LOGINSetelah menghubungi seseorang. Arthur kembali melangkahkan kaki menghampiri Kian yang menunggunya.
Mengulurkan ponsel milik Kian, Arthur berkata, “Sudah.”
Kian mengambil ponselnya, memasukkan ke tas kecil miliknya, sebelum kembali menatap Arthur dan bertanya, “Bagaimana? Temanmu mau membantumu memberitahu majikanmu soal kondisimu?”
Arthur menjawab pertanyaan Kian hanya dengan sebuah anggukan.
Kian kini mengangguk-angguk.
“Aku akan memposting rumahku untuk dijual. Kita pindah ke kota, pekerjaanmu juga di kota, kan?” tanya Kian.
Walau tampak tegar, tapi sorot mata Kian menyembunyikan kepedihan dan juga rasa berat karena harus menjual rumah peninggalan kedua orang tuanya.
Kembali ke rumah Kian.
Kian mengemasi barang-barangnya, tidak ada yang berharga selain surat rumah dan pakaian-pakaian yang dimilikinya.
Sedangkan Arthur, dia hanya duduk memperhatikan Kian yang sibuk memasukkan pakaian ke dalam tas. Keningnya berkerut samar, dilihat sekilas, pakaian-pakaian Kian tidak ada yang bermerek sama sekali.
“Aku tidak membawa banyak barang, hanya pakaian saja,” kata Kian.
Arthur tak merespon sama sekali ucapan Kian, sampai gadis itu memandang ke arahnya sekarang.
“Di rekeningku masih ada sedikit sisa uang. Bisa digunakan untuk mengontrak rumah, mungkin sebulan sampai rumah ini terjual,” kata Kian dengan sedikit ragu.
Di kota besar, biaya kontrakan juga hidup pasti lebih mahal, membuat Kian ragu apakah sisa uang yang dimilikinya akan cukup atau tidak.
“Tidak perlu mengontrak. Aku punya tempat tinggal di kota,” balas Arthur. Dia bangkit dari duduknya, lalu melangkah mendekat ke arah Kian berdiri.
Menatap langkah Arthur yang semakin dekat dengannya, membuat Kian tiba-tiba saja salah tingkah, apalagi tatapan Arthur yang tajam tertuju padanya, seolah ingin mengintimidasinya.
Arthur menghentikan langkah tepat di hadapan Kian. Dia lantas menoleh ke tas milik gadis ini.
Kian merasakan jantungnya mendadak berdegup dengan cepat, padahal Arthur tidak bicara apa pun dan tidak melakukan apa pun.
Untuk membuang rasa canggung yang menyergah di dadanya, Kian lantas berkata, “Itu, apa kita tinggal dengan orang tuamu?”
Pandangan Arthur langsung tertuju pada Kian yang baru saja selesai bicara, kepala Arthur menggeleng pelan. “Tidak.”
Kian membentuk huruf O dengan bibir, sampai Arthur kembali bicara.
“Tapi setidaknya rumahku bisa dijadikan tempat berteduh.”
“Baiklah kalau begitu, uang tabunganku bisa untuk makan kita dulu.” Kian melebarkan senyumnya. Dia tak ingin pergi tanpa persiapan, sehingga Kian harus mengatur segalanya dengan hati-hati sebelum mereka melangkah pergi.
Setelah sepakat. Kian dan Arthur benar-benar meninggalkan rumah Kian.
Menaiki bus menuju kota besar, sepanjang jalan Kian hanya duduk diam memandang jalanan yang mereka lewati.
Sedangkan Arthur. Dia tak nyaman duduk berdesakan dengan banyak orang dalam bus. Bahkan Arthur sampai menempel pada Kian agar lengannya tidak tersenggol penumpang lain yang berdiri di dekatnya.
Menyadari Arthur semakin merapat ke arahnya. Kian menatap ekspresi wajah Arthur yang tampak tak nyaman. Suaminya ini terus mencoba menyingkirkan lengan agar tidak tersentuh penumpang lain, hingga Kian menyadari kalau Arthur sepertinya memang tak terbiasa naik bus atau tidak nyaman karena Arthur masih terluka.
“Mau tukar tempat duduk?” tanya Kian.
Arthur terkesiap. Dia menatap Kian yang sudah memandangnya.
“Aku akan berdiri, kamu bergeserlah ke kursiku, aku akan duduk di sana.”
Arthur tak banyak bicara. Dia memilih mengangguk dan melakukan yang Kian katakan.
Begitu sudah bertukar tempat duduk. Kian melebarkan senyum melihat ekspresi wajah Arthur berubah tenang.
Saat itu, Arthur menoleh ke arah Kian, membuat tatapan mereka bertemu. Dan dia, melihat senyum lepas di wajah Kian.
**
Setelah perjalanan beberapa saat. Akhirnya mereka tiba di kota. Kian dan Arthur turun di salah satu halte bus.
Kian mengedarkan pandangan ke sekitar, tempatnya berpijak dekat dengan area pemukiman elite di kota itu.
“Ayo,” ajak Arthur dengan nada suara datarnya.
Menenteng tas berisi pakaian, Kian langsung berjalan mengikuti Arthur menuju salah satu komplek perumahan yang dekat dengan halte tempat mereka turun tadi.
“Tunggu.” Kian menahan lengan Arthur, membuat pria itu berhenti melangkah dan kini menoleh padanya.
“Kamu tinggal di komplek ini?” tanya Kian memastikan.
Arthur menoleh ke arah gerbang komplek sebelum kembali menatap pada Kian. “Ya.”
“Kamu punya rumah di perumahan elite ini?” tanya Kian memastikan sambil menunjuk ke area komplek.
Arthur lupa soal pengakuannya, sehingga dia buru-buru menjawab, “Ya, tapi rumah ini milik majikanku. Aku hanya diberi fasilitas untuk menempati, katanya daripada rumahnya kosong.”
Kian mengerutkan kening, dia menoleh ke arah komplek sebelum menatap Arthur yang sekarang mengalihkan pandangan darinya.
“Baik sekali majikanmu.”
Mendengar balasan Kian, Arthur yakin kalau gadis ini percaya, sehingga dia segera mengajak Kian pergi ke salah satu rumah yang ada di komplek itu.
Saat mereka tiba di depan pintu rumah. Arthur menekan menyentuhkan sidik jarinya di gagang pintu sebagai pemindai, lalu membuka pintu itu untuk Kian.
“Akan kutambahkan sidik jarimu nanti agar kamu bisa keluar masuk rumah dengan leluasa.”
“Hah, apa?” Kian keheranan, dia menatap gagang pintu yang bisa dibuka hanya dengan sidik jari.
Arthur menatap Kian yang sedang terkagum-kagum, dia mengembuskan napas pelan, sebelum berkata, “Masuklah dulu. Aku harus pergi menemui majikanku.”
Kian mengangguk-angguk pelan.
Saat Arthur memutar tumit untuk pergi, Kian menahan lengan Arthur lalu bertanya, “Di dalam benar-benar tidak ada orang lain, kan? Apa kamu akan pergi lama? Apa di dalam ada makanan? Aku lapar.”
Arthur diam sesaat, rumah ini lama tak ditempatinya, jelas tidak ada makanan di dalam sana.
“Tidak ada siapa pun di dalam. Aku tidak akan lama, nanti kubawakan makanan saat kembali.”
Kian melebarkan senyum, dia mengangguk pelan sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.
Arthur memperhatikan sampai pintu rumah kembali tertutup, baru setelahnya dia pergi meninggalkan Kian di dalam rumah sendirian.
Berjalan menuju ke garasi di samping rumah. Arthur membuka pintu mobil yang terparkir di dalam garasi, lalu dia masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesinnya.
Setelahnya, dia melesatkan mobil sedan hitam itu meninggalkan garasi dengan sangat cepat.
Mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Tatapan Arthur begitu tajam membelah jalanan yang dilewatinya, sampai dia sampai di area perumahan elite, masuk lebih dalam menuju sebuah rumah besar yang ada di salah sudut area perumahan itu.
Hanya dua kali tekan klakson mobil, gerbang besar rumah langsung terbuka. Mobil yang Arthur kendarai melewati gerbang besar itu, menuju ke halaman rumah mewah yang ada di dalam sana.
Turun dari mobil dengan tubuh tegap dan tatapan penuh wibawa, beberapa pelayan di depan langsung membungkuk ke arah Arthur.
“Selamat sore, Tuan.” Para pelayan menyapa serempak.
Dengan nada suara tegas, Arthur bertanya, “Di mana Kakek?”
“Ada di dalam bersama Tuan Oliver, Tuan.”
Tatapan Arthur menajam mendengar nama Oliver. Tanpa kata, Arthur mengayunkan langkah masuk ke dalam rumah mewah itu.
Derap sepatu yang dipakainya menggema di ruangan besar yang Arthur lewati, sampai akhirnya langkah kakinya berhenti saat tiba di ruang keluarga.
“Arthur, akhirnya kamu pulang. Kakek mencarimu dari kemarin,” sapa Oliver–sepupu Arthur, sambil meletakkan cangkir yang dipegangnya kembali di meja.
Arthur melempar tatapan sedingin es ke arah Oliver. Tidak ada satu pun orang di rumah ini yang tak tahu kalau Arthur dan Oliver selalu berselisih dan tidak pernah akur.
“Apa ada yang berharap aku tidak pulang, hah?” Tatapan Arthur begitu tajam.
Oliver hanya tersenyum tipis. Dia mengabaikan kalimat dari Arthur.
Arron Hadwin–kakek Arthur, kini menatap cucunya yang baru saja menghilang hampir dua puluh empat jam, lalu muncul secara tiba-tiba di rumah, seperti biasanya.
“Kamu menghilang di kencan buta yang aku siapkan. Apa kamu berusaha menghindari perjodohan lagi? Kamu sepertinya memang tidak tertarik dengan apa yang kusiapkan.”
Suara dalam sang kakek mengalihkan tatapan Arthur ke pria tua itu. Masih dalam posisi berdiri, Arthur memandang Arron saat dia berucap, “Ya, aku memang menghindari perjodohan yang Kakek buat.”
“Arthur!” Suara Arron meledak, tatapannya begitu kesal karena Arthur terus menolak perjodohan yang dibuatnya.
Sedangkan Oliver. Dia tersenyum tipis melihat sang kakek marah karena sikap keras kepala Arthur.
“Sudah kubilang, akan kubawa pengantinku sendiri,” balas Arthur dengan tenang.
“Pengantin? Bahkan dekat dengan wanita saja kamu tidak pernah, Arthur. Kakek sudah berbaik hati mencarikan pasangan yang cocok untukmu, kenapa kamu terus kabur?” Oliver angkat suara, terselip nada mencemooh di kalimat yang meluncur dari mulutnya.
Mata Arthur memicing tajam ke Oliver, satu tangannya terkepal kuat menatap mulut busuk sepupunya.
“Jadi, mana pengantin yang selalu kamu janjikan, hah? Kamu hanya banyak omong kosong.” Arron sudah naik darah menghadapi sikap keras Arthur. Dia hanya ingin Arthur menikah dan memberinya keturunan sebelum dia mati, tapi Arthur sangat keras kepala dan lebih sibuk bekerja daripada memenuhi permintaannya.
Arthur memasukkan tangan ke saku celana, lalu dia mengeluarkan surat nikah miliknya dan mengangkatnya di udara, di samping wajahnya. “Aku sudah menikah.”
Kian dan Arthur akhirnya mencapai mobil. Mereka segera masuk ke dalam mobil karena hujan semakin deras.“Kita tidak mungkin melakukan perjalanan dalam kondisi basah, bisa-bisa sampai rumah kita sakit.” Arthur menatap pada Kian yang sedang merapikan rambut.Kian menoleh ke Arthur sambil mengelap wajahnya dengan tisu. Dia diam beberapa saat karena memikirkan apa yang harus mereka lakukan dalam situasi ini. “Tapi kita juga tidak bawa baju ganti. Siapa yang menyangka kalau cuacanya bisa berubah secepat ini.”“Apa mau ke toko beli baju?” tanya Arthur.Kian merasa terlalu boros jika membeli baju lagi, padahal di rumah baju mereka sudah banyak. “Tidak usah, lagian hanya basah, kenapa harus beli baju juga.”“Kalau begitu, bagaimana kalau ke hotel dulu? Selagi menunggu hujan reda, kita juga bisa menggunakan jasa dry cleaning untuk mengeringkan pakaian kita dulu dan beristirahat. Kita juga tidak mungkin mengendarai mobil menerjang hujan sederas ini.”Kian diam beberapa saat sebelum mengangguk.
“Benar. Arthur tidak mungkin asal menikah begitu saja, jadi ini alasannya.” Carla menatap geram mengetahui alasan di balik pernikahan Arthur.Oliver menyeringai. Dia lebih dulu menenggak minuman, sebelum kembali bicara. “Kamu sudah tahu faktanya, lalu apa kamu akan menerima begitu saja kalau Arthur menikahi wanita lain?”Carla menatap Oliver dengan cepat. Kepalanya menggeleng pelan.“Aku sangat yakin kalau Arthur sebenarnya mencintaimu. Hanya saja, waktu itu dia tak punya pilihan.” Kalimat provokasi kembali meluncur dari bibir Oliver.Carla menatap penuh harap. “Apa yang kamu katakan benar. Arthur mengabaikanku pasti karena merasa bersalah padaku sebab dia menikah dengan wanita lain.”Oliver mengangguk-angguk pelan. Dia mendesis pelan setelah kembali menenggak minuman dari gelas.“Jika kamu mencintainya, seharusnya kamu memperjuangkannya, bukan malah putus asa dan mabuk-mabukan begini. Benarkan?” Sorot mata Oliver berubah licik. “Kalau aku jadi kamu, aku akan mati-matian merebut hati
Menjelang sore.Oliver keluar dari ruang kerjanya. Pandangannya lebih dulu tertuju ke meja Kian, sebelum akhirnya dia melangkah menghampiri Kian.Begitu tiba di depan meja Kian, Oliver menyapa, “Kian.”Kian mengangkat pandangannya dan melihat Oliver yang sudah menatapnya.Kian buru-buru berdiri dari duduknya. “Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”Oliver tersenyum melihat Kian yang begitu sigap meresponnya.“Malam ini aku mau mentraktir semua staff untuk merayakan jabatanku di sini.”Kian terdiam beberapa saat mendengar ajakan Oliver.“Mohon maaf, Pak. Sepertinya saya tidak bisa ikut.” Kian tersenyum kecil setelah memberikan penolakan.Satu sudut alis Oliver tertarik ke atas. “Kenapa?”Kian tersenyum canggung. “Besok saya ada acara, jadi harus pulang lebih awal hari ini.”“Acara apa?”Kian menatap aneh karena Oliver seperti ingin segala sesuatu tentangnya dengan detail. Namun, Kian memaklumi sikap Oliver.“Acara keluarga, Pak,” jawab Kian.Oliver mengembuskan napas pelan. “Baiklah kala
Arthur diam dengan tenang mendengar pertanyaan Kian.“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, tapi nanti, setelah dari makam kedua orang tuamu.”Kian mengangguk pelan, walau sedikit kecewa karena harus menyimpan rasa penasarannya.“Besok kita pergi ke sana, setelahnya aku akan memberitahukan apa yang ingin kuberitahukan padamu.”Kian melebarkan senyum. Rasa penasarannya tergantikan dengan rasa bahagia karena akhirnya dia bisa melihat makam kedua orang tuanya.“Terima kasih karena kamu mau ikut bersamaku.” Kian buru-buru menyantap sarapannya setelah bicara.Sedangkan Arthur, meski senang melihat Kian bahagia, tapi jelas ada kecemasan yang terselip dari sorot matanya.**Kian berangkat ke perusahaan setelah sarapan. Sesampainya di sana, Kian langsung naik menuju lantai departemen desain berada.Kian melangkah keluar lift menuju ruang departemen, ketika sebuah panggilan membuat langkahnya terhenti.Kian membalikkan tubuhnya, dia langsung membungkukkan tubuhnya saat melihat Oliver melangka
Kian meneguk ludah kasar mendengar ucapan Arthur. Jantungnya berdegup semakin cepat ketika wajah Arthur semakin dekat, bahkan bibir mereka hampir bersentuhan.Kian memejamkan mata. Namun, hal yang terjadi berikutnya, tidak seperti yang Kian takutkan.Kian merasakan kepala Arthur jatuh bersandar di pundaknya.Kian membuka mata dengan cepat sebelum menoleh ke sisi kiri. Dia melihat Arthur yang memejamkan mata.Tampak begitu damai meski wajahnya begitu merah.“Arthur,” panggil Kian mencoba membangunkan. Tidak ada balasan dari Arthur, pria ini tertidur pulas.Kian mengembuskan napas pelan. Dia begitu lega karena Arthur tak memaksanya.Sekuat tenaga Kian menggeser tubuh Arthur agar menyingkir dari atas tubuhnya. Apalagi tubuh Arthur benar-benar berat sampai membuat dadanya sesak.Begitu berhasil menggeser tubuh Arthur hingga terbaring di ranjang, Kian segera bangun lalu menyelimuti tubuh Arthur.Kian duduk di samping Arthur sambil terus memandang suaminya.“Apa yang membuatmu mabuk begini
“Apa?” Caterine sangat terkejut.“Arthur, apa kamu sedang mempermainkan perasaan Carla? Bukankah dulu kamu sangat mencintainya?” Caterine menatap tak senang pada Arthur.Arthur membuang napas pelan. “Bibi, Carla hanyalah seorang adik bagiku. Janjiku pada Devon tidak akan pernah aku ingkari, aku akan menjaga Carla sampai dia mendapat pasangan yang layak untuknya.”Caterine tidak terima.“Carla sangat mencintaimu. Bahkan selama bertahun-tahun ini, dia belajar giat agar bisa setara denganmu. Bagaimana bisa kamu menganggapnya hanya sebagai adik?”“Arthur.”Suara Carla membuat Arthur dan Caterine menoleh bersamaan.“Arthur, kamu di sini.” Carla tersenyum pada Arthur, walah matanya masih sedikit tertutup.Caterine sangat lega melihat putrinya sudah bangun. Dia membungkuk ke Carla sambil menanyakan kondisi putrinya.Namun, tatapan Carla terus tertuju pada Arthur. Pria yang beberapa hari ini mengabaikannya dan sekarang muncul di hadapannya.“Sepertinya kondisimu sudah lebih baik. Kalau begitu







