MasukDi ruang makan.Kaylan makan dengan lahap meski kondisinya kurang baik.Kaylan sejak tadi memperhatikan Sienna. Dia menyadari kalau mata ibunya merah seperti habis menangis.“Apa Ibu tadi nangis? Kenapa Ibu banyak diamnya?” Kaylan menatap penuh rasa penasaran.Sienna langsung tersenyum setelah mendengar pertanyaan Kaylan. Dia menggeleng pelan.“Tidak, kenapa kamu bertanya seperti itu, Sayang?” Sienna menatap gemas karena pertanyaan Kaylan.“Karena mata Ibu merah, juga Ibu seperti sedih.” Tatapan Kaylan berubah sendu pada Sienna.Sienna semakin melebarkan senyumnya. Dia tidak mau membuat Kaylan banyak pikiran.Sebelum melanjutkan ucapannya. Sienna lebih dulu menyuapi Kaylan.“Ibu hanya sedang senang saja, sampai tidak sadar menangis dan mata Ibu jadi merah.” Sienna menjelaskan dengan kalimat yang mudah Kaylan cerna.Kaylan mengangguk-angguk karena mulutnya penuh dengan makanan yang masih dia kunyah.Kaylan menelan makanan di mulutnya, lalu dia kembali bicara. “Terus, kenapa tadi Bibi K
Setelah Liza dan Diana berpamitan untuk pulang, serta Sienna yang masih menemani Kaylan makan di dapur.Suasana di ruang keluarga kediaman Arron berangsur tenang. Kini, hanya tersisa Kian, Arthur, dan Arron yang duduk bersama di ruang keluarga.Arthur menatap Kian yang sudah tenang dan bisa tersenyum lepas.“Ki, kenapa kamu tadi tidak memberitahuku soal video yang sedang viral di sosmed?” Arthur mulai membahas masalah di perusahaan.Sebelum Kian menjawab pertanyaan suaminya, ternyata sudah lebih dulu terdengar Arron bicara.“Ada apa dengan video itu? Apa masalahnya sampai begitu ramai?”Tatapan Arthur tertuju pada sang kakek, napas Arthur mengembuskan berat lalu dia menjelaskan. “Ada seorang influencer yang melakukan review buruk di media sosial. Dia mengklaim jika produk makanan kita buruk dan bahkan membuat mual sampai muntah.”Arthur menjeda kalimatnya beberapa saat, lalu kembali bicara. “Efek dari video itu menyebar sangat cepat, Kek. Sampai siang tadi, sudah mulai terjadi penurun
Sore hari.Semua orang masih berkumpul di ruang keluarga kediaman Arron. Saat masih berbincang hangat satu sama lain, melupakan penat karena pekerjaan, tatapan Kian teralih ke ujung ruangan. Kian melihat Kaylan yang berjalan pelan-pelan ke arah semua orang duduk.“Kaylan.” Kian langsung berdiri. Dia buru-buru menghampiri Kaylan yang tampak masih mengantuk.Begitu tiba di hadapan Kaylan, Kian berlutut lalu memasang senyum manis di wajahnya. “Kaylan, Sayang, kamu sudah bangun? Bagaimana? Apa kepalamu masih pusing?”Kaylan mengerjapkan matanya pelan, lalu menggeleng kecil. “Tidak, Bibi. Kepalaku sudah tidak pusing lagi, kok.”Kian bernapas lega mendengar balasan dari Kaylan, setidaknya luka di kening Kaylan tidak terlalu parah.Mata Kian tiba-tiba panas saat memandangi wajah Kaylan. Setelah lima tahun, akhirnya dia bisa melihat bayinya, walau Kian kehilangan banyak waktu dan tak bisa menemani Kaylan tumbuh.Yang terpenting sekarang. Kian bisa melihat Kaylan lagi.Kian memeluk erat tubu
Kian terkejut mendengar pengakuan dari Liza.Mata Kian melebar, tatapannya kini beralih pada Diana yang masih diam menunduk. Perlahan Kian membuang keterkejutannya. Dia tidak ingin membuat Diana semakin takut.Kian berlutut di hadapan Diana, lalu memegang lembut kedua pundak gadis kecil yang jadi anak angkatnya ini. “Diana, lihat Mami, Sayang.” Kian bicara dengan nada suara yang sangat lembut.Kian melihat Diana yang masih diam tertunduk, bahkan Diana semakin menyembunyikan wajahnya di belakang kaki Liza.“Tidak apa-apa, Mami tidak akan marah.” Kian membujuk. “Kemarilah, tidak apa-apa, hm.”Kian melihat Diana yang perlahan mengangkat pandangan ke arahnya.Kian tersenyum dengan tangan kanan yang terulur ke arah Diana agar mau mendekat padanya.“Kemarilah, tidak apa-apa. Mami tidak akan menggigit.” Kian kembali bicara dengan nada candaan agar Diana tak merasa takut jika hanya melihat tatapan darinya.Perlahan Diana akhirnya melangkah maju. Kini dia berdiri di samping Liza, dia masih me
Suasana di dalam ruang keluarga kediaman Arron siang ini terasa begitu hangat dan dipenuhi oleh aura kebahagiaan yang membuncah. Kian, Arthur, Arron, dan Sienna duduk bersama, berbagi senyum dan tawa kecil yang selama lima tahun ini sempat meredup dari rumah tersebut. Beban rahasia yang telah luruh berganti dengan rasa syukur yang teramat besar di hati Sienna.Dan Kian sekeluarga, kini mendapatkan apa yang hilang dari mereka dalam lima tahun ini.Tatapan Kian tertuju pada Sienna. Senyumnya terangkat kecil saat Sienna juga ternyata memandang ke arahnya. “Sienna, aku serius dengan ucapanku tadi. Kamu benar-benar harus tetap tinggal di rumah ini bersama kami. Mulai sekarang, aku ingin kamu fokus penuh pada kesehatanmu agar bisa segera sembuh dari penyakit tuberkulosis yang kamu derita.” Kian bicara dengan nada penuh penekanan.“Tidak usah bekerja. Bahkan di rumah ini, aku melarangmu menyentuh pekerjaan apa pun. Tidak ada bantahan.” Kian kembali bicara untuk mengingatkan agar Sienna tak
Setelah semua kepastian yang mereka dapatkan.Sekarang, Kian dan Arthur melangkah pelan masuk ke dalam kamar tempat Kaylan beristirahat.Mereka mendekati ranjang tempat Kaylan tengah tertidur pulas. Kening Arthur berkerut dalam melihat kepala Kaylan diperban.“Kepalanya kenapa?” tanya Arthur sambil menoleh pada Kian yang berdiri di sampingnya.“Dia jatuh di sekolah, tadi aku buru-buru meninggalkan perusahaan untuk menjemputnya di rumah sakit. Bahkan ponsel dan tasku masih di mobil, karena itu aku tidak membalas panggilan apa pun.” Kiran menjelaskan secara terperinci.Tatapan Kian kembali tertuju pada Kaylan, lalu dia bicara lagi. “Karena luka itulah, aku akhirnya tahu kalau Kaylan bayi kita. Aku mengganti pakaiannya, dan melihat tanda lahirnya.”Kian menyandarkan kepala di pundak Arthur setelah selesai bicara.Sedangkan Arthur kini merangkul pundak Kian dan ikut bersandar di kepala Kian.Mata Arthur menatap lekat pada wajah damai Kaylan yang sekarang dia ketahui sebagai darah dagingn
Arron mengangguk pelan.Arron melangkah lebih dulu ruang kerja pribadinya, diikuti Kian di belakangnya.Mereka masuk ke dalam ruang kerja. Setelah pintu tertutup, Kian mengajak Arron duduk di sofa.Kian lebih dulu memastikan sang kakek duduk dengan nyaman, kemudian dia duduk di sofa tunggal.“Jadi
Kian bergegas kembali ke mobilnya setelah bicara dengan Liza. Perlahan, Kian mengemudikan mobil meninggalkan area sekolah untuk pulang ke rumah.Saat dalam perjalanan, Kian menghubungi nomor suaminya. Dan tak butuh waktu lama, terdengar suara suaminya dari seberang panggilan.“Sayang, aku akan ter
Setelah menyerahkan urusan pindah rumah pada pelayannya.Kian lantas membawa Kaylan untuk diantar ke sekolah agar tidak terlambat.Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, suasana terasa begitu tenang. Kaylan duduk di kursi penumpang samping Kian sambil memeluk tas sekolahnya dengan erat.
Wajah Sienna seketika pucat. Dia menggeleng kuat-kuat, hendak maju untuk memohon kembali agar tidak jadi diusir. Namun, sebelum Sienna sempat mengeluarkan suara, Kian sudah lebih dulu memegang pundaknya.“Tidak apa-apa, Sienna. Jangan memohon lagi.” Kian bicara dengan nada suara yang tenang tapi t







