登入Kecelakaan tragis membuat Selina yang tengah mengandung tak sadarkan diri hingga koma begitu lamanya. Dan di saat penantian itulah, Aldi menemukan sebuah diari milik istrinya. Diari yang berhasil merubah hidup Aldi dan mencabiknya begitu dalam..
查看更多"Nih, nyusahin banget kamu ini!"
Selina meringis ketika Aldi melempar sepiring mie goreng ke hadapannya. Persis mengenai perutnya yang mulai membukit. "Jangan mentang-mentang hamil kamu jadi manja! Aku nggak suka, Selina! Aku ini suamimu bukan pembantu. Harusnya aku yang kamu layani bukan malah kebalikannya!" Gerutu Aldi tanpa henti. Saking kesalnya ingin sekali ia meludahi mie goreng tersebut. Selina hanya tertunduk diam. Perlahan dia bangkit dari tidurnya dan membersihkan tumpahan mie yang mengenai baju dan perutnya. Panas sekali.. Selina sampai merasakan nyeri di tubuhnya. Tapi yang lebih sakit adalah ucapan suaminya, Aldi yang begitu mencabik isi hatinya. Kandungan Selina baru berusia 5 bulan. Dan selama ini juga Selina banyak keluhan. Mual muntah tanpa henti, pusing, lemas dan belum lagi kontraksi ringan yang menyebabkannya harus bedrest total. Bukan maksud Selina untuk bermalas-malas. Tapi keadaan yang tengah memaksanya. Selina sendiri meminta pengertian dari suaminya. Tapi sepertinya Aldi tak pernah mau mengerti. "Sudah menikah surgamu itu pindah kepadaku. Suamimu! Ini kenapa surgamu malah sibuk melayanimu??" Aldi kembali mengoceh tanpa henti. Jika sedang begini maka paham agama patriarki yang ia anut akan menjadi bahan cercaannya. Istri itu harus tunduk pada suami. Cukup di rumah saja tak perlu bekerja. Layani suamimu. Tapi semenjak Selina hamil, dunianya berputar. Selina yang biasanya rajin jadi pemalas dan hanya berbaring saja. Dia yang biasanya memasak jadi tak pernah menyentuh kompor. Rumah yang biasanya rapi jadi tak terurus. "Kalau gini aku menyesal menghamilimu. Harusnya kamu nggak usah hamil kalau cuma bisa nyusahin aja!" Dongkol sekali Aldi dibuatnya. Tanpa berpamitan, Aldi main pergi saja keluar dari rumah. Meninggalkan Selina yang terpekur sedih sendirian. Sambil menyesapi mie gorengnya, air mata Selina mengalir diam-diam. Wanita ini berusaha keras menahan isakan yang keluar dari mulutnya. Hampir 1 tahun menikah, tak pernah didengarnya Aldi bermulut manis kepadanya. Tak pernah! Setiap hari Aldi selalu memarahinya. Membentak bahkan mengeluarkan kata yang menyakiti hatinya. Mau sebaik dan sesempurna apapun Selina mengejarkan tugasnya sebagai seorang istri. Tetap saja tak bisa mengambil hati Aldi. Kalau begini kenapa harus Selina yang dilamarnya? Padahal Selina berpikir jika Aldi adalah pria yang tepat untuknya. Pria yang terlihat sholeh, tenang dan berkepribadian baik. Namun ternyata, itu hanya tameng belaka. **** "Mana Selina?" Tanya Husna ketika anaknya berkunjung sendirian. "Di rumah." Jawab Aldi mengambil tempat duduk. Kepala pria ini lalu disenderkan di sofa sembari menghela nafas berat. "Coba mama ajari Selina gimana jadi istri yang baik. Di rumah kerjaannya cuma malas-malasan aja!" "Malas-malasan gimana?" "Iya. Cuma tiduran aja! Alasannya karena mual lah! Pusing lah! Sekarang katanya pinggangnya sakit!" "Harusnya kamu maklum, nak. Istrimu kan sedang hamil." Sahut Husna berusaha bijak. Aldi menggeleng cepat. "Jangan jadikan kehamilan sebagai alasan untuk tidak melayani suami! Dosa, ma!" "Ya sudah, nanti mama nasehatin." Jika Aldi sudah mengeluh begini maka ada baiknya Husna akan turun tangan. Sore menjelang, Husna benar-benar datang ke rumah anaknya. Kali ini sendirian karena Aldi yang sepertinya ogah pulang. Sesampainya disana, Husna menemukan Selina yang berbaring di kamarnya. "Pantes aja Aldi nggak betah di rumah. Kerjaanmu cuma di kamar aja." Seru Husna menatap tajam. "Lihatlah rumahmu ini udah seperti kapal pecah. Cucian piring menumpuk. Sampah belum dibuang! Mau kamu jadikan apa rumah ini?" Selina sontak menoleh karena mendengar suara menggelegar itu. Ia pun beringsut bangun dengan perlahan. "Ada, mama. Maaf, ma.. perutku sakit." Jawab Selina lemah. "Jangan dijadikan alasan, Selina! Sekarang bangun dan bereskan semuanya." Perintah Husna. Selina akhirnya bangkit dari tidurnya. Tertatih-tatih dia berjalan keluar dari kamar sembari memegang perutnya yang kram. Ia mulai mengambil baju kotor yang berada di ruang tamu dan membawanya ke mesin cuci. Begitu juga sapu yang ditugaskan membersihkan seluruh sudut ruangan. Selesai disana, Selina mencuci piring yang sudah menumpuk di washtafel. Begitu juga kotak sampah yang terlihat menggunung dibawanya keluar rumah. "Mama dulu hamil tapi nggak banyak keluhan kayak kamu, Selin!" Seru Husna menghakimi menantunya. Ia berdiri dan memandang Selina yang tengah membersihkan rumah sambil menyilangkan tangan di dada. "Kamu itu terlalu manja! Harusnya kamu mikir kalau ada suami yang harus kamu urus!" "Iya, ma.." jawab Selina tersendat. Kepalanya sudah berat sekali. Belum lagi perutnya yang kram. "Kan enak kalau lihat rumah bersih!" Husna tersenyum senang. "Sekarang mama akan hubungi Aldi." Husna segera menghubungi putranya. Menantunya yang pemalas ini baru saja diberikannya pelajaran. Mendengar rumah yang katanya sudah dibersihkan membuat Aldi pulang ke rumah. Walau sebenarnya ia malas. Bagaimana tidak? Selina sudah kehilangan semua cahayanya. Wajah yang dulu mulus tanpa cela kini terlihat kusam. Mata yang dulu selalu berbinar menjadi sayu. Entah karena faktor kehamilan, Aldi juga tak tahu. Intinya dia sudah kehilangan selera terhadap istrinya. Apalagi ucapan dokter kemarin membuatnya kesal. Selina tak boleh disentuh dulu sampai kandungannya kuat.. Astaga! Kalau begini Aldi tak bisa memberikan nafkah batinnya. Sebab itulah emosinya selalu memuncak ketika melihat wajah istrinya. Tinggalkan dulu masalah itu, sekarang Aldi harus pulang ke rumah. Hari mulai malam dan besok pagi dia harus bekerja lagi. Kebetulan Aldi adalah dosen dari universitas ternama. Dia berhasil menyelesaikan Magisternya di usia 25 tahun dan diberi kesempatan untuk mengajar disana. Sesampainya di rumah, Aldi menyapu sekeliling dengan pandangannya. Rumah sudah rapi tapi... meja makan kosong. Aduh! Perut Aldi padahal sudah keroncongan. Ia pun bergegas masuk ke kamar dan membangunkan istrinya. "Ya ampun, Selina! Kamu tidur lagi??" Bisa-bisa Selina kena serangan jantung juga karena nada kemarahan suaminya. "Mana makan malamnya! Aku lapar!" Bentak Aldi kesal. Sembari menahan kram perutnya, Selina bangun dengan perlahan. Ia pergi ke dapur dan menyentuh kompor untuk pertama kalinya. Tak ada stok makanan di kulkas, Selina memutuskan untuk membuat nasi goreng saja. Saat menumis bawang, Selina menahan mualnya yang amat sangat. Aroma tumisan ini membuat perutnya bergejolak. "Sudah belum, Selin? Lama banget!" Seru Aldi yang sudah duduk manis di kursi makan. "Tunggu sebentar." Jawab Selina serak. Satu piring nasi goreng sudah disiapkan. Selina membawanya ke arah suaminya. Namun, saat sedang berjalan ke meja makan. Selina merasakan ada sesuatu yang keluar dari bagian bawahnya. Tak lama pandangan Selina berubah gelap. Piring yang ia bawa terjatuh begitu saja.Selina tertegun sesaat memandangi dua wanita dan satu pria yang ada di hadapannya. Ia ingin menolak kehadiran tiga orang ini. Terlebih mereka lah yang menghancurkan nama baik Rama dengan mengajukan gugatan tak berdasar. Namun tatapan memelas dari ibu paruh baya ini tak bisa di tolaknya. Ia pun mengangguk pelan. "Tunggu sebentar, ya." Ujar Selina ramah. Ia kembali masuk ke dalam sementara keluarga Anggia menunggu diluar. Mereka mengerti jika kedatangan mereka pasti mengejutkan. "Ada siapa, Selina?" Tanya Rama. "Mas Rama.. Pak Taufan, bu Mala.. ada keluarga Anggia di depan." Rahang Taufan langsung mengeras. Saat ia ingin berdiri, Mala menahan lengan suaminya. "Biarkan saja, pa." Ujar Mala lembut. "Mau apa lagi mereka, ma? Apa kamu nggak ingat bagaimana mereka memfitnah Rama! Lagipula mereka sudah mendapatkan uang kompensasi, kan??" Taufan jadi emosi. "
"Papa!!!" Aulia masuk ke dalam ruang rawat sambil berlari. Tubuhnya mulai menggembul. Semakin imut dengan gamis berwarna merah dengan hijab instan yang sama. Saat melihat Rama, anak ini berlari dan merentangkan tangan. Rama sampai turun dari tempat tidur untuk meraih putrinya. "Halo, sayang!" Aulia ditangkap oleh Rama dalam pelukannya. Anak ini memanjat perut hingga membuat Rama sedikit nyeri. Namun ia tertawa karena Rama mencium pipinya. "Astaga, Aulia!" Mata Selina sampai melotot. Ia berlari untuk mengambil Aulia dalam pelukan Rama. "Aduh, hati-hati, nak. Papa belum sembuh!" Selina menurunkan Aulia dan membantu Rama naik ke tempat tidur. "Perutmu sakit, mas?" Tanya Selina khawatir. "Nggak, kok!" Jawab Rama tersenyum. Aulia masih berjinjit minta di gendong, namun Selina meraih putrinya itu dan beralih pada Mala dan Taufan. Setidaknya anak ini harus
Sore ini, Raymond menjadi pemberitaan nasional. Kasusnya melejit. Baik dari pelecehan, penyerangan hingga rencana pembunuhan. Dan satu lagi.. penipuan. Para investor yang menjadi korban dari investasi bodong Raymond akhirnya ikut bersuara. Dimana mereka mengalami kerugian sampai miliaran rupiah. Tak sampai disitu, mereka pun sempat diancam jika berani melawan maka nyawa adalah jaminan mereka. Dan sekarang, tamatlah sudah riwayat Raymond. Bahkan ayahnya yang pernah menjadi menteri pun tak dapat berkutik karena kumpulan kejahatan yang dilakukan oleh putranya. Rangga juga sudah menunjuk pengacara untuk menangani kasusnya. Sekarang tinggal menunggu masa pemulihannya saja. "Satu per satu masalah kita selesai.." Mala bernafas lega. Ia lalu mematikan tayangan di televisi. Rangga diam seribu bahasa. Ia malu bersuara. Ibarat jatuh, Rangga juga tertimpa tangga. Semua masalah ini terjadi karena keserakahannya.
Rangga dioperasi cito. Hanya ada Mala yang menunggu pria itu sampai keluar ke ruang observasi. Setelah sadar penuh, Rangga dipindahkan ke ruang super VIP. Dimana sudah ada Rama terlebih dahulu yang menjadi penghuninya. Rangga mulai tersadar dimana ia berada. Ketika ia membuka mata.. Rangga tersentak setelah mendapat tatapan tajam dari Taufan. "Papa..." Rangga lalu menoleh ke sebelah kiri. "Mama..." Tak hanya itu, ia juga menoleh ke sebelah kanan rupanya ada Rama yang masih terbaring di tempat tidur dengan Selina di sisinya. "Rama.." "Untung saja kamu masih hidup. Setidaknya kamu bisa memberikan keterangan pada pihak kepolisian mengenai kecelakaanmu." Ucap Taufan datar. Rangga mengerjap. Ia berusaha menggerakan kakinya yang nyeri. Namun, ia tersadar jika kakinya telah dibungkus sesuatu. "Jangan banyak bergerak, nak. Kaki kananmu patah." Ucap Mala lembut. Bagaimanapun Rangga ini ad
Aldi sudah terhukum jika dia menyadarinya. Ia terpisah dari istrinya yang setia. Terpisah dari putri yang sudah membuka jendela hatinya.Aldi ingin marah, menuntut semua orang yang memisahkan dirinya dengan Selina dan Alina. Tapi apa Aldi masih memiliki hak akan itu? Sedangkan dia saja t
"Semuanya dalam keadaan normal. Tidak ada masalah."Aldi terheran-heran akan keadaan anaknya. Padahal dia sudah terkejut setengah mati karena Alina mengalami demam. Tapi dokter Fiona bilang bahwa tak terjadi masalah pada anaknya."Tapi anak saya masih demam, dok.." ujar Aldi tak
"Apa? Pengasuh untuk Alina?" Dahi Aldi sampai mengkerut-kerut. "Iya. Abisnya lama banget kamu nyari pengasuh untuk anakmu itu! Bisa-bisa mama kena stroke duluan!" "Siapa dia?" Tanya Aldi. Husna berdeham. "Yaya." Aldi terlonjak kaget. "Ap
Aldi tersenyum miring setelah mendapat kabar dari pengacaranya, Sandi. Setelah itu, pria ini membuka ponselnya. Saat melihat media sosial, skandal pelanggaran rumah sakit Berlian menjadi trending nomor satu.Dua perawat sudah dipecat karena kejadian ini. Dan dokter lainnya berinisial R s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論