Share

Tidak Direstui

Author: Aldra_12
last update Last Updated: 2025-12-09 15:09:18

“Apa maksudmu?” Arron langsung bangkit dari duduknya. Sambil meremat pangkal tongkat yang dipegangnya, tatapan Arron tertuju ke surat nikah yang Arthur tunjukkan.

“Kakek ingin aku menikah, kan? Sekarang kukabulkan, aku sudah menikah,” ucap Arthur dengan tenang.

Sedangkan Oliver. Dia diam memandang surat nikah yang dipegang Arthur, tanpa sadar jemarinya saling meremat, ekspresi tak senang tersirat jelas di wajahnya.

Arron mengetukkan ujung tongkat di lantai, dengan tatapan penuh amarah, Arron berkata, “Jangan sembarangan! Bagaimana bisa kamu menikah tanpa sepengetahuanku?”

Suara Arron yang menggelegar, kembali menggema ketika dia berkata, “Gadis dari keluarga mana? Bagaimana pendidikannya dan bagaimana perilakunya? Kamu tidak bisa menikahi wanita sembarangan!”

“Sudahlah, Kakek. Kakek ingin aku menikah, aku sudah menikah. Sekarang Kakek masih meributkan soal statusnya?” Arthur tersenyum tipis, lalu kembali berkata, “Yang terpenting aku menikah dan permintaan Kakek terpenuhi.”

Setelah mengatakan itu, Arthur memutar tumit. Dia melangkahkan kaki meninggalkan ruang keluarga itu lagi.

“Arthur! Arthur!”

Suara teriakan Arron tidak didengarkan Arthur. Dia terus mengayunkan langkah menuju pintu utama rumah mewah itu.

Arthur menolak beberapa putri keluarga kaya dan memilih menikahi Kian karena Arthur tidak ingin diatur oleh kesepakatan bisnis yang dicapai dari pernikahan bisnis antar dua keluarga.

Lagi pula, dia hanya berjanji akan menikah tanpa berjanji akan menikahi siapa. Jadi, bukan salah dia kalau memilih Kian sebagai pengantinnya.

Arthur kembali masuk ke dalam mobil, lalu dia mengemudikan mobilnya meninggalkan kediaman sang kakek.

Menyetir dalam keadaan kesal, Arthur merasakan lukanya kembali nyeri. Dia memutar arah laju mobilnya, menuju ke arah yang berlawanan dengan lokasi Kian berada sekarang.

Begitu tiba di salah satu gedung apartemen. Arthur segera memarkirkan mobil dan masuk ke dalam apartemen, menuju salah satu unit yang ada di sana.

Berdiri di depan salah satu pintu, Arthur menekan bel beberapa kali, tangan kirinya memegangi perut yang semakin nyeri.

Begitu pintu terbuka, seorang pria muda berdiri berhadapan dengan Arthur, Kendrick–asisten pribadi dan orang kepercayaan Arthur, langsung melebarkan senyum melihat kedatangan atasannya ini.

“Tuan, Anda sudah kembali.”

Arthur tidak langsung membalas sapaan Kendrick, tapi dia memilih menerobos masuk ke dalam apartemen asistennya ini.

“Anda datang sendiri? Bukankah Anda berkata akan pulang bersama seseorang?” tanya Kendrick.

Kendrick sudah bekerja menjadi asisten Arthur selama delapan tahun. Dan sampai saat ini, hanya Kendrick lah yang benar-benar Arthur percayai.

“Dia di rumahku,” balas Arthur tanpa menoleh Kendrick. Dia membaringkan tubuhnya di sofa, lalu membuka satu persatu kancing kemeja yang dipakainya.

Kendrick terkesiap, kenapa Arthur tiba-tiba membuka pakaiannya?

Masih tanpa menatap pada Kendrick, Arthur kembali berucap, “Perutku tertusuk, coba lihat apakah lukanya infeksi atau tidak.”

Kendrick membulatkan bola mata mendengar ucapan Arthur. Dia bergegas mendekat, berlutut dengan satu kaki di samping Arthur, lalu mencoba mengecek luka yang terbalut perban.

“Ini ulahnya?” tanya Kendrick, tatapannya berubah tajam. Dia langsung bisa menebak dalang yang menyerang Arthur. “Seharusnya saya menemani Anda kemarin, Tuan.” Kendrick menatap penuh penyesalan karena Arthur sampai terluka.

“Tidak perlu kamu pikirkan,” balas Arthur begitu tenang, “sekarang lihat saja, apa lukaku infeksi atau tidak,” perintahnya.

Kendrick mengamati perban yang membungkus luka Arthur.

“Perbannya sangat rapi, apa sebelumnya sudah diobati oleh dokter?” tanya Kendrick memastikan.

“Aku tidak tahu,” balas Arthur.

Kening Kendrick berkerut dalam.

“Kian yang menolongku dan mungkin dia juga yang membalut lukaku,” ucap Arthur dengan mata terpejam.

“Kian?” Kendrick mengerutkan kening. “Apa dia yang Anda bawa ke sini?” tanya Kendrick memastikan.

Arthur terdiam sejenak, dia membuka mata, mengarahkan pandangan pada Kendrick saat berkata, “Panggilkan dokter untuk memeriksa lukaku, ini sangat nyeri.”

Kendrick tersentak. Dia segera bangun untuk menghubungi dokter.

Beberapa saat kemudian. Dokter datang memeriksa luka di perut Arthur, setelahnya Dokter kembali menutup lukanya dengan rapat.

“Lukanya diobati dengan baik. Jika sebelumnya terlambat ditangani, sepertinya akan terjadi infeksi,” kata Dokter.

Kendrick hanya mengangguk-angguk, sedangkan Arthur memejamkan mata.

Setelah berterima kasih pada Dokter dan mengantar sampai depan pintu, Kendrick kembali menemui Arthur yang tidak tidur.

“Jadi, Anda mau memberitahu saya, siapa Kian ini?”

Arthur membuka mata, tatapannya tertuju pada Kendrick yang berdiri di dekatnya sedang memandang dirinya.

“Dia yang menolongku dan dia istriku.”

“Apa?” Kendrick sampai berteriak dengan tatapan tak percaya.

Arthur membuang napas kasar, setelahnya dia berucap, “Akan kuceritakan nanti.”

Sambil bangun dari berbaringnya, Arthur kembali bicara, “Aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku.”

“Apa itu, Tuan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Adeena
bikin penasaran ini Arthur mau nyuruh apa sama Kendrick
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Menghilangkan Saksi

    Kian tertunduk ragu. Dia menoleh pada Arthur dan melihat tatapan penuh harap dari suaminya.Kian menarik napas dalam-dalam. Dia memang bertindak gegabah karena sakit hati mengetahui pelaku tabrak lari yang selama ini dia cari, kini juga membencinya.“Aku akan berusaha, Kek.” Senyum Kian terangkat lebar saat Arron memandangnya. Dia lalu menoleh pada Arthur, tatapannya penuh rasa bersalah karena sempat terprovokasi berita yang belum jelas kepastiannya.“Maafkan aku yang sudah marah tanpa mendengarkan penjelasanmu.”Arthur sangat lega mendengar ucapan Kian. “Tidak perlu minta maaf, Ki. Yang terpenting sekarang, kita mencari tahu siapa yang mengirimimu informasi itu, sehingga kita bisa mengambil sikap yang benar.”Kian mengangguk pelan.Saat itu, ponsel Arthur berdering. Dia melihat nama Kendrick terpampang di layar.“Halo, bagaimana?” Arthur langsung bicara begitu ponsel menyentuh telinga.

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Kebenaran dan Bukti

    Arron diam beberapa saat mendengar apa yang Arthur katakan. Napasnya berembus pelan, dia menatap sang cucu lagi. “Apa yang mau kamu bahas?”“Soal semua perbuatan Oliver padaku selama ini. Mungkin sudah waktunya Kakek tahu, setelah aku mencoba menahan diri untuk tidak memedulikan semua kelakuannya demi nama baik Hadwin.”Arron melihat sorot mata Arthur yang penuh kilatan amarah.Arthur mulai menjelaskan, dari beberapa kasus kecelakaan yang menimpanya, sampai dia diserang orang tak dikenal dan hampir mati tenggelam setelah tertusuk, Arthur tidak meninggalkan satu detail pun kejadian yang sudah dialaminya karena kelakuan Oliver.“Aku diam selama ini karena tidak mau memicu keributan. Oliver tak sekali dua kali berusaha membunuhku. Dan, Kian bisa menjadi salah satu saksi, kalau aku pernah terluka dan hampir mati tenggelam.” Arthur menoleh pada Kian setelah selesai bicara.Kian menyadari semua tatapan tertuju padanya. Akhirnya dia ikut bicara. “Soal Arthur terjebak di dalam mobil yang masu

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Duduk dan Bicara

    Arthur mendekat pada Kian. Dia mencoba kembali membujuk. “Aku benar-benar bisa menjelaskan semuanya, Ki. Kita duduk dulu dan selesaikan semuanya sekarang.”Kian memalingkan muka dari Arthur, dadanya sakit sampai membuatnya tak mampu membendung air matanya.Arron mengembuskan napas kasar. Dia yakin ada kesalahpahaman di antara keduanya sehingga Arthur sampai membujuk seperti ini.“Apa yang Arthur katakan benar. Jika memang Arthur salah, cobalah bicara dulu agar dia bisa memperbaiki kesalahannya.”Kian terdiam beberapa saat sambil menghapus jejak air mata di wajahnya. Demi menghargai Arron, Kian setuju untuk bicara.Arron mengajak Kian dan Arthur ke ruang keluarga. Di sana, Arron menatap bergantian Arthur dan Kian yang hanya diam.“Ada apa? Coba ceritakan dan jangan lari jika ada masalah.” Arthur menoleh pada Kian setelah mendengar ucapan Arron.“Ki, kumohon dengarkan penjelasanku.” Arthur mulai bicara. “Aku benar-benar tidak tahu menahu soal tragedi itu. Waktu itu, Carla memang mendat

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Informasi Anonim

    Kian duduk di tepian ranjang, sesekali matanya melirik ke jam dinding, memperhatikan sudah berapa lama dia duduk di sana dengan perasaan gelisah.Arthur sudah pergi lebih dari satu jam, tapi belum juga ada kabar dari suaminya ini.Apa Arthur benar-benar akan memutus hubungan dengan Carla? Ataukah Arthur akan sekali lagi mengalah karena rasa bersalah?Kian tidak mengerti, kenapa untuk masalah ini, sulit sekali baginya percaya dengan apa yang Arthur janjikan tadi, mungkin karena sebelumnya Arthur sangat perhatian ke Carla.“Benar, bagaimanapun Carla sebelumnya begitu dekat dengan Arthur. Mungkinkah Arthur akan memaafkannya begitu saja?” Membayangkan pemikirannya sendiri, hati Kian mendadak nyeri. Dia tidak terima jika Arthur membiarkan Carla menginjak harga dirinya sebagai seorang istri.Kian memandangi ponsel di tangan, jempolnya siap menekan nomor Arthur, dia benar-benar tidak bisa tenang.Namun, sebelum jarinya sempat menekan tombol panggil, Kian sudah lebih dulu mendapat sebuah pesa

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Berhenti Bertanggung Jawab

    Arthur benar-benar datang ke rumah keluarga Carla saat siang hari.Dia disambut ibu Carla ketika baru saja akan masuk ke dalam rumah.“Arthur, sudah sangat lama kamu tidak datang main ke sini?”Sambutan ramah dari wanita paruh baya ini, tidak membuat Arthur mengubah sikapnya. Tatapannya masih dingin dengan wajah datarnya.“Di mana Carla?”Arthur bicara dengan nada datar.“Dia ada di kamarnya.”Tanpa menunggu dipersilakan, Arthur masuk ke dalam rumah itu begitu saja.Sedangkan ibu Carla begitu panik karena sikap Arthur yang begitu dingin. Dia ikut masuk karena takut Arthur melakukan sesuatu pada Carla.Tepat sebelum Arthur mencapai kamar Carla, dia sudah lebih dulu melihat Carla yang keluar dari kamar.Carla tersentak melihat kedatangan Arthur, apalagi sorot mata Arthur yang tak biasa.“A-Arthur, kenapa kamu datang ke sini? Apa ada masalah?” Carla bersikap biasa karena kabur sekarang pun percuma.“Apa yang kamu lakukan padaku semalam? Apa kamu sudah merencanakannya dari lama?” Tanpa ba

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Minta Bertindak Tegas

    Arthur membuka mata saat merasakan sesuatu yang menyilaukan matanya. Dia perlahan menatap ke jendela kamar yang sudah terbuka gordennya.Bangun lalu duduk di atas ranjang dengan tubuh yang sangat lemah, Arthur mengusap tengkuknya dengan kasar.“Kenapa sangat lelah sekali?” Arthur bergumam lirih.“Sudah bangun.”Arthur menoleh ke arah suara Kian berasal. Dia melihat Kian yang sedang berjalan menghampiri.“Ternyata sudah pagi? Sejak kapan aku tidur?” Arthur masih menggosok tengkuk yang kaku. Perlahan dia mengangsurkan kedua kaki ke lantai.“Minum jusnya biar segar.” Segelas jus segar Kian ulurkan pada Arthur.Arthur minum lebih dulu, setelah selesai dia menoleh pada Kian yang duduk di sampingnya.“Kenapa aku tidak ingat kalau tidur? Dan, ini sudah pagi?”Melihat kebingungan di wajah suaminya. Kian tersenyum kecil.“Kamu benar-benar tidak ingat dengan kejadian semalam?” Kian memastikan.Arthur menggeleng pelan. Dia diam beberapa saat sebelum kembali menatap Kian.“Seingatku, semalam aku m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status