Beranda / Romansa / Istana yang Retak / Bab 72. Ancaman Terakhir

Share

Bab 72. Ancaman Terakhir

Penulis: Lia Lintang
last update Tanggal publikasi: 2026-06-16 22:48:36

Senja menggantung muram di langit ketika Julia menatap layar ponsel yang masih berada di tangan Bram. Pesan singkat itu tampak sederhana, tetapi dampaknya jauh lebih besar daripada panjang kalimatnya.

"Kalau polisi gagal menangkapku, aku akan datang sendiri."

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada penjelasan.

Namun mereka tidak membutuhkan keduanya.

Mereka tahu siapa yang mengirim pesan itu.

Mifta.

Perempuan yang selama ini bersembunyi di balik berbagai tragedi yang menimpa keluarga mereka.

Bram me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istana yang Retak   Bab 83. Jejak yang Mengarah ke Pelaku

    Malam itu, Julia hampir tidak tidur. Surat peninggalan Kartika tergeletak terbuka di atas meja kerjanya, sementara pikirannya terus memutar setiap kalimat yang tertulis di dalamnya. Semakin sering ia membaca surat tersebut, semakin ia menyadari bahwa ibunya bukan sekadar meninggalkan pesan perpisahan.Kartika sengaja meninggalkan petunjuk. Petunjuk yang mungkin terlalu samar bagi orang lain, tetapi cukup jelas bagi seseorang yang benar-benar ingin mencari kebenaran.Nama tempat yang ditemukan Julia di bagian bawah surat terus mengganggunya. Awalnya ia mengira itu hanya catatan biasa, tetapi setelah dicermati berulang kali, tulisan tersebut tampak lebih seperti penanda. Seolah Kartika sengaja menyembunyikan sesuatu di sana untuk ditemukan suatu hari nanti.Pagi-pagi sekali, sebelum Hana bangun untuk berangkat sekolah, Julia sudah duduk di ruang makan bersama Bram dan Surya. Ketiganya terlihat serius.Tidak ada lagi keraguan bahwa mereka sedang berada di tahap paling penting dalam penca

  • Istana yang Retak   Bab 82. Orang yang Paling Dipercaya

    Ruangan kecil tempat loker penyimpanan itu berada mendadak terasa sesak. Tidak ada seorang pun yang berbicara setelah Julia membaca isi surat peninggalan Kartika.Suara pendingin ruangan yang berdengung pelan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di tengah keheningan yang menekan. Surat tua itu masih berada di tangannya, tetapi jemarinya terasa dingin. Berkali-kali ia membaca nama yang tertulis di sana, berharap matanya salah menangkap huruf-huruf tersebut.Namun setiap kali dibaca ulang, hasilnya tetap sama. Nama itu tidak berubah. Nama itu tetap tertulis jelas di sana, seolah sengaja diwariskan Kartika sebagai kebenaran terakhir yang harus diketahui putrinya suatu hari nanti.Bram yang sejak tadi berdiri di samping Julia akhirnya mengambil surat tersebut dengan hati-hati. Ia membaca bagian yang membuat istrinya membeku. Sesaat kemudian, ekspresinya berubah. Rahangnya mengeras. Tatapannya menjadi sulit dibaca."Ini tidak masuk akal," gumamnya.Surya yang berdiri di depan mereka p

  • Istana yang Retak   Bab 81. Pengkhianatan yang Tak Termaafkan

    Malam itu menjadi salah satu malam paling mengguncang dalam hidup Julia. Bahkan setelah ambulans membawa tubuh pria tua yang menjadi saksi terakhir tragedi masa lalu itu, ia masih berdiri mematung di dalam gudang yang dingin dan suram. Suara sirene yang perlahan menjauh terdengar seperti gema yang memantul di dalam kepalanya.Namun bukan kematian pria itu yang paling mengusik pikirannya. Bukan pula tembakan yang nyaris merenggut nyawa mereka. Yang terus berputar di benaknya adalah nama yang diucapkan sesaat sebelum pria itu mengembuskan napas terakhir.Nama yang selama ini tidak pernah masuk dalam daftar orang yang dicurigainya. Nama yang begitu dekat dengan hidupnya hingga Julia tidak pernah membayangkan bahwa orang tersebut menyimpan rahasia sebesar itu selama puluhan tahun.Bram berdiri di samping istrinya sambil memegang pundaknya erat. Ia bisa merasakan tubuh Julia sedikit gemetar. Bukan karena udara malam yang dingin, melainkan karena syok yang masih menguasainya."Kita pulang d

  • Istana yang Retak   Bab 80. Nama yang Selama Ini Disembunyikan

    Suara tembakan yang memecah kesunyian malam membuat seluruh isi gudang berubah kacau dalam sekejap. Pecahan kaca berhamburan ke berbagai arah sementara pria tua yang baru saja mengungkap sebagian rahasia masa lalu itu terjatuh ke lantai dengan tangan menekan dada kirinya.Darah mulai merembes di sela-sela jemarinya. Julia yang masih berada di balik tumpukan peti tua merasakan tubuhnya gemetar hebat. Semua terjadi terlalu cepat.Beberapa detik sebelumnya mereka sedang mendekati jawaban yang selama puluhan tahun terkubur, tetapi kini satu-satunya saksi yang berani berbicara justru menjadi target pembungkaman."Bram!" seru Julia panik."Aku di sini," jawab Bram cepat sambil menarik tubuh istrinya lebih rendah. Tatapannya menyapu ke arah jendela yang pecah. Instingnya mengatakan penembak masih berada di luar. "Jangan keluar!"Julia mengangguk, tetapi matanya terus tertuju pada pria tua yang terkapar beberapa meter dari mereka. Rasa takut dan rasa kemanusiaan bertarung di dalam dirinya. Ia

  • Istana yang Retak   Bab 79. Gudang di Ujung Pelabuhan

    Malam itu, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Setelah membaca pesan misterius yang berisi foto dokumen Kartika dan alamat sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan, Julia dan Bram nyaris tidak berbicara selama beberapa menit.Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka sadar bahwa setiap langkah yang diambil sekarang akan menentukan apakah misteri kematian Kartika akhirnya terungkap atau justru terkubur selamanya.Di ruang keluarga, jam dinding terus berdetak seolah mengingatkan bahwa waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Julia duduk sambil menatap layar ponselnya yang mulai redup.Hatinya dipenuhi keraguan. Selama beberapa bulan terakhir, terlalu banyak jebakan yang diarahkan kepadanya dan keluarganya. Terlalu banyak orang yang berpura-pura menjadi sekutu, lalu menusuk dari belakang.Namun kali ini berbeda. Instingnya mengatakan bahwa orang yang mengirim pesan itu benar-benar mengetahui sesuatu. Sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh banyak pihak.

  • Istana yang Retak   Bab 78. Perburuan Bukti Terakhir

    Kabar hilangnya dokumen milik Kartika menghantam Julia seperti gelombang besar yang datang tanpa peringatan. Selama beberapa menit setelah mendengar pengakuan Surya, ia hanya berdiri membeku di samping mobil.Angin sore berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang mulai menguning di halaman rumah tua itu, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Yang terbayang dalam benaknya hanyalah satu hal: jika dokumen asli itu benar-benar hilang, maka jalan menuju kebenaran bisa tertutup selamanya.Bram segera mengambil alih situasi ketika melihat wajah istrinya yang semakin pucat. Ia meminta Julia duduk terlebih dahulu sementara dirinya dan Surya mencoba menenangkan keadaan.Namun bahkan Bram sendiri tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Mereka baru saja menemukan secercah harapan untuk mengungkap misteri kematian Kartika, tetapi harapan itu kini terancam lenyap bahkan sebelum sempat mereka genggam."Siapa yang tahu lokasi dokumen itu?" tanya Bram.Surya mengusap wajahnya dengan t

  • Istana yang Retak   Bab 23. Saat Semua Menjauh

    Ruang rawat intensif itu dingin, terlalu dingin untuk seseorang yang sedang berusaha bertahan hidup. Bau antiseptik menusuk hidung, bunyi mesin monitor berdetak teratur, dan cahaya putih dari lampu neon memantul di dinding pucat tanpa memberi sedikit pun rasa hangat. Twin terbaring kaku di atas ra

  • Istana yang Retak   Bab 22. Pagi yang Mengguncang

    Fajar belum benar-benar pecah ketika sirene ambulans memecah kesunyian di sebuah gang sempit yang jarang dilalui orang. Lampu biru-merah berkelip memantul di dinding-dinding kusam, sementara beberapa warga yang penasaran mulai berkerumun di kejauhan, berbisik satu sama lain dengan wajah tegang dan

  • Istana yang Retak   Bab 21. Jerat yang Menutup

    Malam turun lebih cepat dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Twin saja yang membuat segalanya terasa dipercepat detik menjadi menit, menit terasa seperti tekanan panjang yang menyesakkan dada. Jalanan mulai lengang ketika mobilnya melaju tanpa arah pasti, sementara di kaca spion, bayangan mo

  • Istana yang Retak   Bab 20. Titik Terendah yang Membakar

    Mesin mobil masih menyala, tetapi Twin tidak kunjung menekan pedal gas. Tangannya kaku di atas setir, napasnya tidak beraturan, dan matanya terus menatap kaca spion dengan perasaan yang tak lagi bisa ia sembunyikan seperti takut. Mobil gelap itu masih di sana, diam seperti bayangan yang menunggu w

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status