Masuk{Dark Romance , only for 18+} ️Neev Agnihotri , heartless CEO of Nav interprices. A handsome young man who lost his mother at the very young age , as his father followed the lead after couples of the year, leaving him all alone with a beautiful responsibility in this ugly world - his younger sister. He loved her more than his own life. He was living a beautiful life with his baby sister , but unfortunately fate played its game which broke him completely. He is left again in this world, but this time all alone. He kept taking breathe with a fire of revenge burning inside of him so bad, that he can go to any extent just to take his revenge.Aarohi Verma , An Innocent, sweet lovely girl who is loved by her family like a princess. Hatred was a thing which she never got in her life. Her beauty was something for which men were ready to do anything . Like every other girl, she also dreamt of her prince charming, with whom she can spend her life happily. But never in her whole existence, she ever thought that her fate is already locked In His Hell.•••••••It's a story of passion, revenge, spark and not to forget , an unknown love
Lihat lebih banyak"Ugh!" Suara lenguhan panjang terdengar memenuhi ruang kamar saat Andi menyelesaikan permainannya.
"Enak," ucap Andi, merasakan nikmat yang tiada tara. Namun berbeda dengan Febby yang tidak merasakan klimaks sama sekali. Wajahnya menyiratkan kekecewaan mendalam. "Sudah keluar Mas? Kok cepet banget, ngga sampai satu menit. Perasaan baru masuk." Febby mengeluh sambil menghela napas panjang. Sudah sering dia mengatakan kalau dia tidak pernah puas dengan permainan suaminya. Dia juga tidak pernah merasa ada yang keluar dari bagian inti tubuh, yang menandakan dia belum mencapai puncak. Namun Andi seolah masa bodo. Yang penting nafsunya tersalurkan. "Aku lelah. Tadi itu aku udah berusaha untuk lama, tapi malah keluarnya cepet." Selesai melampiaskan hasrat, Andi berbaring di sebelah istrinya tanpa merasa bersalah sama sekali. Raut kesal dan kecewa terlihat jelas di wajah Febby, yang selama dua tahun menjadi istri sah Andi. Selama dua tahun itu dia tidak pernah merasakan klimaks saat berhubungan dengan suaminya. Kenikmatan hanya dirasakan oleh Andi, bahkan Andi tidak pernah membuatnya nyaman di atas ranjang. Andi juga kurang perhatian, hanya memikirkan diri sendiri. Pernikahan dua tahun terasa semakin hambar bagi Febby. Namun tidak ada yang bisa dilakukan. Toh Febby yang memilih laki-laki itu menjadi suaminya dan mereka sedang menjalani program kehamilan. Ya, Andi dan Febby sudah didesak oleh kedua orang tua mereka agar secepatnya memiliki anak, tetapi sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Febby mengandung buah cinta mereka. "Kamu mau langsung tidur Mas?" tanya Febby pada suaminya yang baru saja pulang kerja dan meminta dilayani. Selesai dilayani, Andi berbaring di ranjang sambil memejamkan mata. "Iya, aku ngantuk. Kamu masak makan malam aja dulu. Kalau udah mateng semua, bangunin." Febby menghela napas panjang, turun dari ranjang lalu memakai pakaian satu per satu. Matanya melirik Andi yang terlelap, padahal baru saja kepala suaminya itu bersandar ke atas bantal. Tidak ada ucapan terima kasih. I love you. Atau gombalan yang keluar dari mulut Andi, membuat Febby merasa tidak dicintai sama sekali. "Mandi dulu dong Mas, masa langsung tidur." "Hem," sahut Andi datar. Selesai memakai pakaian, Febby melangkah mendekati pintu lalu keluar. Sedangkan Andi sudah jauh mengarungi mimpi. Langkah kaki Febby dihentikan oleh ibu mertua di ambang pintu dapur. Wanita paruh baya itu menatap wajah menantunya yang lesu sambil mengerutkan kening. "Kamu kenapa, Feb?" "Ngga apa-apa Bu," jawab Febby, pelan, melanjutkan langkah kakinya mendekati kulkas. Ratih mengikuti Febby ke dapur, membantu menantunya menyiapkan bahan makanan. Sejak kemarin wanita paruh baya itu menginap di rumah kontrakan dua kamar tersebut. Satu bangunan rumah yang baru dua bulan ditempati itu berada di komplek perumahan Melati. Rencananya Andi ingin mencicil rumah yang mereka tempati sekarang agar tidak bayar kontrakan lagi. "Suami kamu mana, Feb?" tanya Ratih. "Mas Andi tidur Bu. Katanya capek," jawab Febby seraya mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas dua pintu. Beberapa jenis sayur dan ikan segar dia letakan di dekat wastafel untuk dibersihkan. "Kamu udah konsultasi lagi ke Dokter Kandungan?" tanya Ratih pada menantunya. "Udah Bu, katanya aku sama Mas Andi harus sering minum vitamin biar subur. Aku udah dikasih resep vitamin itu. Semoga aja ada kabar baik bulan depan." "Amin," ucap Ratih. "Selain berkonsultasi ke Dokter, kamu juga harus pergi ke Dukun beranak. Atau ke mana kek. Biar kamu cepet isi." "Udah Bu, tapi emang dasarnya belum dikasih aja. Kalau memang belum rejekinya, ya mau gimana lagi." "Kalau gitu, coba kamu konsultasi ke Dokter lain. Misalnya ke Dokter Dirga. Dia sepupunya Andi. Siapa tahu dia bisa bantu kalian. Kasih saran apa untuk membantu mempercepat kehamilan kamu." Febby terdiam. Sebenarnya sudah beberapa kali mereka gonta-ganti dokter, tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Beberapa dokter juga menyarankan untuk memeriksa kesuburan satu sama lain, namun Andi selalu menolak dan mengatakan kalau dia sehat. Sementara, selama berhubungan Febby tidak pernah merasa puas. Bahkan durasinya hanya sebentar, tidak sampai tiga menit langsung crott. "Lebih baik kamu coba dulu saran Ibu," ucap Ratih yang selalu mendesak Febby agar cepat hamil. Andai kehamilan bisa dibeli, Febby akan membelinya agar bisa secepatnya memberi gelar ayah pada sang suami. "Kalau kamu ragu, mending komunikasikan dulu sama Andi. Biar kalian lebih yakin. Ibu sih percaya sama Dokter Dirga. Banyak kok pasien dia yang berhasil hamil." Febby menghela napas panjang. "Nanti aku coba bicarakan sama Mas Andi. Kalau dia mau, besok aku dan Mas Andi ke tempat praktek Dokter itu." Ratih tersenyum, "Nanti alamatnya Ibu kasih ke kamu. Kamu dan Andi langsung ke sana aja. Nanti Ibu bikin janji biar kalian ngga antri." "Iya Bu, makasih." Saat sedang berbincang, Andi datang mendekati kedua wanita di dapur. Pria yang memiliki tinggi 170cm itu duduk di depan meja makan dengan lesu. "Bikinin aku kopi," katanya memerintah Febby. "Tunggu sebentar Mas. Aku lagi masak." "Ck! Aku maunya sekarang!" Andi mengeraskan suaranya, membuat Febby terhenyak kaget. Ratih dan Febby saling tatap, Ibu mertuanya itu memutar bola mata meminta Febby menurut saja. "Biasa aja dong Mas, jangan marah begitu," sahut Febby kesal. "Kamu ini. Suami minta kopi malah nanti-nanti. Utamakan melayani suami dulu, baru yang lain! Gimana sih!" cecar Andi memarahi Febby. Ratih hanya diam, tak membela menantunya ataupun menasehati Andi. Baginya pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi. Dia pun mengalami di rumah. "Sabar Mas." Terpaksa Febby menunda masakannya dan membuat kopi untuk Andi yang sudah tidak sabar. Dengan perasaan kesal, Febby meletakkan kopi hitam pesanan suaminya ke atas meja. "Mau apa lagi Mas? Sekalian aja, aku mau masak." Andi melotot, menatap istrinya seperti ingin menelan hidup-hidup. "Kamu ngga iklhas?" "Bukan ngga ikhlas Mas, aku kan cuma nanya sama kamu. Kamu mau apa lagi? Biar aku ambilin sekalian." "Ngga ada, aku cuma mau kopi." "Ya udah," sahut Febby pelan. Ia kembali melanjutkan memasak makan malam, meski perasaannya kesal. Sikap dingin Andi sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Tanpa alasan yang jelas, Andi tiba-tiba jadi kasar dan bahasanya tidak pernah lembut seperti dulu. Febby curiga suaminya memiliki wanita idaman lain di luar sana, namun ia tidak pernah mendapatkan bukti apapun perselingkuhan itu. Suasana hening. Di ruang dapur yang tidak luas itu hanya terdengar suara dentingan sendok dan panci. "Mumpung ada Andi di sini. Ibu ngomong aja langsung sama kalian berdua." Ratih membuka pembicaraan di ruang sunyi itu. Andi mendongak, "Ngomong apa Bu?" tanyanya datar. "Ibu mau ngasih saran, gimana kalau kamu dan Febby konsultasi aja ke Dokter Dirga. Sepupu kamu itu. Dia kan Dokter kandungan terkenal. Kebetulan dia buka praktek di Jakarta. Kalian bisa ke sana. Kalau kamu mau, nanti Ibu bikin janji sama dia. Biar kalian ngga antri panjang. Maklum, pasien dia kan banyak." Andi manggut-manggut. "Oke, aku setuju. Aku dan Febby akan ke sana." Ratih tersenyum. Ia tatap menantunya yang tengah sibuk mengaduk sayur di dalam panci. "Kamu dengar kan. Suami kamu setuju. Kamu juga setuju kan?" tanya Ratih pada menantunya itu. "Iya Bu, aku setuju," jawab Febby.Neev's POV:"Bro let me gooo....." I heard the whining of my wife causing me to stir in my sleep."Where are you going baby..." I asked her while looking at her with my half open eyes.When she saw me looking at her, she blushed profusely causing me smirk at her shyness.Without saying anything she went down form the bed wearing my shirt looking all sexy and adorable at the same time with her big 7 months baby bump.In these 7 years of our togetherness my life has become very beautiful. Now I have my own heaven with my three most gorgeous Angels.I went towards my blushing wife and caged her in my arms before she ran off in to the batroom.Because of pregnancy she has become more and more beautiful, and I cant get enough of her."Neev what are doing....? Let me go. I wanna pee...." she said while stretching the the last word very cut
Aarohi's POV:"Navu see they all are so beautiful angles like you." I Smiled when I heard him saying this to our almost two year and three months old toddler.I also looked around, only to find so many beautiful innocent lives playing and enjoying themselves, without any worry of the world.Right now we're here in an orphanage. Our company has always donated some money to few orphanages. And this time we have decided to donate some money to this children of orphanage.We have decided to bring Navya with us too. As she will also get a chance to see soo many babies just like her, and we also wanted to do this in our off hours, with our family, all together.We enter inside the orphanage and a man in his 40s welcomed us. We went inside the head office where an old Nun was already sitting. We greeted her politely and she did the same.As taught, Neev told Navya to join her hands in order to show respect of the Nun, which she did with a cut
Aarohi's POV:"Aunty we will back very soon. Plzz take care of yourself and Navu. And call us immediately if anything happens." Neev said this Leena aunty Nth time.Leena aunty nodded her head and smiled at his concern and I did the same.Leena aunty has come back and right now Neev and I are going to attend a gala night.We would not have attended this gala night if it was not important. Actually today he is going to get rewarded in the gala night for being the best entrepreneur of the year.Its already 8:15 pm at night and he is still freaking out to leave Navya alone.After leena aunty assured him again, we bid our bye to her and went out from the mansion.Our chauffeur open the door for me and I sat down in the car, and soon followed by him.After driving for an hour or so, we finally reached at our destination.It was a ver
Aarohi's POV:"Baby as much I love your giggles, can you plzz stop it for some time my love...?" I heard his whisper and bit my lips not to laugh at their antics."Dadaaa...." our baby squealed loudly but it instantly went down."Shhh...princess. you want to eat those cookies right...?" He again whispered to which I narrowed my eyes."So these thieves are here for my cookies huh...I have to secure them soon." I thought to myself exaggeratedly and decided what I have to do.I heard some more 'hushhh' and 'shushhh' before a big hand came in my sight.I smirked and and as planned hit that hand with my belan (rolling pin)."Ouch....." he hissed and soon a loud wailing started echoing in the whole kitchen.Both father and daughter get up from behind the kitchen counter. Navya was crying loudly while Neev was consoling her.Well
Neev's POV:Opening my eyes I welcomed another day with same paining heart.I didn't even get a blink of sleep yesterday night. Its nothing new. I am very habitual of sleepless nights.I have been suffering from Isomnia since I turned 20.My heart pained when I remember wh
Aarohi's POV:"Brownie stop. I am already tired now…" I whined at my dog , as he was continually licking my face making me laugh hard.Cureently I was in the living room and was playing with browine when all of suddenly the door bell rang and one of
Neev’s POV :
Neev's POV :After telling her to change and came down to serve me food , I went downstairs and sat down on the dining table. I was furiously tapping my knuckles on the table while glancing towards the stairs now and then.I was






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak