In the arms of two sins

In the arms of two sins

last updateLast Updated : 2026-05-23
By:  Ella RaeCompleted
Language: English
goodnovel18goodnovel
10
5 ratings. 5 reviews
153Chapters
1.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

His tie hung loose, his eyes darker than sin. The scent of whiskey lingered on his breath as he leaned closer. “Tell me to stop,” he murmured, the words brushing against my skin like a dare. “You’re drunk,” I said, staring into those grey eyes as my heartbeat filled the silence. He smiled faintly, his gaze trailing from my hair until it fell on my lips. “Drunk,” he whispered, his thumb grazing my mouth as if testing how soft it was, “but not blind. You want this as much as I do.” ----- After her husband’s mysterious death, Mara Lawson becomes the center of a scandal threatening to destroy the powerful Lawson empire. Elias Lawson, her late husband’s twin, is everything she should resist—dangerous, magnetic, and forbidden. David Hale, her ex-lover, the man who walked away once and now wants forgiveness… and another chance. Between the man who broke her and the one who could ruin her, Mara is caught in a web of passion, guilt, and secrets that could shatter them all. Because in the Lawson world, love is never pure—it’s just another sin waiting to be punished.

View More

Chapter 1

Chapter 1

"Pak Leonard, Kakak, maaf ya. Hujannya deras sekali. Saya benar-benar nggak bisa dapat mobil."

Pintu mobil terbuka.

Angin bercampur tempias hujan menerobos masuk hingga membasahi jok kulit.

Kania Yustara menutup payungnya lalu menyelinap ke kursi belakang dengan tubuh yang masih basah kuyup.

Blus sifon putihnya menempel erat di tubuh, sementara air terus menetes dari rambutnya.

Penampilannya benar-benar acak-acakan.

Namun senyumnya tetap cerah.

Kedua tangan Leonard masih bertumpu di setir.

Dia bahkan tidak menoleh.

Dia hanya meraih beberapa lembar tisu dari tempat penyimpanan di samping, lalu mengulurkannya ke kursi belakang melewati bahuku.

"Lap dulu. Nanti masuk angin."

Suaranya lembut, penuh perhatian seperti biasanya.

Kania menerima tisu itu. Ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Leonard.

Namun, Leonard tidak langsung menarik tangannya.

"Terima kasih, Pak Leonard. Saya tahu Bapak memang paling perhatian sama kami para karyawan."

Kania mengatakannya sambil tersenyum, tanpa sedikit pun merasa canggung.

Barulah Leonard menarik tangannya, lalu mengusap setir perlahan dengan ujung jari.

"Nggak mudah buat perempuan harus keliling cari klien sendirian."

Aku duduk diam di kursi penumpang, menatap hujan lebat di balik kaca depan.

Wiper bergerak tanpa henti, menyapu lapisan demi lapisan air hujan.

Tepat saat Leonard mengucapkan kalimat "nggak mudah" itu,

aku melihat sendiri deretan angka merah di atas kepalanya kembali berubah.

[327 hari 4 jam 47 menit.]

Cahaya merah itu berkedip sesaat.

Lalu berubah jadi [289 hari 10 jam 12 menit.]

Hanya karena satu kalimat empati yang diucapkannya dengan ringan, waktu yang tersisa sebelum dia meninggalkanku kembali berkurang lebih dari satu bulan.

Aku memejamkan mata, sementara perutku mulai terasa mulas.

"Apa AC-nya terlalu dingin?" tanya Leonard tiba-tiba.

Kukira dia sedang bertanya padaku.

Aku bahkan sudah hendak menjawab, "Nggak kok."

Namun dari kursi belakang terdengar Kania bersin.

"Iya, agak dingin. Baju saya basah kuyup. Kena angin sedikit saja langsung menggigil."

Pandangan Leonard beralih ke panel tengah.

Dia memutar kenop AC dan menaikkan suhunya tiga derajat.

Setelah itu, matanya jatuh pada selimut kasmir yang berada di pangkuanku.

Selimut itu baru beberapa hari lalu kusimpan di mobil untuk menghangatkan kaki.

"Yona."

Dia memanggilku.

"Kasih selimut itu ke Kania. Nanti dia keburu kedinginan."

Aku menoleh menatapnya.

Cahaya di dalam mobil redup, sementara sorot lampu jalan silih berganti melintasi wajah tampannya.

Ekspresinya begitu tenang, seolah permintaan itu adalah hal yang paling biasa.

Tak ada sedikit pun kesan pilih kasih. Semuanya tampak begitu tulus dan wajar.

Begitulah Leonard.

Pria sempurna yang dipuji semua orang. Lembut, penuh perhatian, dan selalu memancarkan kebaikan yang terkadang terasa begitu menyakitkan bagiku.

Tanpa berkata apa-apa, aku mengambil selimut kasmir dari pangkuanku lalu menyerahkannya ke kursi belakang.

"Terima kasih, Kak!"

Kania langsung membungkus tubuhnya dengan selimut itu tanpa sungkan.

"Kakak baik banget. Pak Leonard benar-benar beruntung bisa menikah sama Kakak."

Dia mengusap hidungnya, lalu mengembuskan napas panjang dengan wajah sangat puas.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Alexa
Alexa
Nice one author
2026-09-14 13:58:14
3
0
Miss. X.
Miss. X.
The suspense in this book is killing me... like wtf.. I couldn't even tell who the villain was... Grt job author
2026-09-04 20:02:25
3
0
Ella Rae
Ella Rae
Hey readers! Thanks so much for your love and support. Your reads and comments mean everything! Stay tuned, more twists are coming!
2025-12-26 19:16:25
6
0
Ella Rae
Ella Rae
Interesting!!!!!! I Love it.
2025-12-26 19:11:17
4
0
Matilda
Matilda
Love this book already with the suspense going on...
2025-12-26 18:16:55
4
0
153 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status