MasukTatapan Arthur tertuju pada pria di depannya.“Kamu yakin dia pelakunya? Asal kamu tahu, dia sudah dipecat dari perusahaan ini sudah hampir satu tahun lalu.” Arthur membanting kertas yang ada di tangan ke meja.“Saya tidak berani berbohong, Pak Arthur.” Pria ini menunduk dalam. “Anda bisa lihat sendiri, nama penerima uang pembayaran itu. Mana mungkin saya memanipulasinya? Saya sampai mencetak rekening koran untuk memastikan kalau saya tidak salah.”Kendrick mengambil kertas informasi yang ada di atas meja. Dia membaca dengan teliti nama pemilik email, email, sampai nama rekening yang tertera.“Tuan, ada kemungkinan Alice mencuri informasi milik Kian sebelum dia dipecat. Apalagi waktu itu, Kian sempat cuti karena terluka. Bukankah tidak menutup kemungkinan informasi ini benar?” Kendrick meyakinkan.Kepala Desain Air Company mengangguk-angguk mendengar penjelasan Kendrick.“Saya sudah melaporkan ini ke perusahaan. Saya akan menerima konsekuensi dan hukuman atas tindakan saya ini. Dan,
Arthur dan Kendrick pergi ke ruang departemen desain.Sesampainya di sana, tatapan Arthur langsung tertuju ke salah satu staff yang kemarin ikut rapat dengan Air Company.Langkah Arthur begitu lebar, mendekat dengan sorot mata yang siap menyambar apa pun yang ada di hadapannya.Para staff di departemen desain langsung berdiri melihat kedatangan Arthur.Sampai Arthur tiba di depan meja salah satu staff.Tatapannya seolah siap melahap staffnya ini.“Si-siang, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Staff tergagap.“Apa instruksi kemarin kurang jelas?” Suara Arthur tegas dan penuh penekanan.
Arthur menatap Hendra.Keningnya berkerut dalam mendengar Hendra satu pendapat dengannya.Hendra menatap pada Arthur yang diam. Dia juga memandang semua orang yang kini menatap padanya.Hendra mencondongkan tubuh ke depan. Dia menarik sedikit tepian jasnya, sebelum kembali bicara.“Informasi yang diberikan Air Company belum sepenuhnya terverifikasi benar. Mereka bahkan belum bisa menunjukkan bukti transaksi yang valid, seperti informasi yang kita terima. Lalu, kenapa kita harus menekan dan menuduh Kiandra sebagai pelaku utamanya?” Hendra menatap satu persatu pemegang saham juga jajaran direksi di ruangan ini.“Tapi email dan nama yang dicatut, benar-benar mengarah pada Kiandra Shaylin, manager departemen des
Kian menatap punggung Arthur. Suaminya masih menerima panggilan.Sampai Arthur menjauhkan ponsel dari telinga lalu menoleh ke arah Kian lagi.“Ada apa? Kamu harus ke kantor sekarang?” Kian memastikan.Arthur tersenyum. Dia melangkah mendekat ke ranjang Kian. Dia tidak ingin membuat Kian cemas dan semakin memperburuk kondisi Kian.“Ada berkas yang harus ditandatangani pagi ini juga, karena itu aku harus ke kantor.” Arthur mengusap-usap lembut rambut Kian.Kian mengangguk-angguk.“Kalau begitu pergilah, hati-hati di jalan.” Kian tersenyum meski terkesan dipaksakan.Arthur mengambil jasnya. Dia meningga
Malam hari.Kian masih belum tidur.Dia duduk sambil bermain ponsel.Seharian ini, perasaannya gelisah.Kondisi tubuhnya mendadak turun lagi, sampai-sampai tekanan darahnya turun dan membuat Dokter cemas.“Apa dia lembur?” Kian menatap jam di layar ponsel.Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tapi Arthur belum juga datang.Kian ingin menghubungi, tapi takut mengangguk.Dia hanya bisa menghela napas kasar.“Dia sudah bekerja keras. Dia pasti lelah.”Kian bersalah. J
Semua tatapan langsung tertuju pada Arthur.Bagaimana bisa nama Kiandra Shaylin, tertulis di berkas sebagai penjual desain?Nama dan alamat email yang tertera, memang milik Kian di perusahaan HW. Company.Jemari Arthur mencengkram, meremat tepian kertas yang ada di tangannya.Sebelum telapak tangannya menghantam meja dengan sangat kuat.“Apa kalian sedang ingin memfitnah? Bagaimana bisa kalian menuduh Kiandra, istriku. Sebagai penjual desain ini?!” Suara Arthur menggeram tertahan.“Saya berani bersumpah, Pak. Pembuat desain yang menjualnya pada saya, memang bernama Kiandra ini.” Kepala Tim Desain Air Company membalas cepat. “Desainnya dikirim via emai
Keesokan harinya.Arthur membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar sejenak sambil mengembuskan napas pelan, saat menoleh ke sisi ranjang, dia tak menemukan Kian di ranjang.Kening Arthur berkerut samar, tatapannya kini tertuju ke jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah enam pa
Supervisor lagi-lagi dibuat terkejut dengan reaksi Kian.Kian langsung menoleh pada Arthur, suaminya berdiri tenang sambil berucap, “Kenapa tidak lihat dulu?”“Bolehkah?” Kian memastikan.Melihat Arthur mengangguk-angguk pelan, Kian akhirnya menggeser posisi berdirinya, berpindah ke depan etalase y
Melangkah meninggalkan meja Kanaya setelah menyerahkan file desain revisi yang Kian buat. Kian sekarang masuk ke dalam lift, lalu naik menuju rooftop perusahaan.Ketika menginjakkan kaki di rooftop, tatapan Kian langsung tertuju pada Arthur. Suaminya sudah di sana, kini berdiri memandang ke hampara
Suara lantang Kian membuat langkah pria penabrak terhenti. Kian segera mengayunkan langkah menghampiri pria tua yang pernah diselamatkannya di lampu merah waktu ini, kini Kian harus melihat pria tua itu ditabrak sampai jatuh di trotoar, bahkan makanan yang dibawa pria tua itu sampai jatuh.“Kamu j







