Home / Romansa / Istri Kontrak Kesayangan Duda Tampan / Bab 1 - Malam Pertama Yang Membuat Luka

Share

Istri Kontrak Kesayangan Duda Tampan
Istri Kontrak Kesayangan Duda Tampan
Author: Mom's Ainun

Bab 1 - Malam Pertama Yang Membuat Luka

Author: Mom's Ainun
last update Last Updated: 2024-06-24 16:13:15

“Saya terima nikah dan kawinnya, Andini Wijaya putri kandung Bapak Wijaya dengan maskawin uang tunai lima ratus juta rupiah dibayar tunai.” Seorang pria tampan bernama Alyas mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang dan tegas. 

“Bagaimana para saksi, sah?” tanya penghulu. 

“Sah ….” 

Seketika tepukan tangan dan ucapan puji syukur terlontar dari para tamu undangan, yang sengaja datang untuk menghadiri acara pernikahan antara Alyas si pemilik salah satu perusahaan terbaik di Indonesia. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjalani proses pendekatan dengan Andini. Hanya dalam waktu satu minggu saja, Andini sudah memutuskan menerima lamaran dari pria yang tidak ia kenal karena ia yakin pilihan orang tuanya adalah yang terbaik.

“Andini kamu sangat beruntung karena mendapatkan pria kaya, Kamu tidak usah lagi memikirkan masalah ekonomi karena Alyas seorang pria yang sangat mapan.” Bisik salah seorang tamu yang sengaja datang menemui Andini di pelaminan. 

Andini hanya tersenyum membalas segala bentuk pujian yang terucap dari para tamu yang datang, sesekali ia menoleh ke arah Alyas yang duduk di sebelahnya, berharap Alyas adalah sosok suami yang tepat untuknya. Gadis berusia 20 tahun itu tidak melihat kejanggalan di sepanjang prosesi pernikahan karena Alyas menampakkan sifat sosok pria yang hangat, murah senyum kepada semua orang juga terhadap dirinya. 

Hingga proses Akad nikah dan penerimaan tamu selesai, kemudian Andini diserahkan langsung oleh kedua orangtuanya untuk di bawa ke rumah Alyas. Di situ ada tangisan haru dan bahagia, sedih karena jauh dari orangtuanya, bahagia karena akhirnya bisa mendapatkan jodoh yang baik juga mendapatkan restu orang tua. 

***

Beberapa jam kemudian, Andini tiba di rumah besar Alyas, wajahnya tampak masih berseri-seri mendapatkan sambutan hangat dari mertuanya. 

“Alhamdulillah akhirnya kamu datang juga, Ibu sudah nunggu kamu dari tadi.” Ucap wanita berusia 50 tahun bernama Sarah, ia menyambut Andini dengan mendekapnya erat. 

Andini menyambut dekapan itu dengan perasaan berbunga-bunga, “terimakasih sudah menyambut aku, Ibu,” imbuhnya. 

Melihat Andini dan ibunya berpelukan, Alyas terlihat tidak senang. Pria itu lantas menaiki anak tangga meninggalkan istri dan ibunya di ruang tamu sambil menggelengkan kepalanya. 

“Sudah, Nak!” Sarah melepaskan dekapan kepada menantunya itu. “Kamu harus segera naik, Alyas sudah nunggu kamu!” 

Andini tersipu malu, mendengar ucapan mertuanya itu. “Iya, Bu.” 

“Naiklah!” Sarah mempersilahkan Andini untuk segera naik.

Andini benar-benar dibuat salah tingkah oleh mertuanya itu. 

Andini perlahan berjalan menaiki anak tangga, jantungnya berdegup dengan sangat cepat, bibir tipisnya tersenyum simpul memikirkan apa yang akan terjadi di atas sana. ‘Aku tidak percaya malam ini adalah malam pertamaku dengan Mas Alyas, walau kami belum begitu saling mengenal, semoga saja di malam pertama ini kami bisa menjadi jauh lebih akrab lagi.’ 

Tok … tok … tok …

Dengan tangan yang bergetar, Andini memberanikan diri untuk mengetuk pintu.

“Masuk saja! pintunya tidak dikunci,” ucap Alyas. 

Ceklek 

Andini membuka pintu, sontak kedua bola matanya membulat melihat kamar yang indah dengan dekorasi khas malam pertama yang di taburi banyak bunga dan warna. Gadis itu tampak bahagia, bisa beristirahat di dalam kamar yang indah itu. Namun, ada sesuatu yang membuatnya tertegun, yaitu pada saat melihat pigura foto berukuran besar yang terpampang di dinding tembok kamar. Wanita berambut panjang itu mengerutkan keningnya merasa heran, seketika ada banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Setelah itu, Andini melirik ke arah suaminya yang tengah duduk di sofa sambil memegang secarik kertas dan pulpen. 

“Mas, siapa wanita yang sedang kamu peluk di dalam foto itu?” tanya Andini. 

Alyas menoleh ke arah foto yang ditunjuk oleh Andini, “oh foto itu, itu adalah istri saya.” 

Deg!

Andini sontak terkejut, ia lantas mematung di ambang pintu sambil menatap suaminya. 

“Kenapa kamu menatap saya seperti itu?” tanya Alyas dengan tatapan yang lebih menuntut. 

“Jika yang ada di dalam foto itu adalah istri kamu, lantas aku ini siapa?” wanita cantik itu bertanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. 

“Kamu adalah istri kedua saya.” jawab Alyas santai. 

“Jadi aku istri kedua?” 

“Iya.” Jawab Alyas tanpa merasa bersalah sedikitpun.

“Tapi kenapa kamu nggak pernah bilang sebelumnya, Mas?”

“Saya sudah bilang sama Ayah kamu, dia juga sudah meyakinkan saya bahwa kamu juga pasti akan setuju.” 

Andini menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya, ‘Kenapa Ayah tidak pernah bicara apa-apa tentang istri pertama Mas Alyas? ya Allah lindungilah hambamu ini dari orang-orang yang berniat jahat.’

Sambil mengusap air mata yang jatuh tanpa ia sadari, Andini berusaha untuk menguatkan diri dan hatinya meminta penjelasan. 

“La lantas dimana dia? kenapa dia tidak menentang pernikahan kita? kenapa aku tidak melihat keberadaannya selama proses pernikahan kita?” Andini berbicara tanpa jeda hingga membuat Alyas kesal. 

Mendengar ucapan Andini, membuat tangan Alyas bergetar hebat. Ia pun beranjak dari sofa dan berjalan mendekat ke arah gadis yang wajahnya sudah basah dengan air mata. Alyas menutup mulut Andini yang terus saja bertanya dengan jari telunjuknya. 

“Dia tidak bisa mencegah pernikahan ini, walaupun saya ingin sekali dia datang dan menghentikan pernikahan kita.” Seru Alyas emosional. 

Kedua bola mata antara Alyas dan Andini bertemu dengan sangat dekat, kedua pasang mata itu sama-sama memiliki amarah di dalamnya. Jantungnya sama-sama berdegup dengan cepat, walau bagaimanapun ini kali pertama mereka bersentuhan. 

“Jangan pernah bermain api dengan yang namanya pernikahan, Mas!” seru Andini menghempaskan tangan Alyas yang menutup bibirnya. “Pernikahan kita sudah sah, baik itu secara agama dan juga negara.”

“Sebagai wanita kau juga harus menjaga ucapan kamu, Jangan pernah menanyakan sesuatu yang bisa membuat orang lain kembali terluka.” 

“Maksud kamu itu apa sih, Mas?” Andini semakin frustasi dan bingung.

Alyas kemudian menarik tangan Andini untuk duduk di sofa secara kasar, kemudian ia memberikan pulpen dan secarik kertas yang berada di atas meja untuk ditandatangani. Tangan dan kaki Andini sampai bergetar saking terkejutnya dengan sikap Alyas tersebut. 

“Apa yang sebenarnya kamu mau, Mas? Jujur aku sangat takut dengan sikap kamu ini.” Andini menoleh ke arah Alyas yang sedang berdiri di hadapannya dengan tetesan air mata yang mulai berjatuhan.

“Cepat tanda tangani berkas itu!” tunjuk Alyas.

“Enggak, aku tidak mau menandatangani berkas apapun, Mas.”

“Kamu harus menandatangani berkas yang berisi kontrak pernikahan kita.”

Deg!

Jantung Andini terasa berhenti untuk sesaat. “Apa katamu, Mas? kontrak pernikahan?” Andini menatap wajah Alyas yang penuh dengan tuntutan.

Kemudian ia menatap berkas yang tergeletak di atas meja, dengan tangan yang bergetar Andini mulai memegang berkas dan membaca setiap kata yang terdapat di dalamnya. Bulir bening dari sudut matanya terus berjatuhan hingga membasahi berkas itu. 

“Kamu harus menandatanganinya, jika tidak akan ada masalah besar yang harus kamu hadapi.” Jelas Alyas menatap Andini yang tampak tidak berdaya lagi. 

“Kenapa kamu setega ini sama aku, Mas? aku punya salah apa sama kamu?” 

Tidak mau menjawab pertanyaan dari istri barunya itu, Alyas kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang. 

Sedangkan Andini terus menerus menangis merasa tidak percaya dengan keadaannya saat ini, malam pertama yang seharusnya menjadi malam yang indah dan membahagiakan. Namun, malam pertamanya ini menjadi awal kemalangan dalam hidupnya. 

Duar …

Terdengar suara gemuruh dari awan hitam, tidak berapa lama kemudian turunlah hujan deras membasahi tanah di sekitarnya. Andini duduk di tepi jendela menatap derasnya air hujan sambil membalas pesan singkat dari kedua orang tuanya.

“Aku baik-baik saja, Bu. Mas Alyas memperlakukanku dengan sangat baik. Ibu tidak usah khawatir, ya!” Tulis Andini lewat pesan singkat. 

Andini menutup mata dan di saat bersamaan terja

tuh air mata di atas benda pipih yang berisi pesan singkat yang ia kirimkan untuk ibunya. 

To be continued 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Senja_Khoir
waw Alyas tega sekali ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Kontrak Kesayangan Duda Tampan    Bab 29

    “Seharusnya sejak dulu aku melakukan ini,” kata Alyas sambil menelan saliva, nampak buah zakun di lehernya bergerak naik turun di penuhi dengan tetesan keringat.Sementara Andini menatap tubuh atletis Alyas. Bola matanya berkaca-kaca, rasanya ingin menangis karena bahagia. Pada akhirnya dirinya bisa menyerahkan jiwa raganya kepada pria yang dicintainya. Hatinya gadis cantik itu berbicara dengan lembut. “Sejak kamu mengucapkan akad pernikahan, sejak saat itu pula aku menyukaimu. Saat itu aku jatuh cinta pada pandangan pertama, bahkan sampai saat ini perasaan itu masih tetap sama. Sedangkan aku tidak tau apa perasaan kamu, saat ini pun yang aku tau, kamu mau menyentuhku hanya karena dalam pengaruh obat. Meskipun begitu, aku akan tetap menikmati malam terakhir kita ini dengan penuh cinta.” Alyas yang tubuhnya dikuasai oleh obat langsung menindih tubuh Andini, mengecup bibir tipis istrinya itu dengan penuh gairah cinta. Setelah puas bermain di bagian bibir, pria gagah itu menyusuri seti

  • Istri Kontrak Kesayangan Duda Tampan    Bab 28

    “Jadi bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Andini meminta penjelasan yang pasti. bibirnya bergetar hebat di sertai mata yang berkaca-kaca. Sang dokter menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Kemudian menatap Andini dengan sorot mata yang tajam. “Kami sudah berusaha tapi Allah punya kuasa sepenuhnya.” “Maksudnya?” sambung Bu Sarah.“Mohon Ibu sabar dan tawakal, kuatkan hati kalian karena Alif sudah meninggal, Bu.” Degh …Seketika Andini kehilangan keseimbangan tubuhnya, kemudian jatuh di lantai. Tangannya terus memukuli dadanya sambil menangis tersedu-sedu. Sementara Bu Sarah yang kehilangan ala sehatnya langsung mendekat ke arah Andini dengan wajah yang sangat emosional. Kemudian menaruh kedua tangan di pinggang, menatap menantunya sambil menyeringai lebar. “Kamu jangan so sedih seperti itu, Andini. Cukup, jangan bersandiwara lagi. Bangun dan kemasi barang-barangmu yang ada di rumah saya, saya mau saat saat pulang ke runah kamu sudah tidak ada lagi.” Jel

  • Istri Kontrak Kesayangan Duda Tampan    Bab 27

    Mendengar suaminya kembali tidak berpihak padanya, Andini hanya bisa pasrah dan menundukkan kepalanya. Kata orang, biarpun satu dunia menyalakan asalkan suami berpihak pada istri semua akan baik-baik saja. Tapi sayang semua itu tidak pernah terjadi, di kehidupan Andini. Gadis itu tidak punya pegangan, di saat mertuanya sedang marah kepadanya. Beberapa menit kemudian …Andini dan Alyas tiba di rumah, gadis itu berjalan sambil tertatih menuju kamarnya. Walau badan terasa sakit semua, dia harus secepatnya kembali ke rumah sakit. Sedangkan Alyas sibuk dengan ponselnya, Elisa masih menguasai pikiran Alyas hingga pria itu tidak punya kesempatan untuk bicara dari hati ke hati masalah susu kadaluarsa itu. Kesal karena terus di abaikan, Andini pun mengomentari suaminya yang mulai kembali menyebalkan.“Mas, dari pada kamu sibuk sama ponsel kamu, lebih baik kamu cepat mandi sama ganti pakaian, bukankah kita akan kembali ke rumah sakit untuk jagain Alif. Kamu mau Ibu makin marah?” Alyas kembali

  • Istri Kontrak Kesayangan Duda Tampan    Bab 26

    Malam yang panjang berganti dengan hari yang begitu cerah, Andini dan Alyas kini berada di dalam mobil dengan ekspresi wajah yang sangat gelisah. Sesekali Andini mengusap air mata, yang jatuh tidak tertahankan. Mereka berdua sedang bersedih karena mendapatkan kabar dari ibunya Alyas bahwa Alif sedang sakit, kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Setibanya di rumah sakit, Andini dan Alyas berlari ke ruang Nicu. Setibanya disana, mereka melihat wanita paruh baya, yaitu Bu Sarah yang sedang duduk termenung sendirian. “Bu,” sapa Alyas. Sang ibu menoleh, bibirnya tersenyum melihat kedatangan anak dan menantunya. “Akhirnya kalian datang juga,” ucapnya pelan. “Maaf kami datang terlambat,” sambung Andini, lalu merah tangan sang ibu mertua dan menciumnya. “Masuklah! semoga dengan kedatangan kalian Alif bisa merasakan kehadiran ayah dan ibunya.” Alyas dan Andini mengangguk, keduanya berjalan bersama menuju pintu ruangan Nicu tersebut. Namun, di saat hendak membuka pintu, Al kemb

  • Istri Kontrak Kesayangan Duda Tampan    Bab 25

    “A …,” Andini berteriak dengan sangat keras.Kaki gadis itu menginjak batu kecil hingga tergelincir dan terjatuh di tebing, beruntung tangannya dengan sigap memegang batu. Ia menjerit kesakitan karena tangan yang di buat pegangan ada luka akibat tertusuk duri hingga rasa sakitnya berkali-kali lipat. Apalagi saat ia melihat ke bawah terdapat lautan yang disekitarnya terdapat batu-batuan yang sangat tajam. ‘Apa bisa aku selamat dari kejadian ini, tanganku semakin mati rasa, aku nggak kuat lagi.’ Batin Andini yang sudah kelelahan. “Tolong …!” teriak gadis itu dengan suara yang bergetar. Gadis itu, pun, meneteskan air mata. Mengingat harapannya untuk selamat itu hal yang sangat mustahil. ‘Ya mungkin ini adalah waktu sebelum aku tiada dari dunia ini.” Hufs …Andini menghela napas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan, gadis berambut panjang itu mengedarkan pandangan ke sekeliling area yang sebenarnya sangat terlihat indah. Ada lautan berwarna biru yang luas membentang, suara deb

  • Istri Kontrak Kesayangan Duda Tampan    Bab 24

    Andini bangun dari tidurnya dan kaget melihat keadaan sekitar sudah gelap, ia pun terbangun sambil meringis kesakitan akibat luka duri yang melukai telapak tangannya. Beruntung saat itu bulan sedang memancarkan cahaya purnama nya, sehingga ia bisa sedikit melihat area sekitar yang menyeramkan. Gadis berambut panjang itu, mencoba melangkahkan kaki sambil menggenggam pistol yang ia bawa dari gedung kosong tadi. ‘Semoga saja aku bisa menemukan jalan pulang, semoga saja ada kapal yang lewat. Aku harus ke tepi pantai, bukan berdiam diri di bawah pohon begini. Udah kayak Kunti aja.’ Batinnya sambil mendongakkan wajahnya untuk melihat pohon besar yang ada di atasnya. Seketika bulu kuduknya berdiri, di iringi munculnya suara burung hantu. Andini mengusap punduk nya perlahan agar rasa takutnya berkurang kemudian berjalan, tetapi baru saja hendak melangkahkan kaki, ia mendengar suara seorang pria sambil menyorotkan lampu senternya. Tidak mau ambil resiko, Andini pun bersembunyi dibalik pohon

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status