LOGINMeski ekspresi wajahnya sangat tenang, tapi Arthur sebenarnya sangat terkejut dengan pertanyaan Kian.
Arthur memandang pembungkus makanan yang ada di meja, tetap tenang menghadapi pertanyaan Kian, Arthur membalas, “Ya, kebetulan majikanku baru saja pesan makanan. Dia tahu aku sudah menikah dan baru saja datang, jadi dia memberikan makanan itu untuk kita. Ya, begitulah.”
Kian membentuk huruf O dengan bibir sambil mengangguk-angguk lagi.
Tak bertanya lagi soal makanan itu, Kian segera mengambil tempat makan dari rak, mengeluarkan makanan dari dalam kantong, lantas menyajikannya di piring.
“Wah, majikanmu benar-benar sangat baik. Bahkan makanan mewah seenak ini pun diberikan ke kamu dengan mudah,” ucap Kian tanpa menatap pada Arthur.
Arthur masih dengan wajah datarnya, untung saja dia bisa membuat alasan. Kendrick yang menyiapkan makanan itu, sehingga Arthur asal membawanya saja.
Kian menoleh pada Arthur setelah menyajikan makanan di piring. Memperhatikan Arthur yang masih berdiri diam, Kian lantas berucap, “Kenapa kamu hanya berdiri saja? Duduklah, ayo makan.”
Arthur menatap sekilas pada Kian yang sedang menarik kursi lalu mendudukkan tubuh di sana, dia juga ikut menarik kursi lalu duduk di samping Kian.
Kian sudah terlalu lapar, tanpa menunggu Arthur mempersilakan, dia lebih dulu menyantap makanan miliknya.
Arthur mengerutkan kening melihat Kian yang makan begitu lahap, bahkan tidak ada anggun-anggunnya sama sekali seperti layaknya perempuan pada umumnya.
Arthur mengambil sendok miliknya sambil berucap, “Tidak ada yang akan merebut makananmu, untuk apa makan terburu-buru.”
Kian berhenti memasukkan suapan ke mulut ketika mendengar ucapan Arthur. Dia menutup rapat mulutnya, lalu mengunyah makanan di mulutnya dengan perlahan. Karena terlalu lapar, Kian tidak memedulikan etika ketika makan, baginya yang terpenting perutnya kenyang. Lagi pula, mereka sedang tidak dalam acara formal.
“Maaf,” ucap Kian pada akhirnya setelah makanan di mulutnya ditelan, “aku sangat lapar, jadi makan sedikit terburu-buru,” imbuhnya.
Kian tak mendengar balasan dari Arthur. Dia menatap Arthur yang sedang makan, dari sudut pandangannya saat ini, pria di sampingnya ini, makan begitu elegan. Bahkan setiap suap seperti dimasukkan dengan nada, rapi dan elegan.
Kian masih menatap Arthur, sampai detik ini, Kian benar-benar masih ragu kalau Arthur hanya seorang sopir. Suami kilatnya ini, terlalu tampan.
Kian segera mengalihkan pandangan dari Arthur lalu kepalanya menggeleng pelan, bisa-bisanya dia mengagumi wajah Arthur.
“Ada apa?”
Kian terkejut mendengar pertanyaan Arthur. Dia menoleh lagi ke pria itu, sambil melipat bibirnya karena malu ternyata Arthur menyadari kalau dia menatapnya.
“Bagaimana tadi? Majikanmu memarahimu?” tanya Kian untuk mengalihkan perhatian Arthur.
Arthur terbatuk kecil mendengar pertanyaan Kian. Dia mengambil air minum digelas, menenggak isinya perlahan, sebelum menatap Kian lalu membalas, “Marah, tapi dia memberiku kesempatan.”
Arthur harus membuat Kian tidak mencurigainya dengan alasan yang masuk akal.
Kian mengembuskan napas kasar, dia mengaduk pelan makanannya, memasukkan suapan ke mulut, lalu dengan mulut sedikit penuh bicara. “Untunglah kalau masih diberi kesempatan. Besok aku mau cari kerja, nanti aku bantu membayar ganti rugi mobil majikanmu.”
Saat menoleh ke arah Arthur, Kian tersenyum walau mulutnya penuh, setelahnya dia kembali memandang ke piring di hadapannya lagi.
Arthur diam dengan tatapan tak bisa dideskripsikan. Satu pertanyaan yang mengganjal di pikirannya, kenapa Kian mau repot-repot membantunya, sedangkan urusan mobil tenggelam itu, tidak ada hubungannya dengan Kian sama sekali.
Setelah selesai makan. Kian segera mencuci alat makan di washbak.
Kian berdiri di depan washbak dengan air yang mengalir, mengetahui Arthur masih ada di meja makan, Kian berucap, “Besok aku akan belanja beberapa kebutuhan dapur, apa ada yang mau kamu beli?”
Arthur tak langsung menjawab, dia menatap Kian dari belakang. Saat melihat Kian menolehkan kepala ke arahnya, Arthur segera mengalihkan pandangan lurus ke depan lagi.
Kian menatap Arthur yang hanya diam, lalu dia mengulang ucapannya, “Besok aku akan belanja, aku masih ada sisa tabungan, jadi cukup untuk kebutuhan satu minggu ke depan.”
Sebagai seorang pria, Arthur tidak mungkin membiarkan Kian belanja menggunakan uang pribadinya. Arthur secara sadar mengeluarkan dompetnya, tapi melihat kartu di dompetnya semuanya kartu yang mungkin bisa dikenali Kian, Arthur mengurungkan niat memberikan kartunya.
“Besok aku antar.”
Setelah mengatakan itu, Arthur berdiri dari duduknya, lalu melangkah meninggalkan ruang makan.
Kian melongo sambil menatap kepergian Arthur. Dia belum sempat menolak, tapi suaminya ini sudah lebih dulu pergi begitu saja. Kian mengedikkan kedua bahu, lalu kembali mencuci peralatan makan yang baru saja digunakan.
Setelah selesai mencuci piring. Kian keluar dari dapur, tapi langkahnya terhenti saat tak melihat Arthur di ruang tengah, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, bingung harus ke mana dan melakukan apa.
Ketika Kian masih dilanda kebingungan, tatapannya tertuju pada Arthur yang baru saja keluar dari salah satu ruangan. Dengan cepat Kian melangkah menghampiri, sampai membuat Arthur terkejut saat melihat Kian tiba-tiba di hadapan Arthur.
“Di mana kamarku?” tanya Kian.
Arthur diam. Di kamar utama, terdapat beberapa barang mahal yang bisa membuat Kian curiga, sehingga tanpa berpikir, Arthur menunjuk salah satu pintu di dekat dapur sambil berkata, “Di sana kamarku. Kamu juga tidur di sana.”
Setelah puas membeli makanan yang belum pernah Kaylan makan.Kian dan Arthur mengajak Kaylan kembali ke mobil karena Kaylan tidak mau makan di tempat.Yang membuat Kian dan Arthur semakin kagum pada anak ini, Kaylan masih memikirkan Arron di rumah karena tidak diajak makan, sehingga Kaylan minta dibungkus saja.“Kay, sudah tidak ada yang mau dibeli lagi?” Kian memastikan.Kaylan menggeleng. “Sudah tidak ada. Ini sudah banyak. Terima kasih Paman, Bibi.”Kian benar-benar semakin gemas pada Kaylan. Apalagi saat Kaylan bicara semanis ini.Mereka segera pulang.Saat tiba di rumah.Kaylan membawa semua makanan yang dibeli keluar dari mobil.“Biar aku bantu.” Kian mengulurkan kedua tangan untuk mengambil sebagian kantong yang Kaylan bawa.“Jangan, biar aku aja.” Kaylan tak mengizinkan. “Paman dan Bibi yang beli, sekarang aku yang bawain ke dalam, biar adil.”Setelah bicara, Kaylan membawa kantong-kantong makanan itu masuk ke dalam rumah meski sedikit kesulitan.Sedangkan Kiaan menatap tak pe
Di perusahaan.Kian di ruang kerjanya mengecek berkas progres tim marketingnya.Ginny berdiri di depan meja Kian. Dia menunggu Kian selesai, baru melaporkan yang lainnya.“Manager Luna sudah menghubungi dan sepakat dengan point kerjasama yang kita ajukan. Dia bertanya kapan bisa menandatangani kontraknya?” Ginny segera menyampaikan masalah ini begitu melihat Kian menutup berkas di atas meja.Kian diam beberapa detik. Dia menatap Ginny yang menunggu jawaban darinya.“Besok jam berapa aku punya waktu kosong?” Kian memastikan lebih dulu sebelum membuat keputusan.Ginny membuka tablet pintarnya dan membaca jadwal Kian besok.“Besok pagi Anda kosong, lalu jam satu juga jadwal Anda kosong.” Ginny kembali menatap pada Kian setelah bicara.Kian mengangguk. “Besok pagi aku harus menjemput ibunya Kaylan dari rumah sakit, jadi hubungi manager Luna dan katakan kalau penandatanganan kontraknya pukul setengah dua siang.”Gini mengangguk. “Baik, Bu. Saya mengerti.”Begitu Ginny meninggalkan ruangann
Kian terkejut melihat reaksi berlebihan dari Sienna. Apalagi Sienna sampai hampir menangis.Dengan cepat, Kian segera menjelaskan, “Bukan. Kaylan tidak membuat masalah. Anak sebaik dan sepatuh dia, mana mungkin membuat masalah.”Ketegangan di wajah Sienna perlahan memudar. Dia menatap bingung pada Kian dan Arthur secara bergantian.“Lalu, apa yang mau kalian bahas?” Sienna bertanya dengan sangat hati-hati.Kian tersenyum kecil untuk menenangkan Sienna, lalu setelahnya dia menjelaskan, “Mengingat Kaylan harusnya sudah mulai mengenyam pendidikan. Kami berniat menyekolahkan Kaylan atas persetujuanmu.”Sienna menegakkan punggungnya. Dia menatap bergantian pada Arthur dan Kian seolah tak percaya.“Anda, kenapa sangat baik padaku? Kenapa sangat baik pada Kaylan. Apa kalian memiliki maksud tersembunyi?” Sienna menatap curiga. Bagaimanapun, mana ada di dunia ini orang sebaik Kian?Ini tak masuk akal untuk Sienna.Kian mengerti kenapa Sienna mempertanyakan niatnya.Kian lebih dulu mengambil t
Keesokan harinya.Kian langsung turun ke bawah untuk melihat Kaylan.Dia cemas karena semalam Kaylan tidur sebelum makan.Kian takut Kaylan kelaparan dan tidak berani memberitahu siapa pun.Saat masuk ke dalam kamar. Kian langsung mencari keberadaan Kaylan.Tapi dia tak menemukan anak itu di kamar.“Di mana dia?” Kian panik.Baru saja Kian ingin memanggil nama Kaylan, dia sudah lebih dulu mendengar suara dari arah kamar mandi.Kening Kian berkerut dalam. Tatapannya tertuju ke arah pintu kamar mandi yang terbuka.Perlahan Kian mendekat, sampai Kian menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya.“Kay, apa yang sedang kamu lakukan, hm?” Kian menatap Kaylan berjongkok di dalam kamar mandi, kedua tangannya memegang baju yang basah.Kaylan langsung berdiri. Baju yang dicucinya kini tergeletak di lantai kamar mandi.“Kamu sedang mencuci?” Kian memastikan.Kaylan menyembunyikan kedua tangan di belakang tubuhnya, pandangannya tertunduk. “Aku hanya nyuci bajuku, biar Bibi tidak repot mencucinya.
Wajah Kaylan begitu kaku, matanya membola lebar saat melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang.Pandangan Kaylan sedikit diturunkan saat dia berkata, “Aku lapar.” Arthur menatap Kaylan yang tak berani memandangnya ini. “Lapar? Bukankah ada susu kotak dan camilan di kamarmu? Atau kamu makan yang lain?”Kedua pundak Kaylan bergetar. Suara Arthur yang tegas membuatnya takut.Suara Kaylan begitu lirih saat dia berkata, “Aku belum dapat izin buat makan, jadi mau minta izin dulu.”Arthur terkesiap. Dia menatap tak percaya pada Kaylan yang baru saja selesai bicara.“Kamu ingin minta izin dulu sebelum makan?” Arthur memastikan.Kaylan mengangguk-angguk. “Kata Ibu, jangan makan milik orang kalau tidak ditawari. Aku belum ditawari, jadi tidak berani makan.”Arthur benar-benar tidak menyangka, di balik kehidupan yang serba terbatas, Sienna masih mengajarkan hal-hal baik seperti ini.Arthur menatap Kaylan yang terus menunduk. Benar kata Kian, Kaylan sangat takut padanya.Arthur berjongkok di
Arthur melirik sekilas ke istrinya. Dia melihat bagaimana tatapan Kian yang penuh kasih pada Kaylan.Arthur mungkin egois, tapi dia tidak bisa mengabaikan kebahagiaan Kian.Dia sadar, hidup mereka, bukan hanya berpusat padanya saja. Lagi pula, Kian sudah banyak melakukan banyak hal untuk keluarga kecil mereka.“Tentu.” Arthur mengangguk. “Aku tidak akan kesal atau cemburu. Yang terpenting kamu senang.”Kian terkejut tapi juga senang mendengar ucapan suaminya.Sampai dia meraih pipi Arthur, kecupan hangat mendarat di pipi suaminya.“Terima kasih, aku tahu kamu yang terbaik.” Kian tidak bisa membendung rasa senangnya, setelah sebelumnya panik dan cemas jika keputusannya ditolak sang suami.Arthur mengusap rambut Kian dengan lembut, meski tatapannya tertuju ke jalan. “Tapi jangan lupakan aku juga.”Tawa Kian pecah mendengar ucapan suaminya. Arthur memang menggemaskan saat manja.“Tentu saja, bagaimana mungkin aku lupa pada suamiku sendiri,” katanya dengan nada gemas.Mobil mereka tiba d







