Chapter: Bab 85. Pertemuan Tidak Disengaja"Pak Elric?" ujar Nolan tanpa sadar. Pandangan mata Nolan langsung memgarah ke arah datangnya Elric. Elric berjalan dengan langkah tegas menuju ke arah Lala. "Bapak?" Lala tertegun. Dia tidak menyangka suami rahasianya itu akan datang ke mall ini. 'Ngapain Pak Elric ke sini? Gila apa, kok bisa keremu di tempat begini,' batin Lala. Nampak di tangan Elric jas yang terlipat rapi. Dia berjalan sambil menyaku tangan kanannya. Sorot matanya tajam bak elang yang menatap mangsa. "Kau di sini, La?" ujar Elric dengan suara pelan namun lantang. Sorot mata itu seolah bertanya apa yang kau lakukan dengan pria ini di sini. Lala berusaha membuang pandang. Dia menghindari tatapan Elric. "Bapak nonton film juga?" tanya Nolan. Dia menggandeng tangan Lala. Bola mata Lala langsung melebar ketika mengetahui hal itu. Tangan Lala hendak melepaskan gandengan itu. "Saya juga punya kehidupan. Apa urusanmu menanyakan hal itu?" jawab Elric dengan nada sinis. Nolan terlihat tidak s
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: Bab 84. Ramen dan Penguntit"Hah?" Lala terkejut mendengar pernyataan itu dari mulut Nolan. Wajah Lala nampak sedikit pucat mendengar pernyataan Nolan. "Nggak, kok ini cuma orang iseng kan gue masih single," ujar Lala. Tangan Lala berusaha membalikkan handphone itu. Saat dibalikkan, handphone itu masih menunjukkan panggilan dari nomor Elric. "Kamu dari tadi celingak-celinguk. Emang ada apa? Ada yang mencurigakan ya?" tanya Nolan. Mata Nolan ikut menatap ke arah penjuru restoran. Dia mengikuti ke mana arah mata Lala memandang. "Nggak ada apa-apa, tenang aja. Aku cuma sedikit gelisah karena asam lambungnya kumat." kilah Lala. Nampak pria botak yang seolah berjalan ke arah Lala. Lala mengenali pria itu. Itu pria yang mengikutinya sedari tadi. 'Apa mereka suruhan, Pak Rino? Jangan-jangan aku mau diculik' batin Lala. Nolan menangkap sinyal di mata Lala yang memberi tanda, seolah ketakutan. Netra itu memperhatikan pria botak yang baru saja lewat. "Kamu kenal dia?" tanya Nolan dengan mimik w
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: Bab 83. Suami Rahasia?"Hah? Apa?" Sedotan yang di mulut Lala berasa menusuk ke langit-langit mulut. Dia langsung terbatuk-batuk, akibat tersendak soda. 'Kenapa Nolan bisa berpikiran seorang diri itu? Apa dia sudah tahu rahasia aku?' batin Lala. "Lo kenapa, La?" tanya Nolan. Dia langsung menghadap ke arah Lala. Lala hanya tersenyum sambil tisu dari tas selempangnya. Sisa soda itu diseka dengan tisu. "Gue nggak apa-apa, cuma agak kaget. Ada adegan berdarah." kilah Lala. "Oh, begitu? Gue kira, kenapa-napa." Nolan masih memperhatikan Lala. "Gue masih single ya, belum punya pacar, apalagi suami. Bercanda lo nggak lucu." tegur Lala. "Wah, ikan di perairan yang besar, iya. Gue kagum sama ide sutradaranya." Lala sengaja mengalihkan ke topik lain. Tatapan Nolan masih berusaha dihindari. Lala berusaha bersikap senormal mungkin sambil memakan popcorn. "Kenapa lo tanya kayak gitu? Gak mungkin, kan, lo naksir gue?" canda Lala. Nolan hanya tertawa kecil. Dia langsung menatap ke layar bioskop samb
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: Bab 82. Menonton Kenyataan"Sorry, gue kesel. Baru baca chat dari keluarga jauh. Seenaknya minta diutangin."elak Lala. "Ada apa, Laa? Apa yang kau khawatirkan? Nolan menatap ke arah Lala dengan tatapan khawatir. Lala berusaha mengalihkan pandangannya. Namun, ujung matanya menatap ke arah orang mencurigakan itu. Dua orang itu berpakaian merah, dan satu lagi berpakaian kemeja hitam. Keduanya memakai kacamata hitam. Badan kedua pria itu tegap dan kekar. Keduanya makan nasi goreng dengan santai saat Lala menatapnya. 'Tak salah lagi, dua orang ini suruhan Pak Elric. Siapa lagi yang bisa membuat hal seperti ini selain si pria dingin itu?' batin Lala. "Permisi, Kak." seorang pelayan lelaki mengantarkan pesanan Lala dan Nolan. Ada dua gelas jus stroberi dan dua buah cupcake dengan topping krim berwarna putih. "Apakah pesanannya sudah lengkap dan sesuai, Kak?" Nolan nampak memandangi makanan dan minuman yang baru saja diturunkan dari nampan oleh pelayan. "Sudah, Kak." kata Lala. Tanpa ragu dia mengambi
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: Bab 81. Hubungan Khusus?"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, Nolan?" Lala berusaha menghindari tatapan Nolan. Matanya tak bisa menyembunyikan jika dia tak nyaman dengan pertanyaan. Kruk di tangan Lala tiba-tiba mendadak. Pertanyaan itu tidak disangka akan muncul dari mulut Nolan. "Aku pikir kau punya hubungan khusus dengan beliau. Kalian terlihat dekat." Nolan berusaha menatap Lala, namun Lala masih saja membuang pandang. 'Apa aku terlihat sangat mencolok?' batin Lala. Dia berusaha memikirkan cara agar tidak dicurigai Nolan. Suasana hening sejenak. Lala menyebut sepatah kata pun. Dia masih bimbang harus berkata apa. "Memangnya perilaku seperti apa yang membuatku terlihat spesial?" Lala memberanikan diri bertanya pada Nolan. Nolan nampak berpikir sejenak. Dirinya terlihat bimbang. "Pak Elric menegur kita. Aku tidak nyaman dengan hal itu." Nolan memegang bahu Lala. Gerakan Lala terhenti sejenak. Dia mendongak dan menatap Nolan. Tanpa disadari, ujung bibir Lala digigit tanpa disadari.
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: Bab 80. Pria Yang Menyentuh Hati Kecil?"Halo," Lala menjawab telepon dari Nolan. Telepon itu masuk tepat saat mobil taksi berhenti di depan lobi mall yang megah. Atap tinggil menjulang. Deretan nama brand kelas atas terpampang di halaman luar bangunan mall itu. Nuansa kekunigan nan elegan mendominasi bangun mall itu. "Kamu udah sampai belum, La?" terdengar suara Nolan. Suara yang lembut dan manis. Hati kecil Lala tersentuh, tanpa sadar dia tersenyum. "Gimana kalo gue jemput ke situ?" "Gue udah sampe di depan lobi mall. Loe dimana?" sahut Lala. Pintu mobil taksi itu terbuka dari dalam. Lala sudah membayar biaya taksi dengan cashless. Kaki Lala melangkah keluar dengan hati-hati. Telapak kaki itu mendarah tepat di atas lantai marmer hitam. "Ya udah gue jalan ke situ. Tungguin gue, ya." suara hangat Nolan kembali terdengar. "Iya, gue tunggu." ujar Lala. Sambungan telepon itu terputus. Kaki Lala kembali melangkah menuju ke area dalam mall. Netra Lala tak berkedip beberapa detik. Arsitektur mall itu b
Last Updated: 2026-03-20
Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang
Alara Currelan, wanita sangat cantik yang berprofesi sebagai dokter dan influencer kesehatan. Dia hobi menonton drama pendek tema kerajaan zaman kuno. Karena kelelahan setelah operasi selama 36 jam nonstop, dia meninggal dunia. Tiba-tiba, dia bangun di dalam dunia drama pendek yang ditontonnya. Alara bertransmigrasi menjadi Norabel Valedel, tokoh protagonis yang mati tragis akibat dibunuh suaminya sendiri, Diller Leonaricーpangeran ke-7 kerajaan Dragerium.
Alara tak mau mengulang kisah yang sama. Pada saat pengasingan akibat fitnah, Alara berusaha mendekati antagonis pria. Dengan kemampuan medis dan pengetahuan alur cerita, dia berusaha menyelamatkan hidupnya dan mengubah alur. Sampai Alara menyadari, bukan hanya dia satu-satunya orang masa kini yang masuk ke dalam drama pendek itu.
IG:misscaya88
Read
Chapter: Bab 51. Kalung Aneh dan Kecurigaan"Kau berani kasar padaku?" Alara menunjuk ke arah dirinya sendiri. Suasana tegang tak ada yang berani berbicara maupun berbisik-bisik. Semua sorot mata mengarah ke arah Alara dan Elhart. Pedang di tangan kanan Elhart nampak mengerikan. Seolah bisa menebas leher Alara kapan pun. "Sudah, sudah," Madam Verena mencoba mencairkan suasana. Dia berdiri diantara Alara dan Elhart. Kedua tangannya menghalangi tepat di depan tubuh Alara. "Lady, cepat kau tolong prajurit muda itu. Kurasa Tuan Elhart sedang kalut." Alara menggangguk-angguk. Dia segera mendekat ke arah prajurit yang tidak sadarkan diri itu. "Dan kau Tuan Elhart, jangan mengacau di sini! Aku tak segan-segam melaporkanmu pada Pangeran Varek. Nenek tua ini juga tak suka jika rumahnya diobrak-abrik seperti ini!" teriak Madam Verena. Tongkat kayunya menunjuk tepat di depan wajah Elhart. Alara memeriksa luka pada prajurit itu. Urat nadi dan napasnya diperiksa terlebih dahulu. "Dia masih bernapas tapi lemah," ujar Alara
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 50. Selamatkan atau Nyawamu Melayang!"Ada apa ini?" teriak Nolin. Dia terkejut melihat kedatangan pasukan Crimsom Drakaina. Ada lima orang prajurit datang dengan menunggang kuda. Seorang perajurut nampak tidak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari balik pakaiannya. Aroma darah segar menyebar di sekitar halaman depan Kastil Valcon. Belasan warga yang sedang duduk mengantri memusatkan pandangan ke arah prajurit itu. "Darah," seru salah seorang warga sambil menunjuk ke arah prajurit yang dipapah rekannya. "Benar, ada darah," seru warga yang lain. Darah segar menetes dari tubuh prajurit itu. Tetesan-tetesan darah mengalir ke permukaan tanah. Membentuk jejak seperti garis. "Tuan Elhart," sapa Choky, si juru masak. Dia langsung mengenali wajah itu. Elhart, ajudan Pangeran Varek. Elhart datang dengan langkah angkuh. Tatapannya membuat para penduduk tidak berani berbicara sembarangan. Suasana seolah hening seketika. "Dimana Lady Norabel?" tanya Elhart sekali lagi. Choky yang biasanya pemarah mendadak
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Bab 49. Lady Penyembuh yang Ampuh"Memecah belah?" terdengar celetukan penuh rasa terkejut dari kerumunan penduduk. Bisik-bisikan gosip terus terdengar. Beberapa orang menatap penuh waspada ke arah Tabib Maelor. "Jangan-jangan Tabib Maelor sudah membelot," tuduh seorang penduduk. "Iya, benar. Lady Norabel sedang mengadakan pelatihan kesehatan dengan damai. Tapi, tabib tak tahu diri ini tiba-tiba muncul begitu saja," tuduh Delvin. Dia masih geram dengan tindakan Tabib Maelor. "Ayahku bukan pengkhianat!" teriak Mireya. Dia sudah menempatkan Tabib Maelor tepat di belakang tubuhnua. Pria renta itu nampak bingung dengan hal yang terjadi. "Sudah cukup!" teriak Alara. Dia berdiri tepat di depan Mireya dan Madam Verena. Alara mencoba menengahi penduduk dan kubu Tabib Maelor. "Kita lupakan saja masalah ini," ujar Alara dengan suara lembut. "Tapi, Lady pria itu kurang ajar! Aku tak terima jika nanti kau menutup praktek hanya karena gosip dan tuduhan tabih tukang fitnah itu!" teriak Lidya, tangan kirinya t
Last Updated: 2026-06-01
Chapter: Bab 48. Pendukung Musuh"Siapa itu?" Alara mendongakkan kepalanya. Nampak beberapa orang memasuki halaman depan Kastil Valcon. Ada seorang pria tua yang sudah nampak uzur. Mata birunya mulai nampak keriput. Rambutnya memutih. Jenggot panjang terkepang rapi menjuntai di dahunya. Pria tua itu berjalan ditemani seorang wanita muda. Wanita muda itu juga bermata biru tua. Rambutnya coklat kemerahan. Dia menuntun si pria tua itu. "Ini, Tuan. Lady ini mengadakan pengobatan aneh. Padahal dia hanya istri terbuang," seorang pria menunjuk-nunjuk ke arah Alara. Pria itu menuntun pria tua itu. Pria tua itu memilih berjalan perlahan. Tongkat kayunya seolah digerakkan pelan namun penuh wibawa. "Tabib Maelor," ujar Madam Verena. Dia langsung mengenali pria tua itu. Madam menyambutnya dengan ramah. "Halo, Madam," sahut Tabib Maelor dengan ramah. "Lama tidak berjumpa." 'Ada apa lagi ini? Sepertinya tak bisa kondisiku tenang sejenak,' batin Alara. Dia mengawasi kedatangan orang-orang itu penuh waspada. "Ad
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: Bab 47. Jalan Untuk Pulang?"Aku bisa muncul di mimpimu. Aku juga korban dari kekuatan aneh cincin edelweis itu, tahu!" Draven menjawab dengan serius. Alara memikirkan perkataan itu dengan serius. Kalimat kembali ke tubuh aslimu membuatnya merasa rindu. Ada perasaan aneh, sedih, rindu dan rasa lega karena mungkin ada kesempatan kembali. Kaki Alara melangkah perlahan menuju ke arah jendela kamar yang ada di lantai tiga. Pintu kayu jendela itu dibuka. Nampak pemandangan kota Frostlyen. Lalu lalang prajurit nampak di jalan utama kota. Helaan napas panjang dilakukan Alara. Air mata tanoa sadar mengalir di pipinya. "Kau kenapa?" tanya Draven. Dia merayap mendekat ke arah jendela itu. Kepalanya mendongak ke arah Alara. Tangan kanan Alara menghapus air mata yang mengalir di kedua bola matanya. "Aku rindu rumah. Rindu tubuh asliku. Perkataanmu membuatku teringat akan rumahku," sahut Alara. Kepala Alara menyandar di jendela kamar itu. Angin sepoi-sepoi bertiup seolah membelai rambut pirangnya. Suasan
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: Bab 46. Kadal Aneh Memuakkan"Gara-gara kalian universe ini sudah berubah tahu!" Draven, si kadal itu menatap tajam ke arah Alara. Pantulan wajah Alara terpampang jelas di kedua bola mata itu. "Kalian? Maksudku kau tahu jiwa asing lain yang datang ke sini?" Alara mendekat ke arah Draven. Dia sudah berlutut agar kepalanya makin mendekat ke arah kadal itu. Kepala Draven yang terjulur sedikit mundur ke arah belakang. Dia memasang tatapan penuh kewaspadaan. "Aku penjaga. Bagaimana mungkin tidak tahu jika ada jiwa asing masuk," sahut Draven. Alara mengambil buku catatan kecilnya yang ada di dalam tas edelweis. Pulpen hitam juga dikeluarkan. Sejenak dia mengamati Draven. "Kau mau apa, Gadis Gila?" Draven makin curiga. "Kau mau memusukku dengan benda runcing itu? Dengar, aku masih bisa membakarmu dengan sekali sembur tahu!" ancam kadal itu. Suara tawa yang tertahan terdengar dari mulut Alara. Dia berhenti menulis sejenak. "Kau sangat lucu. Kadal yang bisa berbicara," Alara mencoba menggambar Draven k
Last Updated: 2026-05-30