Share

Chapter 37 Bergantung

Author: Shoera_moon
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-12 15:12:16

- Perpustakaan Ashworth -

Suasana pagi di perpustakaan Ashworth terasa berbeda hari ini, lebih berat dari biasanya. Udara yang biasanya dipenuhi aroma kertas tua dan lilin kini seolah membawa sisa-sisa ketegangan dari pertemuan mereka beberapa hari lalu. Theron dengan sengaja memilih posisi strategis di dekat jendela timur, membiarkan sinar matahari pagi menyorot dari belakangnya, menciptakan siluet yang sengaja dirancang untuk terlihat mengintimidasi namun tetap elegan. Meja kerjany
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 199 Pesan terakhir (Tamat)

    Pemakaman Felicity telah selesai, semua orang kembali masuk untuk meratapi kesedihan masing masing tapi Theron tetap berdiri dihadapan batu nisan. Ia tidak menangis. Matanya kering, terlalu kosong. Ia hanya menatap batu nisan itu, membaca nama yang terukir di sana berulang kali, seolah jika ia membaca cukup lama, nama itu akan berubah, dan Felicity akan bangkit tersenyum padanya.Dalam kedipan mata sebuah amplop tergeletak di samping bunga kering itu.Jantungnya berhenti sejenak. Ia tahu dari siapa surat ini.Dengan tangan gemetar seperti orang demam, ia membukanya. Membacanya. Dan dunia di sekelilingnya runtuh."Theron, kau adalah kejutan terbesar dalam hidupku..."Ia membaca sambil berdiri air mata jatuh tanpa bisa ia bendung. Ia membaca tentang bagaimana Felicity melihat perjuangannya, tentang bagaimana ia menghargai keputusannya untuk melepaskan, tentang cinta yang tidak sempat terbalas."Aku akan selalu mencintaimu, Theron. Dari tempat yang lebih damai nanti."Surat itu jatuh. Th

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 198 Bunga Kering

    Dari dalam saku jas abu-abunya, ia mengeluarkan sesuatu yang kecil, terbungkus kain sutra tipis. Dengan tangan gemetar, ia membuka bungkusan itu.Bunga kering.Bukan bunga sembarangan. Ini adalah bunga yang ia petik, pada malam sebelum Isabella meninggal untuk pertama kalinya. bunga yang Isabella letakkan di rambutnya saat mereka berpiknik di bukit. Bunga yang sama yang ia simpan selama berabad-abad, melalui dua belas kehidupan.Setiap kelopaknya telah mengering, warnanya memudar menjadi coklat keemasan, tetapi bentuknya masih utuh—seperti cintanya yang tidak pernah layu meskipun waktu berlalu.Alexander meletakkan bunga kering itu di atas tangan Felicity yang tersilang. Tangannya bergetar hebat saat melakukannya, air mata jatuh membasahi kelopak-kelopak rapuh itu."Ini milikmu," bisiknya. "Sudah seharusnya aku mengembalikannya sejak dulu. Maaf aku menahannya terlalu lama."Ia memandang Felicity untuk terakhir kalinya. Wajah yang sama dengan Isabella. Jiwa yang sama, meskipun telah me

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 197 Tangis makhluk abadi

    Ia menarik napas panjang. Dadanya sesak, tetapi ia tersenyum—senyum yang getir, hancur, tapi tulus."Jika itu benar-benar keinginanmu... maka akan kukabulkan."Air mata jatuh dari mata Alexander. Untuk pertama kalinya di hadapan orang lain, makhluk abadi itu menangis.Felicity menatapnya, dan untuk sesaat, ada sesuatu di matanya. Mungkin keheranan. Mungkin pertanyaan. Mungkin secercah perasaan yang sudah lama padam.Tapi Alexander belum selesai. "Sebelum itu... apa kau ingin mengucapkan perpisahan pada orang-orang? Martha? Bernard? Atau..." ia ragu, "Theron?"Felicity terdiam lama. Matanya berpaling ke jendela, ke bulan yang bersinar dingin. Pikirannya melayang pada Martha yang memeluknya, pada Bernard yang mengajarinya memerah susu, pada Cokelat yang selalu mengekor, pada Liam yang berdiri di bawah pohon dengan mata basah.Juga pada Theron, yang telah mencarinya berminggu-minggu. Pada Bea, yang setia menemaninya sejak kecil. Pada Rowan, yang nakal tapi ia sayangi. Pada Bibi Evangelin

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 196 Kehancuran jiwa

    Dua minggu telah berlalu sejak kereta itu membawa Felicity menjauh dari Oakhaven. Kesedihan, penyesalan, serta Frustasi membuat Felicity Ashworth perlahan-lahan mati.Bukan mati secara fisik, tubuhnya masih bernapas, jantungnya masih berdetak. Tapi sesuatu yang lebih berharga dari sekadar nyawa telah padam di dalam dirinya.Jiwanya.Kamarnya di Ashworth Manor menjadi penjaranya. Para pelayan datang dan pergi dengan nampan berisi makanan yang kembali utuh. Lady Evangeline duduk di sampingnya berjam-jam, berbicara, memohon, bahkan menangis tapi Felicity hanya diam. Matanya yang dulu berbinar kini kelabu, kosong, seperti kaca mati yang hanya memantulkan cahaya tanpa menyerapnya.Bea mencoba segala cara. Ia membacakan buku favorit mereka, bercerita tentang kekonyolan Rowan, tidak ada reaksi. Higgins berdiri di pintu setiap hari, menatap majikan mudanya dengan hati hancur. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Rowan berhenti nakal. Bocah itu hanya duduk di pojok kamar Felicity, memeluk lutu

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 195 Perpisahan

    Felicity bangkit berdiri, meskipun lututnya gemetar. "Aku tidak peduli dengan tanggung jawab itu, Bibi! Aku lelah! Aku lelah menjadi harapan semua orang! Aku lelah ketakutan setiap malam! Aku lelah hidup dalam bayang-bayang!"Lady Evangeline menatapnya dengan mata membara. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau rasakan? Aku juga kehilangan! Aku juga takut! Tapi lari bukan jawaban!""Ini bukan lari, Bibi! Ini... ini memilih. Memilih hidup yang kuinginkan.""Memilih?" ulang Lady Evangeline, suaranya getir. "Kau masih anak-anak, Felicity. Belum cukup umur. Belum cukup matang untuk membuat keputusan sebesar ini. Dan tugasku sebagai wali adalah memastikan kau tidak membuat kesalahan."Felicity mundur selangkah, merasakan bahaya. "Bibi, jangan..."Lady Evangeline menarik napas dalam, berusaha mengendalikan diri. Selama beberapa detik, ia diam, berusaha bersabar. Tapi ketika Felicity tidak juga bergerak mengikutinya, kesabaran itu habis."Baiklah." Suaranya dingin seperti es. "Jika kau tidak

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 194 Kebahagiaan yang terhenti

    Di desa terpencil itu, Felicity tidak tahu apa yang akan datang. Ia sedang duduk di teras gubuk Liam, ditemani Cokelat yang setia, memandangi matahari terbenam. Liam duduk di sampingnya, lebih tenang dari biasanya. "Kau bahagia di sini?" tanya Liam tiba-tiba. Felicity menoleh, tersenyum. "Sangat." Liam mengangguk pelan. Ada sesuatu di matanya kesedihan yang dalam, tetapi juga... keikhlasan? Felicity tidak tahu. "Felicity," panggilnya lembut. "Apa pun yang terjadi, ingatlah... kau berhak bahagia. Kau berhak memilih." Felicity mengerutkan kening. "Liam, kau bicara aneh sekali hari ini." Liam tersenyum, senyum yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. Hangat, akrab, dan penuh arti. "Hanya berpikir keras, mungkin." Mereka tertawa kecil. Di kejauhan, kabut mulai turun, menutupi desa Oakhaven seperti selimut pelindung. Tapi di balik kabut itu, badai sedang bersiap. Dan Felicity tidak tahu bahwa besok, dunianya akan kembali diguncang. --- Matahari bersinar lembut di ata

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 112 Kebenaran

    Theron menghela napas, matanya gelap. "Penyelidikanku terhadap Lord Septimus membawaku ke tempat yang lebih dalam dari yang kubayangkan. Dia bukan hanya seorang bangsawan serakah, Felicity. Dia bagian dari sesuatu yang lebih besar. Sebuah organisasi bawah tanah yang disebut The Shadow Syndicate."

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 111 Melewati mimpi buruk

    Lysander menarik kursi lebih dekat ke ranjang. Di kegelapan kamar yang hanya diterangi sinar bulan, dia memperhatikan setiap kedip mata Felicity, setiap gerakan kecil dalam tidurnya. Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak terjawab. Siapa pria bertubuh abu-abu yang disebut Felicity? Apakah ini ha

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chpter 110

    Lysander mendekapnya lebih erat, bingung tapi berusaha menenangkan. "Siapa, Flick? Siapa yang ada di sini?" tanyanya lembut sambil menatap sekeliling ruangan yang kosong."Dia... pria itu... dengan setelan abu-abu..." ucap Felicity tergagap, masih gemetar. "Selama ini... dia menghantuiku

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chaoter 109

    Dia menyandarkan tubuhnya yang gemetar pada sandaran kursi, kepalanya terasa ringan, tapi matanya membara dengan kombinasi ngeri dan kejengkelan yang mendidih. "Kau sudah mengambil tidurku. Kau sudah mengambil ketenanganku. Apa lagi? Apa lagi yang harus kau ambil sampai kau puas?"The Gr

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status