Masuk“Duh! Gimana caranya ngasih tau Ibu ya?”
Liburan semester tiba. Sesuai rencana, Lala pulang lebih dulu ke Desa Pandan Wangi. Hari ini sudah hari ketiga semenjak kepulangannya. Dia masih belum tahu bagaimana memberitahu sang ibu terkait pernikahannya dengan Elric. Lala melangkah mondar-mandir di kamarnya yang masih berlantai tanah. Gelisah. Tanpa sadar, dia menggigit kuku di ibu jari tangan kanannya. Lagi, Lala bermonolog pelan, “Pak Elric juga belum ngabarin mau datang kapan. Katanya baru ada acara penting.” Dia mencoba merangkai kata di dalam kepalanya dan memikirkan kemungkinan reaksi sang ibu. “Oke. Yang penting jangan sampai gue bahas soal jadi istri kedua. Tinggal bilang kalo gue bakal nikah.” Merasa sudah mantap dengan skenario yang disusun, Lala membaringkan dirinya di atas dipan kayu itu. Nampak sebuah kertas tertempel di dinding, berisikan catatan impian gadis muda itu. “Nikah muda dan jadi istri kedua nggak ada dalam list ini,” gumam Lala sedikit kecewa. “Padahal gue pengen S2 ke luar negeri.” Tengah sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba terdengar suara celotehan dari luar rumahnya. Dalam waktu singkat, pintu kayu tua lapuk yang menjadi jalur keluar masuk penghuni rumah itu terdengar dibuka seseorang. Spontan Lala melompat dari kursi kayu itu. “Astaga! Ibu udah dateng!” Lala segera keluar dari kamar. Ia melihat seorang wanita tua tersenyum sambil menggoyangkan tentengan besek bambu di tangannya. Dia adalah Murinah, ibu kandung Lala. “Ibu dapet besek nih, La!” ujar Murinah dengan riang. “Makan dulu yuk! Ambil piring, sana.” Lala mengangguk dengan tatapan kosong. Tangannya mengambil piring kaca hadiah sabun cuci. Sementara menunggu Lala, Murinah meletakkan besek itu di meja dan duduk, melepas lelah. Dari tempatnya mengambil piring, Lala mengintip sang ibu. ‘Gue nggak pernah bahas cowok di depan Ibu. Harus ngomong senatural mungkin. Ibu nggak boleh sampe curiga,’ batin Lala. Setelah mempersiapkan diri, Lala kembali ke meja makan dengan 2 piring makan. Dia duduk di samping Murinah, supa tidak terlihat kegugupannya. Matanya menatap makanan yang sudah dikeluarkan dari dalam besek. “Dari siapa, Bu?” “Ini syukuran nikah anaknya Pak Wiryo. Ibu tadi bantu masak di sana,” ujar Murinah sambil memberikan potongan ayam di atas piring Lala. Kemudian Murinah menambahkan dengan sedikit penekanan. “Teman sepantaran kamu sudah ada yang nikah lagi, La.” Lala tertegun. Kata-kata itu seperti mengandung kode. ‘Apa ini restu dari semesta? Ibu ngasih kode tipis biar gue nikah,’ batin Lala sambil mengunyah potongan ayam. Pikiran Lala berusaha menyusun kata-kata yang tepat. Dia berusaha menikmati makanan di mulutnya. Helaan nafas panjang dia buat. “Ehm … kalau ada yang lamar Lala, emang Ibu setuju?” ujar Lala mencoba santai. Murinah terkekeh sambil menyuapkan nasinya ke dalam mulut. “Ya, kalau ada, kenapa nggak setuju?” Belum juga Lala melanjutkan, Murinah menambahkan, “Yang penting cinta sama Lala. Mau bahagiain Lala. Jangan kriminal.” Lala terdiam sesaat. ‘Pak Elric nggak cinta sama Lala, tapi seenggaknya, dia lakuin itu supaya gue bahagia. Iya nggak, sih?’ “Tapi, La. Kamu nggak pernah ngomongin cowok, tiba-tiba bilang nikah. Mimpi apa semalam?” ledek sang ibu sambil menyikut putrinya itu. “Ish! Ibu sih ngasih kode tipis-tipis! Aku kan cuma mau bilang aja,” balas Lala berusaha santai. Murinah melirik Lala. “Bener cuma tanya? Jangan-jangan di kota, ada yang beneran mau nikahin kamu?” Spontan netra Lala membeliak sesaat. Ia terdiam. “Bu, sebenernya … ada yang lamar Lala.” Murinah langsung terbatuk mendengar pengakuan Lala. Ia jadi mulai bertanya-tanya. “Kamu nggak hamil duluan kan, La?” Lala langsung terbatuk-batuk. Dia ikut tersedak. Seteguk air segera Lala minum. “Nggak, Bu. Aku masih perawan. Belum pernah disentuh cowok,” elak Lala. Rasa bersalah menyelimuti hati Lala. Satu kebohongan sudah keluar dari mulutnya. Murinah masih menatap tajam. Tangan kanannya berhenti menyuapkan sendok. “Aneh loh, La. Bukan biasanya pacaran dulu gitu? Dia mau langsung mau nikahin kamu? Apa ada apa-apanya, La?” Murinah mulai curiga pada tingkah putri semata wayangnya. Nasi di piring sudah mulai terabaikan. Makanan di mulut Lala pun terasa tak nikmat. Tatapan aneh Murinah terasa menusuk. “Nggak juga ah, Bu. Orang kota beda lah,” ujar Lala mencoba mengelak. Murinah membereskan lauk yang masih tersisa. Dia menghindari tatapan mata Lala. “Seenggaknya bisa kenalan dulu, La. Bawa keluarganya ke sini. Jangan buru-buru nikah,” keluh Murinah. Tangan Lala yang hendak mencomot kue pastel menjadi tertahan. ‘Waduh, pernikahan gue kan rahasia. Mana ada keluarga yang bisa diajak ke sini. Gimana ya?’ batin Lala. Murinah mengambil ponsel Lala dari dalam kamar. Ponsel itu lalu disodorkan ke depan wajah Lala. “Memang calonmu orang mana? Udah lulus? Coba telpon. Ibu mau kenalan sama orang tuanya,” ujar Murinah. Pertanyaan Murinah di luar prediksi Lala. Lala tertegun. Jantungnya kembali berdebar kencang. “Orang tua calonku sudah meninggal, Bu,” sahut Lala. Murinah menyodorkan ponsel itu lagi. Kali ini layarnya sudah dipencet agar menyala. “Dia angkatan berapa? Emang udah lulus?” Murinah makin penasaran. “Calonku dosen pembimbingku sendiri, Bu,” sahut Lala semakin panik. “Hah? Kok bisa?” Murinah tertegun. “Kamu nggak jadi simpanan kan?” Lala terbatuk-batuk lagi. Dia tersedak kue pastel. “Astaga, Ibu! Kenapa Ibu bisa mikir gitu? Dia masih single!” elak Lala. Kebohongan lain meluncur lagi dari mulut Lala. Hati Lala mulai tak tenang. “Ibu takut. Tadi waktu masak, temen ibu cerita anak saudara jauhnya ada yang kuliah juga di Jakarta. Dia jadi simpanan dosennya. Katanya biar dapat duit banyak terus kuliah lancar,” ujar Murinah lirih. Ada beban yang seolah menghantam dada Lala. Lala berusaha menenangkan dirinya. ‘Gue bukan simpanan. Gue bakal jadi istri kedua,’ batin Lala. Lala tersenyum. Pikirannya mulai menata ulang kalimat. “Ibu, calonku namanya Pak Elric. Dia dosen yang membimbing penelitian Lala. Karena sering bertemu jadinya kita ehm … merasa cocok.” Lala berusaha menyakinkan. Murinah memperhatikan dengan serius ucapan Lala. Setiap kata yang terlontar terasa diawasi. “Ya, paham sih ibu. Cuma, apa nggak kecepetan, La? Kalian sudah menjalin hubungan berapa lama?” Murinah penasaran. “Be—berapa lama?” Lala tertegun. “Iya. Biasanya kan kalo udah lama, suka pada ngerayain peringatan hari jadi, La. Masa’ kamu nggak inget?” “Ehm … satu tahun. Iya, satu tahun,” telunjuk tangan kanan Lala teracung. Murinah sedikit kurang percaya. Namun, ketika ia berniat mempertanyakan lebih lanjut, terdengar suara pintu kayu diketuk dengan keras. Lala dan Murinah menatap ke arah pintu kayu itu. “Siapa ya?” seru Murinah, beranjak membuka pintu. Penasaran, Lala pun mengikuti dari arah belakang. Nampak seorang pria berusia belasan tahun sudah berdiri di depan pintu rumah. “Eh, Gito! Ada apa, Nak?” tanya Murinah kaget. Gito adalah anak Pak Kades di sana. “Ada orang dari kota cari Mbak Lala, Bu. Dia sekarang ada di rumah Bapak.” “Hah? Orang kota cari Lala?” Murinah terkejut. Ibu dan anak itu saling pandang. Sama-sama tidak tahu siapa yang mencari Lala. Lala pun panik. ‘Apa itu orang-orang suruhan Pak Rino?!’"Ehm, gimana ya. Gue ada acara sebenarnya," Lala ragu menjawab ajakan Nolan. Mata Lala memandang ke arah Elric. Nampak tatapan mata Elric menatap tajam seolah tak suka. Tatapan itu disembunyikan dengan bermain ponsel. 'Sekali-sekali nonton juga nggak papa kayaknya,' batin Lala. "Lan, gue setuju. Sekalian kita ngobrolin proposal ya. Masih butuh temen lagi nggak buat anggota kelompok?" Lala sengaja mengeraskan suaranya. Tangan Elric tanpa sadar terkepal. Rokok elektrik itu dimatikan dengan kasar. "Bagus kalo lo bisa ikutan. Nanti gue jemput gimana?" Nolan terdengar antusias. Lala tertegun mendengar tawaran itu. "Ehm, filmnya tentang apa sih? Kalo horor gue pikir-pikir lagi. Jawab dulu, gue takut nonton horor." Terdengar suara tawa Nolan. "Nggak kok, tenang. Bukan horor. Fantasi ilmiah, itu film A si alien biru." "Oh, ya gue tahu. Yang punya kuncir itu ya. Tahu, tahu, boleh banget. Besok ketemuan aja deh di mallnya," sahut Lala. Terdengar sambungan telepon itu te
"Iya!" ujar Lala dengan suara lantang. Dia menatap Elric tanpa rasa takut dan ragu. Mata Elric membulat saat mendengar hal itu. Tangannya rasanya ingin memggebrak meja itu namun tertahan. Helaan napas panjang menghembus dari mulutnya. "Aku tak seburuk yang kau pikirkan, La," Elric menghisap lagi rokok elektriknya. Lala dengan santai memakan martabak itu. "Bapak dosen saya jika di kampus. Tapi suami saya jika di rumah. Saya kan hanya digunakan tanpa perasaan saja bukan?" 'Ayo, pria dingin, jawablah! Kau bilang sejujurnya apa yang ada di otakmu itu!' batin Lala. Elric masih nampak diam. Matanya justru menatap ke arah langit yang mulai gelap. "Kau seharusnya memang tak ada di sini," ujar Elric lirih. "Kalo begitu saya pergi saja, Pak," Lala sudah menggenggam ujung kruknya. Elric memegang bahu Lala. "Duduk, kita bicara." Lala tertahan oleh Elric. Dia kembali duduk di kursinya. "Baik, mulai sekarang aku akan meminta izin lebih dahulu," ujar Elric. "Tidak ada min
"Kau masih saja suka melawan!" Elric akhirnya melepas cengkeraman di dagu Lala. Lala berusaha menjauhkan diri dari hadapan Elric. Kursi itu ditarik agar menjauh. Rasa sakit yang ada di kaki diabaikan. "Anak nakal ini juga butuh penjelasan, Pak. Saya manusia bukan benda mati yang hanya digunakan saja!" ujar Lala dengan nada meninggi. Elric tidak menyahut, dia menghela napas. Rokok elektrik itu kembali diambil dan dinyalakan. "Bapak sudah tua sebaiknya jangan merokok," sindir Lala. Mata Elric kembali menatap tajam. "Kau masih berani menyindirku!" balas Elric. Lala hanya menggangguk, ketakutan dalam dirinya dia sembunyikan. "Jika Bapak sakit saya juga yang repot. Proyek akhir saya bisa tertunda," sahut Lala. Mata itu sibuk menatap tulisan pada layar laptop. Elric meletakkan kembali rokok elektrik itu. Dahi Lala langsung dijitak tanpa permisi. "Aduh," keluh Lala. Tangan itu langsung memegang dahinya. "Pak, jangan main kekerasan. Nanti jika saya luka bisa te
"Hah?" Lala tertegun. Dia tidak menyadari kehadiran Elric. "Bapak udah pulang?" "Ehm, kau belum menjawab pertanyaanku!" Elric mendesak Lala. Posisi tubuh Elric berada tepat di depan wajah Lala. Kedua tangan Elric memegang kedua sandaran kursi itu. Lala terkunci tepat di hadapab wajah Elric. "Apa maksud Bapak? Saya nggak paham," Lala membuang pandang. Dia berusaha mengelak. Wajahnya berpaling dari hadapan Elric. "Kau sengaja ya tadi?" Elric mendesak lagi. "Siapa dia?" "Sengaja apa, Pak? Saya cuma ikut lomba seperti biasanya. Kenapa Bapak harus marah? Bukannya harusnya senang mahasiswi bimbingannya ikut lomba?" balas Lala. Dagu Lala dipegang dengan kasar oleh Elric. "Meski rahasia bukan berarti aku tak mengawasimu!" ujar Elric. "Lepaskan!" Lala menepis tangan Elric. Mata Elric membulat saat menyaksikan reaksi tak terduga itu. Terus Bapak maunya apa?" balas Lala. Elric diam. Satu kata pun belum meluncur dari mulutnya. "Pernikahan kita rahasia, Pak. Memangnya s
"Heh?" Lala tertegun sejenak. 'Ada yang mau pedekate sama gue? Duh, gue kan udah married. Tapi nggak papa deh anggap aja temen,' batin Lala. "Kita temenan dulu boleh kan?" sahut Lala. "Tuh, Lala maunya temenan dulu. Lo jangan dar der dor deh," ujar Rosi. Nolan hanya tertawa saja. "Aman-aman, gue nggak gigit kok. Gue orangnya tuh setia dan full of service." "Pinter amat mulut lo promosinya," celetuk Rosi lagi. "Udah, deh. Mau ngerjain proposal ini," protes Nolan. "Ih, modusnya pinter banget ya lo," protes Lala. Nolan nampak menatap ke arah layar laptop,"Nggak modus kok, beneran buat proposal lomba." "Udah, deh. Nanti lagi video call-nya," Nolan menutup panggilan telepon itu. Lala sedikit canggung, dia mulai menyantap kembali potongan buah pisang itu. "Mie-nya enak. Kantin sini emang rekomended. Oh ya, nyicip ya," Nolan dengan santai mengambil potongan pisang dari piring Lala. Lala merasakan Elric masih terus menatap tajam dari kursi tempat dia duduk. '
"Pak Elric," ujar Lala spontan. Nampak Elric sudah menghampiri meja tempat dimana Lala dan Nolan berada. Tatapannya dingin seolah menyimpan amarah. 'Ih, dia ngapain sih? Apa dia kepancing gara-gara gue deket sama Nolan?' batin Lala. "Ini tempat umum, jangan ribut di sini," Elric menatap tajam. "Kami nggak ribut, Pak," Nolan sudah berdiri. Mata Lala membulat melihat tingkah Nolan. Elric masih teguh menatap tajam ke arah Nolan. "Orang datang ke sini untuk makan. Jangan ganggu suasana dengan keributan," ujar Elric lagi. "Ada apa, La?" terdengar suara Rosi. Video call itu masih tersambung. "Ehm, ada Pak Elric. Mungkin baiknya aku sama Nolan pindah tempat ngobrol," Lala bingung harus menjawab apa. Nolan masih berdiri. Dia nampak tak mau mengalah. "Ini kantin, Pak. Bukan kelas, kantin adapah ruang terbuka. Saya dan Lala juga tidak memgganggu sispa pun. Kenapa Bapak harus marah?" tantang Nolan. "Kau udah ditegur masih berani membalas. Sudah saya bilang suara ka







