INICIAR SESIÓNMenjelang sore, semua karyawan kantor pulang seperti biasa kecuali kelompok yang sudah ditunjuk.Mereka masih di ruang pertemuan dengan wajah serius. Klek!Pintu dibuka dari luar. Ms. Carlota masuk sambil membawa kantong plastik besar.Plok! Plok! Plok! Semua mata tertuju padanya.“Kita makan dulu,” katanya sambil membagi kotak makanan yang dia bawa.Barney sengaja membelikan mereka makanan sebagai bentuk perhatian dan dukungan atas kerja keras anak buahnya. Di tempat lain, Thea berjalan dengan pongah mendatangi sebuah gedung megah. Dia berhasil mengajak bertemu Mr. Kenneth di ruangannya. “Selamat sore, saya sudah ada janji bertemu Mr. Kenneth,” kata Thea seanggun mungkin.Dia sudah benar-benar merapikan tampilan dan wajahnya. Resepsionis memanggilkan Mr. Kenneth lewat interkom. Tak lama kemudian, seorang laki-laki jangkung datang menghampiri dan mengajak ke ruangannya. Thea mengedarkan pandangan sejenak lalu duduk di kursi yang telah disediakan. “Selamat sore, Nona. Ada yang b
“Hehe! Hari Jumat jam sembilan pagi, semua materi harus sudah dipresentasikan di meja saya,” tegasnya.Semua orang membelalak mendengarnya.“Jika meleset atau konsepnya tidak memenuhi standar kami, surat tuntutan ganti rugi resmi akan langsung meluncur ke pengadilan,” Mr. Kenneth menatap semua yang hadir dengan penuh kemenangan."Dua hari?!" Grace, yang sejak tadi berdiri di dekat pintu sebagai notulen, refleks memekik pelan sebelum langsung menutup mulutnya sendiri dengan cemas.“Dua hari! Gila! Gimana kita ngerjainnya?” Para peserta pertemuan saling berbisik.Barney mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Mr. Barney mengajukan permohonan.“Mr. Kenneth, dua hari untuk menyusun konsep periklanan skala internasional dari nol itu tidak masuk akal. Tim kreatif butuh waktu untuk riset pasar. Berilah waktu satu minggu,” katanya.Mereka berdebat seru.“Itu masalah agensi Anda, Pak Barney, bukan masalah kami," jawab Kenneth dingin sambil bangkit berdiri. Dia merap
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan? Kamu mau menghancurkan perusahaan ini!” teriak Barney dengan mata membelalak. “Jelaskan padaku!”"A-aku, a–aku sedang ada urusan mendesak di luar, Barn. Aku pikir, aku pikir tim kreatif bawah sudah membalasnya," jawab Thea terbata-bata, mencoba membela diri dengan suara bergetar."Tim bawah tidak bisa mengambil keputusan tanpa persetujuan dari mejamu!" bentak Barney lagi, telapak tangannya menghantam meja dengan keras hingga cangkir-cangkir di atasnya berdenting.Semua orang terdiam. Tidak ada karyawan yang berani bersuara, bahkan ketukan pada papan tik yang biasanya meramaikan ruangan kini terdengar lamat-lamat. “Ke ruangan pertemuan sekarang. Sebentar lagi utusan dari Socra Internasional akan datang!” perintahnya. Ms. Carlota, Tim Divisi Satu dan Dua langsung berlari ke ruang pertemuan.“Waduh kaget aku,” bisik Grace pada rekan yang ada di sebelahnya.“Iya, ada apa ini?” tanyanya.“Kurang paham,” jawab yang lain. Barney duduk di depan dengan geli
“Oke. Kita ketemu di kafe Square.’ Saat Felicia sampai di sana, Ariella sudah duduk menunggu di sudut kafe. Sejak perdebatan dingin di dalam mobil kemarin, pria itu memang sengaja tidak datang menjemput Felicia. Wajahnya tampak dingin dan sedikit menjaga jarak saat Felicia duduk di hadapannya."Ada apa, Fel? Tumben mengajak bertemu di sini," tanya Ariella sambil mengaduk kopinya perlahan.Felicia menatap wajah pria yang sudah teramat banyak membantunya itu dengan rasa bersalah yang mendalam. "Ar, aku meminta maaf dengan sangat tulus. Aku tahu sikapku yang labil dan membingungkan selama ini sudah sangat melukaimu."Ariella menghentikan gerakan tangannya. Dia bersandar pada kursi, menatap Felicia dalam diam."Tadi Thea datang ke kantorku. Dia melabrakku," lanjut Felicia pelan.Mata Ariella membelalak, gurat cemas seketika muncul di wajahnya. "Apa? Dia melakukan sesuatu padamu? Kamu tidak apa-apa, Fel?"Felicia tersenyum tipis, ada kelegaaan di matanya melihat Ariella masih mencemask
"Menata hidup yang bagaimana, Fel?" potong Ariella lagi, kali ini dengan nada yang sedikit meninggi.Felicia masih diam.“Selama ini aku sudah lakukan banyak hal untukmu. Dan aku merasa, kamu hanya membuatku jadi orang bodoh!” "Ariella! Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu!" Felicia mulai tersulut emosi."Lalu apa namanya jika kamu membiarkan seseorang berjuang memberikan seluruh bahunya, sementara hatimu sendiri terus-menerus digenggam oleh orang lain?" tanya Ariella.Felicia terdiam seribu bahasa. Kata-kata Ariella menghantam logikanya dengan telak. Ariella menyalakan mesin mobilnya. Mobil bergerak pelan.Sepanjang sisa perjalanan, tidak ada lagi suara yang terdengar di antara mereka. Keheningan itu terasa begitu mencekam, mempertegas retakan yang kini mulai melebar di antara harapan Ariella dan masa lalu Felicia yang belum usai.“Aku turun di sini saja, Ar. Ada yang mau aku beli,” pinta Felicia.Tanpa banyak bicara, Ariella kembali menyalakan lampu sein dan menepi.“Makasih
Pagi datang dengan cepat. Ruangan Barney sudah terasa sejuk sejak OB menyalakan pendingin ruangan tadi.“Apa ini?” kata Thea pelan.Napasnya memburu, memandangi layar ponsel Barney yang tergeletak pasrah dalam keadaan menyala. Sebuah notifikasi pop-up dari nama yang sangat dia benci, Felicia, terpampang jelas di sana. Isinya singkat, namun cukup untuk membuat seluruh darah di tubuh Thea mendidih seketika.‘Terima kasih, Barn. Maaf belum bisa sering balas. Akan aku pikirkan.’"Jadi, ini kelakuanmu di belakangku, Barn?" suara Thea bergetar, meninggi karena rasa perih dan cemburu yang membakar dada.Barney yang baru saja kembali dari ruang mesin kopi tertegun di ambang pintu. Dia buru-buru melangkah masuk, lalu merebut ponselnya dari jangkauan pandangan Thea. Gurat tidak suka langsung tercetak jelas di wajah tampannya."Thea, apa yang kamu lakukan? Lancang banget menyentuh ponsel orang lain tanpa izin," ketus Barney.Dia meletakkan gelas kopinya dengan hentakan agak keras di meja."L







