Share

Kasihan Sekali

Penulis: Aldra_12
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-13 07:44:38

Di rumah yang Kian tempati sekarang.

Kian hanya duduk dengan tatapan mengedar ke seluruh ruangan yang sekarang ditempatinya. Tidak banyak perabot di sana, tapi jelas kalau rumah itu termasuk mewah dengan desain interior yang cantik.

Sejak kepergian Arthur, Kian tidak berani masuk ke dalam rumah lebih dalam, apalagi masuk ke ruangan yang ada di sana. 

“Kenapa dia lama sekali?” gumam Kian.

Sesekali Kian menoleh ke arah pintu utama berada, tapi dia tidak mendapati Arthur kembali.

Kian mengembuskan napas kasar, dia masih duduk menunggu sampai terdengar perutnya yang tiba-tiba berbunyi.

Mengusap lembut perutnya yang keroncongan, Kian akhirnya mengeluh, “Lapar.”

Kian menoleh ke dapur. Jika Arthur selama ini tinggal di rumah ini, pasti ada bahan makanan di dapur.

Bangkit dari duduknya, lalu melangkah kecil menuju dapur. Kian mencoba membuka lemari pendingin, tapi sayangnya tidak ada apa pun di sana.

Kening Kian berkerut dalam, sambil memandangi lemari pendingin yang kosong melompong, dia bergumam, “Apa dia benar-benar tinggal di sini? Kenapa bahkan air pun tidak ada di lemari pendingin?”

Kian menggeleng cepat, bisa saja Arthur pulang hanya untuk istirahat dan mandi, selebihnya sibuk menjadi sopir, jadi tidak pernah memperhatikan isi lemari pendingin. 

Kian mencoba mencari bahan makanan di tempat lain. Tapi hasilnya nihil, tidak ada apa pun di dapur itu, sampai tatapan Kian tertuju ke lemari penyimpanan yang ada di atas pantry, dia memandangi cukup lama lemari itu.

“Mungkin disimpan di sana, coba aku lihat,” gumamnya.

Kian menarik kursi dari bawah meja, meletakkan kursi di depan meja pantry, lantas perlahan naik untuk melihat apakah ada bahan makanan di atas sana.

Saat menarik kedua pintu lemari secara bersamaan, Kian semakin melongo karena benar-benar tidak ada makanan di rumah.

“Dia bisa hidup tanpa makanan di rumah? Atau sebenarnya ekonominya juga tidak baik, jadi dia tidak bisa menyimpan stok makanan di rumah?”

Masih sambil berdiri di atas kursi, Kian melamunkan nasib Arthur. Sudah hidup susah, sekarang masih harus menghidupinya juga mengganti rugi mobil majikan yang tenggelam.

“Kasihan sekali dia,” gumam Kian.

“Sedang apa kamu?”

Kian sangat terkejut mendengar suara menginterupsi dari belakang punggungnya. Secara spontan Kian membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang datang, membuatnya tidak hati-hati dan satu kakinya tak sengaja kehilangan pijakan.

“Akh!” teriak Kian karena mau terjatuh dari kursi.

Arthur sangat terkejut melihat Kian yang limbung dari atas kursi. Dengan sigap Arthur meletakkan makanan yang dibawanya ke meja, lantas kedua tangannya terulur ke arah Kian, tepat saat tubuh Kian terhempas dan masuk ke dalam pelukannya.

Kian sangat syok, jantungnya berdegup sangat cepat sampai tubuhnya gemetar. Bahkan dia masih tidak sadar jika sekarang berada dalam gendongan Arthur.

Arthur menatap Kian yang membeku dalam gendongannya. Dia mengerutkan kening, lalu mencoba bertanya, “Kamu baik-baik saja?” 

Tidak ada jawaban dari Kian, membuat Arthur sedikit mengguncang tubuh Kian yang ada di gendongan sambil kembali bertanya, “Kamu baik-baik saja?”

“Hah? Apa?” Kian baru saja tersadar dari keterkejutannya. Dia menatap Arthur yang sedang memandangnya.

Sadar dengan posisinya sekarang, Kian buru-buru turun dari gendongan Arthur. Dia menyelipkan rambutnya berkali-kali ke belakang telinga karena kikuk dan salah tingkah dengan apa yang baru saja terjadi.

“Aku baik-baik saja,” ucap Kian cepat, “terima kasih sudah menolongku,” imbuhnya kemudian.

Arthur hanya menatap datar saat melihat Kian bicara sambil mengalihkan pandangan darinya. Dia kembali membalikkan badan ke arah meja, tanpa menatap Kian, Arthur berkata, “Apa yang kamu lakukan sampai harus naik kursi?”

Kian melipat bibir sejenak, setelahnya dia melangkah mendekat ke Arthur sambil menjawab, “Aku pikir ada bahan makanan di rumah, jadi tadi sempat berpikir untuk memasak. Tapi ternyata tidak ada apa-apa.”

Arthur menoleh sekilas ke arah Kian, tatapannya masih saja datar, sampai dia kembali memandang ke kantong plastik berisi makanan yang dibawanya.

“Aku sudah bawa makanan,” kata Arthur.

Kian mengangguk-angguk pelan. Dia berdiri di samping Arthur saat kedua tangannya terulur untuk membuka kantong yang dibawa Arthur.

Namun, sebelum mengeluarkan isi di dalam kantong, tatapan Kian lebih dulu tertuju ke logo yang menempel di pembungkus makanan di dalam kantong.

“Star Restaurant? Kamu beli makanan di restoran bintang lima?” tanya Kian sambil menatap curiga pada Arthur.

Aldra_12

Halo semuanya, ini buku baru saya, di buku baru ini, semoga kalian semua suka dengan kisah Kian dan Arthur. Terima kasih

| 11
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Adeena
suami mu ga miskin miskin amat Kian jadi ga usah kaget...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Menyerahkan Semuanya

    Kian diam. Dia melihat tatapan lembut dari Arthur, sampai teringat ucapan Arthur malam sebelumnya.Kian takut dan tidak siap, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan suaminya. Kian mencoba memaklumi kebutuhan biologis suaminya.Ketika Arthur mengendurkan genggaman tangan mereka, Kian malah mempererat, membuat Arthur menatap penuh arti padanya.“Aku sudah mempercayakan semuanya padamu, seharusnya sudah tak ada lagi keraguan dalam hatiku.”Tubuh Arthur menegak mendengar ucapan Kian. Senyum perlahan mengembang di bibirnya.“Jadi ….” Arthur menatap menunggu kepastian.Kian mengulum bibir sejenak. Kepalanya mengangguk pelan.Arthur menangkup kedua pipi Kian begitu mendapatkan izin. Dia segera menyentuhkan bibir mereka, memagutnya dengan lembut dan perlahan.Mata Kian terpejam, jemarinya meremas kuat sisi lengan Arthur kala pagutan bibir mereka semakin memanas.Keduanya saling memagut penuh gairah, sampai Arthur mendorong pelan tubuh Kian hingga berbaring di atas ranjang, masih dengan bibir ya

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Mencoba Memiliki

    Kian dan Arthur akhirnya mencapai mobil. Mereka segera masuk ke dalam mobil karena hujan semakin deras.“Kita tidak mungkin melakukan perjalanan dalam kondisi basah, bisa-bisa sampai rumah kita sakit.” Arthur menatap pada Kian yang sedang merapikan rambut.Kian menoleh ke Arthur sambil mengelap wajahnya dengan tisu. Dia diam beberapa saat karena memikirkan apa yang harus mereka lakukan dalam situasi ini. “Tapi kita juga tidak bawa baju ganti. Siapa yang menyangka kalau cuacanya bisa berubah secepat ini.”“Apa mau ke toko beli baju?” tanya Arthur.Kian merasa terlalu boros jika membeli baju lagi, padahal di rumah baju mereka sudah banyak. “Tidak usah, lagian hanya basah, kenapa harus beli baju juga.”“Kalau begitu, bagaimana kalau ke hotel dulu? Selagi menunggu hujan reda, kita juga bisa menggunakan jasa dry cleaning untuk mengeringkan pakaian kita dulu dan beristirahat. Kita juga tidak mungkin mengendarai mobil menerjang hujan sederas ini.”Kian diam beberapa saat sebelum mengangguk.

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Provokasi

    “Benar. Arthur tidak mungkin asal menikah begitu saja, jadi ini alasannya.” Carla menatap geram mengetahui alasan di balik pernikahan Arthur.Oliver menyeringai. Dia lebih dulu menenggak minuman, sebelum kembali bicara. “Kamu sudah tahu faktanya, lalu apa kamu akan menerima begitu saja kalau Arthur menikahi wanita lain?”Carla menatap Oliver dengan cepat. Kepalanya menggeleng pelan.“Aku sangat yakin kalau Arthur sebenarnya mencintaimu. Hanya saja, waktu itu dia tak punya pilihan.” Kalimat provokasi kembali meluncur dari bibir Oliver.Carla menatap penuh harap. “Apa yang kamu katakan benar. Arthur mengabaikanku pasti karena merasa bersalah padaku sebab dia menikah dengan wanita lain.”Oliver mengangguk-angguk pelan. Dia mendesis pelan setelah kembali menenggak minuman dari gelas.“Jika kamu mencintainya, seharusnya kamu memperjuangkannya, bukan malah putus asa dan mabuk-mabukan begini. Benarkan?” Sorot mata Oliver berubah licik. “Kalau aku jadi kamu, aku akan mati-matian merebut hati

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Rencana Oliver

    Menjelang sore.Oliver keluar dari ruang kerjanya. Pandangannya lebih dulu tertuju ke meja Kian, sebelum akhirnya dia melangkah menghampiri Kian.Begitu tiba di depan meja Kian, Oliver menyapa, “Kian.”Kian mengangkat pandangannya dan melihat Oliver yang sudah menatapnya.Kian buru-buru berdiri dari duduknya. “Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”Oliver tersenyum melihat Kian yang begitu sigap meresponnya.“Malam ini aku mau mentraktir semua staff untuk merayakan jabatanku di sini.”Kian terdiam beberapa saat mendengar ajakan Oliver.“Mohon maaf, Pak. Sepertinya saya tidak bisa ikut.” Kian tersenyum kecil setelah memberikan penolakan.Satu sudut alis Oliver tertarik ke atas. “Kenapa?”Kian tersenyum canggung. “Besok saya ada acara, jadi harus pulang lebih awal hari ini.”“Acara apa?”Kian menatap aneh karena Oliver seperti ingin segala sesuatu tentangnya dengan detail. Namun, Kian memaklumi sikap Oliver.“Acara keluarga, Pak,” jawab Kian.Oliver mengembuskan napas pelan. “Baiklah kala

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Menolak Tawaran

    Arthur diam dengan tenang mendengar pertanyaan Kian.“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, tapi nanti, setelah dari makam kedua orang tuamu.”Kian mengangguk pelan, walau sedikit kecewa karena harus menyimpan rasa penasarannya.“Besok kita pergi ke sana, setelahnya aku akan memberitahukan apa yang ingin kuberitahukan padamu.”Kian melebarkan senyum. Rasa penasarannya tergantikan dengan rasa bahagia karena akhirnya dia bisa melihat makam kedua orang tuanya.“Terima kasih karena kamu mau ikut bersamaku.” Kian buru-buru menyantap sarapannya setelah bicara.Sedangkan Arthur, meski senang melihat Kian bahagia, tapi jelas ada kecemasan yang terselip dari sorot matanya.**Kian berangkat ke perusahaan setelah sarapan. Sesampainya di sana, Kian langsung naik menuju lantai departemen desain berada.Kian melangkah keluar lift menuju ruang departemen, ketika sebuah panggilan membuat langkahnya terhenti.Kian membalikkan tubuhnya, dia langsung membungkukkan tubuhnya saat melihat Oliver melangka

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Hampir Saja

    Kian meneguk ludah kasar mendengar ucapan Arthur. Jantungnya berdegup semakin cepat ketika wajah Arthur semakin dekat, bahkan bibir mereka hampir bersentuhan.Kian memejamkan mata. Namun, hal yang terjadi berikutnya, tidak seperti yang Kian takutkan.Kian merasakan kepala Arthur jatuh bersandar di pundaknya.Kian membuka mata dengan cepat sebelum menoleh ke sisi kiri. Dia melihat Arthur yang memejamkan mata.Tampak begitu damai meski wajahnya begitu merah.“Arthur,” panggil Kian mencoba membangunkan. Tidak ada balasan dari Arthur, pria ini tertidur pulas.Kian mengembuskan napas pelan. Dia begitu lega karena Arthur tak memaksanya.Sekuat tenaga Kian menggeser tubuh Arthur agar menyingkir dari atas tubuhnya. Apalagi tubuh Arthur benar-benar berat sampai membuat dadanya sesak.Begitu berhasil menggeser tubuh Arthur hingga terbaring di ranjang, Kian segera bangun lalu menyelimuti tubuh Arthur.Kian duduk di samping Arthur sambil terus memandang suaminya.“Apa yang membuatmu mabuk begini

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status