Mag-log inMalam itu berlalu tanpa banyak percakapan. Setelah mengungkapkan isi hatinya di teras rumah, Bram memilih masuk lebih dulu ke kamar dan berbaring membelakangi Julia. Lelaki itu tampak lelah, bukan hanya fisik, tetapi juga jiwanya. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Julia melihat Bramantyo Atmaja benar-benar kehilangan arah.Bukan lagi sosok suami yang dulu percaya diri, rapi, dan penuh ambisi.Kini Bram hanya lelaki pengangguran dengan mata redup dan pundak yang seolah tak lagi mampu menopang dirinya sendiri.Namun hidup rupanya belum selesai menghajarnya.Pagi harinya, suasana rumah kembali ricuh. Baru pukul tujuh, suara Bu Sulastri sudah terdengar dari depan rumah. Perempuan tua itu datang bersama dua kantong plastik besar dan wajah penuh ketidaksenangan.“Assalamualaikum!”Julia yang sedang menyiapkan bekal Hana langsung menoleh. Sementara Bram yang baru bangun tampak terkejut mendengar suara ibunya.“Tumben pagi-pagi,” gumamnya pelan.Bu Sulastri masuk tanpa menunggu dipe
Pagi datang bersama mendung tipis yang menggantung di atas perumahan kecil tempat Bram dan Julia tinggal. Udara terasa lembap, sementara aroma tanah basah menyeruak dari halaman depan. Namun suasana di dalam rumah jauh dari kata tenang. Sejak pertengkaran semalam, semua orang seperti berjalan di atas pecahan kaca. Tidak ada lagi suara televisi keras dari ruang tamu, tidak ada tawa santai Nita, bahkan Arman lebih banyak mengurung diri sambil bermain ponsel di sudut rumah.Julia sudah bersiap berangkat kerja ketika Bram keluar kamar dengan kemeja lama yang sudah disetrika rapi. Rambutnya disisir lebih rapi dari biasanya, wajahnya juga tampak lebih segar meski lingkar hitam di bawah matanya belum sepenuhnya hilang.Julia yang sedang memakai jam tangan sempat menghentikan gerakannya.“Kamu mau ke mana?” tanyanya.“Cari kerja.”Jawaban singkat itu membuat Julia sedikit terdiam.Bram mengambil map cokelat berisi beberapa lembar fotokopi ijazah dan CV yang semalam ia cetak di rental dekat r
Suasana rumah berubah dingin setelah pertengkaran pagi itu. Tangisan dramatis Nita memang sudah berhenti, tetapi wajah perempuan itu masih ditekuk sepanjang hari seperti korban paling tersakiti di dunia.Sementara Arman memilih lebih banyak diam sambil bermain ponsel di ruang tamu, pura-pura tak mendengar sindiran halus maupun tatapan tajam dari Bram.Namun justru sikap diam itu yang membuat rumah terasa semakin sesak.Julia berangkat kerja tanpa banyak bicara. Sebelum pergi, ia hanya sempat mencium kening Hana lalu menitipkan beberapa pesan singkat kepada Bram mengenai jadwal sekolah dan obat vitamin anak mereka. Sikapnya tenang, terlalu tenang bahkan. Tetapi Bram mengenal istrinya cukup lama untuk memahami bahwa ketenangan seperti itu biasanya adalah tanda Julia sedang menahan banyak hal.Dan benar saja.Baru beberapa jam Julia pergi, masalah baru muncul lagi.Bram sedang mencuci motor di depan rumah ketika suara ribut terdengar dari dalam. Ia buru-buru masuk dan mendapati Hana ber
Hujan semalam meninggalkan udara dingin yang menusuk hingga pagi. Atap rumah masih meneteskan sisa air, sementara halaman depan terlihat basah dipenuhi daun-daun kecil yang jatuh terbawa angin. Namun suasana di dalam rumah jauh lebih berat dibanding cuaca di luar. Percakapan Bram dan Julia tadi malam masih menggantung di udara seperti kabut tipis yang belum benar-benar hilang.Bram bangun lebih pagi dari biasanya. Ia duduk di meja makan sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula. Wajahnya terlihat lelah, matanya sembab karena nyaris tak tidur semalaman. Bayangan lelaki bernama Rendra itu terus berputar di kepalanya. Cara pria itu membukakan pintu mobil untuk Julia. Cara Julia tertawa kecil. Cara mereka tampak cocok dalam satu bingkai.Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bram merasa kalah telak.Bukan oleh lelaki lain.Tetapi oleh versinya sendiri di masa lalu.Sementara itu, Julia keluar kamar dengan pakaian kerja yang rapi. Hari ini ia mengenakan blouse biru tua dan celana bahan h
Pagi itu rumah terasa jauh lebih sibuk dari biasanya. Sejak subuh Julia sudah bangun, menyiapkan sarapan sambil sesekali mengecek layar tablet yang memuat jadwal presentasi hari itu. Di meja makan terdapat beberapa map biru tua, laptop kerja, dan sebuah undangan meeting penting dengan logo perusahaan besar yang baru bekerja sama dengan kantornya. Aroma kopi bercampur roti panggang memenuhi dapur kecil mereka, tetapi Bram justru duduk diam sambil memperhatikan istrinya dari jauh.Sudah lama ia tidak melihat Julia sesibuk itu.Atau mungkin dulu ia memang tidak pernah benar-benar memperhatikan.“Ma, hari ini Mama pulang malam lagi?” tanya Hana sambil mengunyah telur dadarnya.Julia menoleh lalu mengusap rambut putrinya lembut. “Mungkin sedikit malam, Sayang. Mama ada meeting sama klien.”Hana mengangguk pelan, walau wajahnya tampak kecewa.“Adek ikut kantor Mama kapan?”“Nanti kalau Mama libur.”Bram memperhatikan interaksi itu dengan dada terasa penuh sesuatu yang aneh. Bangga sekaligus
Suasana rumah kakak ipar Bu Sulastri berubah canggung setelah pertengkaran kecil itu. Tidak ada lagi suara tawa lepas seperti sebelumnya.Beberapa saudara mulai sibuk berpura-pura mengambil makanan, sebagian lain memilih mengalihkan perhatian ke anak-anak yang bermain di halaman. Namun sorot mata mereka diam-diam masih tertuju pada Julia dan Bu Sulastri. Drama keluarga seperti itu memang terlalu menarik untuk diabaikan.Bu Sulastri berdiri dengan wajah merah padam. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara tangannya bergetar karena malu. Ia tidak menyangka Julia akan membalas secara terang-terangan di depan keluarga besar.Selama ini, menantunya itu selalu memilih diam, menangis diam-diam, atau mengalah demi menjaga suasana. Tetapi perempuan yang kini berdiri di hadapannya terasa berbeda. Lebih tegas. Lebih dingin. Dan yang paling menyakitkan bagi Bu Sulastri lebih kuat.“Kamu sekarang berani melawan orang tua?” bentaknya akhirnya.Julia tersenyum tipis, tetapi sorot matanya sama s







