LOGINKeesokan harinya. Sivelle sedang menyisir rambut Nero. Pantulan mereka di cermin membuatnya kembali teringat akan perbedaan status yang masih membentang di antara mereka."Mungkinkah kalau aku sudah mengganti penampilan, aku tak akan merasakan perasaan ini lagi?" batin Sivelle. Meski ia sadar posisinya, namun ia merasa lebih terhina sebab dulu ia murni sebagai pekerja, sedangkan sekarang.... "Apa karena aku jadi terlalu percaya diri sebab Nero akan menikahiku, sehingga apa yang terlihat sekarang melukai batinku?" tanya Sivelle dalam hati pada dirinya sendiri. Meski pernah merasakan apa itu rasa kecewa, namun perasaan ini berbeda, ia bahkan merasakan seperti sudah kalah bertanding sebelum berjuang. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Nero membuat Sivelle terkesiap. Ia melihat tatapan kosong Sivelle. "Tidak ada," sahut Sivelle seraya tersenyum. Ia merutuki kebodohannya karena jadi sering berpikiran aneh-aneh. Setelah memastikan Nero sudah rapi, mereka berdua turun, dan saat pi
Sivelle ketiduran dan terbangun saat senja mulai menyapa, ia terkejut saat mengetahui di mana dirinya berada. "Astaga! Ini kan kamarnya Tuan Nero, kenapa aku bisa tidur di sini?" batin Sivelle, namun kemudian ia teringat rentetan kejadian yang membuatnya bisa sampai tidur di tempat ini. Sivelle dengan cepat menoleh ke samping. Melihat sampingnya sudah kosong, ia menghela napas lega. Akan tetapi, jantungnya berdetak kencang kembali saat ia melihat pintu kamar mandi terbuka. "Kau sudah bangun?" tanya Nero sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Sivelle mengangguk. Lalu ia beranjak dari ranjang dan berniat keluar dari kamar. Sejak tadi ia merasa panas. "Mau ke mana?""Mandi," cicit Sivelle. "Kamu bisa mandi di sini. Mulai sekarang kamu akan tidur di sini.""Tapi, pakaian saya masih di paviliun," sahut Sivelle cepat, lebih tepatnya ia masih ingin menghindar. "Bibi Barbara sudah memindahkan semua pakaianmu." Nero membuka lemari. Ia mengambil baju, dan apa yang dik
Semua orang tersentak mendengar perintah Nero, sementara Sivelle segera berlari dan bersimpuh di kaki Nero. "Tuan, kumohon tolong maafkan kami, tolong lepaskan mereka. Hukumlah saya, jangan mereka," pinta Sivelle sembari memegang kaki Nero erat. "Sepertinya kau meremehkanku. Apakah kau tak melihat mayat yang ada di sana?" Nero mengapit dagu Sivelle erat, lalu ia mengarahkan kepala Eleora ke mayat Vincent. Tubuh Vincent sudah terbalik lagi, memamerkan bekas cambukan dari algojo, sehingga Sivelle tidak tahu kronologi kematian Vincent. Tubuh Sivelle gemetar, ia tahu hilangnya Vincent, jadi ia menduga Vincent menjadi orang pertama yang menerima hukuman dari Nero akibat kesalahan yang dilakukannya. "Tuan, saya mohon tolong lepaskan mereka, biar saya saja yang menanggung kesalahan ini. Anda bisa melakukan apa saja pada saya sebagai hukumannya."Perkataan ini yang Nero tunggu, namun ia tidak boleh terlalu ekspresif. "Bahkan nyawamu?""Ya, saya akan memberikan nyawa saya kalau itu yang
Mobil telah sampai di depan mansion Aleron. Para anggota Occulta turun satu persatu dengan rasa takut, namun saat melihat bangunan megah di depan, semua orang terpana. "Ternyata ini istana tersembunyi di Crimson City," decak William kagum. Tak khayal Sivelle betah tinggal di sini. "Jangan ada yang bersuara!" tekan salah satu pengawal dengan suara yang hampir berbisik. Pengawal itu baru mendapat koordinasi dari Nero, bahwa Eleora sedang tidur. Eleora tertidur karena lilin aromatik yang dinyalakan Barbara atas perintah Nero. Semua anggota Occulta dibawa ke ruang penyiksaan. Bau anyir darah menyeruak, membuat semua orang merinding, apalagi saat melihat ada seseorang yang disiksa hingga tewas. "Kalian pasti mengenalnya," ujar Draco seraya menyeringai, Ia menjentikkan jari, lalu sang algojo membalikkan tubuh orang yang baru disiksanya itu. "Vincent!" Semua orang berteriak. Salah satu anggota Occulta yang beberapa hari ini menghilang ternyata ada di sini dan disiksa oleh mere
Keesokan harinya, aktivitas di mansion berjalan seperti biasanya, namun tidak dengan Eleora yang tidak mendapat panggilan telepon sama sekali dari Nero. "Apakah Tuan Nero sudah sarapan?" tanya Eleora pada Barbara. Gadis itu melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sepuluh, ia sudah kelaparan. "Tuan belum kembali dari semalam," sahut Barbara sembari memotong sayuran. Ia sedang menyiapkan masakan untuk makan siang. "Dari semalam? Memangnya Beliau pergi ke mana?"Setelah dari kamar Nero kemarin, Eleora langsung masuk ke kamarnya dan tidak keluar lagi, ia sibuk memikirkan perkataan Nero semalaman. "Bibi juga tidak tahu, malah Bibi kira kamu pergi dengannya. Loh, kamu belum sarapan?" Barbara terkejut melihat Eleora memegang piring. "Iya, kalau aku sarapan duluan takutnya Tuan Nero ngajak aku sarapan lagi kayak waktu itu."Barbara mengangguk. "Ya sudah, buruan sarapan. Bibi saja sudah mau masak untuk makan siang."Eleora mengangguk. Namun, ia tidak bisa mencerna makanannya denga
Mansion terlihat sepi saat Eleora tiba. Ia langsung kembali ke paviliun setelah mengembalikan mobil Nero ke garasi. "Bagaimana liburanmu? Apakah menyenangkan? Kamu pergi ke mana?" cecar Barbara yang terlihat senang. "Aku... hanya jalan-jalan ke kota saja, Bi."Eleora merogoh sesuatu di dalam tasnya, lalu kemudian ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi obat. "Bi, aku hanya bawa oleh-oleh ini. Minumlah, ini suplemen kesehatan."Barbara menerima dan membaca kandungan bahan obat tersebut, matanya melebar dengan mulut menganga. "Ini obat yang sangat bagus. Bagaimana kamu tahu aku membutuhkan ini?""Tadi aku hanya mengatakan keluhan Bibi ke pegawai apoteknya," kilah Eleora yang sebenarnya sengaja mengambil dari markas sebab melihat kondisi tubuh Barbara yang terlihat kelelahan. Obat itu tidak diproduksi secara umum sebab ada beberapa bahan yang langka, jadi kalaupun ada di apotek harganya berkali-kali lipat lebih mahal dari suplemen biasa. "Oh ya, Bi. Apakah Tuan ada di rumah?"Ele







