LOGINDengan refleks yang luar biasa berkat bela diri sabuk hitamnya yang terlatih, Felicia bisa berkelit dengan lincah. Dia mencengkeram bahu Barney, menggeser paksa tubuh suaminya ke samping, lalu memutar tubuhnya sendiri demi melepaskan tendangan yang sangat keras tepat ke arah pergelangan tangan Angelina yang memegang pisau.Krak! Plak!Pisau itu terlempar jauh dan berdenting di atas lantai marmer. Angelina berteriak kesakitan akibat hantaman telak tersebut. Detik itu juga, Kapten Sugario dan dua anggota tim taktis langsung bergerak cepat. Tubuh Angelina ditekan ke lantai, tangannya dikunci ke belakang, dan borgol besi langsung melingkari pergelangan tangannya."Lepaskan aku! Felicia, Barney! Kalian tidak akan hidup tenang! Lepaskan!" teriak Angelina meronta-ronta seperti orang kesurupan.Tepat saat Angelina berhasil dibekuk dan terus memaki, terdengar langkah seseorang masuk dari arah pintu. Mr. Ferdinand masuk ke dalam apartemen. Di belakangnya, beberapa pengawal pribadi menjaga k
Malam semakin larut saat tiga mobil SUV hitam tanpa tanda meluncur membelah jalanan kota yang mulai lengang. Di dalam salah satu mobil, suasana terasa begitu tegang. Felicia menggenggam erat tangan Barney, sementara tatapannya lurus menatap lampu-lampu gedung tinggi yang makin mendekat. “Kita udah sampai,” bisik Felicia tak sabar.“Iya, tapi jangan gegabah! Ikuti perintah!” tegas Kapten Sugario.“Siap, Kapten!” jawab Felicia dan Barney hampir bersamaan.Di depan mereka, Royal Sky Residence menjulang angkuh, dilapisi kaca-kaca mewah yang malam ini menjadi saksi tidur sebuah penyanderaan.Mobil-mobil itu berhenti di area basemen yang sepi. Pintu terbuka tanpa suara. Belasan personel tim taktis bersenjata lengkap langsung keluar dengan gerakan yang sangat terlatih. Di barisan paling depan, seorang pria berbadan tegap dengan tatapan mata sedingin es memberi isyarat tangan. "Semua posisi sudah dikepung. Jalur basemen, lift barang, dan tangga darurat sudah steril," bisik Kapten Sugario,
Atmosfer dalam ruangan terasa menyesakkan. Tanpa membuang waktu untuk meminta pendapat, Mr. Ferdinand langsung menghubungi nomor seseorang."Ini saya, Ferdinand," ucapnya tanpa basa-basi begitu telepon tersambung. "Cucu saya diculik. Saya baru saja menghubungi pelaku menggunakan nomor asing. Tolong kunci lokasi nomor itu!” Felicia yang baru saja keluar dari kamar membelalak mata ketika mendengar percakapan Kakek Barney. ‘Tolong kunci lokasi nomor itu? Siapa yang dihubunginya?’Percakapan masih berlangsung. Wajah Mr. Ferdinand tampak serius sekali.Seseorang menjawab dan memberi arahan, Mr. Ferdinand menganggukkan kepala. Dan panggilan pun berakhir. Mr. Ferdinand menengok ke arah Felicia. “Fel, hubungi lagi perempuan gila itu. Ajak bicara selama mungkin. Seseorang butuh koordinatnya,” katanya serius.Felicia tersentak. "Tapi Kek, dia akan menyakiti Sue jika kita lapor atau mencoba melacaknya.""Dia tidak akan tahu kita sedang melacaknya," potong Mr. Ferdinand tegas. Felicia mena
Di sebuah ruang apartemen mahal, Angelina duduk dengan pongah. Sisa tawa kemenangan masih terdengar samar.Pikirannya melayang kembali pada siang itu. Dia merasa dewi keberuntungan sedang berpihak padanya. Saat tubuhnya bergetar menahan ketegangan, dengan entengnya Sue memberi jalan untuknya. Gadis kecil itu menatapnya bimbang. Antara ragu dan senang.“Kalau Sue kelamaan, pasti Papa Barney dan Mama akan khawatir,” kata Sue pelan.“Iya, mereka pasti sudah tunggu Sue,” sahut Angelina menegaskan.Sue mengangguk dan menyambut uluran tangan Angelina. Telapak tangan kecil yang hangat itu terasa kontras dengan tangan Angelina yang dingin dan gemetar karena tegang. ‘Tenangkan hatimu Angelina, mangsa udah di tangan. Cepat! Cepat!’ katanya dalam hati.Angelina menuntun Sue dengan langkah cepat namun diatur agar terlihat santai menuju sebuah mobil sedan hitam sewaan yang terparkir agak jauh dari area jemputan utama.Begitu pintu mobil dibuka, Sue langsung masuk ke kursi belakang dengan riang.
Di ruang tengah Mansion Ferdinand, atmosfer yang tadinya hangat mendadak berubah mencekam. Morenzo berdiri di ambang pintu dengan tubuh gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, dan napasnya tersengal-sengal seperti orang yang kehabisan oksigen."Maaf Tuan Barney, Nyonya Felicia,” suara Morenzo bergetar, air mata penyesalan mulai mengalir di pipinya yang keriput. "Non Sue tiba-tiba tidak ada di sekolah. Saya lengah sebentar ketika sebuah mobil mundur hampir menabrak, dan saat saya berbalik, Non Sue sudah hilang.""Apa kamu bilang?" Barney langsung bangkit dari sofa, langkahnya lebar menghampiri Morenzo. Cengkeraman tangannya di bahu sopir tua itu mengeras. "Jangan bercanda, Morenzo! Sue selalu keluar bersama gurunya!"“Iya, Tuan, Non Sue keluar bersama gurunya, lalu menunggu saya. Mobil yang mundur menghalangi saya. Tapi begitu saya keluar, Non Sue sudah tak ada di sana,” kata Morenzo.Di sudut ruangan, Ibu Seira yang sedang memegang cangkir teh mendadak melepaskan pegangannya. Cangkir p
Dua bulan telah berlalu sejak adu debat Kitty and Jack di ruang pertemuan.Jalan tengah yang mereka sepakati waktu itu ternyata adalah suatu keputusan paling genius. Strategi mereka meraih sukses besar.Kampanye digital raksasa itu viral di mana-mana, mencetak rekor penjualan tertinggi bagi klien mereka.Di atas panggung perayaan, di hadapan ratusan pasang mata staf dan media, Barney bahkan tak segan merangkul Felicia."Kegalakanmu di ruang pertemuan waktu itu benar-benar menyelamatkan proyek ini, Sayang,” bisiknya di telinga Felicia. Wanita itu hanya tersenyum tipis, menyikut pelan pinggang suaminya sambil bergumam, "Kalau aku nggak tarik urat leher, kau nggak akan percaya." *********“Hem! Kamu boleh tertawa sekarang, lihat aja nanti, apa kamu masih bisa melakukannya!” Angelina mengepalkan tangan kuat-kuat.Dia mengangkat gelas kristal yang ada di tangan dan menyesap pelan wine yang ada di dalamnya. Kepalanya berpikir keras, memutar otak, mencari cara yang tepat.“Menyu







