belum sempat membuat alasan, Louis sudah menyela lebih dulu."Tentu saja itu tentangmu, Kak Ashran. Jangan berputar-putar. Temanmu pasti hanya Garry si masokis aneh itu kan? Kau tak punya teman lain," tuduhnya.Ashran seolah tertohok mendengarnya. Itu memang benar tapi rasanya menyakitkan.Ashran menghela napas panjang lalu mengibaskan tangan. Dia benar-benar malu melanjutkan percakapan ini."Sudahlah, itu bukan apa-apa. Lupakan soal tadi."Louis masih menatapnya, lalu menjawab pertanyaan Ashran tadi. "Kalau aku pasti akan memilih orang baru."Ashran menoleh sedikit penasaran. Dia menaikkan sebelah alisnya. "Katanya kau orang yang setia pada satu wanita."Louis mengangguk pelan, lalu menyilangkan kedua lengan terlihat seperti orang dewasa yang bijak."Iya. Tapi kalau wanita itu mustahil tak ditemui lagi di kehidupan ini, lebih baik menikmati sisa hidupku bersama wanita yang sudah bersamaku sekarang."Mendengar h
"Oke, sudah selesai. Kau sangat cantik." Laurel tampak puas usai mendandani Shelia cukup lama."Sudah selesai kan?" Shelia terlihat lelah walau penampilannya kini terlihat cantik dan elegan dengan balutan gaun cream."Iya sudah. Sekarang kau bisa berangkat."Shelia bangkit, mengambil tas kecil dan ponselnya lalu jalan keluar dari kamar. Tapi, dia menghentikan langkahnya dan kembali menatap sahabatnya."Laurel, beritahu aku jika terjadi sesuatu ya." Ucapnya dengan sorot mata serius.Laurel mengejap pelan. Namun dia paham maksud perkataan sahabatnya itu, mengingat semua yang sebelumnya terjadi. Dia juga sudah mendengar apa yang Shelia alami selama tak bisa dihubungi beberapa hari lalu."Tenang saja." Ucapnya, lalu mendorong Shelia ke pintu depan. "Kau cepat pergilah sana, nanti telat."Shelia akhirnya keluar dan pergi ke lift menuju lantai satu.Begitu keluar dari lift, tiba-tiba ponselnya berdering. Seseorang yang sudah lama tak berhubungan dengannya kembali menelpon.'Kenapa lagi oran
"Halo?" ucap Shelia menerima panggilan."Akhirnya kau bisa ditelpon, Eve." Suara Milton terdengar senang sekaligus lega. "Kau di mana sekarang?""Jangan basa-basi. Ada urusan apa?" sahut Shelia agak ketus."Resep obat yang kau berikan kemarin benar-benar membuat peneliti di perusahaan kita tercengang. Mereka bahkan sedang bersiap memproduksi secara massal. Ini semua berkatmu."Mendengar perkataan Milton, Shelia hanya menghela napas panjang. Dia sudah menduga hal itu, jadi tak masalah ia tak bisa dihubungi beberapa hari lalu."Jadi? Apa karena hanya itu kau menelpon?""Ah tidak. Aku ingin mengajakmu makan malam untuk merayakan hal ini." Jawab Milton.Meski kata-kata Shelia terdengar pedas, kali ini Milton sama sekali tak marah atau menegurnya. Dia sadar dirinya tak punya hak untuk menghakimi hal seremeh itu."Tidak usah. Lanjutkan saja sesuai rencana." Ujar Shelia dengan nada malas."Tapi ini demi imejmu di hadapan para dewan direksi, kau harus menunjukkan sikap sebagai pewaris perusah
"Huh, terserahlah." Shelia tak terlalu menghiraukan sikap Ashran. Mungkin dia hanya banyak pikiran karena pria itu.Shelia menghampiri Louis yang sedang memetik tanaman di halaman belakang."Louis.""Aakh!" jerit Louis tersentak. Dia sampai menjatuhkan tanaman yang ia petik saking kagetnya."Kak Eve. Bisakah kau muncul dengan suara? Kau seperti assassin saja mengendap-endap," keluh Louis memprotes."Haha, maaf aku tak sengaja." Sahut Shelia sedikit merasa bersalah, namun juga cukup terhibur melihat wajah terkejut bocah itu.Louis mendengus, tapi dengan mudah menerimanya. "Baiklah, kali ini kumaafkan. Ada urusan denganmu?"Shelia mengangguk, sorot matanya kini berubah serius."Bisa bicara sebentar? Ada yang ingin kutanyakan."Louis menaikkan sebelah alisnya. "Soal apa?""Bisa beritahu semua yang kau tau soal Bastian yang asli, dan bagaimana Nenekmu?"Sementara itu, Ashran masuk kamar mandi lalu mencuci wajahnya dengan air. Rasa dingin dalam air membantunya kembali menjernihkan pikiran,
'Shelia, terima kasih sudah menyelamatkanku. Menikahlah denganku.''Tidak mau.''Shelia. Aku menulis surat untukmu, tapi kenapa tak menjawab?''Suratmu datang setiap jam, kau pikir aku punya waktu untuk membalasnya?'Tapi, bukannya menyuruh pria itu tetap mendekatinya.'Shelia, Shelia, Shelia!'Semua ingatan itu membanjiri ingatan Ashran begitu saja. Bahkan, di saat-saat terakhir dia menemukan sosok Shelia yang sudah tak bernyawa dalam kobaran api.'Shelia!'Terikan pilu sosok pria itu bahkan sampai membuat air mata Ashran mengalir deras.Dalam kepalanya yang berisik karena ingatan yang muncul tiba-tiba, Ashran hanya diam.Alfred terkejut melihat reaksi cucunya yang tak pernah lagi meneteskan air mata setelah kematian orang tuanya kini menangis lagi."Ashran? Ada apa? Apa yang kau lihat?" panggilnya, sambil menggoyangkan tubuh Ashran.Perlahan, Ashran akhirnya tersadar."Tidak, bukan apa-apa." Jawabnya dengan suara sedikit bergetar.Alfred tak percaya. "Mana mungkin, kau pasti ingat s







