LOGINBeberapa detik suasana hening menyelimuti meja VIP itu. Bunda Zayna menunduk, kembali melihat map kontrak di tangannya.
“Tuan… izinkan saya memastikan dulu dengan suami saya. Meski Tuan sudah menyarankan untuk dibaca di rumah, saya ingin beliau melihat sekilas sebelum saya benar-benar membawanya pulang.” Karim mengangguk tanpa ragu. “Tentu, Bund. Saya justru menghargai itu.” Bunda Zayna berdiri perlahan dan keluar dari VIP room. Begitu berada di luar, ia langsung menghubungi suaminya. “Pah, di mana? Aku sudah di luar VIP.” Saya masih di restoran, Dek.” “Loh? Di mana? Kok tidak kelihatan?” “Coba jalan ke arah jendela yang menghadap laut. Dekat pilar besar.” Bunda Zayna melangkah menyusuri ruangan. Beberapa langkah kemudian, ia melihat suaminya duduk di sudut restoran, setengah tersembunyi di balik pilar besar. Dari posisi itu, pandangannya masih dapat mengarah ke VIP room. “Oh… Papah di sini.” “Saya memang tidak pergi jauh,” ujarnya tenang. “Saya ingin tetap satu ruangan. Supaya bisa memantau… bukan karena tidak percaya, tapi karena ini tanggung jawab.” Bunda Zayna duduk di hadapannya dan menyerahkan map kontrak. “Tuan Karim mempersilakan kita membacanya di rumah. Tapi aku ingin memastikan dulu denganmu Pah… apakah layak untuk kita lanjutkan.” Sang suami membuka map itu perlahan. Di dalam VIP room, Karim masih duduk menunggu. Tanpa sengaja, pandangannya menangkap sosok suami Bunda Zayna di sudut ruangan. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Tidak ada permusuhan. Hanya pengertian. Ia menjaga istrinya dengan cara yang terhormat, pikir Karim dalam diam. Dan untuk pertama kalinya, rasa yang tumbuh di dadanya terasa bukan sekadar ketertarikan melainkan ujian hati. "Bagaimana, Bunda Zayna?” tanya Karim ketika ia kembali ke VIP room. “Saya sudah berdiskusi dengan suami, Tuan. Boleh saya meminta penjelasan lebih detail mengenai poin 3 dan 6?” Karim mengangguk pelan. “Oh, yang itu ya. Jangan khawatir. Dalam setiap bisnis tentu ada risiko. Karena itu saya menyerahkan sepenuhnya pengelolaannya kepada Bunda. Nanti pelaporan dibuat sesuai profit dan loss. Saya yakin Bunda sangat memahami money management dalam trading.” Ia tersenyum.. Senyum yang tenang. Berkelas. Hangat. Tanpa sadar, Bunda Zayna dan Ziyan terpaku beberapa detik. Ya ampun… senyum itu muncul lagi, batin Ziyan tak percaya. Seperti ada bintang jatuh malam ini. “MasyaAllah… Tuan Karim tampan pisan euy…” celetuk Bunda Zayna spontan. Karim tersentak kecil. “Astagfirullah… eh, maafkan saya, Tuan. Saya memang suka spontan. Maaf kalau lancang.” Detak jantung Karim berdegup tak beraturan. Ia berusaha menenangkan diri, menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Untuk poin 6,” lanjutnya lebih terkontrol, “laporan akan masuk ke email yang dikelola Bunda. Setiap tanggal 15 dan 30 kita akan bertemu, bisa secara daring atau langsung, tergantung jadwal saya. Saat ini saya juga sedang mempertimbangkan ekspansi usaha di daerah ini.” “Baik, Tuan. Saya mengerti.” Karim melirik jam tangannya. “Sudah pukul 09.45. Sebaiknya Bunda bersiap pulang. Kontraknya silakan dibawa dan dipelajari lagi dengan tenang di rumah. Besok sebelum saya kembali ke Bandung, kita bertemu lagi.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih ringan. Kalau berkenan, Bunda dan keluarga bisa menginap semalam di hotel ini. Jam 10 pagi sudah bisa check-in. Kami siapkan room keluarga. Anak-anak pasti senang… apalagi ada kolam renang.” “MasyaAllah… terima kasih banyak, Tuan. Saya terima dengan senang hati. Kami pamit dulu.” “Mari saya antar keluar, Bund.” Di Area Parkir “Nak, ayo salim dulu sama Om Karim dan Om Ziyan,” panggil Bunda Zayna. “Besok ke sini lagi ya!” kata Ziyan pada Zayan. Zayan melihat ibunya, yang di angguki oleh bunda Zayna. "Iya," jawab Zayan polos. “Zayan bisa berenang?” tanya zayan “Bisa, Om. Mama juga punya baju renang.” “Serius? Mama punya baju renang?” seru Ziyan spontan. Karim langsung berdehem pelan. Ehm “Sudah malam, Nak. Pulang dulu ya. Kasihan Ayah dan Ibu capek.” Baik, Om,” jawab Ana dan Zayan serempak. Suami Bunda Zayna maju selangkah. “Terima kasih atas jamuannya dan kesempatan kerja samanya, Tuan. Nanti kami pelajari dengan saksama di rumah.” “Sama-sama, Pak. InsyaAllah besok sore kita bertemu lagi.” Mereka pun pamit. Bunda Zayna berjalan bersisian dengan suami dan anak-anaknya. Karim memandangi mobil Carry tua yang perlahan menjauh. Hening. “Tuan… mereka sudah pergi,” ujar Ziyan pelan. Karim masih menatap ke arah parkiran. Saya ingin mobil itu diganti.” “Maksud Tuan?” “Kasihan. Terlalu sempit untuk keluarga seperti itu.” “Tuan mau membelikannya? Saya rasa Bunda Zayna bukan tipe yang mudah menerima bantuan.” Karim menoleh tajam. “Itu tugas kamu. Saya ingin mereka lebih nyaman. Carikan cara yang terhormat.” Ziyan menghela napas. “Baik, Tuan… Anda memang sulit ditebak.” Malam di Kamar Karim Karim membuka kanal YouTube Bunda Zayna. “Hai sobat trader, jumpa lagi bersama Bunda Zayna…” Suaranya lembut. Tenang. Penuh keyakinan. Karim berdiri di dekat jendela kamar yang menghadap laut. Seorang Karim jatuh cinta karena suara… dan saat bertemu, rasa itu justru semakin kuat. Ia mengusap wajahnya kasar. “Ya Rabb… ada apa denganku? Mereka pasangan yang harmonis…” Gelisah. Ia menuju kamar mandi, membasuh wajahnya. “Ya Rabb… kapan terakhir aku benar-benar bersujud kepada-Mu? Ampuni hamba-Mu dalam kegamangan ini.” Karim berwudhu. Lalu shalat. Lama. Hening. Ziyan masuk perlahan dan tertegun melihat sajadah terlipat. “Tuan… Anda shalat?” “Kamu juga seharusnya shalat, Yan.” Iya, Tuan.” Dalam hati Ziyan tersenyum. Bunda Zayna membawa perubahan besar… “Tuan… Kak Ana cantik ya. Tujuh tahun lagi umurnya 17. Tuan 31 tambah tujuh jadi 38…” Karim menatapnya tajam. “Kamu mau menjodohkan saya dengan anak kecil?” “Hehehe… hanya menghitung peluang, Tuan.” Karim menghela napas panjang. “Cinta tidak harus memiliki, Yan. Selama dia tertawa dan bahagia… itu cukup.” “Tuan… apa yang Tuan lihat dari beliau?” “Ketulusan. Keberanian. Dan caranya menjaga" "Istrahatlah yan dan mulailah kembali Sholat, saya sadar selama ini saya banyak terobsesi oleh dunia, padahal ini hanya fana" “Iya, Tuan.” Panggilan dari dari Mama Ponselnya berdering tanda panggilan VC dari sang ibu “Assalamualaikum, Mam.” “Honey… tumben salam,” suara ibunya terdengar hangat sambil tersenyum. “Sudah bertemu calon menantu Mama?” “Mam, saya ke sini bekerja.” “Kamu tidak bisa membohongi Mama.” Karim tersenyum tipis. “Mam… tadi saya sudah shalat Isya,maaf selama ini tak menghiraukan seruan mama" Hening beberapa detik. Alhamdulillah…” suara ibunya bergetar haru. “Doa Mama akhirnya Allah jawab.” “Alhamdulillah, Mam. Rasanya tenang sekali. Terimakasih selalu mengingatkan Karim” "Sama-sama nak, baiklah istrahatlah dengan baik di sana ini sudah larut, entah mengapa mama sangat rindu ingin bicara,ternyata mama mendapat berkah hari ini, baiklah nak. .."Assalamualaikum sayang".."Waalaikumsalam Mam, Salam sama Ayah" Di Mansion Puncak “Sayang… sayang… are you okay?” Ayah Karim, pria berkebangsaan Turki itu, sejak tadi memanggil istrinya. Namun tak kunjung mendapat jawaban. Ia mendekat dan mendapati sang istri masih duduk di tepi ranjang, ponsel di tangannya, mata yang berkaca-kaca menatap layar. “Eh… maaf, Yah…” suaranya lirih tersadar dari lamunan.“Yah… anak kita baru saja shalat Isya,” ujar sang ibu sambil meneteskan air mata bahagia. Ayah Karim tersenyum lembut. “Alhamdulillah… itu kabar baik.” Mama Karim mengangguk pelan, tapi tatapannya masih jauh. “Yah… Mama rasa ada sesuatu yang berbeda.”..“Maksud Mama?” “Karim, tidak sekaku biasanya. Ada cahaya di matanya.” Ia terdiam sejenak, seolah merangkai perasaan yang sulit dijelaskan. “Mama yakin… ada faktor pendorong lain. Dan Mama merasa… itu karena seorang perempuan.” Ayah Karim tertawa kecil, mencoba menenangkan. "Mah… jangan terlalu jauh berpikir.” Namun Mama Karim menggeleng pelan. “Seorang ibu tahu perubahan sekecil apa pun pada anaknya, dari kecil sampai sebesar ini, Mama hafal tatapan matanya.” Suaranya melembut. “Mama senang… karena mungkin akhirnya hatinya terbuka.” Ia menarik napas panjang. “Tapi Mama juga sedih.” “Sedih kenapa?” "Karena kalau benar dia baru mengenal cinta… Mama takut ia juga sedang belajar tentang patah hati.” Ruangan itu seketika terasa lebih sunyi. Ayah menggenggam tangan istrinya. “Kita tidak pernah bisa menghindarkan anak dari ujian hidup, Mah. Bahkan cinta pun bagian dari prosesnya.” Ia tersenyum menenangkan. “Kita doakan saja yang terbaik. Semoga Karim menemukan jodohnya yang baik dan sholehah.” Mama Karim menunduk, mengusap air mata yang tersisa. "Aamiin"… Ya Allah, jaga hatinya. Kalau ini cinta, kuatkan dia. Kalau ini bukan takdirnya, jangan biarkan dia hancur dalam diam.” Ayah Karim merangkul bahu istrinya dengan lembut. “Yuk, kita istirahat. Serahkan semuanya pada Allah.” Mama Karim mengangguk pelan. Namun sebelum memejamkan mata, ia kembali menatap foto putranya di layar ponsel. Seorang ibu mungkin tak selalu tahu apa yang sedang diperjuangkan anaknya. Tapi ia selalu bisa merasakan… ketika hati anaknya sedang gelisah.Zayna perlahan membuka matanya. Pandangan matanya masih kabur. Kepalanya terasa berat, sementara tubuhnya seolah kehilangan seluruh tenaga. Ia mencoba menggerakkan tangannya, lalu menoleh ke sekeliling. Ia mendapati dirinya berada di sebuah kamar sederhana. Bukan kamar rumah sakit.Beberapa saat Zayna hanya terdiam, berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Kemudian ingatan itu datang kembali—suaminya, ia belum mengetahui setelahnya. Dadanya terasa sesak, entah mengapa ia merasakan firasat buruk.Sementara itu, jenazah Aim telah dibawa ke pesantren yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit tempat Aim sebelumnya mendapatkan perawatan.Setelah melalui pembicaraan dengan pihak pesantren dan atas persetujuan Zayan, mereka memutuskan untuk mengurus jenazah Aim di sana. Zayan tahu, jika bundanya sudah sadar, Zayna pasti akan menyetujui keputusan tersebut.Untuk sementara, Zayna belum ingin bertemu dengan banyak orang yang mengenalnya. Ia hanya ingin berada di tempat yang tenang, jauh dari
Aim yang sejak tadi sudah terbangun hanya diam memperhatikan istrinya. Ada rasa haru yang begitu dalam di matanya.Selama hampir seminggu terakhir, pihak rumah sakit menyarankan agar Aim dan Zayna tetap menjalani rawat inap. Kondisi Aim memang belum memungkinkan untuk langsung dibawa pulang. Ia ditempatkan di kamar kelas satu yang cukup nyaman, jauh dari keramaian, sehingga Zayna bisa mendampinginya dengan lebih tenang.Mata Aim perlahan terbuka. “Bunda...”Suara Zayan terdengar pelan. "Bunda, Ayah memanggil"Zayna menoleh ke arah suaminya. “Ayah...”Ia segera mendekat. “Ada yang sakit?” tanyanya cemas.Aim menggeleng pelan sambil tersenyum.Ia kemudian memberikan isyarat agar Zayna mendekat. Zayna duduk di sisi tempat tidur.Aim menggenggam tangannya. “Ayah mungkin... tidak bisa menemani Bunda lagi.”Zayna tertegun. “Maksud Ayah apa?” Air mata mulai menggenang di matanya. “Ayah sudah sehat. Kata dokter, Ayah sudah bisa pulang.”Aim hanya tersenyum, selama ini ia memang sengaja meny
Sementara itu, di Pare-Pare, Kelvin tidak tinggal diam. Ia mulai mengumpulkan bukti dari lapangan, termasuk mencari orang-orang yang pernah melihat langsung beberapa kejadian yang kini dipelintir di media. Satu per satu saksi ia hubungi dan dimintai keterangan.Eksel bekerja sama dengan ayahnya tanpa kenal lelah, mereka menjadikan ini sebagai wujud menebus rasa bersalahnya karena telah menjadi bagian penyebab masalah.Keduanya menyusun seluruh bukti secara menyeluruh, mulai dari foto dan video asli, metadata, waktu pembuatan file, hingga jejak penyuntingan yang ditemukan pada materi yang beredar. Mereka tidak ingin menyisakan celah sedikit pun.Setiap bukti diperiksa ulang dan dicocokkan dengan keterangan saksi maupun data digital yang mereka miliki. Jika ada satu bagian yang masih meragukan, mereka kembali memeriksanya. Hampir tiga kali dua puluh empat jam mereka bekerja tanpa benar-benar berhenti.Sementara itu, Ziyan juga sudah menyelesaikan bagian yang menjadi tanggung jawabnya. I
Beberapa waktu kemudian, Karim dan Ziyan tiba di salah satu pusat kerja tim Karim. Ruangan itu dipenuhi perangkat komputer, monitor, serta berbagai peralatan jaringan yang tersusun rapi. Tempat itu memang dirancang sebagai salah satu pusat kendali untuk pekerjaan tim yang membutuhkan koordinasi jarak jauh.Kelvin dan Eksel tidak berada di ruangan yang sama, Eksel tetap berada di Jakarta, sementara Kelvin masih berada di Pare-Pare. Sesuai instruksi Sonia.Kelvin masih berpura-pura seolah-olah berada di pihaknya. Karena itu, keberadaannya di Pare-Pare tetap dipertahankan. Hal ini menjadi keuntungan buat Karim apabila memerlukan bukti-bukti penguat karena berada di daerah yang sama dengan Bunda Zayna.Meski terpisah oleh jarak, Kelvin dan Eksel tetap bekerja dalam satu jaringan server yang sama. Keduanya sudah memahami pembagian tugas masing-masing.Kelvin bergabung dengan tim pengawal Karim disebuah ruangan yang pernah ia buat sendiri ketika dulu menyelidiki Zayna. Begitu instruksi Kari
“Tuan!”Ziyan bergegas menemui Karim dengan wajah panik. Napasnya bahkan masih terdengar berat ketika ia menyerahkan ponselnya.Karim mengerutkan kening.“Ada apa?”Ziyan tidak langsung menjawab. Ia hanya menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan sejumlah berita terbaru.Karim membaca beberapa judul yang terpampang di sana. Wajahnya perlahan berubah.“Astagfirullahaladzim...”Ia terdiam, untuk beberapa detik, Karim seperti kehilangan kemampuan untuk berkata-kata. Dadanya terasa sesak, seolah sebuah godam baru saja menghantam tepat ke dalam hatinya.Namun, seperti biasa, ia berusaha mengendalikan dirinya.“Amankan Bunda Zayna dan keluarganya sekarang.” Suaranya tegas meskipun matanya mulai memerah. “Blokir seluruh akses berita yang bisa masuk ke pesantren Ana. Jangan sampai anak itu mengetahui apa yang sedang terjadi.” Air mata tanpa sadar jatuh dari sudut matanya.Ziyan terdiam, selama bertahun-tahun bekerja bersama Karim, baru kali ini ia melihat bosnya menangis.“Tuan...”“Lanjut
Di layar televisi, tiba-tiba muncul sosok pengusaha terkenal, Wajah Karim ditampilkan di beberapa stasiun televisi, lalu disandingkan dengan foto Zayna.Aim terdiam, matanya menatap layar tanpa berkedip. Beberapa foto mereka yang sebenarnya biasa saja telah diedit sedemikian rupa sehingga terlihat jauh lebih intim. Pertemuan awal mereka yang memang pernah terjadi dua kali ditampilkan seolah-olah merupakan rangkaian pertemuan rahasia. Bahkan beberapa pertemuan melalui ruang virtual pun ikut dimasukkan sebagai bagian dari narasi yang sengaja dibangun.Tidak berhenti di sana, tiket perjalanan yang memang pernah digunakan Zayna bersama keluarganya juga ditampilkan. Namun, semuanya digiring menjadi sebuah cerita yang sama sekali berbeda.Seolah-olah Zayna diam-diam melakukan perjalanan bersama Karim. “Astagfirullah...” Aim menutup mulutnya dengan tangan.“Tidak mungkin...” Pikirannya berusaha mencari penjelasan. 'Mungkinkah Tuan Karim yang melakukan semua ini?' Namun, ia segera menggeleng.
Kalimat itu membuat Karim spontan mengernyit, refleks ia menoleh ke belakang di sana ada Mommynya berdiri. Tangannya masih menggenggam nampan camilan hangat, namun wajahnya tampak membeku. Tatapannya bertemu dengan mata Karim beberapa detik tanpa suara, Karim sedikit terkejut. “Mommy... sejak kapa
Ruang VIP hotel itu masih menyimpan kehangatan pertemuan yang baru saja usai. Dokumen kontrak telah ditandatangani. Map hitam eksklusif kini tertutup rapi di atas meja marmer. Lampu kristal memantulkan cahaya lembut di wajah-wajah yang baru saja mengikat kerja sama besar. Karim berdiri lebih dulu.
Aim kembali melangkah ke tempat Daeng Dirman berdiri. Wajahnya terlihat ragu, seolah masih menimbang sesuatu yang berat di kepalanya. “Jadi… bagaimana, Pak Aim?” tanya Dirman dengan nada tenang, meski di balik sorot matanya tersimpan rasa ragu.Aim menghela napas panjang sebelum membuka suara. “Se
Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Karim dan Ziyan bersiap menuju lokasi lahan resort yang akan dibangun. Beberapa berkas sudah tersusun rapi di meja kecil ruang makan hotel. Karim berdiri di dekat jendela, memandang keluar sebentar sebelum akhirnya berbicara.“Ziyan.”“Iya, Tuan.”Ba







