LOGINTiga tahun menikah, Kirana hanya menjadi "istri pajangan" bagi Reyhan. Tak ada pelukan, tak ada kecupan hangat, bahkan tak pernah ada sentuhan fisik sedikit pun. Setiap malam, Reyhan selalu punya sejuta alasan untuk menolak sentuhan fisik Kirana. Puncaknya di malam ulang tahun Kirana. Dengan sisa keberanian dan lingerie putih terbaiknya, Kirana mencoba meraih perhatian sang suami. Namun, bukannya dekapan hangat yang ia dapat, tubuhnya justru didorong kasar hingga tersungkur di lantai. Reyhan menganggapnya murahan dan pergi meninggalkannya dalam kegelapan. Di saat Kirana bersimpuh menangis di atas lantai dingin, lampu tiba-tiba menyala. Sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah Reyhan, melainkan Zayn, adik iparnya yang tampan, cerdik, dan terkenal liar. "Kakakku benar-benar buta membiarkan keindahan seperti ini menangis sendirian," bisik Zayn rendah, menyapu air mata Kirana dan merayap turun ke pundaknya yang terbuka. "Kalau dia tidak mau menyentuhmu... biarkan aku yang memanjakanmu malam ini."
View More[Reyhan] : Aku lembur malam ini. Ada rapat dadakan dengan klien luar negeri. Kamu tidur duluan saja, tidak usah menungguku.
Kirana menatap layar ponselnya yang meredup dengan tatapan kosong. Cahaya dari ponselnya adalah satu-satunya penerang di dalam kamarnya yang luas dan lengang. Jarum jam dinding baru menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi kesunyian di rumah megah ini sudah mencengkeram begitu pekat. Pesan singkat itu singkat, jelas, dan dingin. Tanpa emotikon, tanpa kata manis, apalagi ucapan bahwa pria itu merindukannya. Kirana mendesah pelan. Jemarinya yang kurus mengetik balasan pendek. [Kirana] : Baik, Mas. Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan malam. Pesan itu terkirim. Kirana menunggu. Satu menit, dua menit, hingga sepuluh menit berlalu, tanda dua centang biru di layar tak kunjung berubah menjadi balasan. Reyhan bahkan tidak merepotkan dirinya sendiri untuk mengetik satu kata "ya" atau sekadar memberi tanda jempol. Kirana meletakkan ponselnya di atas meja rias, lalu berjalan perlahan menuju ranjang besar di tengah ruangan. Seprai mahal di kamarnya itu terasa begitu dingin saat bersentuhan dengan kulit lengannya yang terbuka. Ia merapatkan selimut hingga ke dada, memeluk guling erat-erat, mencoba menyalurkan kehangatan pada dirinya sendiri. Tiga tahun. Tiga tahun sudah ia menyandang status sebagai istri dari Reyhan Nugraha. Seorang direktur muda yang tampan, sukses, dan terpandang. Di mata teman-temannya dulu, saat Kirana masih menjadi seorang pelayan toko yang yatim piatu. Pernikahan ini adalah sebuah keajaiban layaknya dongeng Cinderellla. Pria kaya raya dan berpendidikan tinggi mendadak jatuh hati, meminangnya, dan memboyongnya ke dalam kemewahan. Orang-orang mengira Kirana adalah wanita paling beruntung di dunia. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu rahasia dingin di balik pintu kamar ini. Selama tiga tahun pernikahan, Reyhan sekali pun tidak pernah menyentuhnya. Setiap kali Kirana mencoba mendekat, mencoba menyentuh jemari suaminya di atas ranjang, atau sekadar memberanikan diri mengenakan gaun tidur yang sedikit lebih terbuka, Reyhan selalu punya sejuta alasan untuk membentengi dirinya. Capek, lembur, meeting, dan pekerjaan yang menumpuk adalah alasan yang paling sering diucapkannya dengan nada datar tanpa penyesalan. Jika Kirana memberanikan diri bertanya lebih lanjut. Nada suara Reyhan akan berubah menjadi dingin dan ketus. "Kamu ini kenapa, sih? Otakmu cuma isi hubungan badan saja?" cetus Reyhan suatu malam, saat Kirana dengan mata berkaca-kaca menanyakan kenapa mereka tidak pernah berhubungan seperti suami istri pada umumnya. "Pernikahan itu bukan cuma soal nafsu fisik, Kirana. Harusnya kamu bersyukur sudah kuberikan rumah yang layak, kartu kredit tanpa batas, dan hidup berkecukupan. Jangan bertindak seperti wanita yang tidak pernah mengenyam pendidikan." Kalimat-kalimat itu membakar harga diri Kirana hingga tak bersisa. Kata-kata yang diucapkan dengan tenang, tetapi menancap dalam seperti pisau. Sejak malam itu, Kirana merasa kotor dan hina setiap kali ia merindukan sentuhan suaminya sendiri. Ia dibuat merasa bersalah hanya karena menginginkan kehangatan wajar dari pria yang telah mengucapkannya janji suci di hadapan penghulu. Kirana memiringkan tubuhnya, menatap sisi ranjang di sebelahnya yang selalu rapi tanpa lipatan. Bantal di sebelah kirinya masih seharum pelembut pakaian, tak pernah tersentuh oleh kepala Reyhan. Pria itu lebih sering tertidur di sofa ruang kerja dengan alasan tak ingin mengganggu tidur Kirana saat ia pulang larut malam. Atau jika tidur di ranjang pun, Reyhan akan membentang jarak sedemikian rupa, membelakangi Kirana seolah-olah tubuh istrinya adalah noda yang menular. Kenapa? Apa yang salah dari dirinya? Pikiran ini terus melayang di benak Kirana. Kirana bangkit dari ranjang, melangkah menuju cermin besar di sudut kamar. Ia menatap pantulan dirinya dalam remang lampu tidur. Wajahnya masih cantik, kulitnya bersih, dan tubuhnya proporsional. Ia meraba lehernya sendiri, membelai bahunya yang dingin. Ia masih muda, tetapi hatinya terasa renta dan keriput oleh rasa kesepian yang menggerogoti jiwanya setiap malam. Rasa kasihan pada diri sendiri membuncah di dada. Kirana meremas jemarinya. “Pernikahan bukan cuma soal nafsu,” kata Reyhan. Tapi apakah pernikahan juga berarti hidup berdampingan seperti dua orang asing yang terikat kontrak sewa rumah? Detik demi detik berjalan amat lambat. Dalam keheningan malam, setiap bunyi kecil berdentang begitu keras. Suara angin yang menabrak kaca jendela, detak jarum jam dinding, hingga detak jantung Kirana yang berpacu kencang setiap kali mendengar suara deru mesin mobil dari luar. Pukul satu malam... Pukul dua malam... Pukul tiga malam. Sepertiga malam telah tiba. Waktu di mana kesepian Kirana mencapai puncaknya. Hingga akhirnya, saat langit di luar jendela mulai bergeser menjadi abu-abu pekat. Hampir mendekati subuh, suara deru mesin mobil Reyhan yang sudah sangat Kirana hafal terdengar masuk ke pelataran rumah. Suara pintu gerbang otomatis berderit pelan, disusul gemeretak langkah kaki yang tegas di atas marmer lantai bawah. Jantung Kirana berdesir hebat. Refleks, ia langsung berbaring kembali, merapatkan selimut hingga ke leher, dan memejamkan matanya rapat-rapat. Ia memilih berpura-pura tidur. Ia terlalu lelah untuk melihat wajah dingin Reyhan, terlalu takut untuk mendengar alasan formalitas yang sama. Gagang pintu kamar berputar pelan. Langkah kaki Reyhan terdengar mendekat. Aroma parfum Reyhan memenuhi udara kamar yang semula hampa. Kirana menahan napasnya. Mengatur helaan dadanya agar terlihat seperti wanita yang sedang lelap dalam mimpi. Ia merasakan aura dingin saat Reyhan berdiri di samping tempat tidur. Pria itu tidak membungkuk untuk mencium keningnya. Tidak pula mengusap kepalanya. Reyhan hanya berdiri diam di sana. Menatap tubuh istrinya yang terbungkus selimut dengan tatapan yang tak bisa dibaca. Tak lama, terdengar helaan napas pendek dari Reyhan. Sebuah helaan napas yang terdengar penuh beban, seolah-olah berada di dalam kamar itu bersamanya adalah sebuah siksaan. Suara gesekan kain terdengar saat Reyhan melepaskan jasnya dan mencampakkannya begitu saja ke atas kursi. Tanpa menyapa, tanpa berniat menyentuh ujung kaki Kirana sekalipun, Reyhan membalikkan badan dan melangkah menuju kamar mandi. Suara gemercik air shower mendadak memenuhi ruangan, memecah kesunyian subuh. Di balik pejam matanya, air mata yang sejak tadi ditahan Kirana akhirnya lolos. Tetesan hangat itu mengalir perlahan, melewati pelipisnya, dan meresap basah ke dalam kain bantal yang dingin. Di atas ranjang yang luas itu, di samping pria yang menyandang status sebagai suaminya, Kirana merasa sepenuhnya sendirian.Di bawah bayang-bayang temaram lilin yang menari melintasi langit-langit kamar, sekat terakhir di antara mereka benar-benar musnah. Zayn tidak terburu-buru, tidak pula bertindak seolah-olah ia sedang memuaskan hasratnya sendiri secara egois. Setiap gerakan tubuhnya dikendalikan oleh kelembutan yang terukur, seakan-akan Kirana adalah porselen paling rapuh di muka bumi.Ketika Zayn perlahan menyatukan tubuh mereka, Kirana memejamkan mata rapat-rapat. Seketika, desah napasnya yang terputus-putus memenuhi keheningan kamar. Ada rasa perih sesaat dari kerapuhan jiwanya yang koyak, namun rasa itu dengan cepat tersapu oleh gelombang kehangatan yang mengalir deras dari tubuh Zayn.Zayn menghentikan pergerakannya sejenak. Pria itu menyangga tubuhnya di atas Kirana, mengusap lembut pelipis Kirana yang basah oleh peluh, lalu menunduk untuk memagut bibir wanita itu dengan ciuman yang dalam dan tenang."Tatap aku, Na..." bisik Zayn serak. "Jangan pejamkan matamu."Kirana perlahan membuka matanya. D
Kecupan hangat Zayn yang meluncur dari rahang menuju leher jenjang Kirana, membuat seluruh persendian gadis itu melumpuh. Jemari Zayn bergerak perlahan menarik sisa satu tali lingerie sutra putih di bahu Kirana hingga baju transparan itu meluncur turun. Sensasi dingin udara malam sontak menyapu kulit polos Kirana seperti sengatan listrik.Bayangan wajah Reyhan yang dingin, benturan keras di lantai marmer, hingga cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya mendadak berkelebat hebat di kepala Kirana. Logika dan kesadaran moralnya yang sempat kabur kini tersentak bangun."Z-Zayn... tunggu..."Suara Kirana bergetar, begitu tipis dan nyaris tenggelam oleh deru napas mereka yang memburu. Kirana menahan dada tegap Zayn dengan telapak tangannya yang gemetar. Matanya yang sayu dan sembap mendongak, menatap Zayn dengan kilat ketakutan yang bercampur aduk dengan rasa haus akan sentuhan."Apa... apa yang sedang kita lakukan?" lirih Kirana, air mata baru kembali menggenang di sudut matanya.
"Zayn, jangan..."Kalimat itu meluncur lirih dari mulut Kirana tepat saat wajah Zayn semakin mengikis jarak diantara bibir mereka. Spontan Kirana memejamkan mata rapat-rapat, memalingkan wajahnya ke samping untuk menyembunyikan parasnya yang memerah bercampur panik. Tangannya yang gemetar mendorong dada Zayn, menahan agar tubuh tegap pria itu tidak semakin menindih tubuhnya yang terbaring di atas ranjang.Zayn menghentikan gerakannya seketika. Sebuah tawa kecil meluncur dari bibirnya. "Mulutmu bilang tidak, tapi jantungmu berdegup kencang sekali, Mbak..." kekeh Zayn pelan.Zayn menarik tubuhnya sedikit, memberi ruang bernafas untuk Kirana. Pandangannya tak sengaja berlabuh pada siku dan paha Kirana. Di bawah remang cahaya lilin aromaterapi, kulit mulus wanita itu tampak memar merah. Bekas benturan keras saat Reyhan mendorongnya tersungkur di lantai marmer tadi.Raut wajah Zayn berubah seketika. Tawa ringannya meluap tanpa sisa. Sorot mata yang tadinya dipenuhi gairah mendadak surut, b
Sentuhan jemari Zayn di lehernya terasa sehangat bara api yang memercik di atas kulit Kirana yang dingin. Kirana tersentak pelan. Naluri pertahanannya langsung menyala merah, memperingatkan bahaya nyata yang kini berlutut tepat di hadapannya.Ia ingat betul bagaimana cara Zayn menatapnya tadi pagi di meja makan. Tatapan yang vulgar, liar, dan penuh ketertarikan terlarang. Kirana bermaksud memundurkan tubuhnya, takut jika adik iparnya ini akan melakukan hal buruk di tengah kondisinya yang begitu rentan dan tak berdaya.Saat matanya yang basah mendongak dan menatap wajah Zayn, Kirana membeku. Tidak ada kekerasan di sana. Zayn berlutut dengan satu kaki di atas lantai marmer, menyejajarkan posisinya dengan Kirana yang tergeletak pasrah.Tidak ada garis kebekuan seperti yang biasa ditunjukkan Reyhan pada wajah pria itu. Zayn menatapnya dengan raut teduh yang begitu dalam, seolah-olah seluruh perhatiannya mendadak tertuju penuh hanya pada Kirana."Z-Zayn... kamu... mau apa?" bisik Kirana ga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.