MasukDi dalam ruang kerja utama HW. Company. Arthur berdiri membelakangi meja kerjanya, dia menatap pemandangan kota dari balik dinding kaca besar. Suasana hatinya jauh lebih tenang dibandingkan subuh tadi. Langkah antisipasi yang dia instruksikan kepada tim hukum dan Kendrick terbukti berjalan sangat efisien.Sampai terdengar suara ketukan pintu, lalu beberapa detik kemudian pintu ruangan terbuka, dan Kendrick melangkah masuk dengan berkas dokumen di tangannya. Ekspresi asistennya itu tampak jauh lebih santai, pertanda ada kabar baik yang dibawa dari pihak berwenang."Tuan, hasil olah TKP dan pemeriksaan rekaman kamera pengawas di rumah Rose sudah keluar." Kendrick segera menyampaikan laporan yang baru saja didapatkannya. "Pihak kepolisian telah memastikan identitas pelaku penyerangan semalam. Berdasarkan analisis postur tubuh, gerak-gerik, serta detail dari rekaman kamera pengawas di lorong lantai dua, pelaku yang mengenakan pakaian serba hitam itu dipastikan adalah Luna."Arthur memb
Iring-iringan mobil mewah itu berhenti secara mendadak. Suara derit ban yang bergesekan tajam dengan aspal jalanan terdengar memekakkan telinga, menyisakan jarak hanya beberapa inci dari tubuh Luna yang berdiri gemetar tapi keras kepala di tengah jalan.Di dalam mobil sedan hitam, Adam yang sedang memeriksa berkas di kursi belakang tersentak akibat penghentian mendadak ini. Rahangnya mengeras penuh amarah.“Ada apa di depan?!” bentak Adam kepada sopirnya.“Maaf, Pak. Ada seorang wanita yang nekat menghadang jalan kita," jawab sang sopir dengan nada panik, matanya menatap lurus ke arah luar kaca depan.Adam menyipitkan mata, tubuhnya sedikit condong ke depan. Matanya menyipit saat memperhatikan sosok yang berdiri di depan mobilnya.Begitu mengenali sosok berantakan dengan pakaian kasual yang berdiri di sana adalah Luna, rahang Adam mengetat sempurna. Alih-alih merasa iba, kilat jijik dan murka justru terpancar jelas dari sepasang matanya. Skandal kemarin telah menghancurkan reputasi
Pelayan paruh baya itu mengangguk cepat mendengar pertanyaan Arthur. “Ada, Tuan. Di rumah ada beberapa kamera CCTV yang dipasang di area pagar depan, halaman samping, sama di lorong lantai dua. Tadi subuh semua rekaman dan mesin memorinya sudah diambil dan dicek langsung oleh pihak kepolisian untuk diselidiki.”Arthur mengangguk paham, wajahnya yang sempat tegang kini sedikit mengendur. Keberadaan rekaman kamera pengawas itu setidaknya bisa menjadi bukti bagi pihak kepolisian untuk mengungkap siapa pelaku sebenarnya, sekaligus melindungi nama HW. Company dari tuduhan liar publik.Kian mengulurkan tangannya, dia mengusap lembut punggung tangan anak perempuan Rose yang masih tampak trauma. “Bi, kami turut prihatin atas musibah ini. Semoga Ibu Rose bisa segera melewati masa kritisnya dan cepat sadar, ya.”“Terima kasih banyak atas perhatiannya, Nyonya, Tuan.” Balas pelayan itu.Arthur kemudian menoleh ke arah Kendrick yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka. “Ken, ikut aku sebe
Di apartemen Luna.Fio melangkah tertatih dengan kening yang masih dibalut perban seadanya akibat hantaman botol wiski semalam. Fio tak mendapati Luna di ruang tengah, sehingga dia mencoba mencari Luna di kamarnya.Fio mendorong pintu kamar utama Luna yang sedikit terbuka. “Luna ... kamu di dalam?”Hening. Kamar berukuran luas itu tampak berantakan, tapi sosok sang model sama sekali tidak terlihat di atas ranjang. Fio mengerutkan kening lalu beralih memeriksa kamar mandi dan ruang rias. Hasilnya nihil. Luna tidak ada di mana pun.Rasa panik seketika menjalar ke seluruh tubuh Fio saat matanya menangkap tas tangan, ponsel, dan kunci mobil Luna yang masih tergeletak rapi di atas meja konsol dekat pintu masuk.“Tas dan ponselnya masih di sini. Kunci mobilnya juga ada. Ke mana dia pergi?” gumam Fio dengan bibir gemetar.Fio tahu betul bagaimana tabiat Luna jika sudah terpojok. Wanita itu impulsif, keras kepala, dan bisa menjadi sangat kejam jika egonya terluka. Fio mendadak didera ket
Sinar matahari pagi yang hangat perlahan mulai menembus celah gorden kamar utama kediaman Arron. Di atas ranjang king size, Arthur dan Kian masih terlelap dengan tenang, menikmati sisa-sisa istirahat mereka setelah hari yang luar biasa melelahkan kemarin. Kian tidur meringkuk nyaman dengan sebelah lengan Arthur yang melingkar posesif di pinggangnya.Hingga suara getaran kuat dari ponsel Arthur yang diletakkan di atas nakas memecah keheningan fajar. Arthur mengerutkan kening, perlahan dia membuka mata dengan rasa kantuk yang masih menggelayut di ujung kelopak matanya. Arthur melirik sekilas ke arah Kian yang bergerak sedikit tapi tidak terbangun.Dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak mengusik tidur istrinya, Arthur mengulurkan tangan menyambar ponsel miliknya. Nama Kendrick berkedip di layar. Kening Arthur berkerut.Kendrick sangat tahu etika dan tidak akan pernah menelepon sepagi ini jika tidak ada hal yang benar-benar darurat.Tak membuang waktu, Arthur menggeser tombol jaw
Malam semakin larut.Di dalam apartemennyanya, Luna menatap pantulan dirinya di cermin besar dengan tatapan kosong yang telah kehilangan seluruh binar kewarasan. Semua pintu telah tertutup baginya. Adam membuangnya, Fio terbaring tak berdaya setelah dia lukai, dan Rose ... wanita itu baru saja menandatangani surat kematian karier Luna di televisi nasional."Kalau aku harus hancur ... kamu juga tidak boleh hidup tenang, Rose," bisik Luna, suaranya terdengar dingin tanpa emosi. Senyumnya terangkat mengerikan. Pikirannya tak waras karena pengaruh sisa-sisa alkohol yang masuk ke tubuhnya.Tepat tengah malam, Luna bergerak. Dia memakai pakaian serba hitam yang longgar, melilitkan syal gelap di lehernya, dan mengenakan penutup wajah rapat-rapat hingga hanya menyisakan sepasang matanya yang memancarkan kebencian.Sebuah pisau dapur yang runcing dan berkilau tajam diselipkannya di balik jaket.Dengan memanfaatkan jalur tangga darurat yang minim kamera pengawas, Luna menyelinap melalui pint
Cengkraman Arthur menguat, bahkan dia tidak peduli lagi kalau yang sedang ada di depannya ini seorang perempuan.“Pak, te-nang-kan diri-mu du-lu.” Dokter tergagap karena tercekik kuat.Saat itu dua perawat dan security datang.Mereka menarik tangan Arthur agar terlepas dari pakaian dokter.Arthur b
Keesokan harinya.Arthur duduk di tepian ranjang. Dia dengan telaten menyuapi Kian.“Padahal aku bisa makan sendiri, kenapa kamu repot-repot menyuapi?” Kian menatap Arthur yang sejak tadi menolak menyerahkan sendok padanya.“Selama ada aku. Jika kamu sakit, kamu tidak perlu susah-payah menggerakkan
Sore hari.Arthur berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang dokter kandungan yang merawat Kian.Dia meninggalkan perusahaan lebih awal setelah Arron memberitahukan apa yang dokter sampaikan siang tadi.Mengetuk pintu lebih dahulu, Arthur masuk ke dalam ruang dokter setelah dipersilakan.“Pak Art
Tatapan Arthur tertuju pada pria di depannya.“Kamu yakin dia pelakunya? Asal kamu tahu, dia sudah dipecat dari perusahaan ini sudah hampir satu tahun lalu.” Arthur membanting kertas yang ada di tangan ke meja.“Saya tidak berani berbohong, Pak Arthur.” Pria ini menunduk dalam. “Anda bisa lihat sen







