LOGIN“You’re my mate, Claudia… and even though I’m your stepbrother, nothing will stop me from claiming you. No curse, no Alpha and no law can deny what burns between us. The more you fight me, the harder I’ll make you surrender because you were always meant to be mine.” *** Claudia Kendal had always been branded the cursed child of the Silvercrest Pack. When her parents died in a car crash, she was the only survivor, untouched without a single scar. To the pack, that was no miracle, but proof of misfortune. On Claudia’s eighteenth birthday, her worst fears came true. She failed to shift, failed to find her mate, and became mocked as the wolfless wolf. Despised and ridiculed, Claudia’s only wish was for the Moon Goddess to grant her someone to love her… someone to finally call her own. But fate was cruel. When her mate was revealed, he rejected her, discarded her, and humiliated her before everyone. That same night, Claudia was hunted and nearly raped by the wolves who despised her… until salvation came from the last person she ever expected. Claudia’s rescuer. Her protector. Her forbidden second-chance mate turned out to be her stepbrother. But can Claudia embrace the dark, dangerous love of her Alpha stepbrother… or will the cursed that haunts her bloodline tear them apart?
View MoreSalju mulai turun dengan lebat. Tidak seperti tahun-tahun biasanya, yang mulai lebat di bulan Desember, kali ini masih di akhir November suhu semakin menusuk tulang. Di tengah cuaca yang tidak bersahabat itu Roy memacu kendaraannya membelah jalanan yang berwarna putih. Wajahnya tenang, ada riak kebahagiaan yang memancar di sana.
Bagaimana tidak? Setelah dua puluh lima tahun, akhirnya ia kembali mengantongi identitas kewarganegaraan Indonesia. Dan perjuangannya selama lima tahun terakhir pun berbuah manis, akhirnya kesempatan itu datang. Dia diterima berkerja sebagai salah satu staff ahli di Jakarta. Kota yang terakhir ia lihat saat ia berumur lima tahun, ketika seorang pria bermata sipit yang mengaku sebagai ayahnya datang, lalu membawanya pergi ke sebuah negeri antah berantah yang kultur dan bahasa sama sekali tidak ia pahami.Setelah itu ia hidup nomaden dari satu rumah ke rumah yang lain. Sementara laki-laki yang mengaku ayahnya tadi pergi entah kemana. Sedangkan wanita tua yang ada dirumah itu sering kali memandangnya dengan tatapan tidak bersahabat. Roy kecil tidak mengerti, yang ia tau wanita tua itu adalah neneknya. Sementara ibunya adalah mantan TKI yang sudah pulang ke Indonesia.Karena itu tidak banyak yang bisa ia ingat tentang Indonesia selain bayang-bayang samar ketika ia bermain di halaman sebuah rumah kecil di temani seorang wanita muda berwajah sendu. Ahh .. desah Roy panjang. Sejumput kegelisahan menyelinap dihatinya. “Apakah dia masih ada?” Tanya Roy dalam hati.Tepat di usianya yang ke sepuluh, lagi-lagi Roy dipindahkan ke rumah keluarga yang lain. Tapi kali ini tidak lagi bermata sipit seperti yang biasa ia lihat. Keluarga yang ia temui kali ini berkulit coklat dan bermata besar, tapi memiliki tatapan yang hangat. Rumah yang ditempatinya pun memiliki banyak kamar. Dan Roy melihat beberapa orang anak seumurannya bermain di dalamnya.Bu Fatma, demikian wanita itu disapa. Diingat dari posturnya, Bu Fatma saat itu sepertinya masih berusia 20 tahun. Cukup muda untuk menjadi pengelola panti. Meski tidak banyak kisah yang bisa Roy gali dari wanita itu, tapi tumbuh di bawah asuhannya membuat Roy tetap bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Dan berkat beliau juga, Roy tetap bisa merasakan jiwa Indonesia dalam aliran darahnya. Ketika tidak ada anak-anak yang lain didekat mereka, Bu Fatma selalu mengajaknya berbicara dan bercerita menggunakan bahasa Indonesia. Karena itulah, meski tumbuh besar di negara asing, tapi tak sedikit pun Roy lupa dengan negara asalnya.***Roy memperlambat laju kendaraan karena ban belakangnya beberapa kali terasa goyang. Itu pasti karena salju yang semakin tebal. Sesekali dia melirik bangku belakang lewat kaca spion. Disana ada dua orang perempuan belahan jiwanya. Fani dan Windi.“Windi tidur, Ma?” tanya Roy.“Iya, Pa. Habis minum ASI dia langsung tidur,” jawab Fani.“Pasti dia nyaman tuh, berada dipelukan kamu di cuaca dingin begini.”“Iya, ya, Pa. Ga biasa-biasanya dia tidur di mobil. Biasanya rewel minta dibukakan kaca, trus ketawa cekikikan kalo rambutnya diterbangkan angin.”Roy tersenyum membayangkan suara riang anaknya. “Ga terasa udah besar, ya, dia sekarang.”“Iya, Pa, oh ... iya, Papa yakin jalannya lewat sini?”“Yakin, Ma. Beberapa waktu lalu papa pernah di ajak Tae Ho ke sini.”“Iya, tapi saat itu ga lagi salju, kan, Pa ?”“Benar, tapi plang jalannya, kan, ada. Papa hapal kok, Ma. Tenang aja.”“Iya, Pa. Cuma mama khawatir aja, ntar kita ketinggalan pesawat lagi.”“Ga bakalan, Ma. Masih ada waktu 4 jam lagi kok.”“Lagian Papa pake acara mengunjungi Tae Ho segala lagi, kan bisa pamitan via telepon.”“Papa ga enak, Ma. Hari ini adalah hari perayaan rumah barunya. Dia udah banyak bantu papa waktu kuliah dulu. Dia juga yang bantu papa mendapatkan perkerjaan. Dan yang tidak akan pernah papa lupa, dia jugalah yang berjasa karena udah mempertemukan kita,” ujar Roy sambil menatap mesra istrinya. Fani pun tersipu malu.“Ih ... papa genit,” sahut Fani.“Lho, emang kenyataannya kan, Ma. Bagi papa, Tae Ho itu bukan hanya teman, Ma. Dia lebih dari saudara. Bahkan kami sama-sama berjanji akan saling menjaga satu sama lain, anakku adalah anaknya juga, begitu juga sebaliknya. Masa mentang-mentang papa dapat kerjaan yang lebih baik di Indonesia trus papa main pulang gitu aja ?”Fani tidak menjawab lagi, untuk hal itu dia tidak akan pernah berani berdebat dengan Roy. Dia sangat paham arti persahabatan dalam hubungan mereka.Dalam hening yang sesaat tiba-tiba Windi menangis di pelukannya.“Cup ... cup ... cup ... ini mama, Sayang. Sshhhh ... tenang, Nak. Tenang.”Bujukan Fani tidak mempan. Windi justru menangis semakin kencang disertai jerit di setiap ujungnya. Seperti orang yang sedang ketakutan akan sesuatu.“Kenapa Windi, Ma ? Kok ... nangis sampe segitunya ?” tanya Roy masih dari kaca spion.“Ga tau nih, Pa. Tiba-tiba saja dia menangis.”“Masuk angin kali, Ma.”“Ngga Pa, perutnya ga kembung kok,” jawab Fani. Dia menepuk-nepuk perut Windi beberapa kali, dan terdengar baik-baik saja.“Cup...cup... udah Nak, udah. Ini mama, Sayang.”Windi menangis semakin keras. Membuat konsentrasi Roy teralihkan. Dia tidak lagi fokus melihat jalan sehingga tidak melihat bahwa ia baru saja melewati papan yang bertuliskan larangan tertentu. Sampai ketika mobil yang dikendarainya terasa goyang seperti baru saja melewati jalan yang keras dan licin.“Perhatikan jalan, Pa. Ga usah cemaskan Windi. Ntar lagi dia juga diam.”“Iya Ma, iya. Ini papa juga perhatiin kok.”Merasakan jalan yang dilewatinya semakin licin, Roy mengurangi kecepatannya, namun tidak berhasil. Mobil yang dikendarainya tetap meluncur tak terkendali.“Awas, Paaaa.”“Merunduk, Ma. Pegangan yang kuat. Lindungi Windiiiii !”Itu adalah kata-kata terakhir mereka, karena berikutnya hanya pekikan histeris diiringi suara dentuman besar yang terdengar.Mobil itu terguncang hebat beberapa kali, lalu meluncur, berguling-guling, dan terhempas di bebatuan diiringi dengan suara menggelegar.Siang itu, ditengah hujan salju yang lebat, mobil yang berisikan Roy, Fani dan Windi terhempas ke dasar jurang.***Tidak jauh dari tempat kejadian. Jang Woo dan istrinya sedang melintas. Mereka adalah pasangan suami istri yang telah bertahun-tahun tidak dikaruniai anak.“Yeobo, bagaimana kalau kita mengadopsi anak saja?” tanya In Suk, istrinya. Ada getaran halus terdengar di suaranya. Sangat jelas dia menahan gejolak yang sangat besar di hatinya. Meskipun sudah bisa menduga jawaban dari suaminya, tapi dia tetap ingin mencoba sekali lagi, dengan harapan suaminya akan berubah pikiran.Hasratnya untuk menjadi ibu sudah tak terbendung lagi. Sementara usianya tak lagi muda. Jika langit memang tidak menakdirkannya untuk melahirkan seorang anak, maka mengadopsi anak adalah jalan lain yang harus ia pilih.In Suk telah melakukan riset kecil-kecilan dari beberapa orang temannya yang juga tidak memiliki anak seperti dirinya. Mereka mengadopsi anak, dan tak lama kemudian mereka dikaruniai anak. In Suk berharap keajaiban yang sama juga akan menghampirinya.“Kamu kan sudah tahu jawabanku dari dulu. Mengapa masih menanyakan itu?” Jang Woo menjawab dengan nada gusar.“Tapi sampai kapan aku harus menunggu, sementara usia kita semakin lanjut. Aku khawatir langit memang tidak merestui kita memiliki keturunan.”“Jangan menghakimi langit sesukamu. Kamu kan tidak tahu, bisa jadi saat ini DIA sedang merencanakan sesuatu yang indah buat kita. Sabar saja, yeobo, ye, pasti akan indah pada waktunya.”In Suk tidak menanggapi lagi. Setiap kali membahas hal itu selama tiga tahun terakhir akhirnya selalu sama. Suaminya tidak pernah menyetujui mengadopsi anak. Padahal kemungkinan mereka untuk memiliki anak memang sangat kecil, karena In Suk sendiri pernah menjalani operasi kista sebelum menikah dulu.“Ada apa, yeobo ?” tanya In Suk heran, karena suaminya tiba-tiba menghentikan mobil. Sementara mereka masih jauh dari tujuan.“Di depan sana, kamu lihat itu ? Sepertinya ada kecelakaan. Ayo kita lihat.”“Tttapi ... kamu yakin itu kecelakaan biasa ? Bagaimana kalau mereka penjahat ? Atau korban kejahatan ? Nanti kita bisa jadi tertuduh.”“Ahh, kamu kebanyakan nonton drama. Jika kita tidak menolong mereka, lalu siapa lagi ? Setidaknya kita bisa menghubungi 119.”Suami istri itu pun mendekati mobil yang nyaris hancur itu.“Yeobo, dengar, sepertinya ada suara tangisan anak kecil,” kata In Suk.Jang Woo mencoba mempertajam pendengarannya. Dan benar yang dikatakan istrinya, dia mendengar tangisan anak kecil.Di bawah mobil yang hancur itu dia melihat tangan kecil menggapai-gapai. Pakaiannya berlumuran darah. Sementara dua orang lainnya diam tak bergerak.“Yeobo, sini, cepat. Bantu aku menariknya,” teriak Jang Woo.In Suk berlari mendekat. Dia terpekik melihat pemandangan di depannya.“Sudah, tunda dulu kagetmu. Kita harus segera menolong anak itu. Aku akan angkat, kamu yang tarik. Dalam hitungan tiga, oke.” In Suk mengangguk.“Na, dul, set.” Sekali hentakan In Suk berhasil menarik anak itu dan membawanya kepelukannya.“Bagaimana dengan orangtuanya ?” tanya In Suk khawatir.Jang Woo meraba nadi mereka satu persatu. Dia menghela nafas berat.“Denyut nadinya masih ada, hanya sangat lemah. Aku khawatir mereka tidak akan mampu bertahan lagi,” jawabnya khawatir. Lalu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi 119.“Yeobo, tunggu, anak ini, bagaimana dengan anak ini ?”“Mengapa bertanya ? Tentu saja kita serahkan kepada petugas yang datang nanti.”“Andwaeyo, yeobo, kamu sendiri yang bilang orangtuanya tidak memiliki harapan hidup. Biarkan aku merawatnya, ya, aku yakin, ini adalah salah satu cara yang diberikan langit kepada kita.”“Michyeosseo? Tidak, kamu jangan sekali-kali berpikir untuk melakukan itu!” tolak Jang Woo tegas.Sudah cukup dia melihat kehidupan anak-anak terlantar di panti asuhan di dekat tempat kerjanya. Dia tidak mau, jika dirinya adalah salah satu pelaku yang menyebabkan itu.“Yeobo, tolonglah, izinkan aku merawatnya. Kamu tidak lihat anak ini membutuhkan kita ? Lihat wajahnya yang polos, aigoo ... dia sangat menggemaskan,” rengek In Suk sambil membelai-belai wajah Windi yang mulai tenang di pangkuannya.Jang Woo memandangi wajah anak yang digendong istrinya. Wajahnya imut dan polos. Meskipun tubuhnya gemetar karena takut, tapi sorot matanya menampakkan keberanian. Seandainya diberi kesempatan, dia sangat ingin memiliki anak seperti itu.“Tapi ... .” gumam Jang Woo ragu.“Udah, tidak usah terlalu banyak pikir, ayo, kita pergi dari sini, buruan,” desak In Suk seraya menarik tangan suaminya untuk segera beranjak dari tempat itu.“Oke, tapi biar aku hubungi 119 dulu. Setidaknya kita upayakan dulu pertolongan bagi orangtuanya.”*** bersambung ***
“Huh?”“Gosh! Why did I say that!” Claudia exclaimed out loud as she pinched her cheeks aggressively. “This is definitely a dream because I know that I doze off during the car ride.” She went on, pinching herself even more.“Hahaha!” Lucain laughed out loud, placing his hands at each side of his waist. “This isn’t a dream, Claudia.”“What… you must be joki…”Swiftly, Lucain lowered his back as he removed his hands from his waist. He placed them above Claudia’s cheeks and then planted a kiss on her lips. He tilted his head toward the side, sucking on her lower lip as he shut his eyes, pulling Claudia closer to himself.At first Claudia was taken aback by the sudden kiss, but her body began to respond on its own. Ever so slowly, she closed her eyes and decided to follow his lead. To Claudia, Lucain tasted sweeter than the previous time. She held her breath while her heart raced faster than ever. She curled her toes and her fingertips, trying to contain the blissful sensation brewing wit
“I know.”For a few split seconds, Claudia froze, trying to process what she had just heard from Lucain. ‘Is my mind playing tricks on me, or did he just say he knows I’m wolfless?’ she wondered silently.“Baby girl, why are you still looking sad? I already know that you don’t have a wolf.”“Wh… what? Then how can you still call me your mate?”Lucain chuckled softly, using his index finger to give Claudia’s nose a gentle, playful poke. “I don’t care if you’re wolfless or not. You are who the moon goddess has destined to be mine, and that’s why it also doesn’t matter to me if you’re my stepsister or not.” Lucain purred as he leaned in closer to her neck, inhaling her scent.Claudia’s scent was intoxicating, warm and sweet, stirring something deep and primal within him.Claudia held her breath, feeling Lucain’s hot, intense breath against her skin. It was ticklish and thrilling at the same time, making her heart race as she forced her saliva down her throat.After what felt like hours,
Claudia smiled warmly, her fingers gently taking hold of Lucian’s hands. “Before we leave this room, can you please take your medication? I don’t want you feeling sick during the car ride,” Lucian said, his voice soft but full of care.Claudia chuckled lightly. “Of course,” she replied, a gentle warmth in her tone.She nodded, picking up the medicine from the bedside table. Reading the instructions on each bottle carefully, she then grabbed her water and swallowed the pills before turning her gaze back to Lucian. “All done,” she whispered, a faint smile on her lips.“Good girl,” he purred, his eyes softening. “Let’s get going.” Lucian led the way toward the pack’s main sitting room, which was vast and beautifully furnished.Unlike two days ago, only a few pack members were present, and all of them stared at Claudia in astonishment, silently admiring her beauty. She felt her cheeks warm under their gaze but held her head high, pride mixing with nervous excitement.Stepping outside, Cl
Claudia let out a deep sigh as she took off her bathrobe and turned on the shower, letting the warm water flow from her face down to the rest of her body. After bathing, she wrapped a white towel around her chest, stepped out of the bathroom, and curiously walked toward the other door.The moment she stepped inside, she reached out to find the light switch. After a few seconds, her fingers brushed against it, and she flicked it on.Instantly, Claudia gasped, her eyes widening in awe at what she saw. The room was a beautifully arranged walk-in closet. Clothes of every kind hung neatly on different racks, with gowns, tops, trousers, and skirts all separated with care. One section displayed delicate underwear, another shimmered with rows of jewelry, and a third was lined with elegant shoes. In the corner stood a full-length mirror framed with lit bulbs beside a vanity table stocked with perfumes, lotions, and neatly arranged body care items.Claudia scanned the clothing sections, her lip
Lucian didn’t argue. Instead, he snuggled closer to Claudia, watching as her grip on his finger slowly loosened. Her breath came in slow, even gasps, her shoulders rising and falling with each inhale. Within moments, Claudia fell into a deep slumber, allowing herself to sink peacefully into the co
The door slid open, and a woman from the hallway stepped inside without even bothering to knock. A deep frown was plastered on her face as she walked in with confidence that instantly made Claudia uneasy.She was a young lady dressed in a black flowery gown, her long blonde hair cascading down her
Claudia felt the whole world come to a halt, her eyes wide open for what felt like forever.She wanted to ask so many questions, but her lips felt stuck as she tried to process everything he had just said.‘My stepbrother? How? I thought they said he was dead,’ she thought. ‘And why did he kiss me?
“Hey, are you okay?” he inquired, scanning the face of Claudia to see if she was in any discomfort.She swallows hard, eyes wide open, but says nothing because, unfortunately, words have suddenly failed her.“Baby girl, are you in any discomfort? Are you still hurting? Because once we get to my pac


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.