Istri Terbuang Jadi Dokter Kesayangan Jenderal Perang
Alara Currelan, wanita sangat cantik yang berprofesi sebagai dokter dan influencer kesehatan. Dia hobi menonton drama pendek tema kerajaan zaman kuno. Karena kelelahan setelah operasi selama 36 jam nonstop, dia meninggal dunia. Tiba-tiba, dia bangun di dalam dunia drama pendek yang ditontonnya. Alara bertransmigrasi menjadi Norabel Valedel, tokoh protagonis yang mati tragis akibat dibunuh suaminya sendiri, Diller Leonaricーpangeran ke-7 kerajaan Dragerium.
Alara tak mau mengulang kisah yang sama. Pada saat pengasingan akibat fitnah, Alara berusaha mendekati antagonis pria. Dengan kemampuan medis dan pengetahuan alur cerita, dia berusaha menyelamatkan hidupnya dan mengubah alur. Sampai Alara menyadari, bukan hanya dia satu-satunya orang masa kini yang masuk ke dalam drama pendek itu.
IG:misscaya88
Read
Chapter: Bab 103. Lalu Apa Rencanamu?"Ini bukan ide gila!" sahut Alara. Dia berdiri lalu mendejat ke arah Varek. "Lihat,ada jalur sungai yang bisa dimanfaaatkan. Itu bisa menjadi celah ubtuk membalik keadaan!" Varek masoh saja menatap Alara dengan tatapan penuh ketidaksukaan. Itu terasa amat mengganggu. 'Dasar Alara Gila! Dia mau menggunakan senjata biologis dalam perang ini? Itu sama saja melakukan pembantaian kepada pohak musuh,' batin Varek. "Itu gila! Meracuni sungai bisa membuat satu wilayah berubah total. Rakyat biasa juga bisa terkena dampaknya. Apa kau sudah memikitkan hal itu, Lady Norabel?" tegur Varek. Alara tertegun. Tatapan Varek mengingatkannya kepada tatapan penuh ketegasan yang dimiliki Kevin saat sedang berseberangan pendapat dengannya. 'Bahkan cara dia menatapku saat marah juga tidak berubah. Benar-benar ada jiwa Kevin Julian di dalam tubuh Varek. Ini bukan ide gila!' batin Alara. "Lalu apa yang akan Anda lakukan?" tanya Alara balik. Suasana menjadi semakin tegang. "Apa kita akan terus menung
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Bab 102. Perdebatan Dua Hati"Kau punya ide, Lady?" tanya Varek. Dia bangkit dari kursi tempat duduknya lalu berdiri di dekat Alara. Alara menatap ke arah Varek. Kursi tang ditinggalkan itu ditarik kembali. "Kau duduk saja. Aku tak mau lukamu kembali terbuka, Yang Mulia." Alara menyeret kursi itu. Varek didudukkan kembali di sana. "Apa aku kelihatan selemah itu?" protes Varek.Dia tetap duduk dengan patuh meski sedikit menggerutu. Cassian berjalan mendekat ke arah tuannya,"Anda tetap harus memperhatikan dan menjaga kondisi Anda, Yang Mulia. Semakin cepat luka Anda mengering maka semakin cepat Anda pulih." Netra Alara kembali menatap ke arah peta yang ada di atas meja itu. Dia memperhatikan letak pion-pion yang masih tertancap. "Warna apa yang menggambarkan pasukan kerajaan Mercion? Apakah yang warna hitam?" tebak Alara asal. Jari telunjuk tangan kanannya menunjuk ke arah pion berwarna hitam itu. Cassian menggangguk," Tebakan Anda tepat, Lady. Pasukan dan perkemahan Kerajaan Mercion diwakili dengan
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: Bab 101. Senyuman Masa Lalu"Ide apa yang Anda pikirkan, Lady?" Cassian melirik ke arah Alara. Alara baru saja menyadari jika ucapan asal dari bibir mungilnya baru saja menarik perhatian banyak orang. Semua prajurit yang ada di dalam tenda pengobatan itu melirik ke arah Alara. "Ide apa yang kau maksud, Gadis Aneh?" terdengar ucapan Draven lewat telepati."Pikirkan dulu kondisimu dan pacarmu itu agar segera sembuh!" Bibir Alara sedikit manyun begitu mendengar kata pacar. Varek yang juga bisa mendengar suara Draven memilih membuang pandang. Dia tiba-tiba pura-pura terbatuk-batuk. "Apakah ada metode pengobatan yang lebih baik yang Anda temukan,Lady?" tanya Tabib Khaelus. Alara menggeleng. Dia tidak menyangka jika pertanyaan itu akan terlontar kepadanya sekarang. "Bukan, ini ehm... bukan tentang pengobatan." Varek menatap ke arah Alara dengan tatapan serius. "Katakan saja. Jangan membuat semua orang penasaran dan khawatir seperti ini." Tatapan dan suara penuh kelembutan itu dibalas oleh Alara dengan
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Bab 100. Dipaksa Bangkit"Ada apa Cassian?" tanya Alara. Tatapannya langsung berubah begitu menyadari raut wajah Cassian yang terlihat panik. Di tangan kanan Cassian nampak sebuah gulungan pesan. Varek menyadari hal itu. Tatapan penuh kelembutan itu berubah menjadi penuh ketegangan. Hanya satu yang ada di pikirannya. Ini bukan kabar baik. "Apa itu surat rahasia?" tanya Varek tanpa basa-basi. Cassian menggangguk pelan. Dia segera menyerahkan surat itu kepada Varek. Alara menyadari situasi itu. Dia hendak pergi dari ranjang tempatnua berbaring. "Tunggu, warga biasa sepertiku tak pantas mendengar pesan rahasia. Biarlah aku pergi dulu!"Selimut yang menutupi tubuh Alara sudah dia sibak. Tatapan Varek dan Cassian teralihkan ke arah Alara. Wajah Alara masih sedikit pucat. Bibirnya masih nampak memutih. "Tak perlu, Lady. Anda berbaringlah lagi," Cassian mendekat ke arah Alara. Selimut yang sudah tersibak itu dia rapikan kembali. Alara menatap Cassian dengan tatapan penuh keraguan dan kebingungan. 'Apa Cassian
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Bab 99. Kisah Singa dan Edelweis"Siapa yang Lady panggil?" Mireya terheran-heran. Dia terus memegangi tangan kanan Alara. Tangan kanan itu dielus-elus. Varek masih terduduk di dekat tempat Alara berbaring. Matanya menatap nanar. Dia tak suka pada keadaan ini. "Mungkin Lady bermimpi bertemu kuda pony-nya," ujar Cassian."Beliau pernah bercerita memiliki kuda punya bernama Kevin." 'Kevin bukan kuda punya. Dia memanggil namaku!' batin Varek. Tangan kanannya mengepal makin erat. Draven melata ke dekat kursi tempat Varek, dia menjulur-julurkan lidanya keluar dan masuk. "Aku dengar ada suara hati yang gundah. Sembuhkanlah dirimu terlebih dahulu. Jika kau sudah kuat, waktunya balas dendam pada Raja Mercion!" ujar Draven lewat telepati. "Kau benar. Aku harus menyembuhkan diriku terlebih dahulu," sahut Varek lewat telepati. "Kevin...Kevin...." terdengar Alara memanggil nama itu lagi. "Kevin...." Sebutir mata Varek tanpa sadar menetes. Cassian menyadari hal itu. Dia tak entah sekalipun melihat Varek menetesk
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: Bab 98. Tumbangnya Sang Lady Penyembuh"Gadid Aneh! Gadis Aneh bangun!" Draven si kadal terus berusaha memanggil lewat telepati. Lidahnya terus menjulur-julur keluar masuk. "Alara!" panggil Varek. Dia segera bangkit dari tempat tidur itu. Tubuh Alara yang terkulai lemas di permukaan tanah itu langsung dihampirinya. Rasa sakit menjalar dari luka jahitan yang masih basah di dada kanan Varek. Varek meringis akibat pergerakan yang mendadak itu. Namun dia tidak mempedulikan rasa perih itu. Terlihat wajah Alara pucat tak sadarkan diri. Varek sudah bersimpuh di dekatnya. Tubuh Alara diguncang-guncang ringan. "Norabel, Norabel!" panggil Varek terus menerus. Panggilan itu seolah percuma saja. Kedua mata Alara masih saja tertutup. "Apa yang terjadi dengannya?" Varek menatap ke arah Draven. Draven melata di dekat tubuh Alara," Dia masih hidup, tapi kesadarannua hilang. Cepat panggil tabib yang lain!" Varek tanpa ragu membopong tubuh Alara ke atas tempat tidur. Perih yang yang luar biasa menjalar di dadanya. Dia ber
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: Bab 85. Pertemuan Tidak Disengaja"Pak Elric?" ujar Nolan tanpa sadar. Pandangan mata Nolan langsung memgarah ke arah datangnya Elric. Elric berjalan dengan langkah tegas menuju ke arah Lala. "Bapak?" Lala tertegun. Dia tidak menyangka suami rahasianya itu akan datang ke mall ini. 'Ngapain Pak Elric ke sini? Gila apa, kok bisa keremu di tempat begini,' batin Lala. Nampak di tangan Elric jas yang terlipat rapi. Dia berjalan sambil menyaku tangan kanannya. Sorot matanya tajam bak elang yang menatap mangsa. "Kau di sini, La?" ujar Elric dengan suara pelan namun lantang. Sorot mata itu seolah bertanya apa yang kau lakukan dengan pria ini di sini. Lala berusaha membuang pandang. Dia menghindari tatapan Elric. "Bapak nonton film juga?" tanya Nolan. Dia menggandeng tangan Lala. Bola mata Lala langsung melebar ketika mengetahui hal itu. Tangan Lala hendak melepaskan gandengan itu. "Saya juga punya kehidupan. Apa urusanmu menanyakan hal itu?" jawab Elric dengan nada sinis. Nolan terlihat tidak s
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: Bab 84. Ramen dan Penguntit"Hah?" Lala terkejut mendengar pernyataan itu dari mulut Nolan. Wajah Lala nampak sedikit pucat mendengar pernyataan Nolan. "Nggak, kok ini cuma orang iseng kan gue masih single," ujar Lala. Tangan Lala berusaha membalikkan handphone itu. Saat dibalikkan, handphone itu masih menunjukkan panggilan dari nomor Elric. "Kamu dari tadi celingak-celinguk. Emang ada apa? Ada yang mencurigakan ya?" tanya Nolan. Mata Nolan ikut menatap ke arah penjuru restoran. Dia mengikuti ke mana arah mata Lala memandang. "Nggak ada apa-apa, tenang aja. Aku cuma sedikit gelisah karena asam lambungnya kumat." kilah Lala. Nampak pria botak yang seolah berjalan ke arah Lala. Lala mengenali pria itu. Itu pria yang mengikutinya sedari tadi. 'Apa mereka suruhan, Pak Rino? Jangan-jangan aku mau diculik' batin Lala. Nolan menangkap sinyal di mata Lala yang memberi tanda, seolah ketakutan. Netra itu memperhatikan pria botak yang baru saja lewat. "Kamu kenal dia?" tanya Nolan dengan mimik w
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: Bab 83. Suami Rahasia?"Hah? Apa?" Sedotan yang di mulut Lala berasa menusuk ke langit-langit mulut. Dia langsung terbatuk-batuk, akibat tersendak soda. 'Kenapa Nolan bisa berpikiran seorang diri itu? Apa dia sudah tahu rahasia aku?' batin Lala. "Lo kenapa, La?" tanya Nolan. Dia langsung menghadap ke arah Lala. Lala hanya tersenyum sambil tisu dari tas selempangnya. Sisa soda itu diseka dengan tisu. "Gue nggak apa-apa, cuma agak kaget. Ada adegan berdarah." kilah Lala. "Oh, begitu? Gue kira, kenapa-napa." Nolan masih memperhatikan Lala. "Gue masih single ya, belum punya pacar, apalagi suami. Bercanda lo nggak lucu." tegur Lala. "Wah, ikan di perairan yang besar, iya. Gue kagum sama ide sutradaranya." Lala sengaja mengalihkan ke topik lain. Tatapan Nolan masih berusaha dihindari. Lala berusaha bersikap senormal mungkin sambil memakan popcorn. "Kenapa lo tanya kayak gitu? Gak mungkin, kan, lo naksir gue?" canda Lala. Nolan hanya tertawa kecil. Dia langsung menatap ke layar bioskop samb
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: Bab 82. Menonton Kenyataan"Sorry, gue kesel. Baru baca chat dari keluarga jauh. Seenaknya minta diutangin."elak Lala. "Ada apa, Laa? Apa yang kau khawatirkan? Nolan menatap ke arah Lala dengan tatapan khawatir. Lala berusaha mengalihkan pandangannya. Namun, ujung matanya menatap ke arah orang mencurigakan itu. Dua orang itu berpakaian merah, dan satu lagi berpakaian kemeja hitam. Keduanya memakai kacamata hitam. Badan kedua pria itu tegap dan kekar. Keduanya makan nasi goreng dengan santai saat Lala menatapnya. 'Tak salah lagi, dua orang ini suruhan Pak Elric. Siapa lagi yang bisa membuat hal seperti ini selain si pria dingin itu?' batin Lala. "Permisi, Kak." seorang pelayan lelaki mengantarkan pesanan Lala dan Nolan. Ada dua gelas jus stroberi dan dua buah cupcake dengan topping krim berwarna putih. "Apakah pesanannya sudah lengkap dan sesuai, Kak?" Nolan nampak memandangi makanan dan minuman yang baru saja diturunkan dari nampan oleh pelayan. "Sudah, Kak." kata Lala. Tanpa ragu dia mengambi
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: Bab 81. Hubungan Khusus?"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, Nolan?" Lala berusaha menghindari tatapan Nolan. Matanya tak bisa menyembunyikan jika dia tak nyaman dengan pertanyaan. Kruk di tangan Lala tiba-tiba mendadak. Pertanyaan itu tidak disangka akan muncul dari mulut Nolan. "Aku pikir kau punya hubungan khusus dengan beliau. Kalian terlihat dekat." Nolan berusaha menatap Lala, namun Lala masih saja membuang pandang. 'Apa aku terlihat sangat mencolok?' batin Lala. Dia berusaha memikirkan cara agar tidak dicurigai Nolan. Suasana hening sejenak. Lala menyebut sepatah kata pun. Dia masih bimbang harus berkata apa. "Memangnya perilaku seperti apa yang membuatku terlihat spesial?" Lala memberanikan diri bertanya pada Nolan. Nolan nampak berpikir sejenak. Dirinya terlihat bimbang. "Pak Elric menegur kita. Aku tidak nyaman dengan hal itu." Nolan memegang bahu Lala. Gerakan Lala terhenti sejenak. Dia mendongak dan menatap Nolan. Tanpa disadari, ujung bibir Lala digigit tanpa disadari.
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: Bab 80. Pria Yang Menyentuh Hati Kecil?"Halo," Lala menjawab telepon dari Nolan. Telepon itu masuk tepat saat mobil taksi berhenti di depan lobi mall yang megah. Atap tinggil menjulang. Deretan nama brand kelas atas terpampang di halaman luar bangunan mall itu. Nuansa kekunigan nan elegan mendominasi bangun mall itu. "Kamu udah sampai belum, La?" terdengar suara Nolan. Suara yang lembut dan manis. Hati kecil Lala tersentuh, tanpa sadar dia tersenyum. "Gimana kalo gue jemput ke situ?" "Gue udah sampe di depan lobi mall. Loe dimana?" sahut Lala. Pintu mobil taksi itu terbuka dari dalam. Lala sudah membayar biaya taksi dengan cashless. Kaki Lala melangkah keluar dengan hati-hati. Telapak kaki itu mendarah tepat di atas lantai marmer hitam. "Ya udah gue jalan ke situ. Tungguin gue, ya." suara hangat Nolan kembali terdengar. "Iya, gue tunggu." ujar Lala. Sambungan telepon itu terputus. Kaki Lala kembali melangkah menuju ke area dalam mall. Netra Lala tak berkedip beberapa detik. Arsitektur mall itu b
Last Updated: 2026-03-20