Masuk“Seharusnya sejak dulu aku melakukan ini,” kata Alyas sambil menelan saliva, nampak buah zakun di lehernya bergerak naik turun di penuhi dengan tetesan keringat.Sementara Andini menatap tubuh atletis Alyas. Bola matanya berkaca-kaca, rasanya ingin menangis karena bahagia. Pada akhirnya dirinya bisa menyerahkan jiwa raganya kepada pria yang dicintainya. Hatinya gadis cantik itu berbicara dengan lembut. “Sejak kamu mengucapkan akad pernikahan, sejak saat itu pula aku menyukaimu. Saat itu aku jatuh cinta pada pandangan pertama, bahkan sampai saat ini perasaan itu masih tetap sama. Sedangkan aku tidak tau apa perasaan kamu, saat ini pun yang aku tau, kamu mau menyentuhku hanya karena dalam pengaruh obat. Meskipun begitu, aku akan tetap menikmati malam terakhir kita ini dengan penuh cinta.” Alyas yang tubuhnya dikuasai oleh obat langsung menindih tubuh Andini, mengecup bibir tipis istrinya itu dengan penuh gairah cinta. Setelah puas bermain di bagian bibir, pria gagah itu menyusuri seti
“Jadi bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Andini meminta penjelasan yang pasti. bibirnya bergetar hebat di sertai mata yang berkaca-kaca. Sang dokter menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Kemudian menatap Andini dengan sorot mata yang tajam. “Kami sudah berusaha tapi Allah punya kuasa sepenuhnya.” “Maksudnya?” sambung Bu Sarah.“Mohon Ibu sabar dan tawakal, kuatkan hati kalian karena Alif sudah meninggal, Bu.” Degh …Seketika Andini kehilangan keseimbangan tubuhnya, kemudian jatuh di lantai. Tangannya terus memukuli dadanya sambil menangis tersedu-sedu. Sementara Bu Sarah yang kehilangan ala sehatnya langsung mendekat ke arah Andini dengan wajah yang sangat emosional. Kemudian menaruh kedua tangan di pinggang, menatap menantunya sambil menyeringai lebar. “Kamu jangan so sedih seperti itu, Andini. Cukup, jangan bersandiwara lagi. Bangun dan kemasi barang-barangmu yang ada di rumah saya, saya mau saat saat pulang ke runah kamu sudah tidak ada lagi.” Jel
Mendengar suaminya kembali tidak berpihak padanya, Andini hanya bisa pasrah dan menundukkan kepalanya. Kata orang, biarpun satu dunia menyalakan asalkan suami berpihak pada istri semua akan baik-baik saja. Tapi sayang semua itu tidak pernah terjadi, di kehidupan Andini. Gadis itu tidak punya pegangan, di saat mertuanya sedang marah kepadanya. Beberapa menit kemudian …Andini dan Alyas tiba di rumah, gadis itu berjalan sambil tertatih menuju kamarnya. Walau badan terasa sakit semua, dia harus secepatnya kembali ke rumah sakit. Sedangkan Alyas sibuk dengan ponselnya, Elisa masih menguasai pikiran Alyas hingga pria itu tidak punya kesempatan untuk bicara dari hati ke hati masalah susu kadaluarsa itu. Kesal karena terus di abaikan, Andini pun mengomentari suaminya yang mulai kembali menyebalkan.“Mas, dari pada kamu sibuk sama ponsel kamu, lebih baik kamu cepat mandi sama ganti pakaian, bukankah kita akan kembali ke rumah sakit untuk jagain Alif. Kamu mau Ibu makin marah?” Alyas kembali
Malam yang panjang berganti dengan hari yang begitu cerah, Andini dan Alyas kini berada di dalam mobil dengan ekspresi wajah yang sangat gelisah. Sesekali Andini mengusap air mata, yang jatuh tidak tertahankan. Mereka berdua sedang bersedih karena mendapatkan kabar dari ibunya Alyas bahwa Alif sedang sakit, kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Setibanya di rumah sakit, Andini dan Alyas berlari ke ruang Nicu. Setibanya disana, mereka melihat wanita paruh baya, yaitu Bu Sarah yang sedang duduk termenung sendirian. “Bu,” sapa Alyas. Sang ibu menoleh, bibirnya tersenyum melihat kedatangan anak dan menantunya. “Akhirnya kalian datang juga,” ucapnya pelan. “Maaf kami datang terlambat,” sambung Andini, lalu merah tangan sang ibu mertua dan menciumnya. “Masuklah! semoga dengan kedatangan kalian Alif bisa merasakan kehadiran ayah dan ibunya.” Alyas dan Andini mengangguk, keduanya berjalan bersama menuju pintu ruangan Nicu tersebut. Namun, di saat hendak membuka pintu, Al kemb
“A …,” Andini berteriak dengan sangat keras.Kaki gadis itu menginjak batu kecil hingga tergelincir dan terjatuh di tebing, beruntung tangannya dengan sigap memegang batu. Ia menjerit kesakitan karena tangan yang di buat pegangan ada luka akibat tertusuk duri hingga rasa sakitnya berkali-kali lipat. Apalagi saat ia melihat ke bawah terdapat lautan yang disekitarnya terdapat batu-batuan yang sangat tajam. ‘Apa bisa aku selamat dari kejadian ini, tanganku semakin mati rasa, aku nggak kuat lagi.’ Batin Andini yang sudah kelelahan. “Tolong …!” teriak gadis itu dengan suara yang bergetar. Gadis itu, pun, meneteskan air mata. Mengingat harapannya untuk selamat itu hal yang sangat mustahil. ‘Ya mungkin ini adalah waktu sebelum aku tiada dari dunia ini.” Hufs …Andini menghela napas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan, gadis berambut panjang itu mengedarkan pandangan ke sekeliling area yang sebenarnya sangat terlihat indah. Ada lautan berwarna biru yang luas membentang, suara deb
Andini bangun dari tidurnya dan kaget melihat keadaan sekitar sudah gelap, ia pun terbangun sambil meringis kesakitan akibat luka duri yang melukai telapak tangannya. Beruntung saat itu bulan sedang memancarkan cahaya purnama nya, sehingga ia bisa sedikit melihat area sekitar yang menyeramkan. Gadis berambut panjang itu, mencoba melangkahkan kaki sambil menggenggam pistol yang ia bawa dari gedung kosong tadi. ‘Semoga saja aku bisa menemukan jalan pulang, semoga saja ada kapal yang lewat. Aku harus ke tepi pantai, bukan berdiam diri di bawah pohon begini. Udah kayak Kunti aja.’ Batinnya sambil mendongakkan wajahnya untuk melihat pohon besar yang ada di atasnya. Seketika bulu kuduknya berdiri, di iringi munculnya suara burung hantu. Andini mengusap punduk nya perlahan agar rasa takutnya berkurang kemudian berjalan, tetapi baru saja hendak melangkahkan kaki, ia mendengar suara seorang pria sambil menyorotkan lampu senternya. Tidak mau ambil resiko, Andini pun bersembunyi dibalik pohon







