INICIAR SESIÓNJulia pernah hidup dalam kebahagiaan sederhana sebagai istri yang setia, sampai perubahan fisik terjadi setelah melahirkan. Bramantyo Atmaja, suaminya, yang dulu mencintainya tanpa syarat, kini semakin menjauh. Perlahan, Julia menyadari penyebab retaknya hubungan mereka. Bram berselingkuh dengan wanita yang lebih muda. Namun, Bramantyo menyesal, setelah ia tahu istrinya adalah model berbakat hingga memiliki banyak bisnis. Berbagai macam cara dilakukan sang pelakor mempengaruhi Bramantyo demi merebut paksa harta Julia. Dicintai pria tampan yang kaya raya, membuat Julia merasa percaya diri.
Ver másSinar matahari mulai mengintip dari balik jendela besar di kamar utama.
Udara pagi yang segar terasa kontras dengan beratnya atmosfer di dalam ruangan.
Julia duduk di tepi ranjang, memandang layar ponsel suaminya yang teronggok di atas nakas.
Ponsel yang terus-menerus bergetar. Notifikasi demi notifikasi masuk, tapi pandangannya tertuju pada satu pesan yang baru saja muncul di W******p.
Twin Handyta.
“Sayang, gimana? Perutnya masih sakit? Kamu gak masuk kantor ya hari ini?”
Seketika, hatinya terasa mencelos. Pesan singkat itu bagai duri tajam yang menusuk dadanya, merobek rasa percaya yang ia bangun selama bertahun-tahun bersama Bramantyo Atmaja, suaminya.
Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan getar di ujung matanya.
Tapi pesan itu tidak berhenti di situ.
“Perempuan itu sedang apa? Pasti cuma bisa merawat bayi, tubuhnya melebar. Gak kayak aku, selalu wangi dan merawat penampilan. Aku kangen.”
Tangannya bergetar saat ia memegang ponsel. Rasa tidak percaya, marah, dan takut bercampur menjadi satu, membuat Julia nyaris terjatuh di atas lantai kamar yang dingin.
Perempuan itu tak lagi merasakan pagi yang sejuk. Hanya ada deru napasnya yang berat, jantungnya yang berpacu cepat, dan sebuah pesan dari seorang perempuan asing yang baru saja mengguncang dunianya.
Dia harus tahu kebenarannya. Hari ini juga. Dadanya mendadak sesak. Dunia seakan runtuh. Julia bahkan mengabaikan tangisan seorang balita yang terus merengek meminta susu sembari menarik-narik pakainya.
Julia masih gemetar, menahan emosi yang kian menguasai dirinya. Ia menoleh ke arah suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Pesan dari siapa ini?" tanyanya, terdengar gemetar mengintimidasi.
Meski begitu, air mata Julia mengalir deras tanpa terbendung. Telapak tangan perempuan cantik itu berulang kali mengusap wajahnya.
Bramantyo tersentak. Wajahnya memerah, lalu gugup.
"Siapa? Anak kantor? Oh, mungkin mau tanya laporan. Ini 'kan akhir bulan," kilah Bram. Tanpa berani menatap Julia.
Lelaki bertubuh tegap, dengan wajah yang dihiasi bulu-bulu tipis itu mengalihkan perhatian dengan menggendong putrinya.
"Tania nangis, minta susu," tukasnya sembari menyodorkan tubuh mungil seorang balita.
Mata Julia yang semula berembun, kini pipi mulusnya semakin banjir oleh air mata. Ia mencoba menyembunyikan luka sembari memeluk buah hatinya yang masih balita.
"Kamu bohong, Mas! Cari perhatian sama perempuan mana kamu? Gak cukup ya, perhatian dari aku? Siapa perempuan itu?"
Julia terus mencecar. Meskipun begitu, Bramantyo terus membantahnya.
"Kamu salah paham. Kemarin aku pusing, minta obat di kasir. Dia hanya kasir di kantor. Sudah, gak penting," kilahnya, menganggap remeh.
Hari itu, pertengkaran hebat terjadi. Dunia Julia hancur. Langit serasa runtuh.
Bukankah aneh, seorang pria beristri yang telah dikaruniai anak lucu, tetapi mengadukan sakitnya kepada wanita lain di luar sana?
Mungkinkah rasa bosan menderanya? Apa yang membuat Bramantyo berselingkuh? Bukankah Julia adalah perempuan cantik dan setia?
Namun, rasa penasaran terus mengusik pikiran Julia. Kepalanya riuh. Dipenuhi berbagai pertanyaan tentang perempuan asing bernama Twin Handyta.
Berbagai rencana akhirnya Julia susun, untuk mencari tahu siapa perempuan itu.
*****
Hari berganti pagi. Julia bangun lebih pagi dari biasanya. Ia diam, memilih tak bicara sepatah katapun dengan Bram.
Seperti hari-hari sebelumnya, Julia menjalankan rutinitas sebagai ibu rumah tangga. Ia menyiapkan sarapan, dan mengurus anaknya.
"Julia, jangan berpikir aneh-aneh lagi, ya? Aku berangkat kerja dulu," pamit Bram sembari membujuk.
Bram memang begitu. Setiap melakukan kesalahan, ia selalu merayu, seakan tahu sisi terlemah istrinya. Akan berbaikan setelahnya.
Julia hanya diam. Menatap punggung suaminya hingga menghilang dari pandangannya.
Setelahnya, ia segera beraksi. Mencoba mencari tahu dari beberapa teman suaminya. Untung saja, Julia menyimpan beberapa nomor teman suaminya.
[Halo, Mbak Mifta. Bisa minta tolong enggak? Tapi kali ini ... tolong rahasiakan dari mas Bram]
Tak lama pesan terkirim. Lengkap dengan dua garis centang berwarna biru. Pertanda pesan sudah dibaca oleh orang yang dituju.
[Ya, Julia. Ada apa? Tenang, aman. Aku gak bocor]
Kalimat balasan dari seorang perempuan yang menjabat sebagai Supervisor di kantor Bram menyambut ramah. Membuat Julia langsung menanyakan semua pertanyaan yang memenuhi otaknya.
[Mbak, di kantor mas Bram, ada yang namanya Twin Handyta?]
Mifta merespon sangat cepat. Pertanda perempuan itu juga penasaran dengan pertanyaan Julia.
[Ada, kenapa?]
Balas Mifta beberapa detik setelahnya. Padahal pagi itu, adalah jam sibuk. Entah mengapa perempuan bernama Mifta itu seperti terlalu antusias ingin membantu.
[Mas Bram kemarin sakit. Wajar enggak sih kalau perempuan lain memberikan perhatian? Dia menanyakan apakah mas Bram baik-baik saja? Apakah sakitnya reda?]
Julia terus memandangi layar ponselnya. Seolah tak sabar menunggu jawaban.
[Kamu tunggu ya, ini jam kerja. Nanti, sebelum istirahat ... aku akan panggil Bramantyo dan juga Twin. Setelah itu, aku kabari kamu]
Membaca pesan dari seorang Supervisor suaminya, entah mengapa rasanya Julia kecewa. Mungkinkah karena ia tak sabar menunggu? Entah.
Waktu terasa begitu lama bagi Julia. Detik, menit hingga berubah jam, ia hadapi dengan rasa cemas. Ditambah bayinya terus merengek rewel tanpa sebab. Membuatnya semakin frustrasi bercampur gelisah.
*****
Tepat pukul sebelas siang, Julia kembali mendapatkan pesan dari Mifta.
[Julia, maaf ya. Mungkin hubungan ini belum terlalu jauh. Siapa tahu, mereka belum melakukan kontak fisik.]
Membaca pesan itu, rasanya Julia seperti tersambar petir. Hatinya hancur. Ternyata benar dugaannya, suaminya berselingkuh.
Bulir bening di pelupuk matanya terjatuh. Tangannya menggenggam benda pipih dengan gemetar.
Namun, jemarinya menari cepat menekan nomor Bramantyo.
"Pulang!" teriak Julia dengan suara serak dan tercekat.
Tubuhnya ambruk di lantai. Tangisnya mendominasi ruangan, menimbulkan suara riuh bercampur suara tangisan bayinya yang terus merengek.
Julia masih menangis, mengabaikan panggilan telepon dari suaminya. Tapi, matanya terus menatap ke layar ponselnya.
[Julia, maafkan aku. Sayangnya ... perselingkuhan mereka benar terjadi]
Pesan singkat dari Mifta membuat Julia semakin menangis tersedu-sedu. Matanya yang sembab terus banjir oleh air mata.
'Kamu tega, Mas Bram ....' Batin Julia dalam tangisnya.
Pagi itu rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Tidak ada suara televisi menyala, tidak ada percakapan kecil di meja makan, bahkan langkah kaki Julia terdengar begitu pelan seperti seseorang yang tak lagi ingin meninggalkan jejak.Bram terbangun di sofa ruang tamu dengan tubuh pegal. Semalaman ia tertidur di sana setelah terlalu lama memikirkan ucapan Julia.'Kalau suatu hari aku benar-benar pergi… jangan salahkan siapa-siapa lagi.'Kalimat itu terus menghantui kepalanya sampai pagi.Ia mengusap wajah kasar lalu menoleh ke arah kamar. Pintu kamar Hana sedikit terbuka. Dari celah itu, ia melihat Julia sedang memakaikan seragam sekolah untuk putri mereka dengan wajah tenang.Terlalu tenang.Dan Bram mulai membenci ketenangan itu.Karena ketenangan Julia sekarang terasa seperti jarak yang perlahan tak bisa lagi ia gapai.“Papa!” Hana tiba-tiba melihatnya lalu berlari kecil menghampiri. “Hari ini anter Hana sekolah?”Bram memaksakan senyum. “Iya.”“Janji?”“Iya, Sayang.”Hana l
Malam turun perlahan, tetapi ketegangan di dalam rumah itu belum juga reda. Udara terasa berat, dipenuhi amarah, kekecewaan, dan ego yang saling bertabrakan. Julia berdiri di dekat meja makan dengan wajah pucat, sementara Bu Sulastri masih mengomel tanpa henti seperti merasa dirinya paling benar.“Kalau kamu memang istri yang baik, harusnya kamu bantu keluarga suami!” hardiknya sambil menunjuk wajah Julia.Julia memejamkan mata sesaat.Biasanya ia masih mencoba menahan diri.Masih mencoba memahami.Namun entah kenapa malam itu, kesabarannya benar-benar berada di ujung tanduk.“Saya sudah bantu terlalu banyak, Bu.”Bu Sulastri mendengus sinis. “Bantu apa? Cuma kerja terus merasa paling berjasa!”Nita ikut menimpali sambil melipat tangan di dada. “Iya. Mentang-mentang sekarang punya uang jadi sombong.”Julia menatap mereka bergantian.Lucu.Saat dirinya tak punya apa-apa dulu, ia dianggap beban. Saat kini mampu berdiri sendiri, ia dituduh sombong.Tidak ada yang pernah benar di mata kel
Pagi datang tanpa kehangatan. Rumah kecil itu tetap berdiri seperti biasa, tetapi suasananya terasa berbeda. Tidak ada lagi obrolan ringan di meja makan. Tidak ada suara Julia yang mengingatkan Bram agar segera mandi atau meminum kopi sebelum dingin. Semua terasa asing, seolah mereka hanya tiga orang yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama.Julia sibuk menyiapkan bekal Hana tanpa banyak bicara. Rambutnya digelung sederhana, wajahnya tampak pucat karena kurang tidur. Sesekali ia memaksakan senyum saat Hana bercerita tentang teman TK-nya, tetapi setelah itu ekspresinya kembali kosong.Bram memperhatikan istrinya diam-diam dari meja makan.Ada sesuatu yang berubah.Julia masih menjalankan kewajibannya seperti biasa, masih memasak, masih menyiapkan kebutuhan rumah, masih mengurus Hana dengan penuh kasih. Namun justru itu yang membuat Bram semakin takut.Karena perempuan itu tidak lagi marah.Dan sering kali, diam seorang istri jauh lebih mengerikan daripada amarahnya.“Hari ini pul
Koridor rumah sakit mendadak sunyi setelah ucapan Bu Sulastri barusan. Hanya suara roda brankar yang sesekali melintas dan aroma obat-obatan yang menusuk hidung memenuhi udara. Namun bagi Julia, suasana itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada ruang sempit tanpa jendela.Ia berdiri diam dengan tangan mengepal pelan di sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras, sementara dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang sulit dijelaskan.Lelah.Kecewa.Dan perlahan… mati rasa.Bram terlihat gelisah. Lelaki itu beberapa kali menatap ibunya, lalu berpindah menatap Julia dengan wajah penuh tekanan. Ia tahu siapa yang salah. Ia sadar semua kehancuran ini bermula dari dirinya. Namun di saat yang sama, Bram juga terlalu terbiasa menjadi anak yang selalu tunduk pada ibunya.Dan kebiasaan itu kini kembali menjeratnya.“Bu, jangan bicara sembarangan,” ucap Bram akhirnya, meski suaranya tak sekeras yang Julia harapkan.Bu Sulastri tertawa sinis sambil memegang dadanya dramatis. “Sembarangan? Kamu lihat sendiri s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.