“Dia nggak akan bilang kalau lagi sedih. Dia akan senyum, terus bilang ‘aku gapapa’. Karena dia sering begitu, papa jadi lalai. Kamu jangan gitu ya, Brian. Kalau Lita bilang gak apa-apa, tolong peluk dia.”
Hadi menarik napas panjang.
“Kamu bukan sekadar bagian dari hidup dia, Brian. Kamu suaminya, kamu juga rumah buat Lita. Berlaku juga sebaliknya, Lita jadi tempat kamu pulang…”
Brian menatap Hadi lekat-lekat.
Sejak kapan pria tua di depannya ini tak lagi membuatnya emosi?Hadi benar-benar membuatnya terenyuh.Brian mulai berpikir, apa sebenarnya dia ingin menikah? Jika iya, mengapa? Jika tidak, mengapa?
Brian tahu dia tidak semulia itu untuk menikah dengan tujuan menyempurnakan ibadah.
“Iya pa. Brian akan berusaha jagain Lalita.”
Hadi tersenyum tipis. “Semoga kalian rukun sampai maut memisahkan nanti.”
***
Kondisi Hadi berangs
Lalita terdiam. Tubuhnya membeku.Darahnya seolah berhenti mengalir.“Di… Di rumah sakit mana, pak?”“Rumah sakit Harapan, bu Lalita…”Air mata Lalita terjatuh, dan menjawab sesegukan. “Ba… Baik… saya segera ke sana sekarang…”“Kenapa, Lit?” tanya Brian panik.“Papa… Papa kecelakaan… Sekarang lagi ada di rumah sakit Harapan Kalibata…” jawab Lalita.Wajahnya sudah basah dan air mata.“Ayo kita ke sana sekarang…” ucap Brian.Ia mengambil kunci mobil. Mereka berdua bergegas ke parkiran.Brian menginjak pedal gas secepat mungkin.Lalita duduk di samping, tangannya terus bergetar sambil memeluk ponsel.Sampai mereka tiba di rumah sakit, terlihat dokter sedang berdebat dengan Wita dan Citra.“Ada apa ini?” tanya Lalita menghampiri mereka.Dokter
“Dia nggak akan bilang kalau lagi sedih. Dia akan senyum, terus bilang ‘aku gapapa’. Karena dia sering begitu, papa jadi lalai. Kamu jangan gitu ya, Brian. Kalau Lita bilang gak apa-apa, tolong peluk dia.”Hadi menarik napas panjang.“Kamu bukan sekadar bagian dari hidup dia, Brian. Kamu suaminya, kamu juga rumah buat Lita. Berlaku juga sebaliknya, Lita jadi tempat kamu pulang…”Brian menatap Hadi lekat-lekat.Sejak kapan pria tua di depannya ini tak lagi membuatnya emosi?Hadi benar-benar membuatnya terenyuh.Brian mulai berpikir, apa sebenarnya dia ingin menikah? Jika iya, mengapa? Jika tidak, mengapa?Brian tahu dia tidak semulia itu untuk menikah dengan tujuan menyempurnakan ibadah.“Iya pa. Brian akan berusaha jagain Lalita.”Hadi tersenyum tipis. “Semoga kalian rukun sampai maut memisahkan nanti.”***Kondisi Hadi berangs
Lalita berdiri di dapur.Tangan kirinya memegang gelas kopi kosong yang sudah dingin sejak tadi.Tangan kanannya bergetar pelan.“Gila tuh orang…” gumam Lalita.Suara langkah Brian terdengar dari belakang, mendekat perlahan.“Lita…”Lalita tidak menjawab.Pandangan matanya lurus ke luar jendela.Ia bingung bagaimana harus menghadapi Brian.“Lita, aku tahu kamu terganggu…”“Aku nggak terganggu.”Suaranya datar.Brian menahan napas.Ia tahu, itu artinya Lalita sangat terganggu.“Maaf ya, Lit…”Lalita mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa kamu harus minta maaf? Kan kamu bilang kamu gak kasih tahu apa-apa ke dia. Atau jangan-jangan kamu penyebab dia ada di sini?”Brian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.“Beneran
Malam itu berlalu dengan pelan. Brian dan Lalita menjaga Hadi bergantian. Saat cahaya pagi mulai masuk melalui jendela, Hadi membuka mata. Wajahnya terlihat lebih segar. Keringat dingin di dahinya mengering. Warna kulitnya kembali normal.“Pagi," gumam Hadi pelan.Lalita yang juga baru bangun itu langsung tersenyum."Papa gimana rasanya sekarang? Ada yang sakit""Gak ada. Demamnya juga udah lewat," jawab Hadi.Hadi pun memegang keningnya sendiri. Memang sudah tidak panas lagi.Di tengah percakapan itu, Brian datang membawa segelas air hangat. “Minum dulu, pa. Papa bener-bener bikin kita deg-degan semalaman.”Hadi hanya tertawa kecil. “Ternyata nginep di kabin seru juga. Dapet bonus drama sakit juga.”***Suasana kabin kembali hangat. Lalita memasak bubur, Brian membuat kopi. Hadi duduk di sofa dengan selimut, masih lemas tapi jauh lebih baik.Semua terasa damai… Sampai
Suara Brian terdengar putus di ujung telepon. Ia menatap layar ponsel dengan rahang mengencang."Gimana?" tanya Lalita cepat."Dokternya dalam perjalanan. Tapi katanya hujan deras banget di bawah. Jalanan licin dan ada beberapa titik longsor kecil. Mereka butuh waktu buat naik ke sini."Lalita menatap ayahnya.Tubuh Hadi kini terlihat menggigil, meskipun suhu tubuhnya masih tinggi."Kita nggak bisa nunggu gini aja, Brian..." gumam Lalita."Iya. Kita harus turunin demamnya sekarang juga."Mereka langsung bergerak.Lalita berlari ke kamar mandi, membasahi handuk kecil dengan air hangat. Sementara Brian mencari kotak P3K dan mengambil parasetamol dari dalamnya."Ini," ujarnya, menyerahkan obat itu pada Lalita.Hati-hati, Lalita menyentuh pipi ayahnya."Pa... buka mulut sebentar ya..." bisiknya.Hadi menggeliat pelan. Kesadarannya seperti terapung—tak sepenuhnya bangun, tapi juga tak sepenuhn
Lalita tersenyum miring. "Ini camping versi Papa. Aman, bersih, dan ada air panas.""Lebih tepatnya camping versi kamu," sahut Hadi sambil melirik sekilas. "Kamu mana mau diajak wisata alam beneran, kayak naik gunung. Satu-satunya cara ya cuma gini biar kamu mau ikut.""Heheee... Papa memang paling tahu aku deh! Makasih, papaaa..."Lalita memeluk Hadi erat. Hangat, manja, seperti anak kecil yang menolak dewasa.Setelah itu mereka mulai membagi tugas.Hadi menyeduh kopi dari biji kopi yang ia bawa sendiri dari rumah. Aromanya benar-benar memenuhi seluruh kabin.Brian sendiri membuka pintu kaca balkon, membiarkan angin menyusup masuk.Sementara itu, Lalita membuka koper, menyusun barang-barang pribadinya satu per satu.Cuaca hari ini sedikit mendung. Kabut tipis mengitari langit. Cahaya matahari yang terlihat malu untuk keluar itu menciptakan nuansa yang menenangkan.Bahkan terlalu tenang... Dan hari yang terlalu tenang sering kali jadi pertanda datangnya badai.Saat mereka dud