LOGINTiga porsi bakso rudal sudah rapi dibungkus. Bunda Zayna, Ana, dan Zayan pun bergegas pulang untuk menikmatinya bersama. “Asyik… bakso… bakso…” Zayan bersenandung riang, suaranya melengking penuh semangat. Bakso memang jadi makanan favoritnya sejak dulu.Ana hanya tersenyum geli melihat tingkah sang adik yang tak pernah berubah jika sudah berurusan dengan makanan kesukaannya.“Yuk… mandi dulu, biar makannya lebih enak,” ajak Bunda Zayna lembut.“Oké, dech!” sahut keduanya kompak. Tak lama, suara air dan canda kecil memenuhi rumah. Setelah mandi, anak-anak itu duduk rapi, lalu menyantap bakso mereka dengan lahap. Kuah hangat dan aroma gurih membuat suasana semakin hangat. Selesai makan, mereka beristirahat sejenak. Tubuh terasa lebih segar, dan hati pun ringan.“Sudah siap ke taman Qur’an?” tanya Bunda Zayna sambil merapikan jilbabnya.“Siap, Bunda!” jawab Ana dan Zayan serempak.Tak lama kemudian, mereka pun bersiap menuju taman Qur’an—tempat anak-anak belajar mengaji dan menghafal a
Hari itu, Bunda Zayna hanya berdagang di dua saham. Bukan karena kurang peluang—justru sebaliknya. Ia melihat ada tiga saham lain yang ritmenya mulai “hidup”, namun belum berada di waktu yang tepat untuk masuk. Pergerakannya masih mentah, tapi menjanjikan. Senyum tipis terlukis di wajahnya. “Itu nanti… di penutupan,” bisiknya pelan.Baginya, tidak semua peluang harus diambil sekarang. Ada yang lebih baik ditunggu—hingga momentumnya benar-benar matang.Dengan dua posisi yang sudah diselesaikan dengan baik, ia tidak memaksakan diri untuk terus masuk market. Ia menutup platform tradingnya perlahan.Klik.Selesai.Bagi sebagian orang, mungkin ini terasa aneh—meninggalkan market saat peluang masih terlihat. Namun bagi Bunda Zayna, inilah bagian dari disiplin. Bukan hanya soal kapan masuk dan keluar… tapi juga kapan berhenti.Ia melirik jam di dinding. Waktu telah bergeser. Dan perannya pun ikut berganti.Bunda Zayna bangkit dari kursinya, merapikan meja kerja yang sejak pagi menjadi “medan
Trading hari kedua, Bunda Zayna tampak jauh lebih percaya diri. Kesalahan di hari sebelumnya ia bedah semalaman, membuka ulang setiap catatan, setiap entry, bahkan emosi yang sempat muncul saat market bergerak di luar ekspektasi.Dari sana, ia menyusun dua pendekatan yang lebih matang: satu untuk menghadapi kemungkinan market berbalik arah, dan satu lagi untuk memaksimalkan momentum saat terjadi breakout kuat.Baginya, trading tak ubahnya berdagang. Ada saatnya untung, ada kalanya rugi. Namun, satu prinsip yang ia pegang erat—kerugian harus ditekan sekecil mungkin, sementara peluang harus dimaksimalkan dengan disiplin.Seperti biasa, sebelum market dibuka, Bunda Zayna sudah duduk di ruang kerjanya, menyiapkan konten edukasi pagi. Namun kali ini berbeda. Sedikit lebih berani. Ia mengangkat hasil tradingnya sendiri sebagai bahan pembelajaran. Chanel MiTube “Selamat pagi Sobat Trader, Assalamualaikum Semua..Hari ini saya ingin berbagi sedikit evaluasi dari trading yang saya lakukan ke
Ziyan: "Ya, Raya… coba kamu pertimbangkan lagi dech tawaran itu dengan lebih serius. Kebetulan Karim punya resort yang sedang dikembangkan di sana. Akan sangat menarik jika kamu juga membuka butik di lokasi yang sama…" Jeda beberapa detik. Raya membaca ulang, alisnya perlahan mengernyit. Pesan berikutnya muncul. Ziyan: "Dengan begitu… kita tetap bisa “bertemu”… meski tidak secara langsung." Raya menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya, seolah mencoba menangkap maksud tersembunyi di balik kata-kata itu. Jariny bergerak cepat. Raya: "Seriously…?" Tak butuh waktu lama, balasan datang. Ziyan: "Yap. Dan bukan hanya itu… aku juga punya sesuatu untukmu." Raya kini duduk lebih tegak. Rasa penasarannya terpancing. Ziyan: "Seorang kandidat ambassador. Seorang ibu rumah tangga… terlihat sederhana dari luar. Tapi sebenarnya luar biasa." Detak jantungnya entah mengapa ikut berubah ritme. Raya menggigit bibir bawahnya pelan, matanya menyipit penuh minat. Pesan terakhir masuk, seola
Selama perjalanan, Ziyan duduk bersandar, namun pikirannya sama sekali tidak tenang. Bukan tentang bisnis semata—melainkan tentang bagaimana caranya bisa sesuai permintaan karim, hemmm mengetahui ukuran tubuh seseorang bukankah itu ranah privasi,malah bisa di anggap kurang ajar... astaga bos..ada..ada ..aja...Ia memutar berbagai kemungkinan di kepalanya. Atau......tiba-tiba seperti ada lampu dikepalanya... nah sekarang bagaimana caranya secara tidak langsung soraya yang minta dan Bunda Zayna bisa menjadi calon customer Soraya—atau bahkan lebih, atau mungkin menjadi bagian dari brand....bukankah ini tidak sedikit pun terlihat ada kaitannya dengan Karim?“Hem…” gumamnya pelan. “Bukankah Bunda Zayna bisa jadi ambassador Sonia Collection… dia kan seorang konten kreator…” Matanya sedikit menyipit, ide itu mulai terasa masuk akal. Okay… aku coba saja.” Tanpa menunggu lama, Ziyan langsung mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan."Hai Ya, gimana kabarnya? Sudah di Jakarta?" Beberapa men
Karim yang sejak tadi bersiap mengambil jasnya tiba-tiba terdiam, seolah teringat sesuatu.“Zi…”Ziyan yang sedang memeriksa beberapa pesan di ponselnya langsung menoleh.“Iya"Karim berjalan pelan ke arah meja, lalu berkata dengan nada berpikir. “Di acara fashion show semalam… ada satu model pakaian yang menurutku sangat cocok untuk Bunda Zayna.”Ziyan mengangkat alis sedikit.Karim melanjutkan, Tapi masalahnya… bagaimana kita bisa tahu ukuran badannya?”Ziyan mulai merasa arah pembicaraan ini tidak biasa.Karim menatapnya serius. “Aku ingin dia memakai pakaian yang dirancang langsung oleh Soraya.”Ziyan terdiam.“Pasti dia akan terlihat sangat anggun,” lanjut Karim pelan. "Saat pakaian itu ditampilkan di catwalk semalam, aku justru membayangkan Bunda Zayna yang berjalan di sana.”Mendengar itu, Ziyan yang sedang meneguk air tiba-tiba tersedak.“Kh—kh…” Ia buru-buru menutup mulutnya. "Ya ampun, bos"… gumamnya dalam hati. Apakah sekarang Bunda Zayna sudah mulai mendominasi pikirannya?







