MasukMurinah memandang Elric dengan tatapan tajam. “Secepat itu?”
Suasana hening. Murinah berusaha mencerna kenyataan yang ada di hadapannya. Sebagai seorang ibu tentu dia ingin putrinya cepat menikah. Tapi sungguh, ini terlalu dadakan. “Kenapa cepat banget?” Murinah mengulang pertanyaannya. Lala kembali berdebar. “Bu, Lala kan udah bilang. Pak Elric mau serius jadi tolong kasih restu.” “Kau tahu nikah itu kayak apa? Nikah itu tanggung jawab, La. Ibu nggak pengen kau dapat yang orang sembarangan meskipun kaya,” Murinah menasehati Lala. “Izin bicara, Bu,” Bayu, asisten Elric meminta izin bicara. “Pak Bos saya ini dosen pembimbing proyek penelitian Non Lala. Beliau sudah kenal Non Lala sejak lama. Beliau hanya ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius tidak ada niat lain.” Elric menatap ke arah Bayu. Seolah memberi tanda jika itu hal yang ingin dia ungkapkan. Bayu menatap balik ke arah Elric dengan gelengan pelan kecil. Seolah menyuruh melanjutkan pembicaraan. Elric menghela napas. “Saya berniat serius ingin menikah dengan Lala. Tak ada niat menyakiti, Bu. Kedatangan kemari hanya ingin meminta restu Ibu.” “Tapi kenapa hanya kalian berdua saja? Dimana keluarga yang lain?” Murinah masih curiga. Elric kembali menatap ke arah Bayu. Seolah bertanya harus menjawab apa. “Bu, Lala udah bilang. Keluarga Pak Elric sudah meninggal,” Lala berusaha menegaskan lagi. Murinah tidak puas dengan jawaban itu. “Masak nggak ada keluarga yang lain? Paman, Bibi atau apa gitu?” Elric tertunduk. Seolah ucapan itu menghantam sisi dirinya yang terdalam. Dia anak angkat, tak pernah tahu siapa keluarganya yang lain. “Saya sendirian dan sebatang kara, Bu. Karena itu saya nyari calon istri untuk teman hidup,” ujar Elric dengan suara sedikit bergetar. “Oh begitu,” Murinah tertegun. “Masuk akal juga jika datang tanpa keluarga besar.” Lala menghela napas panjang. Seolah sedikit lega, ibunya mulai percaya. Murinah berpikir cukup lama. “Baiklah. Aku izinkan kau menikahi putriku, Nak Elric.” Ada perasaan yang lega di dalam benak Lala. Satu langkah sudah terlalui. Meski ada perasaan bersalah karena tidak jujur. “Makasih, Bu,” Lala memeluk Murinah. Proses penyematan cincin juga dilakukan. Murinah memasangkan cincin emas ke jari tangan Elric. Pak Kades mewakili Elric memasangkan cincin ke jari tangan Lala. “Semoga lancar sampai hari H ya,” Bu Kades nampak turut senang. “Bu Mur bentar lagi mantu. Mbak Lala udah lamaran,” Gito turut menyaksikan acara itu. Lala menatap cincin emas yang terpasang di jarinya. Ukurannya nampak sedikit kebesaran. ‘Wajar, Pak Elric nggak tahu ukuran jariku,’ batin Lala. *** Malam harinya. Lala memandang atap rumahnya yang terbuat dari seng dan kayu. Dirinya sudah terbaring di atas tempat tidur tapi tak bisa terlelap. “Satu pintu udah gue lewatin. Besok apa lagi yang bakal terjadi?” Lala memandang meja kayu rapuh di sudut kamarnya. Tatapan Lala lalu beralih menatap ke dinding bata rapuh yang belum diplester semen. Nampak banyak coretan berwarna-warni yang dibuat dari kertas HVS dan spidol. Lala melangkah menuju meja itu,” Gambar bunga dandelion, bunga yang gue kenal karena proker nonton film dari kakak-kakak KKN. Gue jadi punya mimpi kuliah tinggi karena mereka.” Lala membaca tulisan-tulisan impian itu. Pasti ada gambar bunga dandelion di setiap kertas. Dia tahu bunga dandelion dari film animasi yang diputar oleh mahasiswa KKN yang pernah datang ke desanya. Perhiasan dan sebagian uang dari Elric diletakkan di atas meja itu. Mata Lala memandang perhiasan itu. “Gue nggak pernah bermimpi punya kalung mutiara. Ternyata cantik juga,” Lala menyentuh kalung itu. Lala mulai menginstal aplikasi diary digital pada ponselnya. Dia mulai menulis isi hatinya. Aku bermimpi bisa seperti dandelion yang bebas Bebas terbang meraih mimpi Lalu kembali membangun desaku lagi Namun aku jatuh di tengah medan konflik Konflik perebutan takhta dua penguasa Universitas Lentera Harapan Semoga saja diriku tak tewas di tengah perang yang berkobar Lala berhenti mengetik. “Cuma bisa curhat di sini biar nggak gila. Gue nggak pernah kebayang jadi istri Pak Elric.” Mata Lala menatap ke arah ponselnya lagi. Ada pesan dari Elric. Elric: Waktuku tak banyak. Besok pagi ikut cari barang untuk persiapan menikah. Kurang dari sebulan kita menikah. Tak ada pesan manis. Tak ada basa basi. Mata Lala beberapa detik tak berkedip. Dia berusaha mencerna pesan itu. “Dingin. Apa sih yang gue harapin,” Lala memikirkan cara kata-kata yang pas untuk membalas pesan itu. Lala: Baik, Pak. Selamat malam. Mata Lala berusaha terpejam. Tapi saat dia menutup mata entah mengapa perasaan aneh membayanginya. Mata Lala tak jadi terpejam. “Gue udah bohongin banyak orang.” Lala membuka foto lamaran sederhananya dengan Elric. Nampak dia bersanding dengan Elric sambil menunjukkan cincin. “Gue dag dig dug. Besok mau ngapain aja ya?”"Ehm, gimana ya. Gue ada acara sebenarnya," Lala ragu menjawab ajakan Nolan. Mata Lala memandang ke arah Elric. Nampak tatapan mata Elric menatap tajam seolah tak suka. Tatapan itu disembunyikan dengan bermain ponsel. 'Sekali-sekali nonton juga nggak papa kayaknya,' batin Lala. "Lan, gue setuju. Sekalian kita ngobrolin proposal ya. Masih butuh temen lagi nggak buat anggota kelompok?" Lala sengaja mengeraskan suaranya. Tangan Elric tanpa sadar terkepal. Rokok elektrik itu dimatikan dengan kasar. "Bagus kalo lo bisa ikutan. Nanti gue jemput gimana?" Nolan terdengar antusias. Lala tertegun mendengar tawaran itu. "Ehm, filmnya tentang apa sih? Kalo horor gue pikir-pikir lagi. Jawab dulu, gue takut nonton horor." Terdengar suara tawa Nolan. "Nggak kok, tenang. Bukan horor. Fantasi ilmiah, itu film A si alien biru." "Oh, ya gue tahu. Yang punya kuncir itu ya. Tahu, tahu, boleh banget. Besok ketemuan aja deh di mallnya," sahut Lala. Terdengar sambungan telepon itu te
"Iya!" ujar Lala dengan suara lantang. Dia menatap Elric tanpa rasa takut dan ragu. Mata Elric membulat saat mendengar hal itu. Tangannya rasanya ingin memggebrak meja itu namun tertahan. Helaan napas panjang menghembus dari mulutnya. "Aku tak seburuk yang kau pikirkan, La," Elric menghisap lagi rokok elektriknya. Lala dengan santai memakan martabak itu. "Bapak dosen saya jika di kampus. Tapi suami saya jika di rumah. Saya kan hanya digunakan tanpa perasaan saja bukan?" 'Ayo, pria dingin, jawablah! Kau bilang sejujurnya apa yang ada di otakmu itu!' batin Lala. Elric masih nampak diam. Matanya justru menatap ke arah langit yang mulai gelap. "Kau seharusnya memang tak ada di sini," ujar Elric lirih. "Kalo begitu saya pergi saja, Pak," Lala sudah menggenggam ujung kruknya. Elric memegang bahu Lala. "Duduk, kita bicara." Lala tertahan oleh Elric. Dia kembali duduk di kursinya. "Baik, mulai sekarang aku akan meminta izin lebih dahulu," ujar Elric. "Tidak ada min
"Kau masih saja suka melawan!" Elric akhirnya melepas cengkeraman di dagu Lala. Lala berusaha menjauhkan diri dari hadapan Elric. Kursi itu ditarik agar menjauh. Rasa sakit yang ada di kaki diabaikan. "Anak nakal ini juga butuh penjelasan, Pak. Saya manusia bukan benda mati yang hanya digunakan saja!" ujar Lala dengan nada meninggi. Elric tidak menyahut, dia menghela napas. Rokok elektrik itu kembali diambil dan dinyalakan. "Bapak sudah tua sebaiknya jangan merokok," sindir Lala. Mata Elric kembali menatap tajam. "Kau masih berani menyindirku!" balas Elric. Lala hanya menggangguk, ketakutan dalam dirinya dia sembunyikan. "Jika Bapak sakit saya juga yang repot. Proyek akhir saya bisa tertunda," sahut Lala. Mata itu sibuk menatap tulisan pada layar laptop. Elric meletakkan kembali rokok elektrik itu. Dahi Lala langsung dijitak tanpa permisi. "Aduh," keluh Lala. Tangan itu langsung memegang dahinya. "Pak, jangan main kekerasan. Nanti jika saya luka bisa te
"Hah?" Lala tertegun. Dia tidak menyadari kehadiran Elric. "Bapak udah pulang?" "Ehm, kau belum menjawab pertanyaanku!" Elric mendesak Lala. Posisi tubuh Elric berada tepat di depan wajah Lala. Kedua tangan Elric memegang kedua sandaran kursi itu. Lala terkunci tepat di hadapab wajah Elric. "Apa maksud Bapak? Saya nggak paham," Lala membuang pandang. Dia berusaha mengelak. Wajahnya berpaling dari hadapan Elric. "Kau sengaja ya tadi?" Elric mendesak lagi. "Siapa dia?" "Sengaja apa, Pak? Saya cuma ikut lomba seperti biasanya. Kenapa Bapak harus marah? Bukannya harusnya senang mahasiswi bimbingannya ikut lomba?" balas Lala. Dagu Lala dipegang dengan kasar oleh Elric. "Meski rahasia bukan berarti aku tak mengawasimu!" ujar Elric. "Lepaskan!" Lala menepis tangan Elric. Mata Elric membulat saat menyaksikan reaksi tak terduga itu. Terus Bapak maunya apa?" balas Lala. Elric diam. Satu kata pun belum meluncur dari mulutnya. "Pernikahan kita rahasia, Pak. Memangnya s
"Heh?" Lala tertegun sejenak. 'Ada yang mau pedekate sama gue? Duh, gue kan udah married. Tapi nggak papa deh anggap aja temen,' batin Lala. "Kita temenan dulu boleh kan?" sahut Lala. "Tuh, Lala maunya temenan dulu. Lo jangan dar der dor deh," ujar Rosi. Nolan hanya tertawa saja. "Aman-aman, gue nggak gigit kok. Gue orangnya tuh setia dan full of service." "Pinter amat mulut lo promosinya," celetuk Rosi lagi. "Udah, deh. Mau ngerjain proposal ini," protes Nolan. "Ih, modusnya pinter banget ya lo," protes Lala. Nolan nampak menatap ke arah layar laptop,"Nggak modus kok, beneran buat proposal lomba." "Udah, deh. Nanti lagi video call-nya," Nolan menutup panggilan telepon itu. Lala sedikit canggung, dia mulai menyantap kembali potongan buah pisang itu. "Mie-nya enak. Kantin sini emang rekomended. Oh ya, nyicip ya," Nolan dengan santai mengambil potongan pisang dari piring Lala. Lala merasakan Elric masih terus menatap tajam dari kursi tempat dia duduk. '
"Pak Elric," ujar Lala spontan. Nampak Elric sudah menghampiri meja tempat dimana Lala dan Nolan berada. Tatapannya dingin seolah menyimpan amarah. 'Ih, dia ngapain sih? Apa dia kepancing gara-gara gue deket sama Nolan?' batin Lala. "Ini tempat umum, jangan ribut di sini," Elric menatap tajam. "Kami nggak ribut, Pak," Nolan sudah berdiri. Mata Lala membulat melihat tingkah Nolan. Elric masih teguh menatap tajam ke arah Nolan. "Orang datang ke sini untuk makan. Jangan ganggu suasana dengan keributan," ujar Elric lagi. "Ada apa, La?" terdengar suara Rosi. Video call itu masih tersambung. "Ehm, ada Pak Elric. Mungkin baiknya aku sama Nolan pindah tempat ngobrol," Lala bingung harus menjawab apa. Nolan masih berdiri. Dia nampak tak mau mengalah. "Ini kantin, Pak. Bukan kelas, kantin adapah ruang terbuka. Saya dan Lala juga tidak memgganggu sispa pun. Kenapa Bapak harus marah?" tantang Nolan. "Kau udah ditegur masih berani membalas. Sudah saya bilang suara ka







