Beranda / Romansa / Istri Kedua Sang Jenderal / 69. ‘Akan Kutunjukkan Usahaku, Sayang’ (21+)

Share

69. ‘Akan Kutunjukkan Usahaku, Sayang’ (21+)

Penulis: rainaxdays
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 23:08:53
“Di mana Camila?”

Kaiden berdiri memperhatikan Anna yang mencoba mengeringkan rambutnya sendiri—tampak kesulitan.

Selama di distrik, Anna biasanya membiarkan rambutnya kering secara alami, mengingat ia tidak memiliki pengering rambut. Setelah tinggal di mansion, Camila yang selalu mengeringkan rambutnya.

Sekarang karena rambutnya semakin panjang menuju pinggang, ia kesulitan menggunakan pengeringnya.

“Camila agak pusing, jadi aku menyuruhnya beristirahat,” jawab Anna tanpa menoleh ke arah Kaiden. “Camila tetap ingin bekerja, tapi aku yang memaksanya beristirahat, jadi jangan salahkan Camila,” lanjut Anna cepat sebelum Kaiden bicara.

Kaiden menghela napas dan mendekat. Ia baru selesai mengumpulkan berkas dan buku panduan di lantai tiga. Para pengawal telah mengemasnya ke dalam mobil dan membawanya ke barak.

“Kau seharusnya tidak mandi di jam seperti ini,” komentarnya, melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.

“Aku merasa akan flu, jadi mandi air hangat cukup membantu.”

K
rainaxdays

*KUTIPAN -Kutipan 1: ‘Politik memang selalu menjadi bisnis yang kejam dan berbahaya.’ Kalimat lengkap: ‘Fakta menyedihkan adalah bahwa politik internasional selalu menjadi bisnis yang kejam dan berbahaya, dan kemungkinan besar akan tetap seperti itu.’ Dari buku: ‘The Tragedy of Great Power Politics (Tragedi Politik Kekuatan Besar)’ karya John Mearsheimer (2001). --- -Kutipan 2: ‘Esensi dari profesionalisme militer adalah manajemen kekerasan yang sah dan efektif.’ Dari buku ‘The Soldier and the State: The Theory and Politics of Civil-Military Relations (Prajurit dan Negara: Teori dan Politik Hubungan Militer-Sipil)’ karya Samuel P. Huntington (1957). --- *AUTHOR'S NOTE: Halo semuanya, terima kasih sudah membaca novel saya sampai sejauh ini💗 Meskipun cerita ini genre utamanya adalah romance + marriage life, tapi bagian politik dan militernya juga kental (sesuai judul hihi). Saya berusaha menjelaskannya sesederhana mungkin, jadi saya harap pembaca sekalian bisa paham :)) Tapi kalau ada yang tidak mengerti, silakan tanya :)) Terima kasih!💗

| 1
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Kedua Sang Jenderal   74. Anna Pingsan

    “Jenderal?”“Apa? Tidakkah kau lihat aku sedang sibuk menunjukkan cara kerja M2 Browning?” “Tapi ini mendesak, Tuan. Saya mendapat informasi bahwa ada masalah besar di mansion.”Kaiden langsung menoleh. Vargaz berdiri dengan tegang, wajahnya cemas.“Macan kumbang Anda mengamuk,” lanjut Vargaz dengan suara pelan.Mata Kaiden sedikit melebar. “Panther?”“Ya, Tuan. Dan tidak ada pengawal yang berani untuk mendekat karena takut akan melukai hewan peliharaan Anda,” tutur Vargaz cepat. “Nyonya Anna juga ada di sana. Nyonya mungkin akan membahayakan dirinya sendiri—”“Ayo pergi,” sela Kaiden sebelum Vargaz sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia berjalan meninggalkan lapangan dan memberi isyarat pada Alexander untuk mengambil alih pekerjaannya.Mereka melangkah lebar memasuki barak, menuju parkiran bawah tanah yang terhubung ke sebuah terowongan besar.Itu adalah sebuah jalur bawah tanah rahasia yang terhubung langsung ke mansionnya.Terowongan itu dibangun di masa Treyton Damme. Ketika Kaiden

  • Istri Kedua Sang Jenderal   73. Panther Mengamuk

    “Kaiden, coba lihat? Buket bunganya sangat indah, bukan?” Sang ibu mendongak, menatap ke arah Kaiden yang berdiri di puncak tangga sambil memperlihatkan buketnya.Kaiden menaikkan satu alisnya. “Dari mana Ibu mendapatkannya?”“Dari dua orang anak kecil—”Sebelum ucapan ibunya sempat terselesaikan, sebuah ledakan besar mendadak terdengar. Dalam sedetik, tubuh ibunya hancur lebur tanpa menyisakan apa pun.Kaiden membelalak, tangannya terulur, tetapi tubuhnya sudah terlempar ke belakang, menghantam dinding, lalu jatuh ke lantai yang telah retak. Aroma hangus dan karat darah memenuhi penciumannya.Kaiden mencoba menarik napas, tetapi dadanya terasa dihimpit keras. Dunianya berputar di sekelilingnya dan pandangannya menggelap.“Ibu...” panggilnya lirih. Darah terasa mengalir di sisi tubuhnya. “Ibu...”Tidak ada jawaban.“Ibu!”Masih tidak ada respon.Kaiden akhirnya berteriak sekuat tenaga, “IBU!”“Ibumu sudah mati, bodoh!”Sebuah tamparan keras melayang di pipi Kaiden. Ia membuka mata de

  • Istri Kedua Sang Jenderal   72. Kaiden Murka

    “Lepaskan tangan anak itu,” perintah Kaiden.Suaranya kelewat tenang, berbanding terbalik dengan ekspresinya yang mematikan. Tatapan matanya menusuk, dan ada ancaman yang nyata di dalamnya.Anna sudah pasti akan menerima hukuman atas ‘pemberontakan’ yang ia lakukan.Dan itu bukan hukuman ringan.Anna berada dalam masalah besar. Masalah yang sangat besar.Namun, ia merasa enggan untuk melepaskan tangan anak malang di hadapannya.Ia tidak bisa pergi begitu saja. Ia harus melakukan sesuatu.“Aku bilang, lepaskan tangan anak itu, Annalise York.” Kaiden mengulang ucapannya dengan suara sedingin es.Anna menggeleng pelan dan rahang Kaiden mengeras. Tangan kirinya terkepal kuat, sementara tangan kanannya yang memegang pistol menegang.Jantung Anna berdebar tak karuan. Ia melirik anak yang menunduk takut dibalik jeruji dan hatinya terasa ditusuk-tusuk.Apa yang harus ia lakukan? Apakah mungkin baginya untuk meminta pengampunan untuk anak ini?“Lepaskan tangannya. Ini peringatan terakhir.” Kai

  • Istri Kedua Sang Jenderal   71. Tertangkap Basah

    Tidak mungkin...Anna mendekat dengan kaki gemetar. Kengerian yang luar biasa menyelimuti tubuhnya, membuatnya tidak bisa berkata-kata.Dalam sekejap, udara hangat di sekelilingnya menghilang. Suasana ruangan ini begitu berbeda, terasa lembap dan dingin. Aroma apak bersama amis darah yang pekat menusuk hidung, nyaris membuatnya muntah.Meskipun lampu bersinar terang di atasnya, koridor ini tampak suram.Kedua sisi koridor dipenuhi oleh sel penjara yang berdiri kokoh—berjejer rapi sampai ke ujung koridor yang gelap. Anna harus ke sana untuk membuat lampunya menyala dan memastikan di mana ujung jeruji besi itu. Namun, ia tidak bisa menggerakan kakinya.Matanya terpaku pada para tahanan yang dirantai di dalam sel. Ukuran jerujinya sangat kecil, mungkin sekitar 6 kaki. Masing-masing jeruji hanya berisi satu tahanan.Tidak ada alas, hanya lantai yang sedingin es. Pintu sel terkunci rapat dengan gembok yang sangat besar.Ada puluhan tahanan. Sejauh mata memandang, Anna memperhatikan bagaima

  • Istri Kedua Sang Jenderal   70. Nekat

    Pukul tiga dini hari. Anna mengintip di pintu, memperhatikan lorong yang temaram dan sunyi. Kaiden beranjak bangun dari ranjang sekitar 30 menit yang lalu. Dia pasti sedang berolahraga di halaman belakang. Kaiden akan langsung ke barak pada pukul 5 pagi untuk pelatihan prajurit. Jadi sebelum itu, Anna akan meminjam kuncinya. Ia nekat ingin membuka pintu besi itu. Setelah mendengar ucapan Kaiden, Anna sadar bahwa pintu besi itu cukup penting. Jika bukan untuk mengurung para pemberontak, memangnya apa lagi? Anna hanya ingin mengecek, sungguh. Ia tidak akan menyentuh apa pun yang ada di sana. Lantas melangkah keluar dari kamar, Anna menutup pintu perlahan. Tatapannya tajam, menatap sekitar dengan waspada. Pintu kamar Selena tertutup rapat dan tidak ada suara yang terdengar di sana. Anna memegang erat kuncinya, lalu mengendap-endap melewati lorong menuju lantai tiga. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia gugup. Jantungnya berdebar tak karuan, memikirkan kemungkinan kalau Kaiden

  • Istri Kedua Sang Jenderal   69. ‘Akan Kutunjukkan Usahaku, Sayang’ (21+)

    “Di mana Camila?” Kaiden berdiri memperhatikan Anna yang mencoba mengeringkan rambutnya sendiri—tampak kesulitan. Selama di distrik, Anna biasanya membiarkan rambutnya kering secara alami, mengingat ia tidak memiliki pengering rambut. Setelah tinggal di mansion, Camila yang selalu mengeringkan rambutnya. Sekarang karena rambutnya semakin panjang menuju pinggang, ia kesulitan menggunakan pengeringnya. “Camila agak pusing, jadi aku menyuruhnya beristirahat,” jawab Anna tanpa menoleh ke arah Kaiden. “Camila tetap ingin bekerja, tapi aku yang memaksanya beristirahat, jadi jangan salahkan Camila,” lanjut Anna cepat sebelum Kaiden bicara. Kaiden menghela napas dan mendekat. Ia baru selesai mengumpulkan berkas dan buku panduan di lantai tiga. Para pengawal telah mengemasnya ke dalam mobil dan membawanya ke barak. “Kau seharusnya tidak mandi di jam seperti ini,” komentarnya, melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. “Aku merasa akan flu, jadi mandi air hangat cukup membantu.” K

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status