LOGIN
Adzan Subuh baru saja usai ketika Bunda Zayna melipat sajadahnya perlahan. Rumah masih diselimuti sunyi yang lembut. Udara pagi terasa dingin, menyusup melalui celah jendela dapur.
Ia berjalan ke dapur dengan langkah ringan. Kompor dinyalakan. Wajan dipanaskan. Telur ceplok, tumis sayur sederhana, dan nasi hangat mulai tersaji satu per satu. Tangannya bergerak cekatan, terbiasa dengan ritme pagi yang hampir selalu sama. Di sudut dapur, teko kecil mulai mendidih. Suaminya keluar dari kamar dengan kemeja kantor yang sudah rapi disetrika. “Sudah bangun dari tadi?” tanyanya lembut Seperti biasa,” jawab Bunda Zayna sambil tersenyum tipis. Ana muncul berikutnya, rambutnya masih sedikit berantakan. “Mama… hari ini ada olahraga.” “Iya, Mama sudah siapkan bekal lebih. Jangan lupa sepatu.” Tak lama, Ziyan menyusul sambil mengucek mata. “Mama, hari ini ziyan latihan Bulu Tangkis…” “Iya, Nak. Mama sudah masukkan roti tambahan. Biar semangat.” Suasana pagi itu sederhana, tapi hangat. Suaminya duduk sebentar di meja makan. “Kamu nanti posting jam berapa?” “Setengah delapan. Setelah ngopi.” Suaminya tersenyum. “Kopi dulu baru market ya?” Bunda Zayna terkekeh kecil. “Market bisa merah, tapi kopi harus hitam dan hangat.” Ia memang pecinta kopi. Bukan yang mahal atau berkelas, cukup kopi hitam tubruk sederhana yang aromanya memenuhi dapur. Setelah anak-anak sarapan dan berpamitan, suaminya berdiri mengambil tas kerja. “Hati-hati ya di rumah.” “Kk juga.” Pintu tertutup pelan. Rumah kembali sunyi. Jam menunjukkan pukul 07.32. Inilah waktunya. Bunda Zayna membawa cangkir kopinya ke meja kecil di sudut ruang keluarga yang ia sulap menjadi ruang kerja sederhana. Laptop dibuka. Grafik candlestick memenuhi layar. Ia menyesap kopi pertama. Hangat. Pahit. Menenangkan. Seperti market — kadang pahit, tapi selalu memberi pelajaran. Ia menarik napas sebelum menekan tombol rekam. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh… Selamat pagi, teman-teman trader dan investor di mana pun berada.” Suaranya tenang, stabil, tidak dibuat-buat. “Semalam indeks Dow Jones ditutup menguat 0,8% setelah data inflasi Amerika menunjukkan perlambatan. S&P 500 ikut menguat, sementara Nasdaq cenderung bergerak terbatas.” Tangannya bergerak pada mouse, mengganti slide. “Harga minyak mentah naik tipis akibat sentimen geopolitik. Hal ini berpotensi memberi angin segar pada sektor energi domestik.” Ia kembali menyesap kopi. Untuk IHSG hari ini, kita masih berada di fase konsolidasi. Support terdekat di 7.120 dan resistance di 7.200. Selama support bertahan, peluang rebound masih terbuka.” Nada suaranya tetap rendah hati. “Untuk trading harian, saya memantau sektor energi dan perbankan digital. Potensi kenaikan 5–8% dengan cut loss disiplin di bawah support terdekat. Ingat, jangan serakah. Disiplin lebih penting dari cuan besar.” Ia selalu menutup dengan kalimat yang sama. “Market tidak pernah salah. Yang perlu diperbaiki adalah manajemen diri kita.” Rekaman selesai. Video itu diunggah seperti biasa — tanpa wajah, hanya suara dan grafik. Dua tahun terakhir, ia konsisten seperti ini. Tidak pamer. Tidak sensasional. Tidak menjanjikan kaya mendadak. Hanya analisa. Notifikasi mulai berdenting. Like. Komentar. Pertanyaan. Ia baru saja hendak merapikan catatan ketika ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal. Ia menatap layar beberapa detik. “Ya, halo?” Suara di seberang terdengar berat namun tenang. “Maaf, ini dengan Bunda Zayna?” Bunda Zayna yang sedang merapikan catatan analisa sahamnya menoleh pada layar ponsel. Nomor tak dikenal. “Benar, Pak. Dengan siapa?” “Saya Karim. Saya mendapatkan nomor Ibu dari kanal MiTube edukasi saham.” Jantungnya berdetak pelan. Ia mencoba mengingat. Nomor pribadinya jarang sekali ia bagikan. Hanya beberapa murid kelas privat yang menyimpannya. "Halo, Bunda Zayna? Apakah Ibu masih di sana?” “Oh, iya. Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” “Saya ingin membuka akun RDN dengan referral Ibu. Apakah memungkinkan?” Mata Bunda Zayna berbinar. Referral berarti tambahan poin dan komisi kecil—lumayan untuk tambahan uang sekolah anak-anak. “Baik, Pak. Silakan instal aplikasi sekuritas kami dan gunakan kode referral saya.” Ia menjelaskan dengan suara profesional, seperti biasa saat membalas pesan follower. “Apakah boleh jika Bunda Zayna yang membantu proses pembuatannya? Persyaratannya bisa saya kirim sekarang.” "Maaf sebelumnya, Pak. Aplikasi RDN tidak bisa dibuka dari sembarang ponsel. IP awal terdaftar yang dapat mengakses akun. Jika saya yang membuatkan, Bapak akan kesulitan memantau sendiri.” Hening sepersekian detik. “Oh, itu tidak masalah,” jawab Karim santai. “Justru saya berharap Bunda Zayna yang mengelola akun saya. Dengan pembagian 75:25 dari setiap keuntungan mingguan.” Tangan Bunda Zayna otomatis mengepal. Terlalu mudah Terlalu percaya. Atau… terlalu berani? Maaf sebelumnya, Pak,” ucapnya hati-hati. “Saya tidak menerima pengelolaan dana pribadi. Kita juga belum pernah bertemu.” “Saya percaya pada data. Akurasi analisa Ibu cukup konsisten.” Kalimat itu membuatnya sedikit tertegun. Namun tetap saja— “Maaf, Tuan. Saya sulit menerima tawaran ini. Terima kasih atas kepercayaannya.” Dan sebelum pria itu melanjutkan, ia menutup panggilan. Tut… tut… tut… Tangannya sedikit gemetar. Ia menatap layar ponselnya lama. Ruangan kembali sunyi. Kopi di cangkirnya masih mengepul. “Aneh,” gumamnya. “Orang dari mana pula ini…” Namun jauh di dalam hati kecilnya, ada rasa lain yang tak mau ia akui—sebuah peluang besar yang baru saja ia tolak. Di tempat lain, Karim masih memegang ponselnya. “Dia… menolak?” Nada sambungan terputus masih terngiang. Ia jarang sekali mendengar kata tidak. Biasanya orang berebut kesempatan ketika mendengar pembagian hasil yang cukup menggiurkan, Sudut bibirnya terangkat pelan. Menarik.Hari ini, masih ada perempuan yang tidak silau oleh uang. "Hemm… seorang Karim tidak akan menyerah.” Dari balik pintu kaca ruang kerjanya, Ziyan memperhatikan. Sudah lama ia tidak melihat bosnya tersenyum seperti itu—bukan senyum bisnis, tapi senyum tertarik. “Oh tidak,” gumamnya pelan. “Ini bahaya.” Tok… tok… tok… “Bos, boleh saya masuk?” “Masuk.” Hari ini kita siapkan penerbangan ke Makassar.” Karim mengangkat alis. “Mendadak?” “Bos lupa? Meeting malam ini dengan investor.” Karim menatap jam di pergelangan tangannya. Benar. Jadwal padat, rapi, tak pernah meleset. Namun entah kenapa, pikirannya justru kembali pada suara lembut yang menolaknya barusan. “Siapkan penerbangan sekarang.” “Siap, Bos.” Beberapa jam kemudian, di dalam jet pribadinya, Karim memandangi langit sore. Ziyan duduk di seberangnya, menahan rasa ingin tahu. Kita akan melebarkan bisnis di pulau ini,” ujar Karim akhirnya. “Ziyan, bukankah Bunda Zayna tinggal di Sulawesi?” “Benar, Sir. Di Pare-Pare. Sekitar tiga sampai empat jam perjalanan darat dari Makassar.” “Tidak ada penerbangan?” “Belum ada, Sir.” Karim terdiam, lalu berkata pelan namun pasti, “Kita ke Pare-Pare. Cari lahan strategis. Tidak harus dekat keramaian. Saya ingin tempat yang tenang.” Ziyan menyipitkan mata. “Baik, Sir. Tapi… ini tentang ekspansi bisnis, atau…” Karim menatapnya datar. Ziyan langsung tersenyum kikuk. “Baik, saya atur.” Namun dalam hati ia bergumam, Bos… ini bukan sekadar bisnis. Di sore hari Bunda Zayna duduk termenung di ruang tamu. Suaminya keluar dari kamar membawa cangkir teh yang sudah disiapkan bunda Zayna sebelumnya. “Kenapa melamun, hemm?” Ia menoleh ke arah suaminya. “Kak, malam ini kita ke Hotel Lotus, ya.” “Dalam rangka apa?” “Ada orang dari Bandung. Katanya tertarik dengan konten sahamku. Kita diundang satu keluarga.” Suaminya mengangguk pelan. “Kalau begitu, kita datang bersama." Bunda Zayna tersenyum tipis. Namun di dalam hatinya, ada firasat yang mulai muncul. Entah kenapa… ia merasa hidupnya akan segera berubah. Dan ia belum tahu — perubahan itu akan membawa keberuntungan. Atau justru badai.Ruang VIP hotel itu masih menyimpan kehangatan pertemuan yang baru saja usai. Dokumen kontrak telah ditandatangani. Map hitam eksklusif kini tertutup rapi di atas meja marmer. Lampu kristal memantulkan cahaya lembut di wajah-wajah yang baru saja mengikat kerja sama besar. Karim berdiri lebih dulu. "Baik, Bund. Karena penandatanganan sudah selesai, saya pamit. Saya akan kembali ke Bandung sore ini, lalu langsung ke Turki. Mungkin cukup lama sebelum kita bisa bertemu lagi.”Di sampingnya, Ziyan—asisten pribadinya—langsung sigap merapikan dokumen dan menyimpannya dengan profesional.Karim melanjutkan, “Untuk pelaporan, setiap tanggal 15 dan 30, buat dalam bentuk video presentasi. Kirim langsung ke nomor pribadi saya. Karena ini tidak terkait perusahaan.”Ziyan sedikit mengangkat alisnya. Ia memahami maksud atasannya, tapi tetap mencatat dengan ekspresi netral. Bunda Zayna menatap sopan.“Maaf, Tuan. Apakah tidak apa-apa lewat nomor pribadi? Bukankah Tuan cukup sibuk?”Sang suami yang se
Aim kembali melangkah ke tempat Daeng Dirman berdiri. Wajahnya terlihat ragu, seolah masih menimbang sesuatu yang berat di kepalanya. “Jadi… bagaimana, Pak Aim?” tanya Dirman dengan nada tenang, meski di balik sorot matanya tersimpan rasa ragu.Aim menghela napas panjang sebelum membuka suara. “Sebenarnya, Daeng… saya pribadi agak terkejut. Jujur saja, saya juga merasa malu.”Dirman mengangkat alis tipis, memberi isyarat agar Aim melanjutkan. “Mobilnya Daeng ini… kalau ditukar tambah dengan mobil saya, nilainya jauh sekali. Mobilku itu paling-paling cuma dihargai tiga puluh lima sampai empat puluh lima juta. Sedangkan saya… kemampuan uangku tidak sampai sepuluh juta untuk tambahnya. Padahal Daeng sudah luar biasa murah hati.” Ia menunduk. Nada suaranya jujur, tanpa dibuat-buat. Dirman langsung membaca situasi itu. Dalam benaknya, suara Tuan Ziyan kembali terngiang jelas. “Apa pun caranya, mobil Pak Aim harus berganti dengan yang lebih baik sore ini. Tuan Karim akan bertemu kembali
Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Karim dan Ziyan bersiap menuju lokasi lahan resort yang akan dibangun. Beberapa berkas sudah tersusun rapi di meja kecil ruang makan hotel. Karim berdiri di dekat jendela, memandang keluar sebentar sebelum akhirnya berbicara.“Ziyan.”“Iya, Tuan.”Bagaimana progres pergantian mobil Aim? Sudah kamu selidiki?”Ziyan tidak langsung menjawab. Ia membuka tablet di tangannya, menampilkan beberapa catatan.“Sudah, Tuan. Data lengkap sudah saya kumpulkan semalam dan Dirman sudah mengantonginya.”Karim menoleh, memberi isyarat agar ia melanjutkan.“Nama lengkapnya Aimuddin, biasa dipanggil Aim. Carry biru itu milik pribadi, bukan pinjaman atau operasional kantor. Dipakai untuk kerja sekaligus keluarga.”Karim mendengarkan tanpa memotong.“Beliau sudah lama ingin mengganti mobil. Bahkan beberapa kali bertanya soal tukar tambah di bengkel langganannya.”“Motivasinya?” tanya Karim singkat.“Anak-anaknya sudah besar. Mobil terasa sempit. Dan…” Ziyan
Beberapa detik suasana hening menyelimuti meja VIP itu. Bunda Zayna menunduk, kembali melihat map kontrak di tangannya.“Tuan… izinkan saya memastikan dulu dengan suami saya. Meski Tuan sudah menyarankan untuk dibaca di rumah, saya ingin beliau melihat sekilas sebelum saya benar-benar membawanya pulang.”Karim mengangguk tanpa ragu. “Tentu, Bund. Saya justru menghargai itu.”Bunda Zayna berdiri perlahan dan keluar dari VIP room. Begitu berada di luar, ia langsung menghubungi suaminya.“Pah, di mana? Aku sudah di luar VIP.”Saya masih di restoran, Dek.”“Loh? Di mana? Kok tidak kelihatan?”“Coba jalan ke arah jendela yang menghadap laut. Dekat pilar besar.”Bunda Zayna melangkah menyusuri ruangan. Beberapa langkah kemudian, ia melihat suaminya duduk di sudut restoran, setengah tersembunyi di balik pilar besar. Dari posisi itu, pandangannya masih dapat mengarah ke VIP room.“Oh… Papah di sini.”“Saya memang tidak pergi jauh,” ujarnya tenang.“Saya ingin tetap satu ruangan. Supaya bisa m
“Hmm… sebelumnya saya pernah ditelepon seseorang bernama Karim,” ucap Bunda Zayna pelan, duduk berhadapan dengan suaminya di ruang tamu sederhana mereka. “Dia ingin saya mengelola akun RDN-nya. Katanya pakai referral saya, dengan pembagian hasil 75:25.”Suaminya mengernyit. “Langsung begitu saja?”“Iya. Saya tolak mentah-mentah. Tidak kenal, tidak pernah bertemu. Kok bisa-bisanya langsung percaya begitu saja? Saya tutup teleponnya. Saya pikir cuma orang iseng.”Ia berhenti sejenak, menarik napas.“Tapi hari ini… asistennya menghubungi lagi. Katanya mereka sedang di Pare-Pare. Mau buka cabang perusahaan di sini. Dan mereka ingin bertemu. Hanya dua hari di sini, setelah itu terbang ke Turki, tempat usaha utamanya.”Suaminya diam cukup lama. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam menimbang.“Tidak ada salahnya dicoba, Dek,” akhirnya ia berkata lembut.“Iya… saya juga pikir begitu. Makanya saya iyakan. Tapi dengan syarat ketemu harus bareng suami dan anak-anak.” Ia tersenyum kecil, menc
Adzan Subuh baru saja usai ketika Bunda Zayna melipat sajadahnya perlahan. Rumah masih diselimuti sunyi yang lembut. Udara pagi terasa dingin, menyusup melalui celah jendela dapur. Ia berjalan ke dapur dengan langkah ringan.Kompor dinyalakan. Wajan dipanaskan. Telur ceplok, tumis sayur sederhana, dan nasi hangat mulai tersaji satu per satu. Tangannya bergerak cekatan, terbiasa dengan ritme pagi yang hampir selalu sama.Di sudut dapur, teko kecil mulai mendidih.Suaminya keluar dari kamar dengan kemeja kantor yang sudah rapi disetrika. “Sudah bangun dari tadi?” tanyanya lembutSeperti biasa,” jawab Bunda Zayna sambil tersenyum tipis.Ana muncul berikutnya, rambutnya masih sedikit berantakan. “Mama… hari ini ada olahraga.” “Iya, Mama sudah siapkan bekal lebih. Jangan lupa sepatu.” Tak lama, Ziyan menyusul sambil mengucek mata. “Mama, hari ini ziyan latihan Bulu Tangkis…”“Iya, Nak. Mama sudah masukkan roti tambahan. Biar semangat.”Suasana pagi itu sederhana, tapi hangat.Suaminya







