MasukLalita memergoki sang tunangan berselingkuh dengan adik tirinya. Sayangnya, tidak ada seorang pun mempercayai gadis itu, kecuali... Brian. Teman masa kecilnya itu mendadak datang dan menawarkan bantuan untuk membalas dendam--dengan 1 syarat: menjadi istrinya selama 24 bulan. Akankah Lalita menerima penawaran Brian?
Lihat lebih banyakIt wasn’t the alarm that woke me up, nor the bright summer sun touching my window, but Steph stirring by my side. Like my body still needed to make up for the long separation, that was enough of a trigger and I found myself squinting in the light that flooded our bedroom, my hand cupping that gorgeous buttocks of hers. It took me about two seconds to roll over and stick to her back. A muffled sigh escaped her lips against the pillow when my morning wood brushed her panties. Why did she have to sleep with her clothes on?
I bit her shoulder softly, my fingers pulling her panties down and out of the way. One of my legs covered hers, bringing my cock to brush her inner thighs. A delicious jerk made it wag, eager to dive into the warm gap that lay just inches away. I didn’t need my hand to guide it. The first trace of moisture seemed to pull from my hips, that launched my cock to brush her groin and find its way in on its own.
Her flesh welcomed me and my breath grew heavier, pushing all the way in. She let out another muffled sigh as my hand sneaked under her sleeping top. I didn’t care about style. I rocked my hips against her butt, lost to the awesome sensation of waking up like that, and moved my hand up under the tight cotton fabric of her top.
Steph arched slightly, making me moan. She’d just cleared my way to reach deeper in, and at the same time brought her breast to fill the palm of my hand. I grabbed it, my fingers pinching and teasing her hardening nipple. Gosh, it felt great. She felt great. I rocked and pushed, thrusting faster, until my whole crotch was on fire.
I humped harder, squeezing her breast in my hand and her buttocks against my hips. I felt her wriggle underneath me. I knew what that meant: she’d found the right way to rub her clit against the mattress and the bed sheets, matching my rocking. Oh, man, she was out of this world. I went for the last stretch, her muffled moaning like music to my ears, thrusting into her until my guts were twisting and my nuts ached and my hips couldn’t push any further. We came together a moment later and I crumbled down on top of her back, sweaty and panting, my throbbing cock buried deep inside of her and refusing to retreat.
“I love you,” I mumbled in her ear, not even knowing if she was listening and not caring either. I could never grow tired of this, of waking up to her, to her body.
Her awful alarm startled us, as she tried to extract her face from the pillow to murmur, “Me too.” Because she did. She loved me. But the alarm had just left us out of time. She patted my leg and lifted her head an inch.
“C’mon,” she managed to say, as agitated as I was.
I pulled out of her reluctantly and flopped myself flat on the mattress, my chest pumping for air. She turned her head to meet my eyes and smile. I would’ve kissed her, but she wouldn’t let me until both of us had brushed our teeth. She was okay with my morning quickies, but overnight bad taste was a no-no with her.
“First for the shower,” I muttered.
“First shower makes breakfast,” she replied with a wink.
Her hand landed on my chest and slid down my sweaty skin. I would’ve jumped her bones again right then and there, but I was not a teen anymore. About to turn twenty-five, I needed some fifteen minutes to jump-start my junk. She knew, of course. That was why she teased me like that.
I bent an arm behind my head to watch her get up. She crossed the room in no hurry, taking her panties and her sleeping top off on the way to the bathroom and dropping them on the carpet, like a diva of old dropping a glove for some handsome gent to pick up. Well, maybe I could get a second round for breakfast, if I didn’t take long in the shower.
However, it didn’t matter that I showered in record time, because I found her already dressed and on the phone, moving all over the kitchen to make breakfast while she cleared her boss’ early questions. We pretty much had breakfast with him, as they went over all the possible issues that could come up during the virtual hearing he was joining in an hour.
Before I could even touch her leg, it was ten to eight and my phone buzzed. My ride was two streets away. Steph asked her boss for a minute and walked me to the door like she did every morning. She kissed me goodbye, helped me wear my mask and sent me on my way, whishing me a good day.
If only I knew that would be our last ordinary morning.
The van was pulling over by the curb when I walked out of the building. It was an eighteen-seat shuttle, but social-distancing rules dictated it could only carry ten passengers. Good thing I lived far enough from work to be among the firsts to get on it, so I could always pick my seat.
I nodded hi at the others and sat on the third row by the window, as usual. The swab waited for me in a sealed bag on the empty seat by mine. I pulled my mask down to rub the inside of my mouth with it and dropped it back into the bag, right when the man in charge of the rapid tests came to pick it up. His portable device would have the results before we got to the campus, in order to be granted access to it.
My job as junior IT offered me the option of working from home, but I’d declined it. Steph worked from home ever since one of the senior attorneys of the firm had tested positive, and she was like a frigging twister, making calls while she cleaned the apartment and changing places every five minutes to type her countless documents. Too much of a distraction to have around. Not to mention that after the last three years, I took every chance I had to be out and about. I’d already had enough of being locked up.
“Hari ini mau jalan-jalan atau di sini aja?” tanya Brian sambil duduk di sisi ranjang.Ia membawa makanan dan menyuapi Lalita perlahan. Seharian ini Lalita hanya berbaring, ia tidak sanggup berjalan.“Di sini aja…” jawab Lalita lirih. “Masih sakit.”Brian langsung menyentil kening istrinya. “Nah, tuh kan! Apa aku bilang. Bandel sih.”“Ya… lagian kamu kok bisa tahu aku bakal kesakitan seharian?” protes Lalita, cemberut.Brian meletakkan piring di nakas, lalu mencondongkan tubuhnya, mencium bibir Lalita dengan lembut. “Karena kamu baru pertama kali. Dan aku juga paham betul sama diriku sendiri—aku pasti susah ngerem kalau udah sama kamu. Siapa suruh kamu terlalu cantik.”Brian kembali mencium bibir istrinya, memeluk dan kemudian meraba tubuh Lalita.“Yan…” Lalita pun menyingkirkan tubuh besar suaminya. “Bibir aku nanti bengkaakkkk…” rengek Lalita.Brian hanya tersenyum dan berbaring di sebelah Lalita, “Hari ini mau ngobrol aja?”“Hmmm…”Lalita menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia menin
Lalita terkekeh kecil, lalu tanpa ragu menghapus aplikasi kencan itu tepat di depan Brian.“Nah. Beres,” ucap Brian begitu melihat aplikasinya sudah tidak terinstall di ponsel Lalita.Brian menyipitkan mata, lalu menatap cincin di jarinya. “Tapi… kok cincin nikah aku bisa ada di kamu?”Brian merasa bodoh baru menyadari bahwa cincin nikahnya tidak ada.Wajah Lalita pun langsung berubah. “Dibuang Diana lah!” sahut Lalita ketus.Brian mengernyit. “Kok aku nggak sadar, sih?”“Ish! Mana aku tahu,” Lalita mendengus. “Waktu itu kamu kan sempat kecintaan sama dia. Habis itu hidup kita isinya dar der dor semua. Mana mungkin kamu masih inget soal cincin.”Jujur saja Lalita memaklumi itu. Hidup mereka saat itu bagai roller coaster.Brian terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil. “Kalau gitu, sekarang aku janji bakal selalu pakai cincin ini. Tapi aku
“Mungkin banget,” ucap Brian mantap. “Aku masih suka sama kamu.”Dan kayaknya kedepannya juga bakalan tetep kamu – batin Brian.Lalita mendongak. Meski hatinya berbunga-bunga, tetap saja otaknya menolak percaya.“Aku gak kamu jadiin pelarian kan?”“Maksud kamu aku jadiin kamu pilihan terakhir karena gak dapet cewek yang aku mau gitu?” tanya Brian tak percaya. Matanya bahkan membesar, dan menggeleng sejenak.Lalita hanya mengangguk dengan polosnya.“Gak ada yang kayak gitu, Lita. Bukan kamu yang akan jadi pelarian, yang ada cewek lain jadi pelarian aku karena gak bisa dapetin kamu. Tapi, aku gak berniat jadiin siapapun pelarian karena yang aku mau cuma kamu. CUMA KAMU,” tegas Brian.Lalita masih terdiam.Brian sendiri mulai frustasi di titik ini. Mengapa Lalita tidak kunjung percayaaa? Harus bagaimana agar wanita ini yakin?Pria itu kembali menghembuskan nafas panjang perlahan.“Aku tahu kalau aku masih suka kamu karena aku masih cemburu setiap lihat kamu sama cowok lain. Gak ada tuh c
Begitu tiba di kediaman Hadi, Brian kembali mengulang kalimat yang sejak tadi membuat kepala Lalita terasa berisik.Jika Lalita setuju, Brian ingin menikahinya—lagi.Hadi yang sedari tadi asyik menonton yutub di smart TV langsung hilang fokus, matanya membulat, rahangnya sedikit menganga.“Ehhmmm… e-ehhhmmm…” Ia berdeham canggung. “Oke… jadi kamu ceritanya lagi lamar anak om.”Hadi menatap Brian dari ujung kepala sampai kaki. “Tapi kenapa buru-buru banget? Kamu baru pulang dari Korea, sapa om sebentar, terus langsung lamar anak om. Lita-nya juga kayaknya kaget banget. Kalian kan bisa mulai lagi pelan-pelan.”Lalita memang masih mematung.Mendengar itu, Brian menoleh pada Lita, tatapannya lurus dan lembut, tanpa ragu sedikit pun.“Saya tadi udah bilang sama Lita, om. Kalo saya gak cepet lamar dia, nanti dia diambil orang.”Brian menghembuskan nafas panjang. “Saya cinta sama Lita, om. Mau berapa lama pun waktu yang udah lewat, atau banyaknya tempat yang saya singgahin, saya selalu keing
Rasanya… benar-benar menyeramkan.Diana bisa merasakan kelelahan yang menyelimuti Brian hari ini. Tatapan pria itu kosong, rahangnya mengeras, nafasnya berat—setiap suara yang masuk ke telinganya adalah beban tambahan.Brian jelas tidak ingin diganggu. Tidak hari ini. M
“Lepasin, pa!”Sabrina menepis kasar tangan suaminya yang mencoba menenangkan.Wajahnya merah padam, matanya melotot penuh amarah, nyaris meledak kapan saja. Suasana ruang tunggu rumah sakit menjadi tegang seketika.“Pu...lang. Kamu harus pulang sekarang...” ucapnya dingin pada Brian, nyaris mengge
Brian merasa kepercayaan dirinya hancur seketika. Dia adalah Direktur Operasional Wiguna—sosok penting yang seharusnya mampu mengarahkan laju bisnis perusahaan.Namun, satu kalimat dari Sabrina saja cukup untuk meruntuhkan keyakinannya. Cukup untuk mempertanyakan eksistensi dirinya di
Lagi-lagi pagi Brian hancur sebelum benar-benar dimulai.Dadanya masih sesak mengingat pertemuannya dengan Lalita kemarin—tatapan singkat yang bahkan tak sanggup ia ubah menjadi sapaan.Belum sempat luka itu mengering, hari ini semesta seolah sengaja menaburkan garam di atasnya.Sabrina dan Diana












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan