Ruang tamu besar itu tertata dengan sangat rapi. Lampu gantung mahal menyala kuning keemasan di langit-langit tak ubahnya di lobby hotel. ‘Ck ck ck! Besar banget. Ruang tamu ini ukurannya dua kali rumah sewa yang aku tempati,’ Felicia menyembunyikan kekagumannya.“Masuklah, silakan duduk. Aku akan panggil Kakek,” kata Barney sembari beranjak masuk. Melihat Barney sudah tak ada di ruangan itu, Felicia melanjutkan melihat-lihat keberadaan di sekelilingnya. “Luar biasa. Kenapa si curut itu tinggal di kost dekat alun-alun kota kalau punya rumah senyaman ini,” gumamnya pelan keheranan.Felicia ingat, dia pernah terpaksa singgah di tempat kost Barney saat ikut Grace mengambil berkas. Tak lama kemudian terdengar langkah yang semakin mendekat, turun dari tangga. Tampak Mr Ferdinand dan Barney berjalan menghampiri dirinya. “Selamat malam, Nona. Senang sekali, Anda menerima permintaan kakek tua ini,” sapa Mr Ferdinand ramah. Felicia berdiri dan menganggukkan kepala. “Selamat malam, Mr.”
Last Updated : 2026-08-22 Read more