Share

Bab 2

Author: WinaraBZ
last update publish date: 2026-02-21 23:02:17

“Hmm… sebelumnya saya pernah ditelepon seseorang bernama Karim,” ucap Bunda Zayna pelan, duduk berhadapan dengan suaminya di ruang tamu sederhana mereka. “Dia ingin saya mengelola akun RDN-nya. Katanya pakai referral saya, dengan pembagian hasil 75:25.”

Suaminya mengernyit. “Langsung begitu saja?”

“Iya. Saya tolak mentah-mentah. Tidak kenal, tidak pernah bertemu. Kok bisa-bisanya langsung percaya begitu saja? Saya tutup teleponnya. Saya pikir cuma orang iseng.”

Ia berhenti sejenak, menarik napas.“Tapi hari ini… asistennya menghubungi lagi. Katanya mereka sedang di Pare-Pare. Mau buka cabang perusahaan di sini. Dan mereka ingin bertemu. Hanya dua hari di sini, setelah itu terbang ke Turki, tempat usaha utamanya.”

Suaminya diam cukup lama. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam menimbang.

“Tidak ada salahnya dicoba, Dek,” akhirnya ia berkata lembut.

“Iya… saya juga pikir begitu. Makanya saya iyakan. Tapi dengan syarat ketemu harus bareng suami dan anak-anak.” Ia tersenyum kecil, mencoba mencairkan kegugupannya sendiri.

Suaminya ikut tersenyum. “Semoga ini peluang buat kamu.”

"Aamiin.”

Mobil mereka berhenti di depan Hotel Lotus, hotel megah yang berdiri anggun menghadap laut. Cahaya matahari sore memantul di kaca-kaca besar bangunan itu.

“Mam, kita mau ke mana?” tanya Zayan polos.

“Ke Hotel Lotus, Nak.”

“Mau nginap?” tanya Kak Ana sumringah.

Bunda Zayna tertawa kecil. “Tidak, Sayang. Mama mau ketemu orang.”

“Oh… kirain mau nginap. Hotel ini keren, dekat laut. Mama kan suka laut,” lanjut Ana penuh harap.

“InsyaAllah, kalau ada rezeki kita coba menginap di sini ya,” jawabnya sambil mengusap kepala putrinya.

Aamiin, bisiknya dalam hati. Semoga bukan cuma menginap. Semoga ini awal sesuatu yang lebih besar.

Ponselnya berdering.

“Halo, sudah di mana, Nyonya?” suara pria terdengar tenang dan berat.

“Maaf, panggil Ibu saja, Pak. Hehe… kayak miliarder saja dipanggil Nyonya.”

Terdengar tawa kecil di seberang sana. “Baik, Bu. Saya mengikuti kemauan calon mitra.”

“Kami sudah mendekati lobi. Bapak di mana?”

“Saya yang sedang menelepon Ibu, di depan pintu.”

Bunda Zayna mendongak. Seorang pria tinggi dengan setelan rapi melambaikan tangan. Wajahnya ramah namun profesional.

“Assalamu’alaikum, Pak Ziyan?”

“Wa’alaikumussalam. Dengan Bunda Zayna?”

“Iya. Ini suami saya, dan ini anak-anak kami, Zayan dan Ana.”

“Wah, hai jagoan. Nama kita hampir sama ya,” Ziyan tersenyum pada Zayan sambil memberi salam tinju.

Anak itu tertawa.

“Ayo, mari ke restoran. Tuan Karim sudah menunggu.”

Di dalam restoran hotel, seorang pria duduk tenang di meja sudut. Aura berbeda langsung terasa. Jasnya sederhana namun berkelas. Tatapannya tajam namun tidak arogan.

“Assalamu’alaikum.”

"Wa’alaikumussalam.”

“Bunda Zayna, kenalkan ini bos saya, Tuan Karim,” ujar Ziyan.

Bunda Zayna menelungkupkan tangan ke dada. “Salam kenal, Tuan.”

Karim mengangguk sopan. “Salam kenal.”

Tatapannya sempat terhenti pada wajah Bunda Zayna yang tertutup masker.

“Apakah Bunda memakai cadar?”

“Oh tidak, ini hanya masker. Sejak Covid saya terbiasa memakainya dan merasa nyaman,” jawabnya santun.

“Oh… begitu.” Karim bergumam pelan, nyaris tak terdengar.

Ziyan cepat menyela, menangkap gelagat tuannya. “Bagaimana kalau kita makan dulu, setelah itu baru membicarakan tujuan pertemuan?”

“Terserah Tuan,” jawab suami Bunda Zayna.

Hidangan pun datang satu per satu. Aneka menu memenuhi meja.

“Mam, kita kan sudah makan…” bisik Ana.

“Tidak apa-apa, tapi jangan berlebihan. Kita harus menghargai yang mengundang,” jawabnya lembut.

Sesekali Karim melirik. Maskernya belum dibuka juga.

Ziyan menangkap lagi arah pandang itu.

“Zayan masih disuapi ya? Kasihan Bundanya nanti tidak makan,” celetuk Ziyan ringan.

Karim tersenyum samar. Kamu cerdas, batinnya.

“Mam, Zayan makan sendiri saja,” ujar anak itu tiba-tiba.

Bunda Zayna tersenyum, menyerahkan sendok.

Bunda Zayna membuka masker perlahan untuk makan, Karim menunduk sejenak. Namun rasa penasarannya terlalu kuat. Akhirnya ia melihat.

Dan untuk sesaat, waktu terasa melambat.

Sederhana. Bersih. Tanpa polesan berlebih. Wajah yang tidak berusaha memikat, justru memikat karena ketulusannya. Jadi ini perempuan yang selama ini hanya kulihat dari layar… batinnya.

Ia bukan glamor.

Bukan tipikal influencer finansial yang haus sorotan.

Tatapannya teduh… tapi ada api kecil di dalamnya.

Karim menarik napas pelan.

Kenapa aku merasa sudah lama mengenalnya?

Setelah makan selesai, meja dibersihkan.

“Anak-anak bagaimana kalau main di sana dulu? Om Rio temani. Mama dan Papa mau ngobrol hal penting,” ujar Ziyan.

“Boleh, Om. Pembicaraan orang dewasa tidak boleh didengar, kata Mama,” jawab Ana polos.

Karim tersenyum tipis.

Suami Bunda Zayna menoleh. “Saya temani anak-anak saja. Tujuan utama kan bertemu Bunda Zayna.”

Bunda Zayna menatap suaminya, sedikit tak rela. Namun ia mengangguk.

“Baik, Pah.”

Di sisi lain restoran, dekat jendela besar yang menghadap laut, percakapan kecil terjadi.

“Pah…” Ana duduk di kursi tinggi, kakinya bergoyang pelan. “Mama gugup ya tadi?”

Sang ayah tersenyum. “Kok tahu?”

“Tadi Mama pegang tasnya kuat banget.”

Zayan ikut nimbrung, “Iya, kayak kalau mau disuntik dokter.”

Mereka bertiga tertawa kecil.

“Apa Mama takut sama Om itu?” tanya Zayan lagi. Ayahnya menatap dua anaknya lembut. “Mama bukan takut. Mama cuma sedang menghadapi kesempatan besar. Kadang kesempatan itu bikin deg-degan.”

“Kesempatan apa?” Ana memiringkan kepala.

“Kesempatan supaya Mama bisa lebih berkembang. Bisa bantu lebih banyak orang. Dan mungkin…” ia berhenti sejenak, “bisa bantu keluarga kita juga.”

“Aku nggak mau Mama capek,” gumam Zayan tiba-tiba.

Kalimat polos itu membuat hati sang ayah tersentuh.

"Papa juga tidak mau. Makanya Papa ada di sini. Apa pun keputusan Mama nanti, kita tetap keluarga yang sama. Uang bukan segalanya.”

Ana mengangguk bijak. “Mama hebat kok, Pah. Kalau Mama takut, kita doakan saja.”

Sang ayah tersenyum haru. “Iya. Kita doakan.”

Di kejauhan, ia melirik ke arah meja tempat istrinya duduk bersama Karim. Tatapan pria itu terlihat serius, tapi tidak meremehkan. Semoga memang niatnya baik, batinnya.

Kini tinggal mereka bertiga di meja itu.

“Jadi, Bunda Zayna,” Karim membuka pembicaraan, nada suaranya berubah lebih serius. “Saya ingin menjadi investor pribadi Ibu.”

Bunda Zayna terdiam.

“Saya mengikuti analisa saham harian Ibu. Saya analisis ulang. Lebih dari 70% akurat. Target minimal 7% sering tercapai. Itu bukan kebetulan.”

Jantungnya berdegup.

“Maksud Tuan… saya mengelola portofolio Tuan di RDN?”

“Benar. Sesuai yang pernah saya sampaikan di telepon.”

Wajahnya memanas. Ia teringat bagaimana dulu menutup telepon sepihak.

“Ehm… saya mohon maaf soal telepon waktu itu. Saya langsung menutupnya. Tidak sopan.”

Karim tersenyum tipis. “Saya bisa memahami kehati-hatian Bunda.”

Ziyan menahan senyum kecil. Jarang sekali ia melihat bosnya selembut ini.

“Terus terang,” lanjut Bunda Zayna pelan, “saya kurang percaya diri. Saya bukan trader profesional. Saya takut merugikan Tuan.”

Karim menatapnya lurus. “Saya tidak mencari yang merasa paling ahli. Saya mencari yang konsisten, jujur, dan punya intuisi tajam. Modal bisa saya sediakan. Integritas tidak bisa dibeli.”

Kalimat itu membuatnya terdiam.

“Saya ingin kerja sama ini atas nama pribadi saya. Bukan perusahaan. Kontraknya sudah saya siapkan.” Karim menggeser map ke arahnya.

“Tolong dibaca di rumah, diskusikan dengan suami. Besok sore sebelum saya kembali ke Bandung, kita bertemu lagi. Jika ada pasal yang ingin ditambah atau dikurangi, kita negosiasikan.”

Bunda Zayna memegang map itu. Tangannya sedikit gemetar. Ini bukan sekadar tawaran kerja sama. Ini peluang. Atau ujian.

Ia mendongak, menatap Karim.

“Baik, Tuan. Saya akan pertimbangkan dengan matang.”

Karim tersenyum, kali ini lebih hangat.

“Saya menunggu jawaban Bunda.”

Di sudut ruangan, suara tawa anak-anak terdengar ringan. Namun di meja itu, keputusan besar sedang mulai tertulis.

Dan entah kenapa, keduanya sama-sama sadar…

Pertemuan ini bukan pertemuan biasa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Investor Asing   Bab. 195

    Zayna perlahan membuka matanya. Pandangan matanya masih kabur. Kepalanya terasa berat, sementara tubuhnya seolah kehilangan seluruh tenaga. Ia mencoba menggerakkan tangannya, lalu menoleh ke sekeliling. Ia mendapati dirinya berada di sebuah kamar sederhana. Bukan kamar rumah sakit.Beberapa saat Zayna hanya terdiam, berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Kemudian ingatan itu datang kembali—suaminya, ia belum mengetahui setelahnya. Dadanya terasa sesak, entah mengapa ia merasakan firasat buruk.Sementara itu, jenazah Aim telah dibawa ke pesantren yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit tempat Aim sebelumnya mendapatkan perawatan.Setelah melalui pembicaraan dengan pihak pesantren dan atas persetujuan Zayan, mereka memutuskan untuk mengurus jenazah Aim di sana. Zayan tahu, jika bundanya sudah sadar, Zayna pasti akan menyetujui keputusan tersebut.Untuk sementara, Zayna belum ingin bertemu dengan banyak orang yang mengenalnya. Ia hanya ingin berada di tempat yang tenang, jauh dari

  • Investor Asing   Bab. 194

    Aim yang sejak tadi sudah terbangun hanya diam memperhatikan istrinya. Ada rasa haru yang begitu dalam di matanya.Selama hampir seminggu terakhir, pihak rumah sakit menyarankan agar Aim dan Zayna tetap menjalani rawat inap. Kondisi Aim memang belum memungkinkan untuk langsung dibawa pulang. Ia ditempatkan di kamar kelas satu yang cukup nyaman, jauh dari keramaian, sehingga Zayna bisa mendampinginya dengan lebih tenang.Mata Aim perlahan terbuka. “Bunda...”Suara Zayan terdengar pelan. "Bunda, Ayah memanggil"Zayna menoleh ke arah suaminya. “Ayah...”Ia segera mendekat. “Ada yang sakit?” tanyanya cemas.Aim menggeleng pelan sambil tersenyum.Ia kemudian memberikan isyarat agar Zayna mendekat. Zayna duduk di sisi tempat tidur.Aim menggenggam tangannya. “Ayah mungkin... tidak bisa menemani Bunda lagi.”Zayna tertegun. “Maksud Ayah apa?” Air mata mulai menggenang di matanya. “Ayah sudah sehat. Kata dokter, Ayah sudah bisa pulang.”Aim hanya tersenyum, selama ini ia memang sengaja meny

  • Investor Asing   Bab. 193

    Sementara itu, di Pare-Pare, Kelvin tidak tinggal diam. Ia mulai mengumpulkan bukti dari lapangan, termasuk mencari orang-orang yang pernah melihat langsung beberapa kejadian yang kini dipelintir di media. Satu per satu saksi ia hubungi dan dimintai keterangan.Eksel bekerja sama dengan ayahnya tanpa kenal lelah, mereka menjadikan ini sebagai wujud menebus rasa bersalahnya karena telah menjadi bagian penyebab masalah.Keduanya menyusun seluruh bukti secara menyeluruh, mulai dari foto dan video asli, metadata, waktu pembuatan file, hingga jejak penyuntingan yang ditemukan pada materi yang beredar. Mereka tidak ingin menyisakan celah sedikit pun.Setiap bukti diperiksa ulang dan dicocokkan dengan keterangan saksi maupun data digital yang mereka miliki. Jika ada satu bagian yang masih meragukan, mereka kembali memeriksanya. Hampir tiga kali dua puluh empat jam mereka bekerja tanpa benar-benar berhenti.Sementara itu, Ziyan juga sudah menyelesaikan bagian yang menjadi tanggung jawabnya. I

  • Investor Asing   Bab. 192

    Beberapa waktu kemudian, Karim dan Ziyan tiba di salah satu pusat kerja tim Karim. Ruangan itu dipenuhi perangkat komputer, monitor, serta berbagai peralatan jaringan yang tersusun rapi. Tempat itu memang dirancang sebagai salah satu pusat kendali untuk pekerjaan tim yang membutuhkan koordinasi jarak jauh.Kelvin dan Eksel tidak berada di ruangan yang sama, Eksel tetap berada di Jakarta, sementara Kelvin masih berada di Pare-Pare. Sesuai instruksi Sonia.Kelvin masih berpura-pura seolah-olah berada di pihaknya. Karena itu, keberadaannya di Pare-Pare tetap dipertahankan. Hal ini menjadi keuntungan buat Karim apabila memerlukan bukti-bukti penguat karena berada di daerah yang sama dengan Bunda Zayna.Meski terpisah oleh jarak, Kelvin dan Eksel tetap bekerja dalam satu jaringan server yang sama. Keduanya sudah memahami pembagian tugas masing-masing.Kelvin bergabung dengan tim pengawal Karim disebuah ruangan yang pernah ia buat sendiri ketika dulu menyelidiki Zayna. Begitu instruksi Kari

  • Investor Asing   Bab. 191

    “Tuan!”Ziyan bergegas menemui Karim dengan wajah panik. Napasnya bahkan masih terdengar berat ketika ia menyerahkan ponselnya.Karim mengerutkan kening.“Ada apa?”Ziyan tidak langsung menjawab. Ia hanya menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan sejumlah berita terbaru.Karim membaca beberapa judul yang terpampang di sana. Wajahnya perlahan berubah.“Astagfirullahaladzim...”Ia terdiam, untuk beberapa detik, Karim seperti kehilangan kemampuan untuk berkata-kata. Dadanya terasa sesak, seolah sebuah godam baru saja menghantam tepat ke dalam hatinya.Namun, seperti biasa, ia berusaha mengendalikan dirinya.“Amankan Bunda Zayna dan keluarganya sekarang.” Suaranya tegas meskipun matanya mulai memerah. “Blokir seluruh akses berita yang bisa masuk ke pesantren Ana. Jangan sampai anak itu mengetahui apa yang sedang terjadi.” Air mata tanpa sadar jatuh dari sudut matanya.Ziyan terdiam, selama bertahun-tahun bekerja bersama Karim, baru kali ini ia melihat bosnya menangis.“Tuan...”“Lanjut

  • Investor Asing   Bab. 190

    Di layar televisi, tiba-tiba muncul sosok pengusaha terkenal, Wajah Karim ditampilkan di beberapa stasiun televisi, lalu disandingkan dengan foto Zayna.Aim terdiam, matanya menatap layar tanpa berkedip. Beberapa foto mereka yang sebenarnya biasa saja telah diedit sedemikian rupa sehingga terlihat jauh lebih intim. Pertemuan awal mereka yang memang pernah terjadi dua kali ditampilkan seolah-olah merupakan rangkaian pertemuan rahasia. Bahkan beberapa pertemuan melalui ruang virtual pun ikut dimasukkan sebagai bagian dari narasi yang sengaja dibangun.Tidak berhenti di sana, tiket perjalanan yang memang pernah digunakan Zayna bersama keluarganya juga ditampilkan. Namun, semuanya digiring menjadi sebuah cerita yang sama sekali berbeda.Seolah-olah Zayna diam-diam melakukan perjalanan bersama Karim. “Astagfirullah...” Aim menutup mulutnya dengan tangan.“Tidak mungkin...” Pikirannya berusaha mencari penjelasan. 'Mungkinkah Tuan Karim yang melakukan semua ini?' Namun, ia segera menggeleng.

  • Investor Asing   Bab 6

    Ruang VIP hotel itu masih menyimpan kehangatan pertemuan yang baru saja usai. Dokumen kontrak telah ditandatangani. Map hitam eksklusif kini tertutup rapi di atas meja marmer. Lampu kristal memantulkan cahaya lembut di wajah-wajah yang baru saja mengikat kerja sama besar. Karim berdiri lebih dulu.

  • Investor Asing   Bab 5

    Aim kembali melangkah ke tempat Daeng Dirman berdiri. Wajahnya terlihat ragu, seolah masih menimbang sesuatu yang berat di kepalanya. “Jadi… bagaimana, Pak Aim?” tanya Dirman dengan nada tenang, meski di balik sorot matanya tersimpan rasa ragu.Aim menghela napas panjang sebelum membuka suara. “Se

  • Investor Asing   Bab. 79

    Kalimat itu membuat Karim spontan mengernyit, refleks ia menoleh ke belakang di sana ada Mommynya berdiri. Tangannya masih menggenggam nampan camilan hangat, namun wajahnya tampak membeku. Tatapannya bertemu dengan mata Karim beberapa detik tanpa suara, Karim sedikit terkejut. “Mommy... sejak kapa

  • Investor Asing   Bab. 1

    Adzan Subuh baru saja usai ketika Bunda Zayna melipat sajadahnya perlahan. Rumah masih diselimuti sunyi yang lembut. Udara pagi terasa dingin, menyusup melalui celah jendela dapur. Ia berjalan ke dapur dengan langkah ringan.Kompor dinyalakan. Wajan dipanaskan. Telur ceplok, tumis sayur sederhana,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status