Share

Seorang Sopir?

Author: Aldra_12
last update publish date: 2025-12-09 15:08:22

Begitu paman dan bibi Kian pergi. Gadis itu langsung menatap Arthur yang berdiri di sampingnya, dengan kedua tangan Arthur yang masuk ke kedua celana.

Kemeja dan celana itu seharusnya dipakai Julian saat menikah nanti dengan Kian, tapi karena batal menikah dengan Julian, Kian akhirnya memberikan pakaian itu ke Arthur agar terlihat layak dan sopan saat prosesi pernikahan mereka tadi. Walau ukuran Julian ternyata lebih kecil dari Arthur.

“Kamu tidak perlu menanggung utang-utang yang aku miliki. Kamu tidak perlu membayarnya, ingat pernikahan kita tidak seperti yang orang lain bayangkan,” kata Kian lalu menurunkan sedikit pandangannya dari Arthur. Meski bersikap tegar, dia juga sedang bingung karena sudah habis-habisan dan hanya memiliki sedikit sisa tabungan.

“Aku tetap akan membayar utangmu.”

Kalimat dari Arthur membuat Kian kembali menatap pada pria ini. Kening Kian berkerut samar, dia menatap Arthur yang begitu percaya diri..

“Apa kamu punya uang? Apa kamu orang kaya?” tanya Kian bertubi.

Arthur diam sesaat mendengar ucapan Kian. Dia memandang gadis di depannya ini. Arthur tidak tahu bagaimana sebenarnya Kian, bisa saja Kian memang kebetulan menolongnya dan bagaimana kalau Kian sebenarnya gadis matre seperti gadis-gadis pada umumnya.

“A-aku … aku memang tidak kaya, tapi aku bekerja sebagai sopir di keluarga kaya,” kata Arthur begitu meyakinkan.

Kian menyipitkan mata. Wajah Arthur tak seperti sopir pada umumnya, kulitnya bersih, tubuhnya bagus dan berotot sangat terawat. Apa benar Arthur hanya seorang sopir?

Namun, Kian tidak mau berpikir berlebih.

“Kalau kamu seorang sopir, lalu kenapa kamu terluka seperti itu? Itu luka tusuk, kan?” tanya Kian dengan tatapan masih menyipit curiga.

Arthur menurunkan pandangan sambil menyentuh perutnya yang terluka, saat kembali menatap pada Kian yang sedang memandangnya penuh tuntutan, Arthur mencoba menjelaskan.

“Ini karena berkelahi. Aku ada selisih dengan salah satu pekerja, tidak menyangka saja kalau dia membawa pisau dan menusukku,” kilah Arthur.

Mengurangi kewaspadaannya, Kian lantas berucap, “Hm … jadi kamu kabur, lalu mobilmu tak sengaja menabrak pembatas jembatan dan masuk sungai?”

Kian menatap Arthur yang menganggukkan kepala. Setelahnya dia melipat kedua tangan di depan dada dan kembali berkata, “Kalau memang kamu ini sopir, itu artinya, mobil yang masuk sungai itu milik majikanmu? Bukankah itu artinya kamu harus mengganti rugi mobil itu?”

Arthur terkejut. Dia tidak mengira Kian akan membahas sampai ke sana. Dengan tetap menunjukkan ekspresi wajah yang tenang, Arthur membalas, “Tentu saja.”

“Aku akan menemui majikanku setelah ini dan menjelaskan semuanya. Majikanku baik, dia akan memahami kondisiku,” imbuh Arthur lagi.

Kian diam, berpikir. Dia menatap ekspresi wajah Arthur yang panik, lalu setelahnya menatap ke buku nikah miliknya.

‘Meski hanya menikah kontrak, tapi Arthur punya niat baik membantuku membayar utang walau entah bisa atau tidak. Jadi, mungkin aku bisa membantunya sedikit juga,’ batin Kian lalu dia mengangguk pelan.

“Begini saja, aku harus membayar utang sedangkan kamu juga harus mengganti rugi mobil majikanmu yang tenggelam. Aku akan menjual rumah peninggalan orang tuaku untuk membayar utang, daripada Paman dan Bibi terus mengejarku. Sisanya bisa digunakan untukmu mengganti mobil majikanku, ya walaupun sepertinya tidak akan cukup,” kata Kian dengan tatapan polos tanpa dusta sedikitpun.

Arthur terperangah mendengar ucapan Kian. ‘Gadis ini, padahal diri sendiri susah, tapi masih memikirkan orang lain?’ batin Arthur sambil menatap heran.

“Aku akan pindah ke kota juga, sepertinya tidak mungkin lagi tinggal di sini,” ucap Kian diakhiri senyum getir di wajah. “Aku akan mencari pekerjaan yang bisa memberiku gaji lebih besar agar bisa membantumu bertanggung jawab ke majikanmu,” imbuhnya lagi.

Arthur menatap Kian yang baru saja bicara dengan serius, sebelum gadis ini tersenyum padanya.

Berdeham pelan saat melihat tatapan Kian yang dirasa aneh baginya, Arthur sekilas mengalihkan tatapan dari Kian, sebelum kembali menatap ke gadis di depannya ini.

“Kamu punya ponsel, kan?” tanya Arthur.

“Tentu saja,” balas Kian.

Arthur mengulurkan tangan ke Kian, lalu dia berkata, “Aku pinjam. Aku perlu menghubungi as … maksudku teman untuk memberitahu kondisiku. Jangan sampai aku dikira membawa kabur mobil majikanku jika tak ada kabar.”

Kian segera mengeluarkan ponselnya, lalu memberikan ke Arthur. “Ini, pakai saja.”

Arthur kembali memasang wajah datar saat mengangguk. Dia melangkah menjauh dari Kian, begitu dirasa Kian tidak akan mendengar suaranya saat bicara, Arthur lantas menekan nomor untuk menghubungi seseorang.

Menyentuhkan ponsel ke telinga setelah menekan nomor, Arthur mendengar nada dering dari seberang panggilan, sampai akhirnya panggilan itu dijawab.

“Halo.”

Mendengar suara pria dari seberang panggilan, Arthur langsung berkata, “Ini aku.”

“Tuan. Ya Tuhan, Anda di mana? Kenapa ponsel Anda tidak bisa dihubungi?”

Suara panik dari seberang panggilan membuat Arthur memijat keningnya pelan. “Tidak usah berlebihan, aku baik-baik saja sekarang.”

“Syukurlah. Sekarang Anda di mana? Saya akan menjemput Anda sendiri untuk menjamin keselamatan Anda.”

Sebelum menjawab, Arthur lebih dulu menoleh ke arah Kian berdiri, gadis itu sedang menunduk sambil menendang-nendang pelan kerikil di tanah. Kembali fokus ke panggilan, Arthur berkata, “Tidak perlu menjemputku. Aku akan kembali, tapi aku tidak sendirian.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Adeena
asisten'y terkejut pulang2 tuan'y bawa istri..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Informasi Yang Dimau

    Pintu ruangan kerja Arthur terbuka perlahan. Kian melangkah masuk dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya, membawa sebuah paper bag berisi beberapa kotak bekal makanan yang dipesannya.Saat melihat Arthur sibuk di balik meja, Kian dengan cepat memanggil. "Sayang, ayo makan siang dulu." Tatapan Arthur terangkat ke arah suara Kian. Senyumnya terangkat kecil begitu melihat wajah sumringah sang istri.Arthur bangkit dari posisi duduknya. Dia lalu melangkah menghampiri Kian yang sudah lebih dulu berada di sofa."Kamu memesan makanan ini?" Arthur langsung duduk di samping Kian, tatapannya tertuju pada istrinya yang mulai sibuk membuka pembungkus makanan yang baru saja dikeluarkan dari dalam paper bag."Tentu saja. Bukankah tadi pagi aku sudah berjanji kita akan bertemu di kantor siang ini?" Kian menoleh sejenak, memberikan kedipan manja sebelum kembali menata sendok dan garpu. "Aku ingin makan siang bersamamu." Namun, saat Kian baru saja akan menyodorkan kotak nasi ke Arthur,dia justr

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Menemukan Orang Yang Tepat

    Kian sudah sampai di HW. Company dan sekarang ada di dalam lift yang bergerak naik.Begitu pintu lift terbuka di lantai ruangannya, Kian keluar dan melangkah di koridor. Sebelum sampai di ruang kerjanya, Kian menoleh ke meja kerja Ginny."Ginny, ikut ke ruanganku sekarang.” Kian memberi perintah tanpa menghentikan langkahnya.Ginny langsung berdiri begitu mendengar perintah Kian. Dia melangkah menyusul Kian yang sudah masuk ke ruang kerja.Ginny sekilas melihat raut wajah serius Kian, membuatnya menerka apakah ada masalah pada pemasaran produk mereka?Ginny segera menghampiri meja Kian setelah memastikan pintu tertutup rapat. Dia kini berdiri di depan meja Kian, siap mendengarkan atasannya bicara.Kian mendudukkan tubuhnya, punggungnya disandarkan lalu tatapannya tertuju pada Ginny yang sudah berdiri di depan mejanya.“Aku baru saja bertemu seorang wanita di luar. Dia memiliki proporsi tubuh dan garis wajah yang sangat potensial untuk menjadi model utama produk baru kita.” Kian mulai

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Hanya Asisten?

    Mia mengulum bibir, sedikit terkejut mendengar rentetan pertanyaan dari wanita anggun di hadapannya. Mia meremas jemarinya pelan sebelum akhirnya menjawab dengan nada suara rendah. “Saya bekerja sebagai asisten model, Bu.”Kian menaikkan satu sudut alisnya. “Asisten model?” Kian memastikan jika tak salah mendengar.Mia mengangguk pelan. Dia mengulas senyum tipis. “Iya, Bu.” Mia meyakinkan jika ucapannya benar.Kiaan menatap aneh, tapi dia mencoba menutupi keterkejutannya dengan senyum.“Kalau boleh tahu, kamu asisten model siapa?” Kian menatap dengan ekspresi penasaran.Mia agak terkejut mendengar Kian mengulik lebih dalam soal pekerjaanya. Dia melirik ke arah lain sejenak, melihat Kian yang baik dan ramah, akhirnya Mia meyakinkan dirinya dengan menjawab, "Saya asistennya Nona Luna, Bu."Mendengar nama itu disebut, Kian seketika tertegun. Luna? Model yang beberapa waktu lalu hampir saja menjalin kontrak dengan HW. Company, tapi langsung Kian coret dari daftar karena sikapnya yang

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Tidak Mau Main Bareng

    Matahari siang itu bersinar cukup terik di atas halaman sekolah. Setelah bel berbunyi, anak-anak kelas taman kanak-kanak berhamburan keluar menuju area bermain terbuka.Diana berjalan dengan langkah cepat dan riang menuju perosotan berwarna cerah. Namun, langkahnya mendadak melambat saat mendengar suara derap sepatu lain di belakangnya. Begitu menoleh, Diana mendapati Kaylan berjalan membuntutinya dengan jarak beberapa langkah saja.Diana langsung membalikkan tubuhnya lalu melipat kedua tangannya di dada sambil cemberut. “Kamu kenapa sih, ikut-ikut aku terus?”Kaylan menghentikan langkahnya. Dia sedikit menurunkan pandangannya saat melihat tatapan Diana yang menyorot tak suka ke arahnya. “Aku tidak ikut-ikut. Aku cuma mau main di sana juga.” Telunjuk Kaylan mengarah ke tempat yang ingin Diana datangi.“Nggak boleh! Kamu main di tempat lain saja sana." Diana menghentakkan kakinya. "Jangan dekat-dekat aku!”Kaylan mengangkat pandangannya dengan sempurna ke arah Diana yang memasang waja

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Orang-orang Baik

    Setelah Diana dan Kaylan tak terlihat lagi dari jangkauan mata.Liza langsung melipat kedua tangannya di dada. Matanya beralih menatap pada Kian untuk menuntut penjelasan."Jadi, Kian? Kamu berhutang cerita padaku.” Liza melirik pada Sienna setelah bicara.Kian terkekeh pelan, lalu menyentuh pundak Sienna agar wanita itu melangkah sedikit lebih maju. "Liza, perkenalkan, ini Sienna. Dia ibunya Kaylan." Kian kemudian menatap Sienna dengan senyum menenangkan. "Sienna, ini Liza. Sahabatku."Sienna mengangguk kaku, mengulurkan tangannya dengan gerakan ragu-ragu. "Halo, salam kenal, Nyonya Liza. Saya Sienna.""Panggil Liza saja, jangan terlalu formal." Liza membalas ramah sambil menjabat tangan Sienna hangat. Dia lalu menatap Kian lagi. "Lalu, bagaimana ceritanya anak Sienna bisa berangkat sekolah bersamamu?""Kaylan sekarang jadi anak asuhku, Liza. Aku yang akan bertanggung jawab atas semua biaya pendidikannya, kalau bisa sampai dia lulus perguruan tinggi nanti." Kian dengan nada suara yan

  • Istri Kilat Presdir Tampan   Diana Cemburu

    "Diana, Sayang."Kian langsung berjongkok, menyamakan tingginya dengan gadis kecil yang baru saja berlari menghampirinya. Senyum Kian mengembang lebar, bersiap menyambut pelukan hangat. Namun, langkah Diana mendadak melambat. Sepasang mata Diana yang bulat menyipit saat menatap ke arah jemari Kian yang masih menggenggam erat tangan Kaylan."Mami, dia siapa?" Diana menunjuk Kaylan dengan bibir mengerucut. "Kenapa tangan Mami pegang-pegang dia?"Kaylan yang merasa ditunjuk langsung mundur setengah langkah. Pegangannya pada jemari Kian semakin mengerat, tubuh kecilnya bersembunyi di belakang Kian.Kian mengusap punggung tangan Kaylan sejenak sebelum menatap Diana lembut. "Ini Kaylan, Sayang. Hari ini Kaylan baru mulai sekolah di sini. Keren, kan? Sekarang Diana punya teman baru.""Aku tidak mau!" Diana menghentakkan kakinya ke tanah. Wajahnya memerah, matanya mulai berkaca-kaca karena cemburu. "Mami ‘kan maminya Diana! Anak Mami itu cuma Diana, bukan dia!""Diana, jangan bicara seperti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status