LOGIN"Hei, kenapa diam saja? Ayo masuk!"
Suara lembut Aziz menyentakkan lamunan Alena yang sempat terpaku di ambang pintu koridor lantai satu.
Alena mengerjapkan mata, menyadari bahwa ia telah berdiri mematung selama beberapa detik menatap deretan pintu di hadapannya. Pelukannya pada Arka semakin erat, seolah bayi itu adalah satu-satunya jangkar yang m
"Tapi Mas Jimmy benar, Mas. Kamu memang enggak pernah melamarku secara romantis," ucap Alena lirih, memecah keheningan yang sempat menggantung setelah kepergian Jimmy yang terburu-buru. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Jimmy baru saja pamit dengan wajah kikuk, membawa serta aura canggung setelah tanpa sengaja memantik api dari masa lalu yang sensitif. Sementara kini Alena memperhatikan Aziz yang masih berdiri mematung di dekat meja kerja. Napas suaminya masih sedikit memburu, rahangnya terkatup rapat, sisa dari pembelaan emosional yang baru saja ia lontarkan di depan Jimmy. Ada rasa bangga sekaligus haru yang merayap di hati Alena. Ia tidak menyangka bahwa Aziz akan sebegitu tersinggungnya saat sejarah pernikahan mereka dianggap remeh. Meski dimulai dengan kata terpaksa, Aziz seolah menegaskan bahwa proses setelahnya adalah sesu
Tangisan Arka pecah, melengking tinggi bersahutan dengan isak tangis Alena yang tidak lagi bisa dibendung. Pertahanan yang ia bangun selama sebulan ini runtuh seketika melihat kemeja Aziz yang terbuka dan barang-barang wanita yang berserakan di sofa. Di mata Alena, ruangan ini bukan lagi kantor suaminya, melainkan bukti nyata dari pengkhianatan yang paling rendah.“Sayang, tenang dulu ya. Aku bisa jelasin,” Aziz mencoba mendekat dengan tangan gemetar.“Apa, hah?? Apa yang mau kamu jelasin, Mas?” jerit Alena pilu. “Sepatu ini? Pakaian ini? Atau kemejamu yang terbuka itu?” Tepat saat ketegangan itu berada di puncaknya, pintu jati besar itu kembali terbuka. Seorang pria bertubuh tegap masuk dengan wajah ceria sembari menenteng sekotak cokelat mewah. Namun, langkahnya terhenti seketika melihat Alena
Satu bulan telah berlalu sejak kepulangan Alena ke rumah itu. Perlahan namun pasti, Alena mulai menata kembali kepingan otoritasnya yang sempat tercerai-berai. Ruang makan kini kembali beraroma masakannya, dan setiap sudut rumah mulai memancarkan kembali seleranya yang lembut namun tegas. Pukul sebelas siang, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, namun suasana di dapur Alena terasa sejuk. Ia baru saja selesai menata kotak bekal mewah berisi nasi daun jeruk, empal gentong, dan sambal goreng ati kesukaan Aziz. Hari ini, Alena memiliki rencana spesial. Ia ingin memberikan kejutan makan siang ke kantor suaminya, sesuatu yang sudah lama sekali tidak ia lakukan. Alena berdiri di depan cermin besar di lorong, merapikan gamis berwarna pastel yang ia kenakan. Kerudung senadanya
"Angkat saja. Nyalakan pengeras suaranya," kata Aziz sambil tersenyum penuh arti. Ia bisa merasakan tubuh Alena yang seketika menegang di dalam dekapannya. Aziz tahu bahwa istrinya kembali merasa tidak nyaman, sebuah naluri pertahanan yang wajar muncul setelah kejadian di meja makan tadi pagi. Ia ingin membuktikan sesuatu, ingin menunjukkan bahwa tidak ada rahasia yang ia sembunyikan di balik layar ponsel itu."Enggak ah. Kan hape Mas yang bunyi," sewot Alena. Ia membuang muka, mencoba mengabaikan getaran ponsel yang seolah-olah sedang menggedor pintu privasi mereka yang baru saja kembali rekat."Angkatlah, Sayang. Biar kamu dengar sendiri," rayu Aziz lembut, sambil menyodorkan ponselnya ke tangan Alena. Alena akhirnya menurut meski dengan bibir yang sedikit mengerucut. Ia menyentuh tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara. Seketika, suara Sandra yang menggebu-gebu memenuhi kesunyian kamar yang masih hangat itu."Mas, aku baru saja telepon pihak perwakilan
Keheningan yang pekat mendadak jatuh di antara mereka, menelan sisa-sisa gema suara Aziz yang baru saja meninggi. Alena terdiam, napasnya masih memburu kecil, namun matanya yang tadinya tajam kini mulai melunak oleh rasa bersalah yang merayap. Di sisi lain, Aziz berdiri mematung, menatap istrinya dengan gurat penyesalan yang mendalam karena telah kehilangan kendali atas emosinya. Detik demi detik berlalu hanya dengan suara detak jam dinding yang seolah mengejek kekakuan mereka. Sampai akhirnya, bibir keduanya bergerak hampir secara bersamaan, memecah kesunyian dengan satu kata yang sama."Maaf..." Mereka tertegun sejenak, saling menatap dengan mata yang berkaca-kaca. Tanpa perlu aba-aba lagi,
Udara di kamar yang baru saja direnovasi itu terasa begitu pekat, seolah-olah memori tentang Aksara dan kehadiran Arkananta sedang berebut ruang di sana. Aziz tidak memaksa Alena untuk langsung berdiri. Ia tetap membiarkan dirinya terduduk di lantai kayu yang dingin, mendekap erat tubuh istri dan anaknya dalam satu pelukan protektif. Aziz membenamkan wajahnya di rambut Alena, menghirup aroma tubuh istrinya yang sangat ia rindukan itu."Maafkan aku, Len," bisik Aziz parau, nyaris tak terdengar. "Aku sungguh minta maaf. Aku pikir dengan mengganti semuanya, aku bisa memberimu awal yang baru. Aku tidak menyadari kalau bagi kamu, setiap jengkal lantai ini masih berdarah."Alena menggeleng pelan dalam dekapan suaminya, jemarinya masih mencengkeram kemeja Aziz. "Bukan salahmu, Mas. Hanya saja... aku belum siap melihat Aca benar-benar tidak ada di sini.""Aku bodoh karena menganggap renovasi bisa menghapus luka," sesal Aziz lagi, suaranya bergetar. "Aku seharusnya bert
Alena diam sebagai jawaban. Ia tidak menggeleng, tidak mengangguk. Pandangannya lurus ke depan, menembus lorong rumah sakit yang masih dipenuhi lalu-lalang orang dengan wajah lelah. Diamnya bukan bentuk penolakan, juga bukan perse
Sementara itu di kantin rumah sakit. Alena berdiri di depan mesin kopi terlalu lama. Tangannya menekan tombol yang sama dua kali tanpa sadar. Gelas kertas itu terisi penuh, uap tipis naik perlahan. Ia menatapnya sejenak, lalu berjalan menjauh tanpa menyesap setetes pun. Kopi
Aziz terbangun bukan oleh suara mesin medis, melainkan oleh tatapan sang putri. Zizi duduk di kursi dekat jendela, seragam sekolahnya sudah rapi, tas sudah tergantung di bahu. Wajahnya tenang, tapi matanya terlalu awas untuk ukuran anak yang pura-pura santai.“Papa pura-pura tidur ya?”
Pagi harinya di rumah sakit. Lampu-lampu koridor menyala terlalu terang, langkah sepatu terdengar terlalu jelas, dan bau antiseptik menempel di hidung lebih lama dari yang seharusnya. Seolah tempat itu menolak memberi ruang







