Home / Romansa / Istri Kedua Dosen Dingin / Bab 5. Orang Dari Kota

Share

Bab 5. Orang Dari Kota

Author: Miss Caya 88
last update Last Updated: 2025-11-19 10:20:57

“Wah, Bu Mur! Ada orang kaya raya cari Lala!”

“Dari kota katanya. Pasti mukanya ganteng!”

“Lala hebat banget nih!”

Karena desa kecil, berita seperti itu tersebar dengan cepat. banyak orang mulai berkerumun di dekat rumah Lala.

Semua tetangga sibuk mempertanyakan siapa gerangan orang kaya dari kota itu. Padahal belum bertemu, tetapi mereka sudah menebak sembarangan.

Murinah hanya tersenyum menanggapi mereka. Dia terus berjalan menuju ke rumah Pak Kades. Tangan Lala digandeng erat.

“Kamu nggak bikin masalah kan, La?!” bisik Murinah.

Lala menggeleng sambil menatap Murinah. “Nggak, Bu. Lala nggak pernah bikin masalah sama siapa pun!”

Jantung Lala berdebar. Dia sendiri juga khawatir hal buruk akan menimpanya lagi.

‘Kalau orang kota yang datang itu ternyata suruhan Pak Rino, habislah gue! Bisa aja gue diculik,’ batin Lala.

Nampak rumah besar dengan pendopo kayu di halaman depan. Itu adalah rumah kepala Desa Pandan Wangi, Bapak Tresna Wibawa.

“Budhe, yang nyari Mbak Lala orang kaya!” seru Gito penuh semangat. “Mobilnya mewah. Aku pernah baca di sosmed harganya milyaran!”

Murinah hanya tersenyum canggung. Dia berusaha tenang.

“Mungkin itu temennya Lala yang mau liburan di desa,” sahut Murinah.

Mereka pun tiba di rumah Pak Kades. Nampak dua mobil berjejer di halaman rumah besar itu.

Dahi Lala berkerut.

‘Kayak pernah lihat mobilnya.’ batin Lala, merasa familiar dengan salah satu mobil itu. ‘Di mana ya?’

Sementara itu, Gito sudah berlari melewati pekarangan sambil berseru, “Pak, Bapak. Ini Mbak Lala dan Bu Murinah sudah datang!”

Lala memperhatikan ke arah pendopo. Ada empat orang sedang duduk di sana.

Ketika sudah dekat dengan pendopo, Lala pun tercengang melihat siapa yang ada di desanya.

“Pak Elric?!” celetuk Lala spontan.

Rasa lega terpancar dari wajah Lala. Untuk pertama kalinya dia merasa lega melihat Elric datang. Elric datang bersama Bayu Aji Nugraha, ajudan kepercayaannya.

Murinah yang mendengar Lala menyebut nama tamu itu, langsung bertanya. “Kayaknya galak. Dari alisnya aja miring dan tebel terus bibirnya juga tebel. Kamu kenal La? Temen kamu?”

Lala menggeleng. Wajahnya terlihat tersipu malu. “Bukan temen, Bu. Itu calon suami Lala.”

“Hah?!”

Seperti terkena petir di siang bolong, Murinah amat terkejut. Belum ada satu hari dia dan Lala membahas soal pernikahan, tapi calon yang dimaksud sudah datang ke desa.

“Bu Mur! Lala! Ayo sini, duduk! Ini ada tamu dari kota cari kamu,” ujar Pak Kades ramah.

Tak lama, Gito kembali dengan 2 kursi tambahan untuk Lala dan Murinah bergabung, duduk bersama mereka.

Wajah Pak Kades nampak bahagia. Tak butuh waktu lama bagi Lala untuk tahu sumber kebahagiaan Pak Tresno. Di depan pria tua itu ada paper bag dari brand jam tangan yang tergolong mewah.

‘Oh udah disogok duluan rupanya. Pantes langsung akrab,’ batin Lala menatap paper bag itu.

Lala hampir saja tergelak. Ia berusaha menahan diri, seolah tidak tahu apa-apa.

“Nak Elric, pasti capek ya. Datang jauh-jauh dari kota. Ayo, silahkan diminum dulu!” Pak Kades mempersilahkan untuk menyantap minuman.

Murinah mulai gelisah. Ia tidak ingin berlama-lama bertata krama. Jadi, ia pun langsung mempertanyakan tujuan Elric datang.

“Apa kedatangan Nak Elric ke sini, untuk kenalan dengan keluarganya Lala?”

Gorengan yang baru saja dicomot Lala hampir saja jatuh mendengar pertanyaan Murinah yang tidak ada basa-basinya. Ia was-was dengan keputusan sang ibu yang baru saja mendengar rencana pernikahan mereka.

“Sebelumnya, perkenalkan. Saya Elric Darmareja.” Elric memperkenalkan diri. “Saya dan Lala punya hubungan khusus dan saya pikir ini saatnya saya menemui keluarga Lala.”

Hati kecil Elric merasa bersalah, tapi tidak ada jalan lain.

‘Ini kedua kalinya aku datang untuk meminang seorang wanita. Hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya,’ batin Elric.

Suasana kembali hening.

Murinah masih merasa tidak percaya dengan semua ini. Mungkin intuisi seorang ibu mengetuk hatinya, bahwa ada yang janggal dengan hubungan mereka.

“Kenapa Nak Elric menyukai anak saya?” Murinah menatap tajam Elric, mencoba menggali niat di balik semua ini. “Apa alasannya?”

Naluri dalam diri Murinah membuatnya ingin menginterogasi Elric langsung. Baginya Lala hanyalah anak polos yang tak pernah membahas pria apalagi pernikahan.

“Karena ….” Elric ragu dalam merangkai kata.

Lala mendengarkan dengan hati yang berdebar. Meski takut tapi dia juga ingin tahu apa jawaban Elric.

“Karena Lala pintar dan berprestasi….” sahut Elric.

Mata Murinah menatap tajam. Dia nampak tak puas dengan jawaban Elric.

“Hanya itu? Bukankah di sana kota yang luas? Pasti banyak wanita lain selain Lala,” tanya Murinah lagi.

Elric berasa menghadapi profesor killer yang dulu mengujinya saat ujian thesis S2. Dia menghela napas. “Lala anak yang baik dan ramah, saya tertarik pada sifatnya itu,” ucap Elric asal.

‘Aku ingin segera pergi dan merokok. Tanggung jawab moral ini ternyata sesulit ini,’ batin Elric.

Lala tertunduk sedari tadi. Hatinya berusaha dia kunci tapi tetap saja ada rasa berdebar yang tak bisa dijelaskan.

Melihat suasana yang semakin canggung, Pak Kades pun turun tangan.

“Ah … sepertinya Nak Elric ini gugup. Gimana kalau para wanita ini bicara dulu dengan Lala.”

Bu Kades langsung tanggap. Ia segera membawa Murinah dan Lala ke dalam rumah untuk berdiskusi singkat.

“Bu Mur,” panggil Bu Kades.

Wanita petinggi desa itu melanjutkan komentarnya. “Nak Elric datang dengan niat baik. Belum pernah ada warga desa kita yang dapat calon dari Jakarta! Orang kaya pula! Ini berkah lho, Bu!”

Namun, Murinah tidak berniat sembarangan menerima orang yang akan menghabiskan seumur hidupnya bersama sang putri. Ia tidak mau Lala kecewa nantinya.

“Lala anakku satu-satunya Bu. Aku harus dapat jaminan kalau dia nggak disakiti nanti. Bertahun-tahun sekolah yang dia bahas selalu buku. Nggak pernah bahas cowok apalagi nikah,” Bu Murinah curiga.

Lala paham perasaan sang ibu. Ia pun memberanikan diri untuk bicara. ”Bu! Kan Lala udah bilang tadi. Kalau udah serius baru ngasih tahu ke Ibu, makanya, Lala nggak pernah cerita.”

Murinah masih tidak yakin. Namun, melihat Lala bersikeras ingin menerima lelaki berwajah galak itu, ia pun mencoba membuka hati.

“Ya sudah, Ibu coba kenali calon suamimu itu!”

Mereka segera kembali ke pendopo dan duduk di kursi masing-masing dengan wajah canggung.

Lala bisa melihat Bayu melirik ke arah Elric dengan pandangan sebal.

‘Ish, Pak Bos mah dari dulu emang nggak pandai ngerayu cewek. Bu Freya aja waktu pedekate itu, ide dariku,” batin Bayu, ajudan Elric.

Tangan Bayu mengambil koper hitam yang sudah disiapkan serta kotak merah berlapis kain beludru. Benda itu diletakkan di dekat tempatnya duduk.

“Izin Bu! Pak Bos tadi udah siapin oleh-oleh buat Ibu sama Non Lala,” Bayu mengeluarkan kotak dan koper itu untuk diperlihatkan di hadapan semua orang.

“Wah!” celetuk Pak Kades. Matanya menatap ke arah koper dan kotak perhiasan itu.

Bayu membuka kopernya dan semua orang melihat uang tunai yang masih rapi dengan label bank. Penuh menutupi koper.

Uang kertas berwarna merah yang merupakan nominal terbesar itu, langsung menarik perhatian mereka. Isi kotak beludru juga tak kalah heboh. Ada kalung berlian, cincin berlian, serta anting. Ada juga satu set perhiasan dari mutiara warna putih.

‘Bayu kalo soal cewek emang lebih jago,’ batin Elric sambil menggeleng pelan.

Elric bersiap untuk bicara. “Saya kemari juga ingin melamar anak Ibu, Lala Prasetyo. Saya berniat menjadikannya istri saya. Berharap mendapat restu dari ibu.”

Murinah terperangah mendengar itu. “Hah?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kedua Dosen Dingin    Bab 55. Pembicara Ospek

    "Pak Elric tuh killer tapi populer, La. Adek-adek maba dan yang lain pada penasaran. Beliau kan jarang banget jadi pembicara...." sahut Rosi.Lala langsung memegangi dahinya saat mendengar keputusan itu. "Kan banyak dosen lain yang lebih ramah. Apa nggak ada opsi dosen lain yang lebih mudah lobinya? Pak Elric kan sibuk. Tahu sendiri beliau sibuk dan killer-nya kayak apa," Lala mengingatkan."Sudah dirundingkan dengan matang, Kak. Pak Elric itu dosen yang populer meski pun galak. Ilmu beliau yang paling update diantara dosen yang lain. Meski sibuk tapi selalu menerbitkan penelitian baru. Di website jurusan selalu update jurnal yang beliau karang," sahut seorang anggota hima. Lala menghela napas. Dia berusaha memahami keinginan para anggota hima. "Baiklah, tapi coba siapkan cadangan ya. Pak Elric terkenal sibuk dan suka menolak jadi pembicara. Sudah ditanyakan kesediaan si pria dingin rh maksudku Pak Elric?" ujar Lala. "Lo kayaknya sebel banget ya sama Pak Elric sampe punya julukan

  • Istri Kedua Dosen Dingin    Bab 54. Proker Hima

    "Nggak, Bi. Bibi tenang saja. Aku tahu posisiku. Bibi pasti juga sudah tahu kan cerita mengapa aku bisa di sini?" Lala bertanya balik kepada Bi Yati. Bi Yati nampak membuang pandang sejenak. Suasana hening. Lala memilih diam. Dia melanjutkan sarapannya lagi. "Aku hanya ingin semua ini cepat berlalu, Bi. Pak Rino adalah ancaman utama. Ketika mengingatnya rasanya seperti nyawaku mau hilang." Pagi itu Lala mencurahkan beban pikirannya kepada Bi Yati. "Saya sudah tahu, Bu. Wanita tua ini juga masih bisa membaca situasi rumah yang dijaganya. Saya rak bisa ikut campur urusan pribadi Bu Lala dan Pak Elric terlalu dalam. Saya cuma berharap semoga Bu Lala bahagia," hibur Bi Yati. Lala tersenyum saat mendengaf hal itu. Ada sedikit rasa lega di dadanya. "Makasih, Bi. Aku berharap suatu saat bisa berkunjung ke desa Bibi. Masakan Bibi rasanya nyaris serupa dengan masakan rumahan di desaku," puji Lala. Bi Yati tersenyum, "Semoga bisa terwujud suatu saat nanti Bu. Saya selalu mendoakan ke

  • Istri Kedua Dosen Dingin    Bab 53. Anak Nakal Penggoda

    "Anak nakal?" mata Lala membulat mendengar omelan Elric. Elric langsung berusaha bangun. Selimut itu digunakan untuk menutupi tubuhnya. "Dasar anak nakal penggoda! Aku jadi terlambat bangun pagi," Elric nampak gusar. Sudut bibir Lala sudah naik menyamping. Kedua tangannya terlipat di dada. Dia menatap Elric dengan tatapan tajam. "Bapak kan yang tadi malem mulai! Kenapa jadi menyalahkan saya?" Lala mendebat balik. "Saya udah nolak lho, Pak." "Sudahlah, aku terlambat untuk berangkat ke kantor. Pasti jam segini sudah macet. Dimana ponselku?" Elric nampak kebingungan mencari ponselnya. Lala berusaha membantu mencari ponsel itu. Meski dengan wajah penuh amarah. "Ini, makanya, Pak. Banyakin istirahat. Nanti tambah pikun lagi," sindir Lala. Ponsel itu ditemukan di balik bantal. Elric segera mengambil ponsel itu dari tangan Lala. "Anak nakal, kau makin berani padaku. Kemarin tua sekarang menyebutku pikun. Kukurangi nilaimu, tahu rasa nanti!" ancam Elric. Bibir Lala semakin ma

  • Istri Kedua Dosen Dingin    Bab 52. Hujan dan Selimut

    "Bapak mau apa?" Lala kaget dengan tingkah Elric. Bibir mungil Lala langsung diserang begitu saja. Lala ingin menolak tapi sentuhan Elric seolah membuatnya terlena. Bibir itu terasa hangat. 'Sial, kenapa gue jadi terlena. Udah nolak mentah-mentah tadi,' batin Lala. Kaos yang digunakan Lala dengan mudah bisa terlepas. Elric benar-benar membara malam itu. Leher Lala tak luput dari aksi Elric. Jejaknya nampak jelas. "Ah, Pak!" erang Lala saat Elric menindihnya. Tangan itu mencengkeran bantal. 'Ah, kenapa jadi begini sih. Besok masih masuk kuliah lagi,' batin Lala. Napas Lala terengah-engah. Elric hanya menatap tanpa kata saat aksinya selesai. "Dasar menyebalkan!" ujar Lala lirih. Tangan itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dia berbaring miring membelakangi Elric. "Bapak!" teriak Lala. Tanpa suara, tangan Elric sudah mencengkeram pinggang Lala. "Kau belum lelah ya?" bisik Elric. Mata Lala membulat mendengar hal itu,"Aku udah lelah, Pak." Tangan Lala

  • Istri Kedua Dosen Dingin    Bab 51. Sopankah?

    "Besok bukan jadwal bimbingan saya, Pak. Kenapa saya harus ikut?" Lala berusaha menolak."Kau tak mau proyek akhirmu cepat selesai?" sahut Elric." Tak usah banyak protes. Sudah ikut saja!"Lala menatap Elric dalam-dalam. Selimut itu ditarik untuk menyelimuti tubuhnya. Dia berbaring membelakangi Elric yang masih ada di kamarnya."Besok kusuruh orang untuk mengganti tempat tidur ini!" terdengar suara Elric. Lala yang matanya sudah terpejam menjadi terbuka kembali mendengar hal itu."Kenapa diganti? Tempat tidur ini sudah nyaman. Bapak nggak usah buang-buang uang," protes Lala.Elric sibuk memainkan ponselnya,"Ini rumah saya. Semua tergantung dengan preferensi dan keinginan saya selaku pemilik."Wajah Lala langsung berubah masam,"Nanti aku pindah ke kamar lain saja," ujarnua lirih. "Apa kau bilang?" celetuk Elric dengan nada meninggi. Kepala Lala menggeleng perlahan,"Bukan apa-apa. Kan cuma pindah kamar saja. Lagipula Bapak juga jarang pulang. Boleh dong harusnya Lala tidur dimana sa

  • Istri Kedua Dosen Dingin    Bab 50. Dasar Tukang Cepu!

    "Ibu!" Lala langsung tertegun. Suara itu amat dia kenali. Itu suara Murinah. Elric menekan tombol speaker di di samping ponselnya. Mata Lala menyipit. "Bapak pake suara palsu dari kecerdasan buatan ya? Nggak usah bohong!" celetuk Lala penuh curiga. "Kenapa kau bisa-bisanya berpikir seperti itu?" elak Elric. Kedua alisnya menyatu di bagian tengah. "Halo, Nak Elric?" terdengar suara Murinah lagi. Lala hendak mengambil ponsel itu. Mulut Lala menganga. Itu rupanya panggilan telepon sungguhan. "Ibu, ini beneran nomor Ibu," ujar Lala. Dia tidak mungkin salah mengenali nomor itu. "Halo, Nak Elric. Itu tadi suara Lala ya? Apa dia nakal?" terdengar suara Murinah lagi. "Dia...." suara Elric meninggi. Tatapan matanya seperti mengancam Lala. Reflek tangan kiri Lala membekap mulut Elric. "Halo, Bu. Ini Lala. Lala baik-baik saja kok," sahut Lala. "Oh, begitu. Ibu kira kenapa. Kok Nak Elric telepon malem-malem. Kamu jangan nakal, La...." terdengar suara Murinah. "Lala na

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status