เข้าสู่ระบบSetelah memastikan barang pesanan masuk ke tahap produksi, mereka bertiga kemudian pulang saat senja mulai menyapa.Mobil memasuki gerbang mansion saat langit sudah gelap, namun mereka dibuat terkejut saat baru saja keluar dari mobil. Sesuatu terbang dengan cepat di atas mereka. Nero dan Draco sejenak saling pandang, lalu kemudian Nero beralih menatap Eleora yang kepalanya masih menengadah memperhatikan burung yang lewat tadi. "Istirahatlah," ujar Nero pada Eleora. Eleora mengangguk. Lalu ia langsung pergi menuju paviliun. "Sepertinya ada yang ingin bermain-main dengan kita," ujar Nero sambil melangkahkan kakinya memasuki mansion. "Ya. Tidak mungkin ada burung merpati terbang malam-malam begini," sahut Draco sembari memikirkan sesuatu. "Apakah ingin aku bantu memeriksanya?" Draco mulai menebak, oleh sebab itu ia sengaja memberi ruang untuk Nero. Apakah boleh dirinya ikut campur? "Biar aku saja. Kau juga istirahatlah."Langkah Draco berhenti di depan kamarnya. Ia menundukkan kep
“Berani-beraninya kau mengancam kami,” geram Draco. “Kalau sampai ada satu karyawan kami terluka sedikit saja, maka kuhancurkan semua milik Morpheus.”Draco mengaktifkan loudspeaker di ponselnya.Tawa renyah Lucian terdengar dari seberang. “Santai saja, aku tidak sebodoh itu. Kami hanya ingin bertamu.”Draco terdiam sejenak, lalu menjawab singkat, “Naiklah.”Eleora berkeringat dingin.Ia tidak menyangka Draco akan benar-benar mempersilakan Lucian datang ke ruangan ini. Situasi ini terlalu berbahaya. Ia harus segera pergi.“Tuan, saya ingin ke toilet,” ucap Eleora, sambil memegangi perutnya seolah sudah tidak tahan.Nero hanya menggerakkan kepalanya sedikit ke samping. Itu cukup sebagai izin.Eleora segera melangkah cepat menuju lorong kecil di belakang Nero, area yang mengarah ke ruang pribadi sekaligus toilet milik pria itu."Apakah dia ketakutan?" tanya Draco seraya memperhatikan punggung Eleora yang semakin menjauh. Seringai ejekan muncul di bibirnya."Mungkin," jawab Nero singkat.
Setelah sarapan, Nero dan Eleora langsung berangkat ke kantor, begitu juga dengan Draco yang saat ini menjadi sopir mereka. “Ada apa dengan Tuan?” batin Draco, melirik melalui spion tengah. “Sejak kapan dia bisa tersenyum seperti itu?” Sudut bibir Nero terangkat samar, sesuatu yang hampir tak pernah terjadi. Draco sampai mengernyit. Ia yakin, ini bukan sekadar suasana hati yang baik. Draco tanpa sadar menekan pedal gas lebih dalam. Ia merasa hari ini bukan hari biasa. Akan ada pertunjukan, dan ia tidak ingin melewatkannya. Setelah sampai di kantor pusat, mereka turun dan hendak memasuki lobby. Namun, posisi Eleora yang berada di belakang Draco membuat Nero menghentikan langkahnya. "Kenapa kamu berdiri di belakang sendiri? Tempatmu di sini!" Nero menunjuk ruang kosong di sampingnya. Eleora melangkah maju, namun instingnya menahan. Ia tetap berdiri setengah langkah di belakang Nero, menjaga jarak, seolah posisi itu lebih aman daripada berdampingan dengannya. Melihat wajah Eleora
Selama berada di rumah sakit, Eleora terus memikirkan apakah Nero sempat melihatnya bertarung atau tidak.Namun, melihat sikap Nero yang terlihat biasa saja saat mereka sampai di rumah. Eleora meyakini bahwa Nero tidak melihatnya."Besok ikut aku pergi ke kantor," ujar Nero membuyarkan lamunan Eleora."Baik, Tuan.""Sekarang istirahatlah.""Baik, Tuan." Eleora langsung pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Ia tidak melihat Nero yang sedang menyeringai di depan kaca lemari hias.Keesokan harinya...Eleora sarapan terlebih dahulu bersama Elly dan Barbara. Ia berpikir Nero akan bangun siang seperti biasanya.Namun, baru saja ia mencuci piring bekas sarapannya, Nero menelponnya."Kemarilah, sisir rambutku." Suara Nero terdengar datar, namun tidak dengan jantung Eleora yang berdetak kencang."Baik, Tuan," sahut Eleora sembari berpikir dua hari ia tidak menjalani rutinitas itu, entah mengapa ia merasa gugup lagi.Setelah panggilan telepon berakhir, Eleora bergegas pergi ke kamar Nero. Lelak
"Tempat apa ini?" batin Eleora saat mobil berhenti di depan sebuah gedung tua namun terlihat cukup terawat."Bos, sepertinya anak buahnya Edmund ingin bermain-main dengan kita," ujar Draco seraya memperhatikan pintu gudang yang masih tertutup."Kalau begitu turuti saja apa yang mereka inginkan.""Baik, Bos," sahut Draco seraya mengambil sebuah pistol di dalam laci dashboard, lalu menyerahkannya pada Eleora.Eleora yang duduk di samping Nero sejenak tertegun melihat Draco menyerahkan pistol padanya, memikirkan bahwa mungkin Nero mengetahui siapa dirinya, Eleora berkeringat dingin."Cepat ambillah! Kau harus melindungi Tuan," sentak Draco seraya melemparkan pistol ke pangkuan Eleora. Eleora gelagapan. "Tapi, saya--"Draco tidak menghiraukan, ia langsung keluar dari mobil untuk menemui para penjaga gudang.Eleora yang masih berusaha menyembunyikan kemampuannya, ia memegang pistol tersebut dengan tangan gemetar.Sementara Nero yang melihat gelagat Eleora, ia hanya menahan senyum.Tidak l
Setelah acara eksekusi, sore hingga malamnya tidak ada kegiatan lagi di mansion maupun di kebun anggur. Nero meliburkan para pegawainya sebagai bentuk belasungkawa atas kematian Anya dan kedua lelaki itu, walaupun kematian mereka tidaklah wajar."Sekarang wanita di mansion ini hanya tinggal kita bertiga," ujar Elly sembari mengusap air matanya."Iya. Rebecca waktu itu mati karena berani menggoda Tuan Nero, dan hari ini Anya juga harus pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya," sahut Barbara.Eleora yang sedang duduk di antara mereka berdua, ia tidak berkata apa-apa. Eleora hanya mengingat wanita yang meninggal di kamar Nero, dan dirinyalah yang menyingkirkan mayat wanita tersebut."Mungkinkah Nero akan mencari pegawai wanita lagi untuk tinggal di rumah ini?" batin Eleora.Tidak lama kemudian Draco datang, ia hendak memberikan pengumuman penting."Aku akan menyampaikan pesan dari Tuan Nero. Mulai besok dan seterusnya, Bi Elly dan Bibi Barbara hanya bertugas membantu di dapur, Tuan







