Share

Bab 3

Author: WinaraBZ
last update publish date: 2026-02-22 08:07:22

Beberapa detik suasana hening menyelimuti meja VIP itu. Bunda Zayna menunduk, kembali melihat map kontrak di tangannya.

“Tuan… izinkan saya memastikan dulu dengan suami saya. Meski Tuan sudah menyarankan untuk dibaca di rumah, saya ingin beliau melihat sekilas sebelum saya benar-benar membawanya pulang.”

Karim mengangguk tanpa ragu. “Tentu, Bund. Saya justru menghargai itu.”

Bunda Zayna berdiri perlahan dan keluar dari VIP room. Begitu berada di luar, ia langsung menghubungi suaminya.

“Pah, di mana? Aku sudah di luar VIP.”

Saya masih di restoran, Dek.”

“Loh? Di mana? Kok tidak kelihatan?”

“Coba jalan ke arah jendela yang menghadap laut. Dekat pilar besar.”

Bunda Zayna melangkah menyusuri ruangan. Beberapa langkah kemudian, ia melihat suaminya duduk di sudut restoran, setengah tersembunyi di balik pilar besar. Dari posisi itu, pandangannya masih dapat mengarah ke VIP room.

“Oh… Papah di sini.”

“Saya memang tidak pergi jauh,” ujarnya tenang.

“Saya ingin tetap satu ruangan. Supaya bisa memantau… bukan karena tidak percaya, tapi karena ini tanggung jawab.”

Bunda Zayna duduk di hadapannya dan menyerahkan map kontrak.

“Tuan Karim mempersilakan kita membacanya di rumah. Tapi aku ingin memastikan dulu denganmu Pah… apakah layak untuk kita lanjutkan.”

Sang suami membuka map itu perlahan.

Di dalam VIP room, Karim masih duduk menunggu. Tanpa sengaja, pandangannya menangkap sosok suami Bunda Zayna di sudut ruangan. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Tidak ada permusuhan. Hanya pengertian.

Ia menjaga istrinya dengan cara yang terhormat, pikir Karim dalam diam.

Dan untuk pertama kalinya, rasa yang tumbuh di dadanya terasa bukan sekadar ketertarikan melainkan ujian hati.

"Bagaimana, Bunda Zayna?” tanya Karim ketika ia kembali ke VIP room.

“Saya sudah berdiskusi dengan suami, Tuan. Boleh saya meminta penjelasan lebih detail mengenai poin 3 dan 6?”

Karim mengangguk pelan. “Oh, yang itu ya. Jangan khawatir. Dalam setiap bisnis tentu ada risiko. Karena itu saya menyerahkan sepenuhnya pengelolaannya kepada Bunda. Nanti pelaporan dibuat sesuai profit dan loss. Saya yakin Bunda sangat memahami money management dalam trading.”

Ia tersenyum.. Senyum yang tenang. Berkelas. Hangat.

Tanpa sadar, Bunda Zayna dan Ziyan terpaku beberapa detik.

Ya ampun… senyum itu muncul lagi, batin Ziyan tak percaya. Seperti ada bintang jatuh malam ini.

“MasyaAllah… Tuan Karim tampan pisan euy…” celetuk Bunda Zayna spontan.

Karim tersentak kecil.

“Astagfirullah… eh, maafkan saya, Tuan. Saya memang suka spontan. Maaf kalau lancang.”

Detak jantung Karim berdegup tak beraturan. Ia berusaha menenangkan diri, menyembunyikan semburat merah di wajahnya.

Untuk poin 6,” lanjutnya lebih terkontrol,

“laporan akan masuk ke email yang dikelola Bunda. Setiap tanggal 15 dan 30 kita akan bertemu, bisa secara daring atau langsung, tergantung jadwal saya. Saat ini saya juga sedang mempertimbangkan ekspansi usaha di daerah ini.”

“Baik, Tuan. Saya mengerti.”

Karim melirik jam tangannya. “Sudah pukul 09.45. Sebaiknya Bunda bersiap pulang. Kontraknya silakan dibawa dan dipelajari lagi dengan tenang di rumah. Besok sebelum saya kembali ke Bandung, kita bertemu lagi.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih ringan.

Kalau berkenan, Bunda dan keluarga bisa menginap semalam di hotel ini. Jam 10 pagi sudah bisa check-in. Kami siapkan room keluarga. Anak-anak pasti senang… apalagi ada kolam renang.”

“MasyaAllah… terima kasih banyak, Tuan. Saya terima dengan senang hati. Kami pamit dulu.”

“Mari saya antar keluar, Bund.”

Di Area Parkir

“Nak, ayo salim dulu sama Om Karim dan Om Ziyan,” panggil Bunda Zayna.

“Besok ke sini lagi ya!” kata Ziyan pada Zayan.

Zayan melihat ibunya, yang di angguki oleh bunda Zayna. "Iya," jawab Zayan polos.

“Zayan bisa berenang?” tanya zayan

“Bisa, Om. Mama juga punya baju renang.”

“Serius? Mama punya baju renang?” seru Ziyan spontan.

Karim langsung berdehem pelan. Ehm

“Sudah malam, Nak. Pulang dulu ya. Kasihan Ayah dan Ibu capek.”

Baik, Om,” jawab Ana dan Zayan serempak.

Suami Bunda Zayna maju selangkah.

“Terima kasih atas jamuannya dan kesempatan kerja samanya, Tuan. Nanti kami pelajari dengan saksama di rumah.”

“Sama-sama, Pak. InsyaAllah besok sore kita bertemu lagi.”

Mereka pun pamit. Bunda Zayna berjalan bersisian dengan suami dan anak-anaknya. Karim memandangi mobil Carry tua yang perlahan menjauh.

Hening.

“Tuan… mereka sudah pergi,” ujar Ziyan pelan.

Karim masih menatap ke arah parkiran.

Saya ingin mobil itu diganti.”

“Maksud Tuan?”

“Kasihan. Terlalu sempit untuk keluarga seperti itu.”

“Tuan mau membelikannya? Saya rasa Bunda Zayna bukan tipe yang mudah menerima bantuan.”

Karim menoleh tajam.

“Itu tugas kamu. Saya ingin mereka lebih nyaman. Carikan cara yang terhormat.”

Ziyan menghela napas.

“Baik, Tuan… Anda memang sulit ditebak.”

Malam di Kamar Karim

Karim membuka kanal YouTube Bunda Zayna.

“Hai sobat trader, jumpa lagi bersama Bunda Zayna…”

Suaranya lembut. Tenang. Penuh keyakinan.

Karim berdiri di dekat jendela kamar yang menghadap laut.

Seorang Karim jatuh cinta karena suara… dan saat bertemu, rasa itu justru semakin kuat.

Ia mengusap wajahnya kasar.

“Ya Rabb… ada apa denganku? Mereka pasangan yang harmonis…”

Gelisah.

Ia menuju kamar mandi, membasuh wajahnya.

“Ya Rabb… kapan terakhir aku benar-benar bersujud kepada-Mu? Ampuni hamba-Mu dalam kegamangan ini.”

Karim berwudhu. Lalu shalat. Lama. Hening.

Ziyan masuk perlahan dan tertegun melihat sajadah terlipat.

“Tuan… Anda shalat?”

“Kamu juga seharusnya shalat, Yan.”

Iya, Tuan.”

Dalam hati Ziyan tersenyum. Bunda Zayna membawa perubahan besar…

“Tuan… Kak Ana cantik ya. Tujuh tahun lagi umurnya 17. Tuan 31 tambah tujuh jadi 38…”

Karim menatapnya tajam. “Kamu mau menjodohkan saya dengan anak kecil?”

“Hehehe… hanya menghitung peluang, Tuan.”

Karim menghela napas panjang.

“Cinta tidak harus memiliki, Yan. Selama dia tertawa dan bahagia… itu cukup.”

“Tuan… apa yang Tuan lihat dari beliau?”

“Ketulusan. Keberanian. Dan caranya menjaga"

"Istrahatlah yan dan mulailah kembali Sholat, saya sadar selama ini saya banyak terobsesi oleh dunia, padahal ini hanya fana"

“Iya, Tuan.”

Panggilan dari dari Mama

Ponselnya berdering tanda panggilan VC dari sang ibu

“Assalamualaikum, Mam.”

“Honey… tumben salam,” suara ibunya terdengar hangat sambil tersenyum.

“Sudah bertemu calon menantu Mama?”

“Mam, saya ke sini bekerja.”

“Kamu tidak bisa membohongi Mama.”

Karim tersenyum tipis.

“Mam… tadi saya sudah shalat Isya,maaf selama ini tak menghiraukan seruan mama"

Hening beberapa detik.

Alhamdulillah…” suara ibunya bergetar haru.

“Doa Mama akhirnya Allah jawab.”

“Alhamdulillah, Mam. Rasanya tenang sekali. Terimakasih selalu mengingatkan Karim”

"Sama-sama nak, baiklah istrahatlah dengan baik di sana ini sudah larut, entah mengapa mama sangat rindu ingin bicara,ternyata mama mendapat berkah hari ini, baiklah nak. .."Assalamualaikum sayang".."Waalaikumsalam Mam, Salam sama Ayah"

Di Mansion Puncak

“Sayang… sayang… are you okay?”

Ayah Karim, pria berkebangsaan Turki itu, sejak tadi memanggil istrinya. Namun tak kunjung mendapat jawaban.

Ia mendekat dan mendapati sang istri masih duduk di tepi ranjang, ponsel di tangannya, mata yang berkaca-kaca menatap layar.

“Eh… maaf, Yah…” suaranya lirih tersadar dari lamunan.“Yah… anak kita baru saja shalat Isya,” ujar sang ibu sambil meneteskan air mata bahagia. Ayah Karim tersenyum lembut. “Alhamdulillah… itu kabar baik.” Mama Karim mengangguk pelan, tapi tatapannya masih jauh. “Yah… Mama rasa ada sesuatu yang berbeda.”..“Maksud Mama?”

“Karim, tidak sekaku biasanya. Ada cahaya di matanya.” Ia terdiam sejenak, seolah merangkai perasaan yang sulit dijelaskan. “Mama yakin… ada faktor pendorong lain. Dan Mama merasa… itu karena seorang perempuan.”

Ayah Karim tertawa kecil, mencoba menenangkan.  "Mah… jangan terlalu jauh berpikir.” Namun Mama Karim menggeleng pelan. “Seorang ibu tahu perubahan sekecil apa pun pada anaknya, dari kecil sampai sebesar ini, Mama hafal tatapan matanya.” Suaranya melembut. “Mama senang… karena mungkin akhirnya hatinya terbuka.” Ia menarik napas panjang.

“Tapi Mama juga sedih.”

“Sedih kenapa?”

"Karena kalau benar dia baru mengenal cinta… Mama takut ia juga sedang belajar tentang patah hati.” Ruangan itu seketika terasa lebih sunyi. Ayah menggenggam tangan istrinya.

“Kita tidak pernah bisa menghindarkan anak dari ujian hidup, Mah. Bahkan cinta pun bagian dari prosesnya.” Ia tersenyum menenangkan. “Kita doakan saja yang terbaik. Semoga Karim menemukan jodohnya yang baik dan sholehah.” Mama Karim menunduk, mengusap air mata yang tersisa. "Aamiin"… Ya Allah, jaga hatinya. Kalau ini cinta, kuatkan dia. Kalau ini bukan takdirnya, jangan biarkan dia hancur dalam diam.” 

Ayah Karim merangkul bahu istrinya dengan lembut. “Yuk, kita istirahat. Serahkan semuanya pada Allah.”

Mama Karim mengangguk pelan.

Namun sebelum memejamkan mata, ia kembali menatap foto putranya di layar ponsel.

Seorang ibu mungkin tak selalu tahu apa yang sedang diperjuangkan anaknya.

Tapi ia selalu bisa merasakan… ketika hati anaknya sedang gelisah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Investor Asing   Bab. 99

    Zayna termenung sesaat. Lamunannya buyar ketika suara suaminya menyapanya."Eh, Bunda... coba deh yang ini." Aim menyodorkan sepotong kue basah lalu menyuapkannya ke mulut Zayna dengan antusias. "Gimana rasanya?" tanyanya penuh semangat.Sambil mengunyah, Zayna mengangguk pelan. "Enak". Namun, perhatian Zayna tidak lagi tertuju pada kue yang sedang dinikmatinya. Matanya justru terpaku pada wajah suaminya yang tampak begitu bahagia, sorot mata itu tidak biasa. Binar yang telah lama hilang kini kembali terlihat jelas setelah terakhir kali ia saksikan bertahun-tahun lalu, saat kedua buah hati mereka lahir ke dunia. Tapi hari ini...Cahaya itu kembali hadir.Siapa sebenarnya Perempuan itu yang membuatnya sebahagia ini? Pertanyaan itu berulang kali berputar di benaknya. Ia ingin bertanya sosok itu yang mampu mengubah suasana hati suaminya sedemikian rupa. Namun bibirnya tetap kelu, ada sesuatu yang menahannya. "Ayah... aku ke kamar dulu."Aim menoleh sekilas lalu tersenyum."Iya, Bunda. T

  • Investor Asing   Bab. 98

    Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Aim keluar dari gedung kantor dan segera menghampiri keluarganya yang tampak asyik menikmati aneka jajanan khas daerah itu."Ayah, sini!" panggil Ana sambil melambaikan tangan, mengajaknya bergabung.Dengan langkah bersemangat, Aim mendekati mereka. "Apa yang kalian makan, sayang?" tanyanya kepada Zayna dan anak-anak."Ayah coba sendiri saja deh," jawab Zayna sambil menyodorkan sepiring makanan kepadanya. Aim langsung mencicipinya."Ehm... enak," katanya sambil mengangguk puas. "Benar kan, Bunda? Pasti Ayah suka," ujar Ana dengan wajah ceria.Zayna hanya tersenyum. Namun tanpa sengaja pandangannya jatuh pada kantong plastik yang dibawa suaminya. Aim menyadari tatapan itu."Oh, ini juga jajanan seperti yang lain, Bunda," katanya sambil menyerahkan kantong tersebut kepada istrinya. "Simpan sebagian ya, tiap jenisnya.""Iya," jawab Zayna pelan.Entah mengapa hatinya terasa sedikit sensitif. Ia masih menunggu penjelasan dari Aim tentang siapa orang yang

  • Investor Asing   Bab. 97

    "Anita? Jadi benar kamu?" sapanya hangat.Wajah Anita langsung berbinar. "Aim... ternyata benar kamu."Keduanya sempat terdiam beberapa detik, seolah sedang memastikan bahwa orang yang berdiri di hadapan mereka memang teman lama yang pernah mengisi sebagian masa muda mereka.Anita kemudian mengusap bahu anak perempuan di sampingnya. "Iya, ini aku. Dan ini anakku, Gita."Aim tersenyum ramah. "Halo, Gita.""Gita, ini teman Ibu waktu kuliah dulu."Gita mengangguk sopan. "Halo, Om.""Halo juga."Anita lalu mengalihkan pandangannya ke arah Zayna dan anak-anak yang sedang berjalan menyusuri deretan pedagang. "Itu keluargamu, Aim?" tanyanya pelan.Aim mengikuti arah pandangan Anita. Senyumnya langsung melembut. "Iya. Alhamdulillah." Ada kebanggaan yang tak bisa disembunyikan dalam nada suaranya.Anita memperhatikan keluarga kecil itu beberapa saat. Seorang wanita berhijab yang sederhana namun tampak hangat, ditemani anak-anak yang ceria dan penuh tawa. "Kalian terlihat bahagia."Aim tersenyu

  • Investor Asing   Bab. 96

    "Bagaimana, Bunda Zayna? Apakah masih ada yang perlu ditanyakan terkait kontrak yang baru?" tanya Karim.Bunda Zayna masih membuka beberapa lembar dokumen di hadapannya. Sesaat kemudian ia menggeleng pelan."Tidak ada, Tuan. Sebagian besar isinya hampir sama dengan kontrak sebelumnya. Hanya ada beberapa penyesuaian, dan seperti biasa setiap lima belas hari tetap harus ada pelaporan."Sambil bergumam pelan, ia mulai menghitung dengan jari-jarinya."Kalau saya libur empat belas hari, berarti tinggal satu hari saja, dong? Jadi selama liburan saya tetap harus trading walaupun sebentar..." keluhnya. "Huft... tanggung jawabnya malah makin besar."Setiap perubahan ekspresi di wajah Bunda Zayna tak luput dari perhatian Karim dan Ziyan. Keduanya hanya bisa saling berpandangan, lalu menggeleng sambil menahan senyum geli.Setelah kembali membaca beberapa bagian terakhir, Bunda Zayna menganggukkan kepalanya mantap."Baik, Tuan Karim. Saya rasa cukup."Kalimat itu meluncur begitu saja hingga membu

  • Investor Asing   Bab. 95

    "Tuan, sepertinya Bunda Zayna sudah berada di ruang virtual," lapor Ziyan melalui pesan singkat.Karim yang sedang menatap layar laptopnya hanya membaca pesan itu sekilas."Biarkan saja. Tunggu sepuluh menit lagi, baru kita bergabung," balasnya tenang."Baik, Tuan."Beberapa saat kemudian Karim kembali menghubungi Ziyan. "Ziyan.""Ya, Tuan.""Kamu sudah mengirim sepuluh miliar ke RDN yang dikelolanya?""Sudah, Tuan. Saya kirim setelah pertemuan terakhir kita. Hanya saja kemungkinan Bunda Zayna belum sempat melihatnya. Bursa masih libur karena cuti bersama, jadi transaksi belum berjalan normal," jawab Ziyan."Baik, tidak masalah." Karim menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya."Bagaimana perkembangan di Parepare? Apakah ada pergerakan dari Kelvin?""Saat ini Kelvin sedang menemui pihak butik rekanan Nona Soraya, Tuan."Karim mengernyit tipis. "Ada sesuatu yang mencurigakan?""Menurut laporan orang-orang kita, Kelvin berusaha mencari kontrak awal terkait brand ambassador sebelumnya.""D

  • Investor Asing   Bab. 94

    Ana dan Zayan sangat senang bermain di kolam. Kolam yang ada di rumah itu memang tidak seperti standar kolam renang pada umumnya. Kedalamannya hanya sekitar dada orang dewasa sehingga cukup aman untuk anak-anak, terlebih Zayan sudah mulai belajar berenang.Tawa kedua anak itu terdengar memenuhi area belakang rumah. Sesekali cipratan air mengenai wajah mereka, membuat Ana tertawa semakin keras sementara Zayan sibuk mengejar kakaknya di dalam air.Zayna yang sejak tadi duduk di tepi kolam akhirnya berdiri lalu mendekati suaminya yang sedang mengawasi anak-anak mereka.“Yah, sudah setengah enam. Yuk, bunda rasa cukup untuk hari ini berenangnya. Bersih-bersih dulu kemudian bersiap makan malam,” ucapnya lembut.Aim menoleh ke arah istrinya lalu mengangguk kecil sebelum memanggil kedua anaknya.“Ana... Zayan... ayo naik dulu, kita mandi.”Seperti biasa, Ana langsung memasang wajah memohon.“Yah... sepuluh menit lagi. Kak Ana belum puas...” rengeknya manja.“Iya bund, sepuluh menit lagi ya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status