Beranda / Fantasi / Insinyur Termalas Dari Dunia Lain / chapter 158 Isabella&Alexander: Cinta sang ayah

Share

chapter 158 Isabella&Alexander: Cinta sang ayah

Penulis: Shoera_moon
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-25 00:31:51

Isabella diam, merenungkan kata-kata ayahnya. Leander melanjutkan dengan suara lebih lembut.

"Ayah dan ibumu dulu juga melalui masa-masa seperti ini. Kami bertemu saat Ayah berdagang di desanya. Ia cantik, cerdas, dan Ayah jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi Ayah tidak langsung meminangnya. Ayah menghabiskan waktu berbulan-bulan mengenalnya, keluarganya, kebiasaannya. Dan setelah yakin, barulah Ayah meminta restu kakek-nenekmu." Ia tersenyum mengenang. "Dan lihatlah, kami bahagia sampai a
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 161 Isabella&Alexander: hati yg lapang

    Setelah Pembicaraan Isabella masuk ke ruang makan dengan cemas. Ia melihat Alexander yang masih berdiri di dekat meja, wajahnya agak basah seperti baru menangis. Jantung Isabella hampir berhenti. "Alexander? Ayah bilang apa? Kenapa kau menangis? Apa Ayah melarang kita?" Alexander tersenyum, lalu menarik Isabella ke dalam pelukan. Isabella terkejut, tapi tidak melawan. Ia membiarkan Alexander memeluknya erat. "Ayahmu... ayahmu luar biasa, Isabella," bisik Alexander di telinganya. "Ia mengizinkan kita." Isabella melepas pelukan, menatap Alexander tidak percaya. "Sungguh? Ayah bilang begitu?" Alexander mengangguk, tersenyum lebar. "Ia bilang ia tidak akan melarang kita. Ia hanya ingin kita saling mengenal lebih dalam, tidak terburu-buru. Tapi pokoknya, ia mengizinkan!" Isabella melompat kegirangan, lalu memeluk Alexander lagi. Mereka berpelukan di ruang makan yang temaram, diterangi lampu minyak, dengan aroma sup yang masih tersisa di udara. "Alexander, kau tahu? Ini hari terinda

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 160 Isabella&Alexander: Restu

    Leander duduk di kursi yang tadi diduduki Isabella. Ia menatap Alexander dengan pandangan yang sulit diartikan—tidak marah, tapi juga tidak ramah. Netral. Seperti pedagang yang sedang menilai calon pembeli. "Duduklah, Alexander. Jangan tegang begitu." Alexander duduk, tapi tubuhnya masih kaku. Ia meletakkan kedua tangan di atas meja, lalu tidak tahu harus diapakan lagi. Leander memulai pembicaraan. "Kau tahu, Alexander, aku sudah berkeliling ke banyak tempat selama bertahun-tahun. Aku bertemu banyak orang, dari bangsawan sampai pengemis. Dan aku belajar satu hal: karakter seseorang bisa dilihat dari hal-hal kecil." Alexander menelan ludah. "Ya, Tuan." "Ketika aku tahu ada pemuda yang mendekati putriku, tentu aku ingin tahu lebih banyak tentangnya. Maka aku bertanya pada orang-orang. Kepala desamu bilang kau pekerja keras. Tetangga-tetanggamu bilang kau jujur dan suka membantu. Nell bilang kau konyol, tapi baik hati. Dan dari pengamatanku sendiri, kau memang tulus pada Isabella."

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 159 Isabella&Alexander: kehangatan sup

    Hari yang dinanti-nantikan Alexander akhirnya tiba. Setelah seminggu penuh membersihkan dapur Nell, mencuci piring, mengupas bawang sampai matanya pedas berhari-hari, dan menerima berbagai makian lucu dari juru masak galak itu, ia akhirnya diizinkan memasak sup untuk Isabella. Nell berdiri di sampingnya dengan tangan bersilang, mengawasi setiap gerakan Alexander seperti elang mengawasi mangsa. "Potong wortelnya jangan terlalu besar, bodoh! Nanti mentah di dalam," bentaknya. "Iya, iya," jawab Alexander, keringat mengucur di keningnya. Ini lebih menegangkan daripada saat ia pertama kali bicara dengan Isabella. "Bawangnya ditumis sampai harum, jangan gosong!" "Iya, Nell." "Garamnya secukupnya! Jangan kebanyakan!" "NELL, AKU TAHU!" Nell mendengus, tapi sudut bibirnya tersenyum kecil. Sejujurnya, Alexander tidak sebodoh yang ia kira. Anak itu cepat belajar. Dalam seminggu ini, ia sudah hafal resep sup ayam dengan sayuran—resep andalan Nell yang tidak pernah ia ajarkan pada sembaran

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   chapter 158 Isabella&Alexander: Cinta sang ayah

    Isabella diam, merenungkan kata-kata ayahnya. Leander melanjutkan dengan suara lebih lembut. "Ayah dan ibumu dulu juga melalui masa-masa seperti ini. Kami bertemu saat Ayah berdagang di desanya. Ia cantik, cerdas, dan Ayah jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi Ayah tidak langsung meminangnya. Ayah menghabiskan waktu berbulan-bulan mengenalnya, keluarganya, kebiasaannya. Dan setelah yakin, barulah Ayah meminta restu kakek-nenekmu." Ia tersenyum mengenang. "Dan lihatlah, kami bahagia sampai akhir hayatnya. Meskipun waktunya terlalu singkat." Isabella menggenggam tangan ayahnya. "Ayah... aku rindu Ibu." "Ayah juga, Nak. Tapi Ayah yakin ia bahagia melihatmu sekarang. Melihat putrinya tumbuh menjadi gadis yang penuh cinta." Mereka terdiam sejenak, larut dalam kenangan. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma ladang dari kejauhan. "Ayah," Isabella memecah keheningan, "apa Ayah tidak keberatan jika aku... jika aku dan Alexander...?" Leander tersenyum. "Nak, Ayah hanya ingin kau

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 157 Isabella&Alexander: Cinta sang ayah

    Malam itu, di dua tempat berbeda, dua insan manusia menatap bulan yang sama. Alexander di ambang pintu pondoknya, Isabella di jendela kamar penginapan. Mereka tersenyum, masing-masing memegang surat yang baru selesai ditulis, masing-masing berbisik pada angin malam. "Aku mencintaimu, Isabella," bisik Alexander. "Aku mencintaimu, Alexander," bisik Isabella. Angin malam membawa bisikan itu entah ke mana, tapi mungkin, hati mereka masing-masing mendengarnya. Di kejauhan, Nell yang sedang membuang air cucian piring mendongak. Ia merasa ada yang aneh di udara. Sesuatu yang manis, seperti aroma bunga di tengah malam. "Dasar anak muda," gumamnya sambil tersenyum. "Bikin mual." Tapi matanya berkaca-kaca. Entah kenapa, ia teringat masa mudanya dulu. Masa di mana surat-surat cinta juga pernah singgah di hidupnya. Dan ia berdoa dalam hati, semoga dua anak muda itu tidak pernah kehabisan kata-kata untuk dituliskan satu sama lain. --- Malam itu, penginapan Angsa Putih lebih sepi

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   chapter 156 Isabella&Alexander: Surat cinta(2)

    Surat Kedua Alexander ********** Untuk Isabella, Suratmu kubaca berulang kali sampai hampir hafal di luar kepala. Aku bahkan membacanya untuk sapi-sapiku, dan mereka mengangguk-angguk setuju. Hari ini aku gagal menanam bibit baru. Bukan karena bibitnya jelek, tapi karena aku terlalu bersemangat menyiramnya sampai hampir banjir. Kepala desa lewat dan bilang, "Alexander, kau mau bikin sawah atau ladang?" Aku hanya tersenyum malu. Pikiranku sedang melayang ke penginapan, ke seorang gadis berambut kastanye yang sedang memilah sutra. Kau tahu, sejak bertemu denganmu, aku jadi sering melamun. Kemarin aku hampir memberi makan sapi dengan topi jerami karena kupikir itu rumput. Beruntung sapi itu lebih cerdas dariku. Tapi serius, Isabella. Aku senang kau masih ada di sini. Setiap pagi ketika membuka pintu, aku selalu melihat ke arah penginapan dan berpikir, "Syukurlah, gerobak ayahnya masih ada di sana." Aku takut suatu hari nanti kau pergi, dan desa ini akan terasa kosong meskipun penuh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status