Share

7. Lelaki Beroda Dua

“Rupanya Lu malingnya! Ayo, bangun!” Bima menarik kasar Siti, wanita aneh bertubuh langsing layaknya wanita muda tapi berwajah tua. “Wah, memang harus diberi pelajaran! Kenapa lu nyuri?!”

Siti tidak menjawab, dia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan orang asing, apa gunanya? Melihat Siti diam saja, Bima merasa diremehkan. “Bukannya jawab! Lu tuli?!” hardik Bima, sebelah tangannya terangkat untuk memukul Siti. Tapi begitu mengingat dia perempuan, apalagi melihat luka-luka pada wajahnya, Bima menjadi tidak tega. “Gue tanya sekali lagi, kenapa lu nyuri?!”

“Lapar! Saya lapar!” jawab Siti sambil membelalak.

“Yang lu curi bukan makanan tapi perhiasan.” Untung perhiasan itu sudah dikembalikan warga pada pemiliknya dan si pemilik tidak membuat laporan lebih lanjut. Sayangnya Bima merasa perlu mengamankan pencuri seperti Siti yang mungkin akan berulah lagi.

“Saya mencuri ya karena untuk ditukarkan  makanan!” Perempuan itu memegang perutnya, Bima yakin dia memang kelaparan. Untuk apa juga Bima menanyakannya, orang mencuri sudah pasti kepepet dengan kebutuhan. Bima tidak banyak bertanya ingin segera membawa Siti ke kantor polisi. Namun ketika dia membonceng gadis yang sedang mengerang kesakitan itu di motor, timbullah rasa iba. Motornya berbelok ke klinik. Sepertinya gadis itu perlu bantuan medis.

“Rusuknya enggak ada yang patah kan?” tanya Bima pada dokter yang memeriksa Siti.

“Enggak ada sih Pak. Nenek ini masih sehat,” balas sang dokter.

“Saya bukan nenek-nenek!” bantah Siti cenderung sinis. Biarpun wajahnya buruk rupa tapi sifat arogan sebagai putri Champa masih ada, dan Siti tidak suka dihina.

“Oh maaf saya enggak tahu Bu,” balas si Dokter menahan tawa yang malah semakin memancing ke tidak sukaan Siti padanya.

“Saya juga bukan ibu-ibu!”

“Berapa memang usia kamu?” tanya Bima, semula dia memang menyimpulkan Siti bukanlah sumuran nenek-nenek seperti yang orang kira. Mungkin sekilas seperti itu, tapi dilihat dari postur tubuhnya, Bima meyakini prediksinya.

“Saya, dua puluh tahun.”

Dokter menyentuh wajah Siti. Meniliknya saksama meski Siti kerap memalingkan wajah. “Progreria Pak. Apa penyakit penuaan dininya mau saya rujuk ke rumah sakit besar?”

“Enggak usah. Cukup obati memar-memarnya saja.”

Setelah dari klinik, sebetulnya Bima ingin segera memasukkan Siti ke dalam sel. Namun entah mengapa dia jadi kasihan lagi. Mungkin karena alasannya mencuri tadi malah membuat Bima terenyuh. Apalagi sejak tadi Siti terus memegangi perut pertanda menahan lapar. Bima pun berhenti di depan warteg. Siti bertambah bingung sebenarnya mau dibawa ke mana dia. Saat Bima terlihat memilih-milih makanan dari etalase, Siti kian menelan ludah. Siti mengira hanya Bima yang makan jadi dia cuma duduk di sudut sambil menopang dagu membuang wajah.

“Makan ini.” Siti menoleh ke piring berisi ayam bakar berada tepat di depan matanya.

“Buat saya?” terkejut wanita itu.

“Iya. Memang buat siapa lagi.”  Bima melipat tangan di atas meja mengamati Siti melahap nasi tanpa ampun.

Siti yang risi diperhatikan memelankan kunyahannya. “Kenapa kamu kasih saya makan?”

“Kamu enggak mau?” tanya Bima mengambil ujung piring Siti. Gadis itu menyembunyikannya di balik lengan--memancing tawa Bima. “Makan yang banyak.”

“Makan yang banyak sebab di penjara saya tidak bisa makan enak, begitu?” celetuk Siti.

“Paling enggak kamu dapat makan gratis dari pada mencuri dan luntang-lantung di jalan. Sepertinya kamu masih waras.” Bima memerhatikan Siti lagi, dari cara siti menjawab dia masih kelihatan normal bukan orang gila seperti sangkaannya di awal.

“Memangnya siapa yang bilang saya gila. Kamu yang gila.” Pelotot Siti padanya.

Bima tidak menanggapi, dia malah bertanya hal lain. “Kamu enggak punya kartu identitas? Nama kamu Siapa? Asal kamu dari mana?”

Sambil menggigit paha ayam dan mengoyaknya Siti menjawab, “Siti, saya Siti. Datang jauh dari Champa.”

“Champa?” Dahi Bima mengerut.

“Kamu tidak tahu?  Saya bukan berasal dari nusantara, aku hanya bertualang di negeri ini.”

Bima mencondongkan kedua bahunya. “Kamu imigran gelap? Wah, banyak sekali pelanggaranmu.”

“Cih!” Siti mengernyit kan hidung mengangkat sisi atas bibirnya sejenak lalu kembali makan. Tak lama dilihatnya pemuda berompi biru itu tampak tergesa mengangkat gawainya yang berdering.

“Di mana? Baik-baik saya segera ke sana.” Pemuda itu segera berdiri, memakai helm lalu menarik tangan Siti. “Cepat, kamu ikut saya!”

“Makanannya?” Siti menengok hidangan lezat yang baru dimakannya setengah. Daging ayam itu bagai memanggilnya untuk tidak pergi. Tapi apa daya, Bima terus menariknya sedang sebelah tangan Siti hanya bisa meraih udara.

Belum juga kenyang, Siti harus mengikuti lelaki itu pergi dengan sepeda motornya; benda yang mirip seperti kuda bagi Siti. Dia tak tahu apa nama benda yang ia naiki. Yang jelas dulu kekuatannya lebih sakti dari benda yang didudukinya. Seperti bisa terbang atau berjalan di permukaan air hanya dengan mengucap mantra. Berbeda jauh dengan manusia zaman sekarang yang lebih banyak menggantungkan kebutuhannya dengan bantuan benda-benda bermesin.

Motor Bima minggir ke sisi jalan raya repat di belakang mobil hitam yang menabrak pagar pembatas. Ada beberapa orang di dalam mobil termasuk seorang bayi yang tengah menangis dalam pelukan ibunya. Tampaknya luka sang ibu sangat parah di bagian kepala sampai Bima ragu apa perempuan itu masih hidup atau tidak.

“Sudah telepon ambulans?” tanya Bima pada rekannya yang sibuk membuka kunci pintu mobil.

“Masih di jalan, mungkin sebentar lagi sampai.”

“Ditabrak atau kecelakaan tunggal?” Bima mencungkil jendela pintu agar bisa menarik tuas dari dalam.

“Tunggal.”

Dengan mengeluarkan tenaga akhirnya pintu terbuka tepat ketika ambulans datang. Bima dibantu rekannya mengeluarkan satu persatu orang yang terjepit, sayangnya mereka sudah meninggal. Termasuk ibu dari si bayi, lalu bayinya ... Bima menggendong bayi lelaki sehat itu dan bingung harus meletakkannya di mana.

“Tolong pegang dulu.” Lelaki itu memberikan bayi pada Siti yang sedang melamun memandang sirene ambulans.

Siti terkesiap, dia tidak suka pada  tangisan anak kecil apa lagi bayi. Oh, bahkan bayi yang terus menangis seperti ini mungkin sudah menjadi bahan penyempurna ramuan sup percobaannya agar bisa kembali cantik. Siti mengangkat si bayi montok sejajar dengan kepalanya. Kemudian dia menyeringai, membengis seperti singa berhadapan dengan mangsa. Si Bayi malah berhenti menangis, hal itu memancing Siti untuk kembali melakukan hal yang sama. Kaki si bayi bergerak-gerak dan anehnya lagi dia malah tertawa. Siti melotot memandang mata si bayi agar berhenti bersuara. Pandangan mereka bertemu, bagaikan tersengat sesuatu yang mengejutkannya. Ada penglihatan baru yang muncul. Sekelebat bayangan kilat menampakkan gambaran-gambaran kejadian yang mungkin dilihat si bayi sewaktu di rumah. Bagaimana dia berada di kursi roda sebelum masuk ke dalam mobil dan kedua orang tuanya sibuk mengurus barang-barang di dalam. Ada seseorang, ya seseorang lagi yang melakukan sesuatu dengan ban mobil selagi orang-orang di sana sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

“Oke pekerjaannya sudah selesai. Kamu pegang dulu ya bayinya, kita ke kantor polisi sekarang,” perkataan Bima memutus bayangan abnormal Siti. Dia mengerjap, melihat mobil hitam yang separuh hancur itu sedang di tarik mobil derek.

“Itu bukan kecelakaan,” gumam Siti yang masih bisa Bima dengar. “Mereka semua dibunuh.”

Bima berhenti memasang kaitan helm, lalu melihat telunjuk Siti mengarah pada ban belakang. Tadinya lelaki itu tidak ingin menghiraukan perkataan Siti. Tapi keseriusan wajahnya memicu rasa penasaran Bima.

“Tunggu! Tunggu!” Bima berlari menyilangkan tangannya ke atas menyuruh mobil derek berhenti. Sambil berjongkok Bima memeriksa ban belakang mobil yang kempes dengan lumuran oli pada permukaan kulit ban. Dia tidak menyangka apa yang di katakan Siti tadi kemungkinan besar memanglah benar. Bima menengok pada perempuan berwajah tua di samping motornya, tatapannya seolah bertanya pada gadis itu, “Bagai mana mungkin tanpa menyentuh ban dia bisa tahu?”

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Alnayra
ternyata masih ada kekuatan yang tersisa, pasti ntar bisa mecahin banyak kasus polisi nih. ah suka banget lah kalau gini
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status