Share

Curiga Lagi

Author: Aldra_12
last update publish date: 2025-12-14 10:27:18

Meski ekspresi wajahnya sangat tenang, tapi Arthur sebenarnya sangat terkejut dengan pertanyaan Kian. 

Arthur memandang pembungkus makanan yang ada di meja, tetap tenang menghadapi pertanyaan Kian, Arthur membalas, “Ya, kebetulan majikanku baru saja pesan makanan. Dia tahu aku sudah menikah dan baru saja datang, jadi dia memberikan makanan itu untuk kita. Ya, begitulah.”

Kian membentuk huruf O dengan bibir sambil mengangguk-angguk lagi.

Tak bertanya lagi soal makanan itu, Kian segera mengambil tempat makan dari rak, mengeluarkan makanan dari dalam kantong, lantas menyajikannya di piring.

“Wah, majikanmu benar-benar sangat baik. Bahkan makanan mewah seenak ini pun diberikan ke kamu dengan mudah,” ucap Kian tanpa menatap pada Arthur.

Arthur masih dengan wajah datarnya, untung saja dia bisa membuat alasan. Kendrick yang menyiapkan makanan itu, sehingga Arthur asal membawanya saja.

Kian menoleh pada Arthur setelah menyajikan makanan di piring. Memperhatikan Arthur yang masih berdiri diam, Kian lantas berucap, “Kenapa kamu hanya berdiri saja? Duduklah, ayo makan.”

Arthur menatap sekilas pada Kian yang sedang menarik kursi lalu mendudukkan tubuh di sana, dia juga ikut menarik kursi lalu duduk di samping Kian.

Kian sudah terlalu lapar, tanpa menunggu Arthur mempersilakan, dia lebih dulu menyantap makanan miliknya.

Arthur mengerutkan kening melihat Kian yang makan begitu lahap, bahkan tidak ada anggun-anggunnya sama sekali seperti layaknya perempuan pada umumnya. 

Arthur mengambil sendok miliknya sambil berucap, “Tidak ada yang akan merebut makananmu, untuk apa makan terburu-buru.”

Kian berhenti memasukkan suapan ke mulut ketika mendengar ucapan Arthur. Dia menutup rapat mulutnya, lalu mengunyah makanan di mulutnya dengan perlahan. Karena terlalu lapar, Kian tidak memedulikan etika ketika makan, baginya yang terpenting perutnya kenyang. Lagi pula, mereka sedang tidak dalam acara formal.

“Maaf,” ucap Kian pada akhirnya setelah makanan di mulutnya ditelan, “aku sangat lapar, jadi makan sedikit terburu-buru,” imbuhnya.

Kian tak mendengar balasan dari Arthur. Dia menatap Arthur yang sedang makan, dari sudut pandangannya saat ini, pria di sampingnya ini, makan begitu elegan. Bahkan setiap suap seperti dimasukkan dengan nada, rapi dan elegan.

Kian masih menatap Arthur, sampai detik ini, Kian benar-benar masih ragu kalau Arthur hanya seorang sopir. Suami kilatnya ini, terlalu tampan.

Kian segera mengalihkan pandangan dari Arthur lalu kepalanya menggeleng pelan, bisa-bisanya dia mengagumi wajah Arthur.

“Ada apa?”

Kian terkejut mendengar pertanyaan Arthur. Dia menoleh lagi ke pria itu, sambil melipat bibirnya karena malu ternyata Arthur menyadari kalau dia menatapnya.

“Bagaimana tadi? Majikanmu memarahimu?” tanya Kian untuk mengalihkan perhatian Arthur.

Arthur terbatuk kecil mendengar pertanyaan Kian. Dia mengambil air minum digelas, menenggak isinya perlahan, sebelum menatap Kian lalu membalas, “Marah, tapi dia memberiku kesempatan.”

Arthur harus membuat Kian tidak mencurigainya dengan alasan yang masuk akal.

Kian mengembuskan napas kasar, dia mengaduk pelan makanannya, memasukkan suapan ke mulut, lalu dengan mulut sedikit penuh bicara. “Untunglah kalau masih diberi kesempatan. Besok aku mau cari kerja, nanti aku bantu membayar ganti rugi mobil majikanmu.”

Saat menoleh ke arah Arthur, Kian tersenyum walau mulutnya penuh, setelahnya dia kembali memandang ke piring di hadapannya lagi.

Arthur diam dengan tatapan tak bisa dideskripsikan. Satu pertanyaan yang mengganjal di pikirannya, kenapa Kian mau repot-repot membantunya, sedangkan urusan mobil tenggelam itu, tidak ada hubungannya dengan Kian sama sekali.

Setelah selesai makan. Kian segera mencuci alat makan di washbak. 

Kian berdiri di depan washbak dengan air yang mengalir, mengetahui Arthur masih ada di meja makan, Kian berucap, “Besok aku akan belanja beberapa kebutuhan dapur, apa ada yang mau kamu beli?”

Arthur tak langsung menjawab, dia menatap Kian dari belakang. Saat melihat Kian menolehkan kepala ke arahnya, Arthur segera mengalihkan pandangan lurus ke depan lagi.

Kian menatap Arthur yang hanya diam, lalu dia mengulang ucapannya, “Besok aku akan belanja, aku masih ada sisa tabungan, jadi cukup untuk kebutuhan satu minggu ke depan.”

Sebagai seorang pria, Arthur tidak mungkin membiarkan Kian belanja menggunakan uang pribadinya. Arthur secara sadar mengeluarkan dompetnya, tapi melihat kartu di dompetnya semuanya kartu yang mungkin bisa dikenali Kian, Arthur mengurungkan niat memberikan kartunya.

“Besok aku antar.”

Setelah mengatakan itu, Arthur berdiri dari duduknya, lalu melangkah meninggalkan ruang makan.

Kian melongo sambil menatap kepergian Arthur. Dia belum sempat menolak, tapi suaminya ini sudah lebih dulu pergi begitu saja. Kian mengedikkan kedua bahu, lalu kembali mencuci peralatan makan yang baru saja digunakan.

Setelah selesai mencuci piring. Kian keluar dari dapur, tapi langkahnya terhenti saat tak melihat Arthur di ruang tengah, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, bingung harus ke mana dan melakukan apa.

Ketika Kian masih dilanda kebingungan, tatapannya tertuju pada Arthur yang baru saja keluar dari salah satu ruangan. Dengan cepat Kian melangkah menghampiri, sampai membuat Arthur terkejut saat melihat Kian tiba-tiba di hadapan Arthur.

“Di mana kamarku?” tanya Kian.

Arthur diam. Di kamar utama, terdapat beberapa barang mahal yang bisa membuat Kian curiga, sehingga tanpa berpikir, Arthur menunjuk salah satu pintu di dekat dapur sambil berkata, “Di sana kamarku. Kamu juga tidur di sana.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Adeena
Kian terlalu polos sampai bisa di manfaatkan sama mantan'y
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Akhir Dari Sebuah Awal Yang Indah

    Satu bulan berlalu begitu saja. Sore hari yang sejuk membawa ketenangan yang luar biasa di halaman belakang kediaman Hadwin. Angin sepoi-sepoi menggoyang dedaunan hijau di taman, melaraskan irama alam dengan kedamaian yang tercipta di teras rumah yang megah.Kian duduk di kursi rotan yang nyaman, dengan perlahan mengayunkan tubuhnya sambil memangku Aria yang sedang tertidur lelap setelah menyusu. Bayi berumur satu bulan itu tampak begitu menggemaskan dengan pipi gembulnya yang kemerahan. Di samping Kian, Arthur duduk di lengan kursi, satu tangan kokohnya melingkar protektif di bahu Kian, sementara jemarinya yang lain mengusap lembut pipi mulus putri kecil mereka.Dari posisi duduk mereka, sepasang mata kedua orang tua itu menatap lurus ke arah tengah taman luas berumput hijau di hadapan mereka. Di sana, Kaylan sedang berlari-lari riang sambil mengejar bola plastik besar bersama Sienna. Tawa melengking Kaylan bersahut-sahutan dengan tawa renyah Sienna yang bergerak aktif menjaga a

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Kepanikan Arthur

    Tujuh bulan berlalu dengan cepat.Perut Kian kini sudah membesar, usia kandungannya sudah 35 minggu. Satu minggu lagi dia akan menjalani operasi cecar untuk melahirkan anak keduanya. Hingga di malam yang dingin, keheningan di dalam kamar Kian pecah oleh rintihan tertahan yang lolos dari bibir Kian."Arthur ... akh! Arthur, bangun ...." Kian meremas lengan suaminya yang tertidur di sampingnya dengan sangat kuat. Peluh dingin mulai membasahi keningnya, dan sprei di bawah tubuhnya terasa basah karena air ketuban yang baru saja pecah. "Arthur ... sepertinya aku ... mau melahirkan sekarang."Mendengar kata 'melahirkan', Arthur yang biasanya selalu siaga dan memiliki kalkulasi matang dalam segala situasi darurat di dunia bisnis, seketika mengalami kegagalan sistem di otaknya. Pria itu melompat dari ranjang dengan mata membelalak panik."Melahirkan?! Sekarang?!" pekik Arthur dengan suara yang meninggi, sesuatu yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Pria bertubuh tegap itu

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Kebahagiaan Berlipat

    “Ap-apa?” Mata Arthur membola lebar.Kian juga terdiam dengan tatapan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.“Anda tidak salah memeriksa ‘kan, Dok? Anda yakin istri saya hamil?” Arthur memastikan.Dokter itu terkekeh pelan. Dia mengangguk-angguk. "Hasilnya memang benar positif hamil. Dokter spesialis kandungan sudah saya hubungi dan akan segera datang kemari untuk memastikan kondisi istri Anda.”Baru saja dokter selesai bicara, pintu ruangan kembali terbuka.Dokter spesialis kandungan masuk dan menyapa Kian juga Arthur lebih dulu.Hasil laboratorium diserahkan ke dokter kandungan, lalu wanita itu mulai memastikan kondisi Kian.“Apa kondisi saya benar-benar tidak apa-apa, Dok. Sepertinya saat hamil pertama dulu, saya tidak seperti ini.” Kian bertanya untuk memastikan.“Anda tenang saja, Bu Kian. Usia kehamilannya sudah memasuki minggu keenam. Kemungkinan kondisi Anda ini disebabkan oleh kelelahan fisik, apalagi dulu Anda memiliki riwayat Abortus Imminens yang mempengaruhi k

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Sakit?

    Enam bulan kemudian.Pagi itu. Kian baru saja bangun dan langsung berlari ke kamar mandi karena perutnya mual.Begitu berjongkok di depan closet, Kian langsung muntah-muntah. Wajahnya berubah pucat dan tubuhnya terasa lemas.“Kian, kamu baik-baik saja?”Terdengar suara Arthur dari luar.Kian belum bisa menjawab. Dia masih terus mual tapi tak bisa memuntahkan apa pun karena perutnya kosong.“Kian, aku masuk.”Suara Arthur kembali terdengar diiringi suara pintu kamar mandi terbuka.Kian menoleh pada suaminya. Dia benar-benar lemas, lalu berusaha bangkit dari posisinya.Ketika baru saja berdiri, kedua kaki Kian lemas sampai tubuhnya limbung dan hampir membentur dinding.Untungnya Arthur dengan sigap memegang kedua lengan Kian.“Kamu kenapa? Wajahmu sangat pucat.” Arthur menatap panik.Kian menggeleng, matanya sedikit terpejam.“Kita ke rumah sakit.” Arthur langsung meraup tubuh Kian.Arthur menggendong Kian keluar dari kamar dengan terburu-buru. Saat berpapasan dengan Arron dan Sienna y

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Kehangatan Penuh Cinta

    Malam hari.Kian dan Arthur berada di dalam kamar setelah makan malam usai.Di dalam kamar yang luas ini, lampu sengaja diredupkan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sudut ruangan dan pendar cahaya bulan yang menembus jendela kaca besar.Kian berdiri di dekat jendela, tubuhnya berbalut gaun tidur sutra tipis berwarna putih gading yang begitu anggun membingkai tubuhnya. Matanya menatap hamparan taman luas di bawah yang bermandikan cahaya bulan. Pikirannya sedang berkelana menikmati kedamaian hidup yang akhirnya dia miliki sekarang.Hingga sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkar dengan hangat di sekeliling pinggangnya dari belakang. Aroma maskulin yang sangat familier, campuran antara sabun mandi segar dan wangi kayu cendana seketika mengepung indra penciuman Kian. Arthur menarik tubuh istrinya hingga punggung Kian menempel sempurna pada dada bidangnya yang hangat."Belum tidur, hm?" bisik Arthur dengan suara bariton yang rendah, dia menyentuhkan bibirnya di peli

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Wajah Baru HW. Company

    Dua bulan berlalu dengan sangat cepat sejak liburan menenangkan di pulau pribadi itu. Suasana sibuk begitu terasa di perusahaan HW. Company hari ini dengan energi yang jauh lebih positif. Pagi ini, aula utama gedung pusat HW. Company dipenuhi oleh jurnalis, fotografer, dan para mitra bisnis yang menghadiri acara peluncuran besar-besaran untuk produk makanan terbaru mereka.Sebagai perusahaan produsen makanan terkemuka, HW. Company kembali menggebrak pasar dengan meluncurkan lini camilan sehat organik premium. Namun, yang paling menarik perhatian publik hari ini bukanlah sekadar produknya, melainkan sosok model baru yang terpampang nyata di baliho raksasa di atas panggung utama.Mia berdiri di atas panggung dengan anggun, memakai gaun formal berwarna pastel yang sederhana tapi sangat berkelas. Senyum Mia merekah sempurna ke arah kamera, memancarkan aura segar, sehat, dan profesional yang sangat cocok dengan citra produk makanan HW. Company. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis asisten y

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Membuat Sketsa

    Arthur berdiri sambil menatap Dokter yang sedang mengobati jahitan yang kembali terbuka akibat gerakan Kian karena emosi tadi.Arthur melihat tatapan Kian yang kosong. Kondisi Kian saat ini, lebih menyakitkan dari kehilangan bayi mereka.“Pak Arthur, jahitannya sudah dibersihkan dan ditutup ulang.

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Ditemukan

    Arthur duduk di kursi tunggu depan kamar inap Kian.Berulang kali dia mengguyar kasar rambutnya ke belakang.Arthur bingung. Jika Kian bangun nanti, lalu bayi mereka belum juga ditemukan, apa yang harus dia katakan pada Kian.Arthur menyandarkan kepala ke belakang, wajahnya menengadah, matanya terp

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Nasib Bayi Kian

    Arron baru saja sadar.Dia menatap langit-langit kamar, sebelum menoleh ke samping ketika mendengar suara Malvin.“Bagaimana perasaan Anda, Tuan? Saya akan panggilkan Dokter untuk memeriksa Anda lebih dulu.” Malvin siap berbalik, tapi terhenti karena panggilan lirih dari Arron.“Bagaimana kondisi K

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Putus Asa

    Arthur keluar dari ruang dokter.Tulang-tulang di kedua kakinya seperti dilepas paksa.Tak ada tenaga untuk hanya sekadar melangkah.Bahkan, Arthur sampai limbung. Tubuhnya menabrak dinding di sisi kirinya.“Bagaimana caranya aku menjelaskan pada Kian.” Kepala Arthur tertunduk dalam.Perlahan cair

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status