LOGINArthur menatap Hendra.
Keningnya berkerut dalam mendengar Hendra satu pendapat dengannya.
Hendra menatap pada Arthur yang diam. Dia juga memandang semua orang yang kini menatap padanya.
Hendra mencondongkan tubuh ke depan. Dia menarik sedikit tepian jasnya, sebelum kembali bicara.
![]()
Arthur menatap Hendra.Keningnya berkerut dalam mendengar Hendra satu pendapat dengannya.Hendra menatap pada Arthur yang diam. Dia juga memandang semua orang yang kini menatap padanya.Hendra mencondongkan tubuh ke depan. Dia menarik sedikit tepian jasnya, sebelum kembali bicara.“Informasi yang diberikan Air Company belum sepenuhnya terverifikasi benar. Mereka bahkan belum bisa menunjukkan bukti transaksi yang valid, seperti informasi yang kita terima. Lalu, kenapa kita harus menekan dan menuduh Kiandra sebagai pelaku utamanya?” Hendra menatap satu persatu pemegang saham juga jajaran direksi di ruangan ini.“Tapi email dan nama yang dicatut, benar-benar mengarah pada Kiandra Shaylin, manager departemen des
Kian menatap punggung Arthur. Suaminya masih menerima panggilan.Sampai Arthur menjauhkan ponsel dari telinga lalu menoleh ke arah Kian lagi.“Ada apa? Kamu harus ke kantor sekarang?” Kian memastikan.Arthur tersenyum. Dia melangkah mendekat ke ranjang Kian. Dia tidak ingin membuat Kian cemas dan semakin memperburuk kondisi Kian.“Ada berkas yang harus ditandatangani pagi ini juga, karena itu aku harus ke kantor.” Arthur mengusap-usap lembut rambut Kian.Kian mengangguk-angguk.“Kalau begitu pergilah, hati-hati di jalan.” Kian tersenyum meski terkesan dipaksakan.Arthur mengambil jasnya. Dia meningga
Malam hari.Kian masih belum tidur.Dia duduk sambil bermain ponsel.Seharian ini, perasaannya gelisah.Kondisi tubuhnya mendadak turun lagi, sampai-sampai tekanan darahnya turun dan membuat Dokter cemas.“Apa dia lembur?” Kian menatap jam di layar ponsel.Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tapi Arthur belum juga datang.Kian ingin menghubungi, tapi takut mengangguk.Dia hanya bisa menghela napas kasar.“Dia sudah bekerja keras. Dia pasti lelah.”Kian bersalah. J
Semua tatapan langsung tertuju pada Arthur.Bagaimana bisa nama Kiandra Shaylin, tertulis di berkas sebagai penjual desain?Nama dan alamat email yang tertera, memang milik Kian di perusahaan HW. Company.Jemari Arthur mencengkram, meremat tepian kertas yang ada di tangannya.Sebelum telapak tangannya menghantam meja dengan sangat kuat.“Apa kalian sedang ingin memfitnah? Bagaimana bisa kalian menuduh Kiandra, istriku. Sebagai penjual desain ini?!” Suara Arthur menggeram tertahan.“Saya berani bersumpah, Pak. Pembuat desain yang menjualnya pada saya, memang bernama Kiandra ini.” Kepala Tim Desain Air Company membalas cepat. “Desainnya dikirim via emai
Arthur berada di ruang kerjanya. Dia mendengarkan laporan dari anak buahnya yang diterima oleh Kendrick.Mengetahui Hendra benar-benar datang lagi membawa bunga dan buah untuk Kian, cukup membuat Arthur tak suka.“Bagaimana, Tuan? Apa tetap berikan pada Kian?” Kendrick memastikan sebelum memberi perintah.Tatapan Arthur menajam. “Suruh mereka saja yang makan, atau buang saja!”Kendrick melipat bibirnya.Seharusnya dia sudah bisa menebak keputusan Arthur, tapi masih saja mencoba bertanya.Kendrick segera mengirim pesan balasan sesuai dengan yang Arthur katakan.Setelahnya Kendrick kembali menatap pada Arthur.
Setelah Kian tertidur kembali.Arthur keluar dari kamar.Tatapannya tertuju pada kedua penjaga yang ditugaskannya.“Sejak tadi kalian tidak meninggalkan depan kamar sama sekali, lalu kenapa kalian tidak melapor jika Hendra menemui Kian?”Tatapan Arthur begitu tajam ke kedua anak buahnya.Kedatangan Hendra adalah kelalaian mereka.Dua pria di depan Arthur terkejut, mereka saling pandang sebelum kembali menatap Arthur.“Kami langsung datang setelah diberi perintah untuk menjaga Nona Kian. Ketika baru tiba di sini, kami melihat Pak Hendra keluar dari kamar Nona Kian.”&
“Terima kasih atas pembeliannya, jika butuh barang yang lain, kalian bisa katakan saja.”Kian melirik sinis ke pelayan yang tadi tidak sopan padanya. Setelah dia marah tadi, seorang pelayan lain yang ramah menawarkan diri untuk membantu Kian memilih barang yang dimau.Untuk memberi pelajaran ke pel
Arthur tak mengatakan ingin mengajak ke mana. Saat mobil mereka memasuki area parkir sebuah mall, mulut Kian terbuka dengan tatapan heran.“Kenapa kamu mengajakku ke sini? Kamu serius mau membelikanku laptop? Memangnya kamu ada uang?”Pertanyaan Kian membuat Arthur menoleh tepat setelah dia memberhe
Arthur duduk di ruang tengah. Satu tangannya memegang ponsel yang kini menyentuh telinga.“Bagaimana?”“Saya sudah mendapatkan informasi detail soal Julian, Tuan.”Tatapan Arthur menajam, dia mendengarkan informasi yang Kendrick sebutkan.Kendrick mengatakan kalau Julian sudah menjalin hubungan den
Suara lantang Kian membuat langkah pria penabrak terhenti. Kian segera mengayunkan langkah menghampiri pria tua yang pernah diselamatkannya di lampu merah waktu ini, kini Kian harus melihat pria tua itu ditabrak sampai jatuh di trotoar, bahkan makanan yang dibawa pria tua itu sampai jatuh.“Kamu j







